Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Conamir

Lahir di Solok

Rumah Sakit Swasta vs Rumah Sakit Pemerintah

OPINI | 20 May 2013 | 08:22 Dibaca: 2011   Komentar: 0   1

Rumah Sakit Swasta VS Rumah Sakit Pemerintah

Elfizon Amir

Sebanyak 16 rumah sakit swasta di DKI menarik diri dari memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat DKI yang menggunakan kartu sehat. Berbagai tanggapan muncul dari berbagai kalangan. Ada yang menyatakan bahwa manajemen rumah sakit tersebut tidak nasionalis, tidak loyal, hanya mencari keuntungan dan ti dak mau berkorban untuk kepentingan masyarakat. Sehingga ada anggota DPR yang mengusulkan agar rumah sakit tersebut diberikan angsi yang tegas oleh Departemen Kesehatan. Dilain pihak pun Wakil Gubernur DKI mempertanyakan, kenapa mereka tidak mau? Sedangkan RSCM yang besar tidak menolaknya.

Rumah sakit swasta merupakan sebuah usaha yang bergerak dibidang kesehatan yang punya orientasi keuntungan. Jika tidak ada keuntungan, maka rumahsakit tersebut akan tutup atau hanya jalan ditempat. Ada 3 komponen yang yang harus dicarikan manajemen rumah sakit jika ingin nrumah sakitnya tetap eksis.

1. Biaya Operasional sebuah rumah sakit swasta diperoleh dari pendapatn rutin rumah sakit tersebut. Karena tidak ada subsidi yang diterima secara rutin setiap bulan. Mulai dari Clining service sampai direktur utama, gajinya diperoleh dari pendapat rumah sakit. Termasuk beli obat dan peralatan habis pakai yang digunakan untuk keperluan pasien. Berbeda jauh dengan RSUD atau RSUP milik pemerintah yang semua biaya operasionalnya ditanggung oleh APBN atau APBD.

2. Biaya pemeliharaan sebuah rumah sakit swasta ditanggung sendiri oleh manajemen. Manajemen harus mencari dana agar semua peralatan dan gedung yang mereka punya dapat dipelihara dengan baik. Berbeda dengan rumah sakit swasta, rumah sakit pemerintah biaya pemeliharaannya dianggarkan setiap tahun dari APBN dan APBD.

3. Biaya pengembangan untuk investasi baru pun rumah sakit swsata tidak mendapatkan dana subsidi rutin dari manapun. Manajemen harus berikhtiar sendiri agar rumahsakit yang mereka kelola dapat berkembang mengikuti kemajuan tekhnologi global. Jauh beda dengan rumah sakit pemerintah yang semua biaya pengembangan dan investasinya ditanggung oleh APBN dan APBD.

Dari mana sebuah rumah sakit swasta mendapatkan dana untuk ketiga komponen tersebut? Ya dari hasil usaha yang mereka kumpulkan setiap hari. Untuk itu mereka akan selalu hitung cost unit sebelum menetapkan tarif agar ada keuntungan dari tarif yang telah diputuskan.

Jika Tarif Jamkesda yang ditetapkan pemerintah dibawah tariff rumah sakit, maka manajemen akan melihat kembali cost unit. Jika ada sedikit marjin dari tariff yang ditawarkan, maka mereka anakan menerimanya. Tapi jika tidak ada keuntungan yang diperoleh, maka mereka akan berifikir 1000 kali untuk menerima tawaran tersebut kecuali jika diperbolehkan rumahsakit menarik bayaran dari pasien jika ada selisih bayar.

Sebuah kenyataan, jika ada sebuah rumah sakit swasta yang melayani ASKES, Jamsostek ataupun jamkesda, maka masyarakat yang punya kartu jamkesda, askes ataupun jamsostek akan lebih memilih rumah sakit swasta dibandingkan rumah sakit pemerintah. Karena di rumah sakit pemerintah pemegang kartu jamkesda, askes ataupun jamsostek sering dianak tirikan dan dipersulit urusannya. Sedangkan di rumah sakit swsata merek dapat perlakuan yang sama.

Menurut hemat saya, rumah sakit swasta tidak akan menolak jamkesda program pemerintah, jika ada margin yang mereka peroleh. Rumah sakit swsta telah banyak berbuat untuk negeri ini. Banyak program pelayanan kesehatan yang tidak dapat dilaksanakan pemerintah telah dikerjakan oleh rumah sakit swasta. (Pasaman Barat Mei 2013)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ozi Destayuza, Lahirkan Atlit Taekwondo Bawa …

Muhammad Samin | | 30 September 2014 | 21:47

Bercengkrama Bersama Museum NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | | 30 September 2014 | 21:35

Berani Klaim Gadjah Mada, Harus Hargai Kali …

Viddy Daery | | 30 September 2014 | 20:57

(Macau) Mengapa Anda Harus Berlibur ke …

Tria Cahya Puspita | | 30 September 2014 | 20:06

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Layakkah Menteri Agama RI Menetapkan Iedul …

Ibnu Dawam Aziz | 8 jam lalu

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 11 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 13 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 15 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

PM Vanuatu Desak PBB Tuntaskan Dekolonisasi …

Arkilaus Baho | 7 jam lalu

Plus Minus Pilkada Langsung dan Melalui DPRD …

Ahmad Soleh | 7 jam lalu

Bantaran …

Tasch Taufan | 8 jam lalu

Indonesia Tangguh (Puisi untuk Presiden …

Partoba Pangaribuan | 8 jam lalu

UU Pilkada Batal Demi Hukum? …

Ipan Roy Sitepu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: