Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Pecel Tempe

apalah arti sebuah nama

Joko Widodo dan Perkembangan Industri

OPINI | 19 May 2013 | 12:05 Dibaca: 379   Komentar: 10   1

Adalah Nicolaus J. Cugnot yang dianggap sebagai orang pertama yang berhasil meluncurkan kendaraan berbadan besar, beroda tiga, dan bermesin uap. Kendaraan ciptaan Cugnot ini lah yang kemudian menjadi cikal-bakal dikembangkannya kendaraan bertenaga mesin yang kini kita kenal dengan sebutan “mobil”. Seiring berjalannya waktu, bahan bakar mesin uap pun mulai tergantikan oleh bahan bakar hidrokarbon. Hidrokarbon didapat dari dalam bumi melalui pengeboran dan serangkaian proses distilasi tertentu. Bahan bakar dari hidrokarbon itu bernama bensin atau solar. Tak mau ketinggalan, mobil yang semula masih bertenaga mesin uap pun mulai dimodifikasi hingga menggunakan bahan bakar bensin atau solar.

Revolusi industri memang berperan besar dalam pengembangan teknologi umat manusia. Manusia banyak termanjakan olehnya. Namun, semua yang berbau teknologi bukan berarti tidak ada dampak negatifnya. Teknologi yang berbahan bakar hidrokarbon ternyata juga berdampak buruk pada lingkungan alam.
Sejarah pun mencatat bahwa revolusi industri telah berkontribusi besar terhadap pencemaran udara di berbagai tempat. Kota yang dahulunya bersih menjadi kumuh. Udara yang dahulunya sehat telah tercemar polutan-polutan berbahaya. Lingkungan yang sehat menjadi kotor, udara yang sejuk berubah menjadi panas dan pengap.

Belakangan ini kita disuguhi iklan tawaran mobil berteknologi ramah lingkungan dengan harga yang murah yang diproduksi oleh produsen dunia sedikit diatas  harga banderol mobil produksi nasional. Produsen mobil nasional mulai merasa gerah dengan adanya serbuan pasar produk dunia itu yang dikhawatirkan akan memukul produsen mobil nasional.  Asing minded, merek asing yang sudah dinilai sebagai gengsi ini memang akan lebih mudah memenangkan persaiangan karena sudah memiliki jaringan pasar dan after sales service yang luas.  Joko Widodo, melekit namanya karena mengganti mobil dinasnya dengan mobil nasional semasa menjabat walikota Solo. Apa yang dilakukan Joko widodo sesungguhnya merupakan ajakan agar kita lebih menghargai produk domestik sebagai landasan kemajuan industri nasional.

Namun, apa yang dilakukan Joko Widodo telah menimbulkan polemik dimedia massa menyangkut mutu mobnas yang diperkenalkannya. Artinya pandangan masyarakat kita lebih banyak melihat sisi buruknya ketimbang positivenya terhadap bangsa sendiri. Ada sebuah pengalaman lucu semasa saya menjadi konsultan untuk proyek bank dunia sekira 25 tahun silam, seorang expatriat dari Amerika serikat yang berlatar belakang pengalaman menangani sanitasi  pangkalan militer  di Korea Selatan yang bersama saya mengunjungi sebuah daerah. Seorang lagi, seorang  bangsa kita  yang bergelar doktor  yang juga memiliki pendidikan di Amerika Serikat.  Saya yang pada waktu itu terkenal jahil kalau jalan bersama ekspatriat,  sengaja tidak memperkenalkan keduanya, reaksi pejabat yang kami temui lebih menghargai si Bule.  Mental irlander masih sangat kental pada bangsa kita, namun ketika menjabat, yang terpikir adalah kekuasaan. Maka tidaklah mengherankan, ketika seorang naik pangkat selalu diikuti dengan acara syukuran dan bahkan menambah isteri. Beberapa kasus korupsi yang belakangan marak diberitakan tidak terlepas dari adanya wanita lebih dari satu orang.

Indonesia adalah negara tropis dengan kelembaban udara tinggi memang tidak cocok alamnya untuk industri logam bermutu tinggi sebagai landasan industri otomotive. Namun hal ini bukan menjadi halangan memajukan industri  logam sebab dapat diatasi dengan alat pengatur kelembaban.  Sesungguhnya, yang menentukan kemajuan industri  adalah mental pejabatnya. Pejabat yang mudah disuap, akan memiliki kekuasaan mengeluarkan kebijakan yang mengganjal industri. Sebab, Indonesia yang merupakan pasar potensial negara industri, kemajuan indonesia akan menjadi ancaman bagi kelangsungan industri negeri itu.

Suharto telah berpikir lebih maju mengenai kebujakan yang mendorong kemajuan industri negeri ini dengan pemberian fasilitas PMDN dan PMA. Penyedian sumber permodalan dan penundaan pembayaran pajak  import barang modal merupakan peluang kemudahan pembangunan industri. Namun sayangnya, kebijakan tersebut menjadi ajang korupsi dengan cara memark up harga barang modal yang dibiayai pinjaman luar negeri. Prilaku korupsi inilah yang sesungguhnya menyebabkan krisis moneter yang berimbas pada krisis multi dimensional yang akibatnya harus ditanggung bangsa ini dalam kurun waktu yang lama.

Kalau kita tengok perkembangan politik saat ini, kekuasaan menjadi ajang perebutan dengan biaya politik yang tinggi.  Selain korupsi anggaran pemerintah untuk menutup biaya politik yang harus ditanggung kontestan, pengusaha menjadi incaran sebagai sumber pengembalian biaya politik. Banyak peraturan yang dikeluarkan menjadikan pejabat menjadi lebih penting. Kepentingan inilah yang dijadikan uang dan mulai dari tingkat pemerintahan yang paling rendah sampai tingkat menteri  diwarnai suap.  Ketika seseorang ingin membangun usaha, didepan sudah berderet segala macam aturan, tanpa mengeluarkan  ” uang jago” pengusaha menjadi penjahat kelas berat dengan berbagai sangsi dan ancaman karena melanggar peraturan.  Tidaklah mengherankan jika banyak industri manufaktur yang hengkang dari negeri ini. Thailand dan Vietnam menjadi pilihan relokasi industri dari negara kita yang sesungguhnya sangat mebutuhkan lebih banyak lagi lapangan kerja.  Bangsa kita tersinggung ketika TKI mendapat perlakuan yang tidak manusiawi di negara lain yang merupakan efek lain dari mental bangsa kita sendiri, tidak dihargai oleh bangsa lain karena miskin.

Jokowi adalah sosok yang melejit namanya karena perhatiannya terhadap kemajuan Industri yang menggambarkan bangsa kita membutuhkan pemimpin yang berpikiran kemajuan, bukan kekuasaan.  Joko Widodo akan menjadi momok bagi kontestan yang telah lama  mengincar kedudukan nomor  di Indonesia.  Siapa ente  …??, ente khan orang baru.  Bahasa gaul yang sering kita dengar ditengah masyarakat kita, sebuah sikap yang menggambarkan ketakutan disaingi. Semoga masyarakat bangsa ini tidak salah dalam memilih pemimpinnya  karena ditebari sembako.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selayang Pandang Tentang Demonstrasi …

Fera Nuraini | | 01 October 2014 | 20:57

Siswa Korea Tertarik “Sambal” Indonesia …

Ony Jamhari | | 02 October 2014 | 09:39

Belajar Mandiri dari Pola Didik Orangtua di …

Weedy Koshino | | 02 October 2014 | 09:53

Obat Galau Jurusan Kuliah …

Bening Tirta Muhamm... | | 02 October 2014 | 09:54

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:44


TRENDING ARTICLES

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 6 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 8 jam lalu

MK Harus Bertanggung Jawab Atas Kericuhan …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Sepedaku Dicolong Maling Bule …

Ardi Dan Bunda Susy | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 7 jam lalu

Korte Verklaring; Konsesus Uleebalang dengan …

Arjuna Zubir | 7 jam lalu

Djohar Arifin: Jika Lolos ke PD U-20, Timnas …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Wangi Kopi NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | 7 jam lalu

Belajar dari Pak Tani dengan Sawahnya di …

Karresa Karyanto | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: