Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Titin Murtakhamah

Merayakan kehidupan dengan riang gembira

Mengapa Saya Pindah ke Gas 3 Kg?

OPINI | 22 February 2013 | 13:53 Dibaca: 997   Komentar: 0   0

Awal tahun lalu, saya sudah mendengar bahwa gas LPG ukuran 12 kg akan naik. Sebagai pecinta gas tentu saja saya galau mendengar berita itu. Alasan kegalauan saya adalah sebagai berikut:

1. Selama ini kami sudah mendukung program non subsidi dengan tetap membeli gas LPG ukuran 12 kg meskipun faktanya kami tahu gas tersebut di pasaran jauh lebih mahal dibandingkan yang ukuran 3 kg. Perbandinganya kalau kita membeli 1 tabung berukuran 12 kg dengan harga 75 ribu rupiah kita bisa mendapatkan 5 tabung ukuran 3 kg karena di pasaran dijual sekitar 15 ribu rupiah. Jadi selama ini saya sudah berdonasi kepada negara sekitar 15 ribu rupiah. Lha, kalau sekarang akan naik sekitar 30% atau menjadi 95 ribu rupiah per tabung berapa uang yang akan kami donasikan kepada negara dan berapa persen yang benar-benar sampai dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan. Tak pernah ada transparansi itu, yang terdengar justru semakin banyaknya korupsi.

2. Faktanya di sekitar saya hanya beberapa orang  yang benar-benar menggunakan gas 12 kg dengan alasan karena malas bolak balik ke warung dan sebagian pelaku industri makanan kelas menengah ke bawah. Sebentar lagi mungkin akan kita temui harga-harga makanan siap santap akan naik atau sebagian dari mereka akan gulung tikar kecuali kemudian berpindah ke gas 3 kg yang harganya lebih murah. Sebentar lagi orang-orang yang hanya beberapa itu, yang sebelumnya menggunakan gas 12 kg pun berbondong-bondong akan berpindah ke gas 3 kg. Tidak pernah ada evaluasi yang jelas antara gas subsidi dan non subsidi.

3. Biasanya menjelang kenaikan akan diikuti dengan kelangkaan gas. Dan benar saja, di beberapa tempat kelangkaan gas sudah mulai terjadi. Gas 3 kg akan menghilang dalam waktu lama karena sedang dioplos ke tabung gas 12 kg dan tabung gas 12 kg ditahan oleh para distributor menunggu pengumuman resmi kenaikan gas atau menunggu rakyat berteriak-teriak. Jika sudah begini, tetap saja yang tidak punya uang harus menunggu dulu atau kembali ke jaman bahula memakai kayu bakar atau jika kepepet utang sana sini  untuk membeli gas 12 kg.

4. Pada awalnya, tabung gas 3 kg dibagikan ke semua orang. Tidak peduli mau kaya atau miskin semua bisa mendapatkannya dengan mudah. Tidak ada indikator dan pengawasan yang memadai siapa sebenarnya sasaran gas 3 kg ini. Semua orang akhirnya bisa menikmati memasak mudah dan murah dengan gas.  Orang kaya pun lebih memilih gas 3 kg karena harganya yang murah. Siapa sih yang mau bayar mahal untuk keuntungan yang tidak jelas? Tak pelak, banyaknya permintaan membuat harga gas 3 kg melambung dari harga resmi yang hanya 12.700  menjadi 15 ribu bahkan 20 ribu di pasaran.  Jika sudah begini, siapa yang paling diuntungkan dengan gas non subsidi. Jelas bukan orang miskin melainkan mereka yang kaya dan para pemodal.

5. Jika perbandingan harga gas LPG 3 kg dan 12 kg terlalu njomplang, jelas ini adalah sebuah pembodohan. Dan menurut saya inilah yang seharusnya disebut sebagai konspirasi (tidak pakai zionist apalagi palestina lho ya). Ya, konspirasi antara para pemilik modal dengan para oknum pejabat dan  birokrasi negara. Gas menjadi komoditas empuk yang bisa dimainkan oleh mereka untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Dan lagi-lagi, rakyat adalah mangsa besarnya.

Jika begini, kenapa saya harus bertahan memakai gas 12 kg? Bodoh bukan?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Nonton Pengumpulan Susu Sapi di Kampung …

Merza Gamal | | 24 April 2014 | 08:30

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 5 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 6 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 11 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: