Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Pm Susbandono

Berpikir kritis, berkata jujur, bertindak praktis

Sanitas

REP | 01 March 2013 | 08:24 Dibaca: 586   Komentar: 0   1

1362100875723860505Kali ini, saya ajak anda berkelana kuliner ke   kota Semarang.   Nostalgia tentang enaknya roti dan kue basah yang dijajakan di Toko Roti Sanitas.  Sanitas yang berarti “bersih” atau “kebersihan”, sampai tahun 1980-an, menjadi bakery yang nyaris tanpa saingan.  Saya paling suka Roti Sobek dan Roti Keju, yang sudah ludes jam 2 sore, padahal toko baru buka jam 10 pagi.  Sanitas luar biasa.  Laris, nyamleng, higenis, dan murah.  Terus apa kurangnya?  Saat itu, memang hampir tidak tercatat cacatnya.  Tapi, bagaimana dengan kini?

Sanitas tidak sendiri lagi.  Saingan sudah disana-sini.  Merek lain betebaran seperti laron di musim semi.  Kalau dulu Sanitas tak tertandingi oleh dan jauh di atas “Selina”, “Surya” dan “Sarimanis”, kini  ia bergeming.  Outlet-nya tak bertambah.  Tetap 1 toko, di jalam Mataram.  Alih-alih merambah ke  lain kota, mencoba di Jakarta, juga tak berkembang.  Singkatnya, Sanitas, meski masih enak tapi  mandeg.

Di lain sisi, ada Toko Roti Swiss yang saya sebut seperti serangga laron tadi.  Ada Bakery Dallas yang mencoba menyeruak ke permukaan, meski masih berusaha merambat menuju puncak.  Ini semua membuat potensi Sanitas tak terungkap semestinya.  Sanitas cukup puas sebagai “raja roti” zaman dulu di kota Semarang.  Hanya dengan 1 gerai.  Yang dagangannya habis pada pukul 2.00 siang. Dikenal seluruh warga kota Semarang.  Tapi hanya sampai situ saja.

Semarang punya “Sanitas”, Jakarta ada “Lauw” dan “Tan Ek Tjwan”.  Sampai tahun 1970-an, kedua merek roti itu masih merajai Jakarta.  Di pagi dan sore hari orang mendengar abang-abang teriak “Brood, broti, breed-brood”, mendorong gerobak atau mengayuh becak roti berputar-putar di Menteng atau Kebayoran Baru.  Yang dimaksud tentunya “Bread” atau “Brood”.  Terjemahan “roti” dalam bahasa Inggris atau Belanda.  Saat ini orang sudah jarang mendengar teriakan-teriakan tadi.  Apalagi di pinggir-pinggir  kota Jakarta.

Teriakan diganti dengan lampu etalase.  Ada gambar kicir angin berputar yang menyala di malam hari.  Itu lambang “Holland Bakery”,  toko roti yang menjadi icon  di Jakarta.  Holland hampir merata terlihat di seantero Jakarta.  Roti adalah Holland, dan Holland adalah roti.  Tak tahu saya apa resep mereka, bisa menjamur di Jakarta.  Yang saya tahu, toko roti Holland buka pukul 06.00 pagi dan baru tutup hampir tengah malam.  Tujuh belas jam melayani pelanggan dengan puluhan gerai dan ribuan karyawan.

Ada lagi tulisan “BreadTalk” berwarna oranye-putih, yang menandakan ada outlet roti di sana.  Toko roti dengan pusat di Singapore dan dirintis pada bulan Juli 2000, sudah merambah 15 negara.  Di Indonesia, BreadTalk sudah eksis di kota-kota besar dengan lebih dari 100 gerai.  Antrean mengular selalu menandai pemandangan di gerai BreadTalk.

Pertanyaannya adalah, mengapa Sanitas, Lauw, dan Tan Ek Tjwan tak bisa berkembang, sementara Holland dan BreadTalk malah membesar?   Peneliti Peter C Smith dan Hubert mencoba menerangkan fenomena ini dengan istilah “Titanic Syndrome”.  Benar, “Titanic” adalah nama kapal pesiar legendaris yang akhirnya karam karena menabrak gunung es di Grand Banks, New Foundland, pada tanggal 14 April 1912.

Bermula dari kehebatan sang kapal sehingga pengelolanya merasa jumawa, peng-pengan, pongah, angkuh dan akhirnya malah tenggelam.  Mereka tidak menyangka bahwa kapal sebesar, sehebat, dan secanggih “Titanic” mempunyai setitik cacat yang fatal.  Mereka merasa “Titanic” adalah “dewa kapal pesiar”, yang lengkap dengan peralatan navigasi moderen dan alat keselamatan prima.  Kisah yang mengharukan dan menjadi cerita di film box office. Dalam film yang memutar kisah nyata itu, digambarkan bahwa “kebesaran”  sang kapal runtuh hanya dalam waktu 2 x 24 jam, menewaskan ratusan penumpang.  Termasuk diantaranya  Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet, memainkan pasangan yang terjebak asmara meski berasal dari kelas sosial yang berbeda.

“Titanic” memang sombong.  Crew  yang mengoperasikan kapal terbawa pula.  Ketika seorang penumpang, Mrs Albert Caldwell setengah khawatir dan bertanya kepada salah satu kelasi bagaimana resiko  naik Titanic, sang pelaut menjawab sinis.  “Bahkan Tuhan sendiri tak mungkin menenggelamkan kapal ini”.  Klop sudah julukan “tinggi hati” untuk kapal dan seluruh isinya.

Terus, apa resiko seseorang atau sebuah organisasi yang menderita  Sindrom Titanic?  Ia menjadi tidak sensitif.  Spirit in search of excellence hilang entah kemana.   Keinginan untuk melakukan yang terbaik juga sirna. Etos continuous improvement  tak terlihat.  Gejala ini sangat khas dan gampang dimiliki oleh orang atau organisasi yang terlanjur besar, laris, atau terkenal.  Mereka gampang terjebak dalam kondisi lupa-diri, dan alpa membangun budaya kinerja tinggi.  Sikap merasa cukup dengan status mediocre  menjangkiti para pimpinan dan anggota organisasi.   Tantangan di depan tak terlihat, ancaman di samping hanya samar-samar.  Mereka merasa nyaman.  Apalagi kalau ada “kekuatan besar” yang melindunginya.  Entah itu proteksi, monopoli, konsesi atau harga diri.

Sanitas, Lauw, Tan Ek Tjan dan Titanic adalah organisasi yang cukup baik (good).  Tetapi seperti kata Jim Collins, “Kondisi baik adalah musuh kehebatan”.  “Good is the enemy of great”.  Gejala itu hinggap di banyak organisasi yang merasa dirinya “sudah baik”, atau “baik-baik saja”.  Sony, produk Jepang yang merajai pasar, sempat lengah ketika tiba-tiba disergap Samsung, dari Korea.  Sony bertahan, meski terseok-seok, dan beriringan dengan Samsung  ketika ditikam dari belakang oleh Huawei, adik bungsu dari China.  Begitu kisah “bunuh-membunuh” ini akan terus berulang, saat  “rasa nyaman” berada dalam diri kita.

Masih untung ke 3 toko roti yang saya sebut di atas, masih eksis.  Kebanyakan, “the next step after feeling good is die”.  Persis seperti yang dialami kapal pesiar Titanic, yang kini hanya menjadi kisah film dan legenda.  Orang menyebut Titanic, bukan lagi “kehebatan” sebuah kapal pesiar, tetapi justru kisah tragedi yang mewarnainya.

Tiba-tiba saya ingat ucapan Michael Hammer (1948-2008), management guru, pengamat dan penulis organisasi dari Amerika.

“Kalau merasa diri hebat, kita akan binasa.  Sukses di masa lalu tidak menjamin sukses di masa depan.

Formula dan cara sukses di masa lalu bisa menjadi penyebab kegagalan di masa depan”.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Masa Kecil Membuat Ahok Jadi …

Hendra Wardhana | | 23 November 2014 | 22:44

Pungutan di Sekolah: Komite Sekolah Punya …

Herlina Butar-butar | | 23 November 2014 | 22:08

Masyarakat Kampung Ini Belum Mengenal KIS, …

Muhammad | | 23 November 2014 | 22:43

Penerbitan Sertifikat Keahlian Pelaut (COP) …

Daniel Ferdinand | | 24 November 2014 | 06:23

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Musni Umar: Bunuh Diri Lengserkan Presiden …

Musni Umar | 5 jam lalu

Baru 24 Tahun, Sudah Dua Kali Juara Dunia! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Momentum Pencabutan Subsidi BBM, Memicu Dua …

Dwi Hartanto | 7 jam lalu

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 16 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Autokritik untuk Kompasianival 2014 …

Muslihudin El Hasan... | 8 jam lalu

Kangen Monopoli? “Let’s Get …

Ariyani Na | 8 jam lalu

Catatan Kecil Kompasianival 2014 …

Sutiono | 8 jam lalu

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | 8 jam lalu

Beda Banget Nasib Rinni dan Aris …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: