Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Hendrich Suksesto Cakra

seorang pengamat dan pemerhati ekonomi dan politik

Menjelang Kenaikan BBM ( Lagi )

OPINI | 11 June 2013 | 00:53 Dibaca: 148   Komentar: 4   0

Menjelang bulan Juli ini dimana kita menyambut tahun ajaran baru dan  bulan Ramadhan sekaligus, kita rakyat Indonesia

mau tidak mau mesti menerima ketupat ( kado ) hari Raya sekaligus kado HUT RI yang ke 68 yakni

kenaikan BBM dimana premium menjadi Rp 6000 / 6500 dan solar Rp 5500. Suatu kado yang mungkin tidak semua

pihak suka menerimanya, karena kado ini seakan menghentikan nafas mereka sesaat ketika (detik ) pertama kali           ( diumumkan ) dterima.

Sebenarnya kalo saja pemerintah mau bersabar untuk tidak menaikkan harga BBM dengan cara :

1. HANYA MENJUAL BBM NON SUBSIDI DIMANA DAERAH TERSEBUT MEMANG HABITATNYA ORANG KAYA DAN BENAR BENAR KAYA DENGAN INDIKATOR YANG NYATA DARI JENIS KENDARAAN YANG DIGUNAKAN, RUMAHNYA DAN HALAMAN YANG LUAS.

2.MENERBITKAN VOUCHER PEMBELIAN BBM SEPERTI MEMBELI PULSA HANDPHONE DIMANA VOUCHER TERSEBUT  ADA KUOTANYA DAN BERJANGKA WAKTU.

artinya pemerintah menjual voucher tersebut di SPBU dan setelah habis kuota di voucher tersebut tidak bisa lagi beli yang BBM subsidi. misalnya pemerintah menjual voucher senilai RP 1.ooo.ooo / kendaraan selama sebulan atau sejumlah 1 juta rupiah untuk kendaraan pribadi. setelah itu tidak bisa lagi membeli BBM subsidi harus menunggu atau membeli voucher lagi.

3.membangun SPBU khusus angkutan umum untuk menjual dan hanya boleh dibeli oleh mobil plat kuning atau mobil bertanda khusus seperti pemerintah berlakukan selama ini yang sudah ada seperti SPBM ( khusus militer )

yang hanya bisa dibeli oleh militer di Pompa bensin tersebut.

pemerintah di opsi ketiga ini memanggil semua usaha pengangkutan dan memverifikasi data mobil angkutan mereka ini,dan hanya yang telah terdata pemerintah ini boleh membeli di SPBU khusus ini.

Mungkin pemerintah lupa atau menutup mata dan telinga, karena setiap tahun menjelang Ramadhan dan apalagi ini merupakan awal tahun ajaran baru harga naik berkali lipat apalagi untuk jenis sembako ditambah kenaikan BBM maka harga tidak hanya berkali lipat ,naik bisa berpuluh kali lipat untuk kebutuhan sekolah khususnya dan sembako umumnya.

jadi sungguh tidak tepat waktu untuk menaikkan BBM pada saat dimana Indonesia menyambut ramadhan dan tahun ajaran baru.

kompensasi apapun namanya pada saat ini tidak signifikan dalam meringankan beban masyarakat , terutama yang

bergaji tetap, pengeluaran mereka bertambah melebihi 50 % gaji mereka, ibarat orang yang kelaparan diberi makan sepotong goreng pisang.

apalah arti rp 150000 sebulan selama 5 bulan dengan pengeluaran yang bertambah sekitar minimal 300000 sebulan selama berbulan bulan lamanya menjelang ( lagi naiknya BBM ) masa mendatang.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wisata ke Perbatasan Surga dan Neraka di …

Taufikuieks | | 17 December 2014 | 11:24

Melahirkan Cesar Versi Saya dan Ashanty …

Mariam Umm | | 17 December 2014 | 13:39

Mau Operasi Kanker Tulang Kemaluan Atau …

Posma Siahaan | | 17 December 2014 | 19:17

The Hobbit: The Battle of the Five Armies …

Iman Yusuf | | 17 December 2014 | 21:02

Lima Edisi Klasik 16 Besar Liga Champions …

Choirul Huda | | 17 December 2014 | 21:54


TRENDING ARTICLES

Sadisnya Politik Busuk Masa Pilpres di …

Mawalu | 8 jam lalu

Kalah Judi Bola Fuad Sandera Siswi SD …

Dinda Pertiwi | 8 jam lalu

Mas Ninoy N Karundeng, Jangan Salahkan Motor …

Yayat | 9 jam lalu

Jiwa Nasionalis Menteri yang Satu Ini …

Adjat R. Sudradjat | 9 jam lalu

Hanya Butuh 22 Detik Produksi Sebuah Motor …

Ben Baharuddin Nur | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

7 Cara Ajaib! Memenangkan Lomba Vote di …

Giant Sugianto | 11 jam lalu

Aristan : Audit Dinas PU Sigi …

Geni Astika | 12 jam lalu

100 Hari Menuju Sakaratul Maut …

Ivone Dwiratna | 12 jam lalu

Dulu Soekarno Mengusir Penjajah, Sekarang …

Abdul Muis Syam | 12 jam lalu

Seniman, antara Profesi dalam Angan dan …

Suharyadi | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: