Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Ir. H. Dian Kusumanto

Sekarang tinggal di Nunukan Kalimantan Timur, suatu tempat di wilayah perbatasan NKRI

Pak Dahlan Iskan Harus Mencari Solusi Swasembada Gula Lebih Kreatif

REP | 27 March 2013 | 04:39 Dibaca: 308   Komentar: 0   0

PAK DAHLAN ISKAN HARUS MENCARI SOLUSI SWASEMBADA GULA LEBIH KREATIF

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Pak Dahlan Iskan sungguh sangat terobsesi untuk ikut serta menyelesaikan masalah bangsa ini setuntas-tuntasnya. Di sisa kehidupan dengan ‘hati’ yang lebih muda usianya ini, Pak Dahlan Iskan sebagai Menteri BUMN lebih bersemangat karena memang itu masih dalam jangkauan yang bisa dilakukan oleh BUMN-BUMN. Upaya-upaya itu dicetuskannya lewat beberapa episode dari “Manufacturing Hope’, yang merupakan ungkapan segala keinginan harapan dan hasil sementara apa yang dilakukan untuk mengatasi masalah bangsa ini.

Namun demikian apa yang dilakukan Pak Dahlan Iskan dengan upaya Swasembada Gula ini masih bersifat konvensionaldan berputar-putar dalam kotak besar Industri Gula Berbasis Tebu. Pak Dahlan belum berani dan belum mencoba proses kreatif di luar kotak besar itu. Upaya-upaya yang terkesan berputar-putar itu tidak lebih pada fokus :

  1. Mengurang inefisiensi pabrik gula dan industri gula secara umum dan khusus baik pada on farm maupun off farm.
  2. Peningkatan produktifitas lahan tebu
  3. Perluasan areal tanam tebu
  4. Mensinergikan sistem industri gula nasional yang lebih bertanggung jawab,
  5. Dll.

Jika dilihat perkembangan program Swasembada Gula yang dimulai tahun 2009 yang lalu, target produksi Gula Nasional itu ialah 5,7 juta tonakan tercapai pada tahun 2014.Produksi total Gula baik untuk Gula Kristal Putih (GKP) maupun Gula Kristal Rafinasi (GKR). Sejauh ini hingga awal tahun 2013 ini harapan dan target itu masih sulit untuk direngkuh, masih jauh untuk digapai. Betapa tidak, meski upaya-upaya sudah dilakukan namun kita di tahun 2011 masih harus mengimpor 2,4 juta ton gula dari luar negeri. Kelihatannya masih jauh panggang dari apinya.   Pantas saja kalau Pak Dahlan merasa sangat malu karena kenyataan impor kita yang sangat besar ini.

Mari kita coba untuk bermain angka dan sedikit matematika sederhana untuk memahami target produksi gula dalam mencapai swasembada gula. Selama ini ternyata kemampuan Industri Gula BUMN yang dikendalikan Pak Dahlan Iskan hanya mampu menghasilkan sekitar 40% dari angka target tadi. Sebanyak sekitar 60 % diharapkan diperoleh dari Industri Gula Swasta Nasional dan Impor. Impor sebanyak 2,4 juta ton itu sama dengan sekitar 42% dari kebutuhan, artinya pasokan dari Pagrik Gula Swasta Nasional kurang dari 20 %.

Jika hanya BUMN yang berupaya untuk mencapai target itu, maka harus bisa meningkatkan produksi Pabrik Gula BUMN dua kali lipat dari produksi sekarang ini.Itu artinya angka peningkatannya tidak 5%, 25% atau 50%, tetapi harus 100%. Supaya produksi PG BUMN menjadi 80% dari total kebutuhan gula nasional, tinggal 20% dipenuhi oleh PG Swasta Nasional. Kalau sudah begitu artinya pasokan sudah menjadi 100% dari kebutuhan gula, maka baru bisa disebut swasembada.

Mari kita mencoba mengumpulkan angka peningkatan produksi PG BUMN, bisakah mencapai 100 % seperti yang diharapkan hitungan di atas.

1. Dari langkah mengurang inifisiensi PG-PG BUMN anggaplah kita bisa mendapat 10 %. Kebanyakan ya? Oke coba 6 % saja!

2. Dari peningkatan produktifitas lahan tebu kita akan tingkatkan 20 %. Wah …kayaknya itu bombastis..paling 5% saja! Oke 5 % saja dah!

3. Perluasan areal tanaman tebu ditingkatkan 50 % lagi. Wah ini lebih mustahil. Sebab bertahan dengan luasan seperti sekarang saja rasanya sangat sulit kok! Paling-paling kalau sedikit agak memaksa dan rayu-rayu paling nambah lahan hanya 10 %. Tapi saya nggak yakih deh!

4. Redemen tebu misalnya bisa ditingkatkan dari 8% menjadi 10%, artinya akan ada penambahan produksi hingga 20%. Yang ini masih sangat sulit deh! Tapi biarlah, ini kan angka-angka yang memang bombastis!

5. Dan lain-lain upaya yang kira-kira bisa menambah peningkatan produksi 10%. Ini angka tambah ngawur saja!

Dari 5 langkah yang sangat hebat tadi saja kita hanya mengumpulkan angka 6% + 5% + 10% + 20% + 10% jumlahnya 51 %. Tapi siapa yang akan mampu bekerja keras seperti itu?? Di dalam hati Pak Dahlan pun saya yakin pasti akan mengatakan….. ini hampir mustahil. Namun siapa lagi yang paling diharapkan paling optimis mencapainya kalau Pak Dahlan sendiri nggak optimis. Lho kan ada Dirjen Perkebunan dan Kementerian Pertanian! Mereka kan juga berupaya untuk sama-sama mewujudkan swasembada gula dengan langkah-langkah seperti di atas? Iya sih…. Tapi mereka pasti tidak sehebat Pak Dahlan! Berani taruhan deh!

Menteri BUMN Dahlan Iskan pernah menyatakan bahwa swasembada gula bisa sukses jika diikuti oleh kebijakan strategis. Namun, kebijakan itu tidak hanya dari satu kementerian saja. Selain itu, dalam melakukan revitalisasi pabrik gula (PG) tidak harus berorientasi proyek.   Swasembada gula bisa diraih asalkan diikuti dengan kebijakan sinergis antarkementerian.  Pak Dahlan  juga pernah mengkritik izin impor raw sugar yang diberikan kepada pihak-pihak yang tidak punya komitmen membangun pabrik gula. Padahal, pabrik gula ini adalah salah satu alat untuk membuat Indonesia bisa swasembada gula.

Namun Pak Dahlan juga memandang bahwa memacu produktivitas itu penting, yaitu dengan membenahi pabrik gula sehingga kepercayaan petani terhadap pabrik gula meningkat. Menurutnya, kepercayaan petani ini sangatlah penting. Karena petani adalah pemasok utama tebu di PG.   Jika para Petani percaya bahwa rendemen tidak dipermainkan, tentu petani akan senang.  Kepercayaan petani ini menurut Pak Dahlan juga akan membuat kinerja PG akan meningkat.

Pak Dahlan kelihatannya juga amat kecewa kalau setiap upaya revitalisasi berorientasi hanya dengan proyek saja. Artinya, dengan melakukan revitalisasi PG adalah untuk meningkatkan produksi gula. Namun mesin yang digunakan di PG tersebut tidak harus beli yang membuat boros biaya. Bahkan revitalisasi juga tidak mengeluarkan investasi besar-besaran.  Ia mencontohkan, di PG Toelangan, ternyata mesin gilingannya adalah peninggalan zaman Belanda sudah lebih dari seratus tahun. Ternyata, setelah mesin diperbaiki dan tanpa beli yang baru ternyata sudah bisa beroprasi.  Tahun-tahun sebelumnya ada satu mesin gilingan yang tak bisa dijalankan. Tahun ini lima mesin gilingan peninggalan Belanda itu bisa dijalankan.

Memang tidak bisa dipungkiri hasil kerja Pak Dahlan dan jajaran BUMN Pabrik Gula dalam mendukung upaya swasembada gula.   Banyak kemajuan dan harapan-harapan baru di kalangan insan pabrik gula sampai petani.   Namun demikian tekad yang besar ini memang tidak didukung oleh Sang Raja yang sedang bertampuk di tahta industri gula nasional kita.  Sang Raja itu adalah Tebu.  Tebu memang yang sedang diandalkan untuk mencukupi kebutuhan gula kita selama ini, baik untuk kebutuhan konsumsi maupun industri.

Memang ada apa dengan Tebu?

Tebu memang tidak bermasalah!  Yang bermasalah itu mengapa produktifitas lahan tebu semakin menurun.  Itu saja!   Lho!?    Sudah demikian banyak riset, penelitian dan pengkajian oleh berbagai ahli di Indonesia bahkan di luar negeri.  Bahkan berbagai hasil persilangan genetik yang menghasilkan klon unggul sekalipun, ternyata belum mampu mengatasi masalah pergulaan kita.    Dulu waktu Jaman Kolonial produksi Gula dari panen tebu sehektar bisa mencapai 13 ton,  kemudian menurun waktu PG-PG itu dinasionalisasi menjadi milik negara hingga 7-9 ton/hektar/musim.   Penurunan itu terus terjadi hingga sekarang ini yang hanya mencapai sekitar 5-6 ton/ha/musim.

Ini menunjukkan bahwa ada kesalahan sistem pada perkebunan dan industri gula berbasis tebu kita.   Namun kesalahan besar ini tidak pernah diungkap dengan terang-terangan dan jelas-jelasan.    Kalau toh Tebu sudah sangat sulit diharapkan sebagai pemeran tunggal yang kemampuannya sangat menurun, mengapa tidak segera dicari solusi baru yang lebih berani.  Maksudnya berani keluar dari kotak.  Lebih kreatif…gituuu!  Maksud lu??    Ya… dicarilah alternatif lain yang barangkali  lebih hebat dari tebu!  Memangnya ada!!??   Jawabnya ada! dan masih banyak alternatifnya!

Tunjukkan dong kalau ada!?  Sebutkan yang jelas!  Iya… sabar!  Jawabnya tidak ada lain adalah AREN.  Aren lah pengganti Tebu nanti di atas tahta Industri Gula Nasional kita dan bahkan dunia!   Kok bisanya AREN?   Hhmmmmmm!!??

(Mudahan ada sambungannya…..)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Imbangi Valencia B, Indra Sjafrie Malah …

Djarwopapua | | 19 September 2014 | 14:17

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 7 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 8 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 8 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 11 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Calo Berkeliaran di Baitulharam …

Choirul Huda | 8 jam lalu

BPJS dAN KJS Sangat Membantu Masyarakat …

Sony Hertanta | 8 jam lalu

Penipuan Bermodus Penangkapan!!! (Silahkan …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Yuk, Jadi Pengguna Elpiji yang Cerdas dan …

Yoseph Purba | 8 jam lalu

Konsep Unik Band dengan Bertopeng …

Anto Karsowidjoyo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: