Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Ahmad Theten Theten

Mantan wartawan harian Terbit & Berita Buana, sekarang ekseskutif, advisor di perusahaan asing bidang FMCG

Awas Revitalisasi Pasar Tradisional Model Kapitalisasi

OPINI | 03 April 2013 | 05:14 Dibaca: 273   Komentar: 0   1

Nadi kehidupan pasar tradisional yang jumlahnya di Indonesia kurang lebih 13,5 ribu pasar dan 12,7 juta pedagang Mikro Kecil Menengah yang bergantung hidup didalamnya dan angka ini belum termasuk petani pemasok bahan pokok utama, yang menjadi Ikon andalan roda bisnis pasar traditional. Maraknya pasar modern dan menjamurnya minimarket group, mengancam keberadaan pasar tradisional.

Pasar traditional dengan modal mikro kecil, menghadapi persaingan pasar yang kompetitif, mereka bertarung dengan pasar modern (Hypermarket, Supermarket dan Mini Market) yang secara subtantif didukung finansial komputerisasi dan berbasis high tehnologi process artinya sayur mayur, ikan daging dan makanan tidak mudah busuk sementara pedangan tradisional berbanding terbalik, tidak memiliki fasilitas tersebut.

Pasar Modern, juga memilki strategy jitu marketing mix untuk menagkap konsumen (business opportunities), dan pada 2 tahun terakhir ini, tumbuh diatas 31% sementara pasar traditional turun 9%, ini artinya pasar tradisional sudah terimbas oleh pertumbuhan waralaba asing bahkan terancam gulung tikar.

Pasar tradisional harus dibenahi, baik fisik maupun pengelolaan manajemennya. Action Plan nya Revitalisasi.

Muncul Wacana Revitalisasi

Hampir semua, gubernur, bupati, walikota muncul dengan wacana “REVITALISASI” pasar traditional atau penataan kembali & memberdayakan pasar traditional tersebut. Karena sektor mikro pasar tradisional ini sangat vital, maka ide Revitalisasi menjadi proyek baru gubernur & walikota, termasuk di dalamnya adalah konservasi-preservasi dari upaya perancangan kota untuk mempertahankan warisan fisik budaya masa lampau yang memiliki nilai sejarah dan estetika-arsitektural, agar tidak tergerus.

Maka upaya revitalisasi biasanya disertai pula dengan upaya restorasi, rehabilitasi dan rekonstruksi.

REVITALISASI & AKAL – AKALAN KAPITALIS

Revitalisasi, jadi akal-akalan kapitalis, sudah banyak contoh di Jakarta misalnya,sudah berkali-kali Gubernur melakukan Revitalisasi pasar tradisional, tapi ujung-ujungnya proyek pembusukan pedagang tradisional yang pada akhirnya menjadi lumpuh dengan memanjakan mengembangkan kapitalis pemilik modal.

Ambil contoh, di Jakarta setiap pasar yang mengalami revitalisasi, dipastikan muncul hypermarket, supermarket atau department store yang didalamnya ratusan pasar traditional bergantung hidup.

Pemerintah sendiri, yang menabrak system undang-undang dan padahal kalau mau jujur komit pada peraturan, maka jarak Supermarket/Hypermarket minimal 2,5 kilometer dari pasar tradisional, lalu apa manfaat dari revitalisasi kepada pedagang mikro kecil.

Lihat saja, dijakarta dari 2300 mini & supermarket, yang lokasinya bersinggungan langsung dengan pasar tradisional. Anehnya lagi, hanya 1300 yang memiliki izin domisili, sisanya sim salabim dengan oknum aparat, sehingga bebas beroperasi.

Ini diakui oleh seluruh Dinas UKM di 5 kantor Walikota wilayah Jakarta, tetapi mereka tidak mampu berbaut banyak, karena ada ketebelece dari pusat sehingga bisa beroperasi.

Pada gilirannya, pedagang pasar tradisional bertanya, bagaimana terjadinya, bahwa dalam proses revitalisasi muncul hypermarket atau department store dipasar tradisional tersebut.

Pedagang pasar tradisional, telah membuktikan bahwa setiap revitalisasi pasar pasti tersirat niat, mengembangkan kapitalis hypermarket & department store, sementara secara demikian itu mengusik para para pedagang mikro kecil.

Akankah kita, menjatuhkan suatu hukuman mati pada petani agrikultur, yang bergantung pada pedagang tradisional dipasar - pasar dan dari mana kita mendapat nafkah. Mestikah kita memperkenankan tanah garapan agrikultur sayur mayur direnggut ,dan bagaimanakah akan konsekuensinya? Maka orang desa akan kehilangan pekerjaan, dan perdagangan akan kehilangan pasarnya.

Kasus kasus pelanggaran peraturan menimbulkan kecemasan para pedagang tradisional, akan daya saing yang lebih tinggi dengan pasar modern.

Pasar Traditional Percontohan

Kalau konsep revitalisasi model kapitalis yang diinginkan, paling tidak pemerintah sudah musti memiliki konsep bagaimana persaingan sehat antara pasar tradisional dengan hypermarket pasar modern bisa berjalan.

Harga mati, Solusi strategis musti disiapkan oleh pemerintah bekerjasama dengan PD Pasar untuk membangun system jaringan pasar tradisional yang comprensif tapi berpola modern.

Setiap pasar memiliki karakteristik strategis dan tujuan dan maksud tersebut di atas tentunya tidak semudah membalikkan tangan.

Maka, agar program pasar percontohan ini sesuai dengan apa yang diharapkan dan benar-benar menjadi percontohan perlu dibentuk mini corporat pasar tradisional dengan sentuhan marketing jitu.

Zaman dulu, ada namanya HARI PASAR, maka tidak heran kalau ada namanya pasar Senen, pasar, Rebo, pasar Minggu dan ini peluang sebagai Co-Brand Ikon pasar tersebut, tinggal di Re-Branding menjadi daya tarik. Artinya keunikan Hari Pasar tersebut musti ditunjang dengan marketing strategy dengan daya saing yang lebih tinggi didukung oleh fighting brand unggulan.

Pasar tradisional akan memiliki kekuatan yang sangat memikat, dan bila ditata dan dikelola secara profesional oleh pedagang dan juga pihak pengelola pasar, dengan tetap menonjolkan fitur-fitur unggulan yang dimiliki masing-masing pasar.

Misalnya, 9 bahan pokok musti menjadi komiditi andalan, artinya indikator stabilitas,harganya musti kompetitif, jujur dalam arti kualitas dan timbangan sizenya termasuk packaging, musti dibuat menarik dan variatif. Yang pada akhirnya, akan menjadi profit center pendapatan daerah.

Musti dibuat, corporat trading untuk mengelolah strategy marketing pasar tradisional, dengan sentuhan tehnologi internet. Paling tidak, dibuat Website situs belanja dipasar tersebut kemudian dijadikan media promosi (flayer) akan ikon – ikon brand unggulan (fighting brand) pada setiap hari pasar.

Kita bisa contoh, Toko Bagus.com atau Kaskus,com.

Maksud saya, setiap pedagang yang ada didalamnya menyodorkan produk fighting brand unggulannya pada setiap hari pasar, dengan keunggulan komparatif. Ini musti ada political will, dari pemerintah dan dinas terkait dan kalau perlu, dengan memintah bantuan tenaga tenaga ahli dibidang desain situs media on-line untuk mendesain.

Dan paling penting, musti ada institusi atau asosiasi yang terus – menerus terlibat didalamnya, yang mendorong perkembangan pasar tradisional.

Citra pasar tradisional, Kumuh, becek dan menyeruakkan bau  tak sedap juga musti dibenahi, sehingga memiliki daya saing yang semakin kuat untuk berkompetisi dengan pasar-pasar modern. Stigma masyarakat, bahwa tidak jujur akan timbangan musti mendapat prioritas, dan merayu hati para konsumen.

Penulis adalah mantan Wartawan & Eksekutif Advisor perusahaan asing FMCG.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Seluk Beluk Industri Plastik …

Dhanang Dhave | | 16 April 2014 | 13:07

Perang Saudara Kian Dekati Timur Eropa …

Adie Sachs | | 16 April 2014 | 17:51

Pelecehan Anak TK di Jakarta International …

Sahroha Lumbanraja | | 16 April 2014 | 13:53

Cinta Nggak Cinta Itu Bisa Dijelaskan, …

Gilang Parahita | | 16 April 2014 | 14:49

Kompasianer Mengawal Pemilu 2014 …

Kompasiana | | 09 April 2014 | 04:17


TRENDING ARTICLES

Akun Dinda Tidak Takut Komen Pedasnya Pada …

Febrialdi | 5 jam lalu

Prabowo Terancam Tidak Bisa Bertarung di …

Rullysyah | 6 jam lalu

Memalukan! Kapten Persebaya dan Pelatih …

Ethan Hunt | 15 jam lalu

Tolak Mahfud MD atau Cak Imin, PDIP Duetkan …

Ninoy N Karundeng | 15 jam lalu

Benarkah ‘Bertemu Dubes AS, Jokowi …

Kosmas Lawa Bagho | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: