Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Agung Soni

.Laa Ilaaha Ilallaah Muhammad Rasulullah

RSUD Wangaya Denpasar: Bau, Pengap, & Kotor

REP | 09 June 2013 | 14:37 Dibaca: 110   Komentar: 0   0

RS Wangaya, sebuah rumah sakit yang terletak di Jalan Kartini 133 Denpasar. Rumah Sakit yang statusnya dibawah Pemerintah Kota Denpasar.

Rumah Sakit Wangaya ini didirikan pada Tahun 1921 dengan jumlah tempat tidur 30 buah, 15 buah untuk orang sakit bangsa Eropa dan Cina serta 15 tempat tidur lainnya untuk bumiputera. Rumah Sakit Umum Daerah Wangaya Kota Denpasar merupakan pusat pelayanan kesehatan untuk Bali Selatan.

Baru pertama kali saya datang ke RSUD Wangaya Denpasar ini.

Kemarin, Sabtu (08/06/2013) saya harus mengantar seorang karyawan yang mendapat kecelakaan terjatuh di kamar mandi. Segera sesampainya di RS Wangaya, kami masuk ke IRD ( Instalasi Rawat Darurat).

Karyawan saya ini harus dirontgen terlebih dahulu, mengingat luka dalam di bagian tulang bahu sebelah kiri nya yang patah.

Saya dan karyawan dibawa menuju ruang rontgen. Menyusuri lorong-lorong Rumah Sakit Pemkot Denpasar ini. Rasanya saya seperti harus menahan nafas panjang.

Duh, bau apa ini ya ? Pikir saya. Pening rasanya kepala saat menyusuri lorong yang dipinggir kiri kanannya banyak kamar rawat inap dan ruangan klinik praktek dokter spesialis.

Sampai di dekat ruang rontgen, saya sudah tidak tahan dengan bau sekitar kamar Rumah Sakit ini. Ditambah pengap nya sekitar ruangan menuju ruang radiologi.

Di pinggir lorong, banyak sekali orang yang meletakkan tas berisi pakaian dan makanan, juga ada tikar-tikar digelar di atas kursi tamu pasien. Saya sama sekali tidak menemukan pojok dan sudut ruangan yang bersih. Kotor dan sumpek, karena banyak pengunjung dan penunggu pasien yang tidur bukan hanya di depan kamar rawat, juga tidur di taman-taman RS.

Saya seperti mau pingsan, ketika ada seorang anak kecil dan seorang ibu sedang makan di dekat taman. Ya Allah, makan di tempat seperti ini , bisa ya ?… tambah mual rasanya.

Sempat saya melihat di tengah taman, tertancap sebuah plang hijau bertuliskan, ” Disini Titik Aman”. Maksudnya di sekitar taman, jauh dari bahaya radiasi dan bahaya kuman penyakit, kata perawat yang saya tanya.

Saya yang dalam keadaan pusing & mual, segera menuju ke tengah taman itu.

Bukannya membaik, malah tambah pusing.  Di taman, juga ternyata banyak keluarga penunggu pasien sedang tidur dan beristirahat. Banyaknya penunggu membuat saya tambah pusing.

Duh, sudahlah, saya akhirnya mengaku tidak kuat. Saya segera mencari jalan untuk keluar dari RS ini. Biar saja, karyawan saya sudah masuk ke ruang rontgen ditemani suaminya.

Serius dan heran dengan kondisi RSUD Wangaya ini.

Mungkin ada beberapa saran dan input buat RSUD Wangaya Denpasar :

1. Mengecat dan memperbaiki dinding-dinding bangunan yang tampak kusam dan gelap. Hampir seperti bangunan tua yang sudah tidak terurus.

2. Membersihkan semua kotoran bekas bedah, operasi dan bekas-bekas luka untuk dibuat pembuangan yang sempurna. Tidak diletakkan di tempat dekat pasien/pengunjung. Membuat RS menjadi bau yang tidak karu-karuan.

3. Mentertibkan penunggu pasien dan memberi sebuah ruangan untuk penunggu agar tidak tidur sembarangan di lorong-lorong RS depan kamar pasien.

4. Taman diperbaiki dan dialih fungsikan menjadi tempat yang rindang dan bersih. Seharusnya taman tidak djadikan untuk tidur dan beristirahat buat pengunjung dan penunggu pasien.

5. Ruang UGD/IRD harus diperlebar dan dibersihkan. Karena masih banyak bekas darah, nanah dan obat bercampur di dalam kantung sampah dan terlihat serta tercium baunya oleh pasien & pengunjung.

Demikianlah keadaan RSUD Wangaya Denpasar ini. Memprihatinkan dan menjadi sebuah keprihatinan bagi rakyat dan masyarakat Denpasar.

Rata-rata pengunjungnya adalah rakyat kecil. Apakah rakyat kecil hanya berhak menikmati fasilitas RS seperti ini ? Bau, Pengap dan Kotor ?……

Mudah-mudahan Pemerintah Kota Denpasar dan Pengelola RSUD Wangaya mau membenahi segala hal yang akhirnya bisa membuat RS ini menjadi lebih bersih, tidak bau dan tidak pengap.

Salam Kompasiana,

Denpasar, 09 Juni 2013

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tuntutan Kenaikan Upah Buruh yang Tak …

Agus Setyanto | | 31 October 2014 | 13:14

Perjuangan PPP & PPP Perjuangan …

Ribut Lupiyanto | | 31 October 2014 | 14:24

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Nonggup, Contoh Pergerakan Cerdas Orang …

Evha Uaga | | 31 October 2014 | 17:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Inikah Sinyal PKS Bakal Cabut UU Pornografi? …

Gatot Swandito | 6 jam lalu

Hasil Evaluasi Timnas U-19: Skill, Salah …

Achmad Suwefi | 10 jam lalu

Kabinet Jokowi Tak Disukai Australia, Bagus! …

Aqila Muhammad | 10 jam lalu

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | 10 jam lalu

Pencitraan Teruus??? …

Boyke Pribadi | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Kompasiana-Tanoto Foundation Blog …

Kompasiana | 7 jam lalu

Sang Pawang Jati …

Den Bhaghoese | 8 jam lalu

Meningkatkan Kesadaran Tentang Korupsi …

Andrew Ebeneizer Se... | 8 jam lalu

Moratorium CPNS 5 Tahun? Slow aja! …

Niztchan | 8 jam lalu

Vergiss-mein-nicht (Gema di Lautan Sunyi …

Monika Chandra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: