Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Ryan Agatha Nanda Widiiswa

Amatiran yang hanya bisa Mengkritisi tanpa Solusi

“Banjir” Modal Asing, Positifkah?

OPINI | 01 June 2013 | 20:45 Dibaca: 342   Komentar: 0   0

Mungkin sudah banyak diantara kita mengetahui bahwa Indonesia sedang menggapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan tentunya membuat banyak investor asing untuk datang.Pada tulisan kali ini,saya ingin sedikit mengomentari tentang kejadian “banjir” modal asing yang ada di Indonesia dari kacamata saya yang masih sangat awam.Karena mungkin sudah terlalu banyak bermunculan komentar positif tentang “banjir” investor asing di Indonesia terutama dari pihak pemerintah,maka saya ingin mencoba melihatnya dari kacamata “negatif”. Hehe Semoga bisa menjadi bahan masukan positif dan juga penambah wawasan ,walaupun  dari kacamata awam seperti saya.Amin

Pertumbuhan ekonomi kita 6,02 persen hingga bulan Mei,Inflasi hingga bulan Mei seperti yang di katakan BI mencapai 5,30% ,suku bunga Bank Indonesia berada di level 5,75 % , dan suku bunga pasaran deposito berkisar antara 4,0 – 5,0% (Contohnya BCA yang menetapkan 4,5 – 5,0 persen dan Bank Danamon sebesar 5,0% ).Dari beberapa hal diatas dapat dikatakan perekonomian kita sedang “di genjot” apabila dilihat dari perbedaan suku bunga pasar dan inflasi,walaupun pertumbuhan ekonomi kita berada di bawah target BI pada kuartal pertama 2013.Seperti yang kita ketahui pada akhir 2012 pertumbuhan ekonomi kita mencapai 6,23% berada di peringkat 2 dunia setelah China pada peringkat pertumbuhan ekonomi.Melihat hal diatas tentu saja memberikan efek pada peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia,seperti yang ada pada data Bank Dunia, tahun 2003 jumlah kelas menengah di Indonesia hanya sebesar 37,7%, tapi pada 2010 mencapai 134 juta jiwa atau 56,6%.Fantastisnya pada akhir 2012, BI mengatakan jumlah kelas menengah di Indonesia merangkak naik mencapai angka 60% penduduk atau sekitar 151 juta jiwa.Bukankah ini merupakan fakta positif bagi perekonomian kita??? tapi kita semua harus berhati hati karena bisa saja Indonesia masuk ke dalam jebakan lobang konsumtif atau sering disebut middle income trap .Dengan angka 151 juta jiwa kelas menengah bisa saja menjadi sebuah hal “berbahaya” ,karena meningkatnya angka kelas konsumtif untuk produk luar negeri apabila tidak dibarengi dengan meningkatnya kualitas SDM dan produk dalam negeri.Apalagi pada tahun 2015 kita akan menghadapi perdagangan bebas ASEAN (Asean Economic Community),tentu saja bisa menjadi ancaman serius apabila tidak ada persiapan yang dilakukan pemerintah kita mengingat jumlah kelas menengah kita paling banyak diantara negara ASEAN lainnya.Apalagi menurut McKinsey Global Institute pada September 2012, bertambahnya pendapatan akan meningkatkan kelas konsumen Indonesia menjadi 90 juta orang pada 2030. Angka itu melebihi negara manapun kecuali Cina dan India,tentu saja bisa menjadi hal positif maupun negatif apabila tanpa persiapan yang matang untuk menuju “Perdagangan Bebas Dunia”.

Dengan meningkatnya jumlah kelas menengah kita yang menjadi salah satu kelas menengah terbesar di dunia tentu saja mengundang minat investor asing di Indonesia.Bahkan “Manusia terkaya didunia versi Forbes”, Carlos Slim,menyatakan tempat investasi pling menarik di dunia saat ini adalah di Amerika Latin dan Indonesia.Pengamat investasi asal Australia,John Coombe di acara Milken Institute Global Conference yang bertemakan Indonesia: The Emerging Secret mengatakan bahwa Indonesia adalah tempat paling tepat untuk investasi karena pasar yang besar dengan penduduk muda yang banyak (konsumtif).Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Sofjan Wanandi menyinggung kehadiran investor asing dengan mengatakan bahwa sebagian besar investor asing datang ke Indonesia hanya mengincar pasar Indonesia yang besar dan bukan untuk produksi ekspor ke luar negeri.

Fakta di lapangan pun sepertinya mendukung adanya “banjir” investor asing di Indonesia,seperti yang dikatakan oleh Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito bahwa kepemilikan saham investor asing di pasar modal dalam negeri mencapai 58% hingga akhir Maret 2013 lalu.Terundangnya investor asing di pasar modal bukan tanpa alasan, kenaikan angka kapitalisasi modal di IHSG mencapai rekor angka tertinggi pada 5340 dan mencatatkan peringkat kedua di dunia dibawah Jepang dengan angka pertumbuhan kapitalisasi pasar modal sekitar 16% .Tentu saja Indonesia menjadi surga investasi bagi investor asing,apalagi menurut catatan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) jumlah keseluruhan investasi di Indonesia didominasi oleh pemodal asing,dengan perbandingan 78% pemodal asing dan 22% untuk pemodal dalam negeri.Bukankah angka yang sangat timpang bukan??tentu saja bukan hal yang sehat melihat perbandingan ini karena seharusnya paling tidak modal dalam negeri bisa sedikit bernafas di negeri sendiri.Terus dimana sisi bahaya nya modal asing?? Berikut akan saya paparkan pemikiran dari seorang Ekonom favorit saya,Paul Krugman (Peraih Nobel Ekonomi) tentang efek “banjir” modal asing yang diambil dari salah satu tulisannya tentang kebijakan ekonomi.

Paul Krugman :

“Apabila terjadi kondisi dimana sebuah negara sangat menarik bagi investor asing,maka terjadi kenaikan arus modal yang masuk kedalam negara tersebut.Bersama arus modal masuk,orang asing membeli lebih banyak aset di negara tersebut.Manakala modal tersebut masuk,hampir sebagian besar digunakan untuk membangun industri baru apalagi jika terjadi di negara berkembang.Perusahaan investor asing akan membangun pabrik,mereka akan membeli perlengkapan impor.Arus investasi bisa menyulut terjadinya lonjakan domestik,yang berakibat menurunnya permintaan impor.Apabila negara tersebut menggunakan nilai tukar mengambang,maka arus modal masuk meningkatkan nilai mata uang.Skenario yang terjadi akan cenderung membuat harga produk dalam negeri itu meningkat dan terdepak dari pasar ekspor,dan imporpun akan mengalami peningkatan.”

Kita dapat lihat bahwa setidaknya “banjir” modal asing menurut Paul Krugman dapat membuat mata uang menguat yang pada jangka panjang menendang produk dalam negeri dari pasar domestik maupun ekspor.Sepertinya kita juga butuh sebuah contoh situasi sebuah negara yang terjadi “banjir” modal asing.

Belajar dari Pengalaman Meksiko

Selama era 1980 an tak ada yang mau berinvestasi di Meksiko dan negeri tersebut mengalami surplus perdagangan.Tetapi terjadi “titik balik” besar pada tahun 1989,investasi asing mengucur masuk di tengah optimisme baru perihal prospek Meksiko di masa revolusi industri.Sebagian uang itu di belanjakan untuk peralatan impor bagi pabrik pabrik baru di Meksiko,dan memicu menguatnya nilai “Peso” dan pada jangka panjang membuat “Peso” melambung terlampau tinggi.Sehubungan menguatnya Peso,membuat mengahambat ekspor dan mendorong banyak sekali konsumen Meksiko membeli impor.Pada akihirnya dapat disimpulkan bahwa Meksiko pun terlempar dari pasaran ekspor dan juga barang domestiknya pun kalah “bersaing harga” dengan produk impor,terutama buah buahan,sayuran dan bahan pokok makanan.

Mungkin yang menjadi perhatian disini bahwa setidaknya kedatangan “banjir” modal asing mempunyai suatu dampak negatif terhadap kekuatan ekspor apabila tidak di barengi dengan persiapan yang matang,terutama pada peningkatan kualitas SDM dan produksi barang domestik.Sudah semestinya kedatangan “banjir” modal asing menjadi sinyal awal bagi pemerintah untuk lebih bekerja keras,terutama Menteri Koperasi dan UKM untuk lebih bekerja keras lagi dalam membangkitkan Koperasi dari “tidur lelap”.Seperti yang kita ketahui bahwa koperasi telah lama “tertidur lelap” di roda perekonomian kita,dan tak jarang juga kita mendengar banyak koperasi gulung tikar dikarenakan salah kelola ,birokrasi yang rumit dan aksi korupsi dari pihak yang berkepentingan.Tak jarang pula kita mendengar banyak pengusaha kecil yang gulung tikar atau hanya “jalan di tempat” dikarenakan himpitan pinjaman bank yang sangat memberatkan.Karena seharusnya Koperasi dengan program “pinjaman lunak” nya bisa mengambil peranan penting untuk memacu Indonesia untuk tumbuh meningkatkan iklim usaha lokal sehingga dapat diharapkan bersaing di kancah perdagangan bebas.Jangan sampai pula dikarenakan kesusahan pengusaha lokal mencari modal dalam negeri membuat datangnya “banjir” modal asing yang ujungnya memakan pasar ekspor Indonesia dan membuka keran pintu masuknya impor barang.

“Saat ini jumlah koperasi di Indonesia mencapai 186.000. Tapi, kabarnya, sebanyak 70% diantaranya tinggal papan nama.”

Andaikata koperasi kita bisa kembali “bangun tidur “ dan menjadi roda perekonomian rakyat seperti yang dicita citakan Mohammad Hatta,mungkin ketimpangan modal yang terjadi tidak seperti sekarang.Dan mungkin sepertinya rakyat kecil akan punya andil banyak dalam perekonomian kita serta perekonomian kita menjadi lebih siap menghadapi perdagangan bebas.Jangan sampai buah dari pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya dinikmati oleh investor investor asing (contoh: bidang otomotif yang 100% dikuasai asing padahal pasar kita sangat menjanjikan) dan jangan sampai pula “event” perdagangan bebas yang akan datang hanya mengundang Indonesia sebagai negara konsumtif.

“Dan bagi rakyat yang lemah ekonominya, tiada jalan lain yang terpakai bagi memajukan usahanya, selain dari koperasi” Mohammad Hatta

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tarian Malinau yang Eksotis Memukau Ribuan …

Tjiptadinata Effend... | | 24 November 2014 | 11:47

Ini Sumber Dana Rp 700 T untuk Membeli Mimpi …

Eddy Mesakh | | 24 November 2014 | 09:46

Saatnya Kirim Reportase Serunya Nangkring …

Kompasiana | | 12 November 2014 | 11:39

Nyicipi Rujak Uleg sampai Coklat Hungary di …

Mas Lahab | | 24 November 2014 | 16:16

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 6 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 8 jam lalu

Tanggapan Negatif Terhadap Kaesang, Putera …

Opa Jappy | 9 jam lalu

Sikap Rendah Hati Anies Baswedan dan Gerakan …

Pong Sahidy | 10 jam lalu

Putra Presiden Konsumsi Babi …

Muhammad Armand | 11 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: