Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Christian Saputro

Director Executive Jung Foundation Director Executive Sekelek Institute And Pubhlising House

Babaranjang, Rangkaian Kereta Api Terpanjang di Indonesia

HL | 10 April 2013 | 23:35 Dibaca: 4039   Komentar: 0   4

Babaranjang, Rangkaian Kereta Api Terpanjang di Indonesia


Babaranjang memang ditabalkan jadi nama kereta api pengangkut batubara yang melintas dari Tanjung Enim (Sumsel) ke pelabuhan Tarahan (Lampung). Babaranjang—merupakan singkatan dari batu bara rangkaian panjang—ini adalah nama Kereta api rangkaian panjang yang melayani pengangkutan batubara dari tambang batu bara di Tanjung Enim ke Pelabuhan Tarahan.

Boleh jadi memang Babaranjang saat ini tercatat sebagai kereta api rangkaian terpanjang di Indonesia. Kereta api Babaranjang ini adalah nama salah satu produk layanan PT Kereta Api Indonesia Divisi Regional (PT KAI Divre) III Sumatera Selatan.

Karena kondisi jalan lintas Sumatera yang hancur dan angkutan sungai di Sumatera Selatan, terutama Sungai Musi, yang terhambat karena sedimentasi kereta api menjadi alternatif utama untuk mengangkut batu bara produksi dari PT Bukit Asam.

Frekuensi rata-rata Kereta Babaranjang 21 kali Tanjung Enim - Tarahan pergi-pulang (pp) perhari. Setiap satu rangkaian Kereta Babaranjang ini memerlukan dua lokomotif untuk menggerakkan rangkaian kerena, dikarenakan panjang dan beratnya. Sedangkan kekuatan masing-masing lokomotif sekitar 2.100 tenaga kuda untuk menarik 46 gerbong yang membawa muatan 2.300 ton batu bara.

Salah satu persoalan mendasar yang dihadapi PT (Persero) Kereta Api Indonesia Divisi Regional (Divre) III Sumatera Selatan (Sumsel) dewasa ini adalah makin panjangnya rel yang aus. Bentangan rel kereta api yang sudah aus tersebut mencapai puluhan kilometer, ausnya rel ini berkaitan dengan beban jalan rel sendiri.

Yang mengkhawatirkan lagi adalah banyaknya lengkung dengan radius lengkung yang kurang dari 400 meter. Ada sekitar 59 lengkung di lintas Muara Enim sampai Tanjung Karang yang memiliki radius seperti ini.

Hal ini jelas berdampak terhadap jadwal perjalanan kereta api, dan juga mengancam keselamatan perjalanan kereta api. Rel-rel kereta api yang aus terdapat secara menyebar di berbagai lokasi mulai dari Tanjung Enim Baru (Sumsel) sampai Tarahan (Lampung).

Lintasan rel kereta api di sini tergolong padat frekuensinya, karena selain kereta penumpang, yang paling banyak melintas adalah kereta api batubara rangkaian panjang (Babaranjang).

Dengan kondisi seperti sekarang jelas berpengaruh terhadap kapasitas angkut batubara dari Tanjung Enim ke Tarahan. Jika lalu lintas Babaranjang terganggu, pasti pengaruhnya akan berimbas terhadap pasokan batubara PLTU Suralaya di Banten. Muaranya pasokan listrik di pulau Jawa bakal terganggu.

Sebab, batubara sebagai bahan bakar PLTU tersebut, selama ini memang sepenuhnya dipasok Bukit Asam. Dari Tanjung Enim, batubara diangkut Babaranjang ke Tarahan, seterusnya dibawa dengan kapal ke Suralaya.

Realisasi angkutan batubara dari Tanjung Enim ke Tarahan oleh kereta api hampir tidak pernah mencapai target. Sebagai gambaran, bisa dilihat dari data berikut ini;

Masyarakat Pencinta Kereta Api (Maska) pernah menyimpulkan KA Babaranjang menjadi tambang uang PT Kereta Api Indonesia (KAI). Ditengarai, Laba yang diraup Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini setiap tahunnya dapat membiayai operasi perusahaan kereta api di Pulau Jawa.

Kini KA Babaranjang Tanjung Enim–Tarahan menyimpan problem yang sangat serius. Seorang direksi PT KAI pernah mengakui kendala yang tengah dihadapi Babaranjang antara lain rel lintasan operasional rata-rata sudah berusia 20 tahun lebih dan belum pernah diganti, belum lagi persoalan roda.

Menurut data yang dihimpun menyebutkan, dari 413,6 kilometer panjang trek lintasan KA Babaranjang, 400 kilometer di antaranya menggunakan R 54. Sedangkan sisanya 13,6 kilometer memakai jenis rel R 42. Data itu juga menjelaskan jenis rel R 54 itu termasuk rel generasi terbaru. Konon jenis R 54 ini sudah termasuk yang terbaik dibandingkan jenis rel lainnya di trek lintasan sepanjang Pulau Jawa.

Jenis R 54 ini produk terbaik dari Kanada dan Austria, dan mampu menahan beban 18 ton. Jadi tidak ada alasan menyalahkan rel. Dari hasil penelusuran di wilayah Divisi Regional (Divre) III Sematera Selatan, tak kurang dari 48,271 kilometer jalur trek lintasan KA Babaranjang keausan dan gompal.

Tapi sayang, upaya mengeruk keuntungan dari angkutan Babaranjang ini tidak dibarengi perhitungan keselamatan. Departemen Perhubungan (Dephub) sebagai regulator, tidak bisa lepas tangan begitu saja.

Oleh karena itu, tidak sedikit masinis KA Babaranjang kerap berdebar-debar saat menjalankan lokomotifnya. Dalam Seminar Perbatubaraan di Palembang pernah terungkap Babaranjang anjlok hingga 100 kali lebih sepanjang 1 tahun. Selain itu juga terungkap volume batu bara yang diangkut dalam satu kali trip berkapasitas 2.000 ton.

Sedangkan bandingannya di Australia dengan kapasitas angkut kereta 150 ton per tahun, hampir tidak pernah kejadian kereta yang anjlok selama mengangkut batu bara. Sedangkan di Indonesia sangat sering kereta Babaranjang anjlok.

Sering anjloknya rangkaian kereta api dari rel yang juga digunakan untuk kereta penumpang dari Sumatera Selatan ke Lampung itu, menghambat proses pengiriman batu bara dari tambang di Tanjung Enim dan Baturaja ke PLTU Suralaya, Banten.

Angkutan kereta api dari Tanjung Enim dan Baturaja menuju Pelabuhan Tarahan menggunakan sistem cost insurance freight (CIF). Artinya, batu bara yang diangkut merupakan tanggung jawab PT Kereta Api Indonesia.
Ke depan PT Tambang Batubara Bukti Asam Tbk. (PT BA) untuk memperlancar arus transportasi batubara menargetkan proyek pembangunan rel kereta api. (christ_lampunk@yahoo.com)

1365611658521217019

Kereta Babaranjang

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selayang Pandang Tentang Demonstrasi …

Fera Nuraini | | 01 October 2014 | 20:57

“Menjadi Indonesia” dengan Batik …

Hendra Wardhana | | 02 October 2014 | 05:49

Seandainya Semalam Ada Taufik Kiemas …

Hendi Setiawan | | 02 October 2014 | 07:27

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 2 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 2 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 3 jam lalu

MK Harus Bertanggung Jawab Atas Kericuhan …

Galaxi2014 | 5 jam lalu

Sepedaku Dicolong Maling Bule …

Ardi Dan Bunda Susy | 6 jam lalu


HIGHLIGHT

Wisata Rohani di tepi Rawa Pening …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Pasukan Kecil yang Lugu …

Muhamad Adib | 8 jam lalu

Bu Mega Temuilah SBY! …

Apriliana Limbong | 8 jam lalu

Oktober 49 tahun lalu …

Pras | 8 jam lalu

Selamat Hari Batik Nasional …

Anugerah Oetsman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: