Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Anom Surya Putra

Konsultan. Penulis buku "Teori Hukum dan Kebijakan Publik" (2014;NulisBuku.Com), konsentrasi pada analisis hukum dan kebijakan selengkapnya

Iklan Rokok dan Kelenturan Media

OPINI | 10 May 2013 | 00:51 Dibaca: 359   Komentar: 0   0

Seorang teman di pagi hari tadi berseloroh, “Kakek saya di masa lalu merokok terus dan punya banyak anak, tidak terjadi impotensi dan jantungan. Tapi sekarang, kalau kita buka info di internet (media online), kenapa merokok mengakibatkan umur manusia semakin pendek?”. Seloroh yang sulit dijawab secara empirik karena butuh studi yang cermat dalam gelombang panjang sejak awal abad XX sampai abad XXI.

***

Kebijakan pembatasan iklan rokok muncul sebagai derivasi dari “kemenangan” diskursus “merokok itu berbahaya“. Paling tidak, pengaturan yang ketat terhadap iklan rokok terbingkai dalam konteks etik. Namun sebagai entitas bisnis, media tidak bisa tidak harus mencari peluang agar bisa menutup biaya operasional yang salah satunya didapat melalui iklan rokok. Asumsi awal, sebelum adanya intervensi kebijakan, potensi kerugian masih minim. Dan setelah terdapat intervensi kebijakan maka potensi kerugian cenderung menaik.

Industri media dan periklanan merupakan industri yang dikuasai oleh imajinasi kreatif dan tahan terhadap tekanan-tekanan kebijakan. Penyikapan terhadap potensi kerugian antara lain terdapati pada “kreativitas” yang dijalankan oleh media. Kreativitas adalah strategi untuk menahan dan menyiasati potensi kerugian yang menaik terutama pada kemerosotan pendapatan iklan. Sebagaimana lifeworld (dunia penghayatan) kreativitas maka asosiasi reklame, perusahaan periklanan, dan media bergerak secara kreatif untuk menyiasati tingkat kerugian. Kreativitas tersebut menunjukkan daya tahan terhadap dampak intervensi kebijakan yang berlangsung masif sejak terbitnya UU Kesehatan maupun implementasi kebijakan penyiaran.

Koran berjaringan nasional setidaknya hanya punya porsi iklan rokok 10% dari total iklan. Posisi iklan rokok rokok nyaris tidak tergantikan dengan iklan lain. Oleh karena biaya produksi terus dikejar inflasi, kenaikan gaji, kenaikan biaya operasional, bila kehilangan separuh saja dari porsi iklan rokok itu, maka kalangan industri media (koran) potensial menghadapi kerugian di depan mata.

Radio pun kiranya mengalami masalah yang senada. Sebelum iklan dibatasi hanya pada durasi malam hari, siaran iklan rokok dilakukan sepanjang pagi, siang dan sore. Dampak kebijakan tersebut terasa mempengaruhi cash flow media radio. Media televisi kurang lebih mengalami turunnya permintaan spot semisal klien yang awalnya meminta 5 (lima) spot menjadi berkurang hingga 3 (tiga) spot.

***

Strategi mengatasi dampak kerugian kurang lebih berkisar pada promosi event yang menghindari iklan kemasan rokok, desain kreatif dan substitusi iklan rokok.

Kegiatan outdoor menjadi pilihan soft selling melalui kerjasama dengan event organizer yang bersponsor rokok. Melalui event, terciptakan kegiatan berantai yang akan mengikutinya, seperti iklan kegiatan outdoor tersebut selama beberapa hari hingga pada “Hari H”. Liputan kegiatan tersebut bisa saja berlangsung melalui advertorial, “penyembunyian” logo perusahaan rokok dan lain sebagainya. Selain itu, ayunan pun bisa muncul melalui substitusi iklan rokok dengan memberikan space iklan “berhenti merokok”, hari anti rokok sedunia, dan ekspos kegiatan olahraga tanpa sponsor rokok.

Proses penyusunan strategi dalam mengatasi dampak pelarangan iklan rokok seringkali terjadi di alam bawah sadar yang bersumber dari rangkaian pengalaman dan intuisi pemimpin/manajer perusahaan. Pengalaman tersebut dapat digali untuk mendalami proses penyusunan atau adopsi strategi dari pihak lain dan proses internalisasi strategi itu ke dalam perilaku.

Tenaga kreatif dari kalangan internal perusahaan terdayagunakan oleh manajer perusahaan sebagai faktor penguat dalam mengantisipasi kebijakan pelarangan iklan rokok. Ceruk pasar berupaya digali lebih dalam melalui event organizer yang piawai dalam mengatur seni pertunjukan seperti musik dari major label atau musik indie label.

Strategi yang disusun oleh manajer perusahaan iklan tertuju pada ceruk pasar dan jenis posisi pasar yang terlindungi dari kekuatan kompetisi langsung (outright competition). Penambahan porsi iklan dari produk non-rokok menjadi tantangan, seperti berita kematian masyarakat Tionghoa, perumahan, elektronik dan consumer goods. Tantangan lainnya adalah menggali potensi iklan berlatar momen politik Pemilukada.

Iklan politik merupakan tambang iklan yang tidak kecil. Kreatifitas dalam momen-momen politik menjadi salah satu strategi penting untuk menarik calon pengiklan, sekaligus substitusi terhadap perolehan iklan rokok yang kian merosot.  Media internet seperti Facebook, Twitter, dan maksimalisasi search engine seperti Google menjadi peluang bagi perusahaan iklan yang mengikuti pergerakan dinamis di dunia maya. Pendek kata, iklan maya dengan rejeki nyata potensial untuk berlangsung tanpa ada batasan yang jelas tentang durasi tayang di website, blog, forum, jejaring sosial, mailing-list dan seterusnya.

Contoh lain, iklan pemerintah tentang “merokok itu berbahaya” menjadi peluang bisnis kreatif diluar jam tayang iklan rokok. Ekspose well-educated melalui radio menjadi peluang tanpa memaksa pendengar untuk sadar atas bahaya merokok. Acara talkshow tentang pelarangan rokok menjadi ancang-ancang ketika pendapatan iklan rokok merosot.

Visi strategis yang dikenalkan dalam siasat demikian adalah kelenturan (malleable) dalam menghadapi dampak pelarangan iklan rokok. Strategi kewirausahaan yang kreatif setidaknya di(r)ancang pemimpin/manajer dengan melibatkan seluruh visi yang ada dan memunculkan detail-detail model pencapaian atas visi strategis tersebut. Beragam tekanan kebijakan kiranya berbanding terbalik dengan kemunduran kreativitas. Pendek kata, enerji kreativitas selalu muncul ditengah derivasi kebijakan yang berhimpit dengan perdebatan tentang rokok.***

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | | 01 October 2014 | 12:26

Saya Ingin Pilkada Langsung, Tapi Saya Benci …

Maulana Syuhada | | 01 October 2014 | 14:50

BKKBN dan Kompasiana Nangkring Hadir di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:37

Ayo Menjadi Peneliti di Dunia Kompasiana …

Felix | | 01 October 2014 | 11:29

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Anggota DPR Ini Seperti Preman Pasar Saja …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

SBY Ngambek Sama Yusril, Rahasia Terbongkar, …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Tinjauan dari Sisi Lain: Keluarga Pejabat …

Rumahkayu | 11 jam lalu

Pilkada Tak Langsung Lebih Baik Daripada …

Anna Muawannah | 11 jam lalu

Unik, Sapi Dilelang Secara Online …

Tjiptadinata Effend... | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Bait Rindu untuk Bapak …

Rizko Handoko | 7 jam lalu

PKB Inisiasi Aksi Walk Out di Sidang …

Nada Dwinov | 8 jam lalu

Mari Melek Sejarah Perlawakan Kita Sendiri …

Odios Arminto | 8 jam lalu

Titik Pijat untuk Masuk Angin …

Radixx Nugraha | 8 jam lalu

Harapan Muhaimin Iskanddar Kandas …

Agus Salim | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: