Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Khus Indra

Pecinta Sastra dan Seni | Pengagum pemikiran Friedrich Nietzsche | Pengkritik ulung

Penyebab Opera BBM

OPINI | 30 April 2013 | 22:29 Dibaca: 185   Komentar: 0   0

Kembali, Polemik klasik menjadi runyam dan digantungkan. Rencana dua harga yang dicanangkan pun hanya sekadar wacana. Ketika rencana dua harga itu diisukan, memang terjadi banyak perdebatan di kalangan masyarakat. Sebagian pihak menganggap, kebijakan tersebut kelihatannya cukup baik, tetapi sangat ribet dan runyam ketika berbicara terkait masalah operasionalnya. Oleh karena itu, pemerintah tidak lagi mengusungkan wacana dua harga terhadap BBM.

Pada hari senin (29/4) kemarin, Menteri ESDM, Jero Wacik mengatakan,”Kemungkinan kebijakan tersebut akan mengarah ke satu harga saja, dan sesuai dengan keinginan masyarakat serta berada dibawah Rp. 6.500,-/liter.” Kemudian pada hari selasa (30/4), Presiden SBY berpidato mengenai kenaikkan harga BBM tersebut. Seperti yang telah dikatakan oleh Pak Menteri, SBY juga mengutarakan hal yang sama, yaitu Kenaikkan BBM dengan satu harga. Tetapi, pidato SBY masih mengambang, karena rakyat masih belum mengetahui kapan kebijakan kenaikkan harga BBM itu diimplementasikan.

Permainan panggung politik yang cukup mengesankan dari pemerintahan SBY. Kita tidak tahu apakah beliau memang tidak mengetahui kapan untuk menaikkan harga tersebut, atau sengaja untuk mengulur waktu. Sebenarnya, masyarakat Indonesia sebagian sudah tahu dengan panggung opera BBM ini. Rakyat juga tahu, bahwa suatu saat harga BBM tersebut pasti akan naik. Tidak ada yang bisa mencegah kenaikan tersebut, selama kita masih tergantung dengan BBM tanpa memunculkan ide bahan bakar alternatif.

Opera BBM

Opera BBM bukan hanya terjadi kali ini, tetapi tepatnya kuartal pertama tahun 2012. Pada saat itu, ketika terdengar usulan untuk menaikan harga BBM, DPR menjatuhkannya usulan tersebut dalam sidang paripurna. Tetapi, kondisi sekarang berbeda. Meski tokoh dan pemerannya sama, tetapi kebijakannya berbeda. DPR yang dulunya kontra terhadap naiknya harga BBM, sekarang malah menjadi pro terhadap kebijakan tersebut. Apakah DPR baru sadar, bahwa APBN sudah semakin bolong jika terus disubsidi? Yang lebih parahnya, kebanyakan pengguna subsidi tersebut adalah pengendara mobil.

Penyebab Opera ini bukan hanya berasal dari para tokohnya saja, melainkan penontonnya juga. Penonton dalam artian untuk kasus BBM ini adalah rakyat. Lantas, mengapa rakyat penyebab kenaikan harga BBM juga?

Tentu saja rakyat penyebabnya. Masyarakat Indonesia termasuk salah satu yang terkonsumtif dalam menggunakan bahan bakar minyak. Daya beli dan nafsu yang tinggi sangat sulit untuk dikendalikan. Masyarakat seharusnya juga sadar bahwa penggunaan yang terlalu konsumtif akan berakibat efek domino. Memang efek tersebut tidak akan tampak dengan segeranya, tetapi ketika opera tersebut hampir selesai, maka klimaksnya bisa saja baru akan muncul. Inilah yang menjadi penyebab utama. Konsumtif !

Panggung Kenaikan BBM

Baru diumumkan untuk dinaikan, harga-harga dipasaran sudah bergejolak. Panggung yang disediakan pun semakin riuh dan tidak karuan untuk menampung efek dari kenaikan tersebut. Yang lebih tragis adalah kebanyakan orang memanfaatkan momentum kenaikkan harga BBM yang belum tahu waktu pastinya sebagai Kenaikan harga barang yang dia jual. Sungguh licik! sesama rakyat membohongi dengan sebaran isu yang belum valid. Absurd!

Kenaikan Harga BBM seharusnya dijadikan momentum untuk membangkitkan gairah baru dalam dunia ekonomi di Indonesia. Dengan menaikan harga BBM, diharapkan dapat mengurangi Inflasi. Tentunya semua ini dapat berjalan normal kembali, meskipun waktu tersebut tidaklah singkat. Tetapi, Optimistis dan sikap positif harus diambil dalam rangkat kenaikan harga ini. Memang Opera BBM yang akan naik ini, tentunya juga akan menyebabkan naiknya harga tiket masuk suatu panggung Opera BBM juga. Tetapi, disetiap langkah yang diambil ada keputusan dan resiko bijak yang didapat. Dan resiko ini yang harus menjadi tanggung jawab masyarakat Indonesia yang terlalu konsumtif dalam menggunakan BBM.

Mari kita sambut kenaikan harga BBM ini dengan lebih Positif dan Optimis demi menyelamatkan Anggaran-anggaran yang sudah semakin krusial.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: