Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Baskoro Endrawan

Like to push the door even when it clearly says to "pull" You could call selengkapnya

Kalau Prapanca Bisa Ngomong, Situ Siul Sini Siap

OPINI | 10 May 2013 | 09:45 Dibaca: 888   Komentar: 17   5

Kasus Ahmad Fathanah dengan ‘koleksi’nya sebetulnya bukanlah sesuatu yang besar. Urusan lobbying dengan bumbu suguhan atraksi ‘bawah perut’ memang sudah lazim terjadi tidak hanya di dunia perpolitikan, bisnis dan lainnya. Jangan salah, bahkan ditengah acara tanya jawab setelah pengajian yang berkesan sakral, saat urusan bawah perut ditanyakan oleh seorang peserta, biasanya bahkan seorang yang terlihat paling diam dan alim di acara tersebut pun menjadi tertarik dengan bola mata yang membelalak dan bahasa tubuh yang semakin mendekat.

Itu adalah fakta.

Fathanah, adalah satu dari sekian banyak ‘petualang’ seputar Gedung Kura Kura Senayan. Keberlangsungan hidup mereka bergantung pada kebutuhan resmi dan tidak resmi seputar para penghuni gedung. Jalan lobbying pun bisa bermacam macam. Bisa berdebat dengan sengit di meja fraksi, maupun asik masuk di kolam whirlpool yang hangat dengan kolega ataupun bahkan lawan partai dengan beberapa ‘teman’ yang bisa melepas penat.  Orang seperti Fathanah, sangat banyak.

Mereka seperti halnya para concierge di hotel. Alumaga. Apa lu mau, gua ada. Dia adalah intangible asset. Saat ada kebutuhan, mereka pun tak sungkan dekat dengannya. Saat kena kasus seperti ini? Yah, dia kan cuma simpatisan saja.  Dia kena, karena kita sekarang ini sudah hidup di jaman berbeda.

Kalau saja sebuah rumah dibilangan Jalan Prapanca , Jakarta Selatan bisa ngomong. Waduh, banyak sekali jejak kasus yang bisa ditelusuri dari sana.  Kejayaan rumah tersebut memang hanya berlangsung pada saat orde baru saja. Sekarang? Saat memasuki pekarangannya, sulit sekali untuk membayangkan  bahwa di rumah ini, dulu sekali, bahkan seorang Jendral pun rela untuk tidur berhari hari didalam sana.

Yang tersisa dari masa kejayaannya hanyalah beberapa lukisan antik dengan furnitur lama.  Rumah itu pun  jadi saksi, dimana lobi kelas tinggi dengan suguhan ‘creme de la creme’ kelas atas sudah menjadi budaya. Para wanita cantik muda yang seringkali juga merangkap sebagai model menjadi suguhannya.

Adalah Hartono, seorang pria ramah yang sangat murah senyum dengan kemampuan public relation yang piawai. Beberapa bahkan mengenalnya sebagai seorang dermawan. Yang lain mengenalnya sebagai seorang kolega. Sang maestro bisnis inilah yang berhasil mengemas sebuah sajian seperti itu menjadi lebih beradab, dengan target pasar menengah kelas atas.

Langganannya? Baik dari para pelaku bisnis, orang yang berkecimpung di dunia politik, dan siapa saja yang mempunyai uang lebih untuk sekedar ‘buang sial’. Jangan salah, para wanita yang disana pun dididik secara profesional untuk menjadi seorang lady escort yang handal.

Mereka tak hanya mahir dengan trik di ranjang saja. Kemampuan bahasa asing, ilmu psikologi dan luasnya pengetahuan umum mereka menjadikan para lady escort ini tak jarang menjadi simpanan para pejabat.  Itulah prestige bagi mereka saat itu, saat berhasil ‘mentas’ dan sudah menduduki posisi yang lebih terhormat, sebagai simpanan para pejabat yang memegang kuasa tinggi di wilayah pemerintahan kita. Atau para pengusaha.

Tak jarang bahkan dari mereka yang malah lebih sering menemani para Bapak ini untuk kunjungan luar negeri ketimbang para istri resmi sendiri.  Dan pada saat, dan era yang berbeda pula, Hartono sanggup mengunci semua rahasia, mengemas bisnis tersebut dengan profesional. Tidak ada KPK pada jaman itu. Semua tidak tampak di permukaan. Rapi jali, discreet dan yang jelas aman dari sentuhan hukum sendiri.

Sebuah manajemen yang rapi yang berkaitan dengan kepercayaan.

Dengan kepiawiaannya, Hartono sendiri mampu mengembangkan bisnisnya kemana mana. Semarang Surabaya, Bali dan bahkan Batam.  Bahkan, saat orang ramai membicarakan lady escort import yang dianggap sebagai suguhan yang prestige? Dia sudah memulainya sejak lama.  Bisnisnya pun menggurita.  Merambah ke bisnis entertainment, salah satunya Planet Bali yang akhirnya kandas dan ditutup oleh massa dan aparat . Beberapa dari pesaing di industri yang sama pun seringkali mengasosiasikan mereka dengan nama besarnya. Sekedar untuk menunjukkan, di pasar mana mereka berada.

Seorang teman karib dari penulis punya pengalaman ’sedikit’ buruk tentang hal ini. Berkenalan dengan seorang wanita muda, mengaku single berkebangsaan Filipina. Ngobrol ngalor ngidul di  area bar sebuah Mexican Resto yang saat itu lagi hit di seputar Kuta, Bali.  Si wanita muda mengaku sedang liburan ke Bali, sendiri. Usai ngobrol, dia pun memberikan catatan yang berisikan nomer kamar di sebuah hotel  baru yang terletak di Kuta. Mereka janjian, ceritanya. Si teman yang pada waktu itu masih single  berniat untuk sekedar ngajak jalan seputar Bali.

Mobil pinjaman dari seorang rekan yang kebetulan dinas siang di hotel sudah siap, datang lah si teman ke kamar sang wanita muda Filipina.  Dasar konyol karena merasa sudah janji, si teman pun tak mengindahkan gantungan berwarna merah dengan tulisan Do Not Disturb. Beberapa kali bel di bunyikan, dan tak lama kemudian pintu pun terbuka. Seorang lelaki muda, badan penuh dengan tatto lah yang membukanya. Hanya menggunakan handuk dengan ’sesuatu’ yang tampak seperti sebuah gagang senjata api terselip disana.

Tak perlu menjelaskan secara detil apa yang terjadi setelah itu. Yang jelas, kencan romantis di Pulau Dewata pun sudah pasti jelas gagal !

Belakangan si teman baru tahu. Bahwa sang gadis pun adalah bagian dari sindikasi tersebut. Kebetulan, hanya kebetulan saja.  Mobil berplat S1N1 dan S1TU pun sering parkir  di depan voyeur area hotel. Dan lagi lagi, kebetulan juga, konon Hartono pun mempunyai saham di hotel yang sempet bikin lutut si teman tiba tiba lemas seakan mau jatuh!

Yang unik dari Hartono adalah gurauannya tentang bisnis yang dijalaninya. Situ Siul Sini Siap.  Beberapa mobil mewahnya pun mempunyai plat nomer  S 1 TU , S 1 UL , S 1 NI, S 1 AP.  Tapi apabila anda tiba tiba bertemu dengan mobil ber plat nomer seperti diatas, bisa jadi sekarang sudah bukan milik Hartono lagi. Setelah terlibat beberapa kali dengan kasus hukum, tampak sekarang Hartono pun memilih untuk bersikap low profile dan menjual beberapa assetnya.

Bisnis escort kelas atas pun menjadi tidak terbatas sekeliling Hartono lagi. Dari Jakarta Selatan, Kawasan Kota ,Kelapa Gading dan lainnya. Dari kelas hotel, freelance dan lain bentuknya. Semua sudah siap memenuhi keinginan dan fantasi terdalam dari para penggemar olahraga lari marathon tadi. Dan Hartono pun semakin tenggelam, meski namanya pun tetap tercatat sebagai seorang pioneer bisnis ini dengan kemasannya yang mewah.

Kalau saja Prapanca (dulu)bisa ngomong.  Dan KPK (dulu) sudah ada. Mungkin  tak akan kebingungan seperti  sekarang ini.

Situ siul sini siap. Situ siul sini siap. Situ siul sini siap.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Sedekah Berita ala Jurnalis Warga …

Siwi Sang | | 24 October 2014 | 15:34

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 7 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 8 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 9 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 9 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Batuk Efektif …

Kaminah Minah | 8 jam lalu

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 8 jam lalu

Komunitas, Wiramuda dan Pemuda Muhammadiyah …

Kang Nanang | 8 jam lalu

Aku Berlari dari Hati …

Christian Urbanus | 8 jam lalu

Tanya Jawab ala Toni Blank …

Wahyu Hidayanto | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: