Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Ragile

*Tidak penting SIAPA yg menulis, yg penting APA yg ditulis*Lahir: Brebes 1960. Pernah kuliah Sastra selengkapnya

Demi Karir WNI Berganti WN Singapura

REP | 26 May 2013 | 13:39 Dibaca: 2070   Komentar: 54   15

13696551681464425838

foreign talent (sumber: transition.org)

Saya berkunjung ke rumah bapak-bapak di Bogor yang terpaksa merelakan anaknya ganti warga negara. Setelah anak lulus ITB Bandung kemudian gawe di bidang IT di korporasi Asia akhirnya si anak nancap di Singapura. Di sanahlah ia -secara tidak sadar- kena jaring program Foreign Talent (FT) garapan Lee Kuan Yew.

Sekedar catatan. FT adalah program andalan pemerintah Singapore guna menjaring tenaga profesional asing. Tenaga asing yang kedapatan unggul dibujuk agar gawe di Singapore. Kemudian dirayu menjadi warga negara Singapore. Sasaran FT adalah profesional di sekitar negara tetangga, khususnya China. Dengan FT pemerintah yakin mampu mempertahankan keunggulan ekonomi-bisnis di Asia Tenggara. Pendek kata mau tidak mau negara tetangga terus bergantung jasa SDM Singapore karena orang2 pandai telah berpindah warga negara ke Singapore.

Kembali ke kisah pemuda Bogor lulusan ITB Bandung.

Kunjungan saya terjadi pada Februari 2013. Sang ayah sungguh amat bangga kepada anaknya yang ahli IT/komputer. Konon jebolan ITB itu dines merancang jaringan komputer Asia. Sebentar ia nelpon ayah dari Beijing China. Besoknya nelpon dari Tokyo Jepang. Besoknya lagi nelpon dari Seoul Korea Selatan. Pokokna hebring pisan eta budak si abah keturunan Arab Bogor.

Secara ekonomi sang ayah amat beruntung. Si anak memberinya pegangan kartu ATM yang bebas narik uang tunai berapa juta pun. Tapi nampaknya si ayah agak nyesel kenapa anaknya pindah warga negara.

Saya sebagai pendengar pun sungguh menyayangkan. Gimana mau maju negara ini kalo yang pinter2 pindah jadi warga negara asing. Padahal ada contoh seperti BJ Habibie; walau lama di Jerman tapi kemudian berkiprah di negeri sendiri. Ada contoh lain yaitu programmer Medan di Belanda (bergaji US$5000/bulan) pulang kampung ke Medan sekitar tahun 2005 untuk buka software house milik sendiri.

Saya memaklumi pemuda itu mungkin amat tergiur iming2 masa depan gemilang di Singapura. Dengan gaji sekitar US$10000 (rp.100jt)/bulan plus fasilitas perumahan mapan tentu sulit ditolak. Sementara di sini kaum profesional bumi putra masih masih digaji semau gue oleh majikan. Pada saat yang sama tenaga asing digaji ratusan juta.

Nampaknya kita perlu waspada menyikapi program rekrut Foreign Talent oleh pemerintah Singapore. Orang2 pandai diincar intel Singapore agar mau pindah jadi warga negara mereka. Demi keuntungan ekonomi dan bisnis negerinya Lee Kuan Yew di atas negara sekitar.

Mari pikirkan. Setelah konglomerat indonesia diboyong ke Singapore, kemudian uang hasil korupsi disembunyikan di singapore, kemudian pasien kaya raya diporotin uangnya di Rumah Sakit Singapore, kemudian orang pandai pun diciduk ke Singapore, lalu apa yang tersisa di Indonesia?
***

-Ragile

www.kompasiana.com/ragile

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalahkan Norwich, Liverpool Kian Dekat …

Achmad Suwefi | | 20 April 2014 | 19:54

Ketagihan “Pecel Senggol” …

Hendra Wardhana | | 20 April 2014 | 16:01

Kebijakan Mobil LCGC Yang Akhirnya Membebani …

Baskoro Endrawan | | 20 April 2014 | 13:30

My Mother Is…? …

Salmah Naelofaria | | 20 April 2014 | 15:03

[Puisi Kartini] Petunjuk Akhir Event Puisi …

Fiksiana Community | | 20 April 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Awas Pacaran Sama Bule Player! Tips dari …

Cdt888 | 13 jam lalu

Mari Jadikan Sekolah Benar-Benar Sebagai …

Blasius Mengkaka | 15 jam lalu

Hargai Pilihan Politik Warga Kompasiana …

Erwin Alwazir | 16 jam lalu

Mandi Air Soda di Kampung, Ajaib! …

Leonardo Joentanamo | 17 jam lalu

Prediksi Indonesian Idol 2014: Virzha …

Arief Firhanusa | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: