Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Daniel H.t.

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Garuda Indonesia Sudah Bagus, Bagaimana dengan Bandara-nya?

OPINI | 30 June 2013 | 23:31 Dibaca: 2614   Komentar: 6   2

1372608993943837628

Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta (sumber: blog.therabuana.com) dan gambar desain Terminal 2 Internasional Bandara Juanda, Surabaya (sumber: bumn.go.id) (kanan)

Terus membaiknya kualitas layanan Garuda Indonesia terhadap konsumennya dengan berbagai program layanan Garuda Indonesia Experience dan Quantum Leap 2011-2015, berdampak pada semakin dipercayanya Garuda Indonesia oleh pengguna transportasi udara, baik dari dalam negeri sendiri, maupun dari luar negeri. Eropa pun mulai dirambah, diawali dengan Amsterdam, Belanda, yang akan segera diikuti dengan London, Inggris, pada 1 November 2013 ini dengan menggunakan pesawat terbarunya, Boeing 777-300ER. Tahun ini Garuda Indonesia akan memiliki 24 pesawat terbarunya yang akan dioperasikan di berbagai rute baru dalam dan luar negeri.

Rute internasional baru Garuda Indonesia lainnya di tahun 2013 ini adalah Medan-Penang (Malaysia) p.p (mulai 1 Juni 2013), Jakarta-Perth p.p. (mulai 28 Juni 2013), Jakarta-Brisbane p.p., Denpasar-Brisbane p.p. (mulai 1 Agustus 2013)

Nama Garuda Indonesia pun mulai disegani di dunia penerbangan internasional. Indikasinya antara lain, setelah 30 tahun kanter check-in-nya di Terminal 1 Bandara Changi, Singapura, yang “ketinggalan zaman,” sejak 22 November 2011 kanter check-in Garuda Indonesia telah pindah ke Terminal 3  di salah satu bandara terbaik di dunia tersebut. Selain memiliki fasilitas yang paling moderen dan paling lengkap (berkelas “state of the art”), terminal ini juga sangat mewah dengan berbagai toko dan butik moderen yang serba mewah. Lantainya beralas karpet beludru mewah tebal, dengan interiornya yang bahkan lebih mewah daripada mall moderen yang ada saat ini. Tidak sembarang maskapai penerbangan bisa punya kanter check-in di terminal ini.

Para penumpang Executive Class Garuda Indonesia dapat menikmati layanan VIP di JetQuay CIP Terminal Singapura. Melalui Terminal 3 ini, para penumpang executive class akan mendapat layanan personal, dari check-in, imigrasi, hingga pengurusan bagasi (Kompas.com).

1372609441521190348

(http://www.flickriver.com/photos/sutanto/tags/sin/)

1372609488425339016

http://www.flickriver.com/photos/sutanto/tags/sin/

Dengan semakin tingginya pengguna Garuda Indonesia, maka, PT. Garuda Indonesia (Persero) Tbk. menutup tahun 2012 dengan Laba Komprehensif (Comprehensive Income) meningkat sebesar 100 persen, dari 72,7 juta dollar AS pada 2011, menjadi 145,4 juta dollar AS pada 2012. (garuda-indonesia.com)

Prestasi Garuda Indonesia pun terus berlanjut di tahun 2013 ini, dengan berhasil meraih The World Best Airline Economy Class 2013, dari Skytrax, sebuah lembaga audit independen di bidang penerbangan dunia berkedudukan di London, mengalahkan Singapore Airlines yang tahun lalu berada di posisi tersebut, tahun ini turun di posisi nomor empat.

Dari Skytrax Garuda Indonesia, di 2013 ini juga memperoleh penghargaan berupa sertifikat penerbangan bintang empat (“4-Star Airline Skytrax). Target Garuda Indonesia di 2014 adalah “5-Star Airline Skytrax,” yang berpotensi besar mendudukan posisinya sejajar dengan maskapai raksasa dunia lainnya, semacam Singapore Airlines.

1372608342852944249

Mr Emirsyah Satar, President of Garuda Indonesia (centre right) receives the Award from Edward Plaisted of Skytrax (centre left) flanked by (http://www.worldairlineawards.com/Awards_2013/yseats.html)

13726395601137178287

Pencapaian Garuda Indonesia 2010 - 2013, dan target di 2014 (presentasi Pikri Ilham Kurniansyah, Senior Manager Pre & Post Flight Services Garuda Indonesia, Kamis, 20 Juni 2013

Aerofood ICS

Semua pencapaian tersebut tentu saja selain didukung oleh berbagai program dan manajemen Garuda Indonesia yang bagus, dia juga didukung oleh berbagai faktor di luar aspek manajemen penerbangannya. Salah satunya adalah perihal makanan dan minuman penumpang yang berkualitas tinggi. Untuk keperluan tersebut Garuda Indonesia didukung oleh Aerofood ACS, salah satu dari anak usaha Grup Garuda Indonesia, Aerowisata.

Dukungan dari Aerofood ICS ini merupakan bagian dari “28 Customer Touch” dan “5 Konsep Dasar Garuda Indonesia Experience” yang sudah saya ulas di artikel saya yang berjudul Garuda Indonesia: Menikmati Kenyamanan Terbang di Atas yang Lain.

Selain melayani penyediaan makanan dan minuman untuk Garuda Indonesia, dengan menggunakan standar manajemen ISO 9001 dan ISO 22000, Aerofood ACS juga dipercaya oleh 23 perusahaan maskapai penerbangan lainnya. Lima belas di antaranya adalah maskapai penerbangan asing, termasuk dari maskapai-maskapai penerbangan raksasa dunia yang selalu menetapkan standar tinggi untuk kualitas makan dan minuman untuk penumpangnya, seperti Emirates Airlines, Qatar Ailines dan Singapore Airlines, yang berturut-turut adalah peringkat pertama (the best), kedua, dan ketiga penerima The World’s Best Airline 2013 Awards dari Skytrax.

13726398001820749827

16 Maskapai penerbangan besar yang menjadi rekanan bisnis Aerofood ICS

Selain itu Aerofood ACS juga memperoleh standar halal dari MUI, sehingga bagi kaum Muslim tidak lagi punya keraguan untuk menyantap makanan dan minuman yang diproduksi oleh ACS Food.

Selain melayani industri penerbangan, Aerofood ACS Jakarta juga melayani beberapa rumah sakit besar dan perusahaan asing besar di Jakarta, antara lain Rumah Sakit Pondok Indah, Siloam Hospital, RS ASRI, Kemang Medical Care, Mayapada Hospital, Nestle, Mitsubishi Chemical Indonesia, Trakindo, dan lain-lain.

Dari rekanan-rekanan bisnisnya yang terdiri dari perusahaan-perusahaan raksasa dunia itu tak diragukan lagi kualitas produk dan layanan ACS Food yang juga bergerak di bidang laundry untuk keperluan di atas pesawat itu.

Pada 22 April 2013, Aerofood ACS menerima penghargaan dari Frost and Sulivan, lembaga konsultan internasional dengan kategori 2013 Best Indonesian Airlines Support Provider of the Year.

Sedangkan Singapore Airlines juga memberi penghargaan kepada Aerofood Jakarta untuk Excellent Service Performance for Last Minute Order Short Noticed on SQ Flights.

Berikut ini adalah video mengenai kegiatan di Aerofood ICS yang saya ambil dari YouTube.

Garuda Indonesia Sudah Bagus, Bagaimana dengan Kualitas Bandara-nya?

Dengan pelayanan dan dukungan dari perusahaan-perusahaan besar seperti Aerofood ICS itu, lalu apa lagi yang masih kurang dari Garuda Indonesia?

Dari Garuda Indonesia sudah bagus. Manajemen dan program-programnya sudah sangat bagus,  meskipun tentu saja masih terus tak kenal hentinya untuk terus dikembangkan.

Yang terasa masih kurang adalah fasilitas dan layanan di bandara-bandaranya, tak terkecuali untuk Banda Internasional Juanda, di Sidoarjo/Surabaya, dan Soekarno-Hatta   di Cengkareng/Jakarta, yang dikelola oleh PT (Persero) Angkasa Pura I dan II.

Dengan digunakan tiket elektornik (e-ticket), penumpang cukup menyebutkan nomor booking dan menunjukkan kartu identitas dirinya sewaktu check-in. Namun hal ini masih menjadi kendala di bagian petugas security yang menjaga di pintu masuk ruang check-in. Mereka pada umumnya masih meminta tiket elektronik dalam format cetaknya.  Kadang-kadang hal ini menjadi masalah ketika penumpangnya tidak membawa format cetak dari tiket elektroniknya itu.

Bandara Internasional Soekarno-Hatta

1372609600720903403

Ruang Tunggu Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta (fotopurwoko.blogspot.com)

Kalau Bandara Changi Singapura selalu menjadi langganan sebagai bandara terbaik di dunia (The World’s Best Airport), termasuk di tahun 2013 ini dari Skytrax, maka Bandara Soekarno-Hatta menjadi langganan sebagai salah satu bandara internasional terburuk di dunia.

Penilaian buruk ini wajar diterima Bandara Soekarno-Hatta karena bandara ini masih minim fasilitasnya untuk memanjakan konsumennya. Terutama sekali di terminal-terminal domestiknya. Seperti kurangnya tempat duduk di dalam terminal dan ruang tunggu, kurangnya fasilitas bagi orang tua yang tidak kuat berjalan jauh, kurangnya toko/butik dan restoran yang berkualitas, dan tidak adanya fasilitas hiburan untuk para penumpang yang masih menunggu lama jadwal terbangnya.

Saya pernah masuk di sebuah lounge di Bandara Soekarno-Hatta di terminal domestik, dari luarnya kelihatan besar dan cukup mewah, menerima cukup banyak macam kartu kredit. Ketika sudah masuk, ternyata letak lounge itu berada di lantai bawah. Saya harus menuruni anak tangga yang berbentuk huruf L dengan menenteng kopor kecil saya. Suasana ruangan, jumlah dan jenis makanan  yang tersedia sangat mengecewakan. Ruangannya terkesan seperti depot makanan sederhana, makanan beratnya hanya terdiri dari nasi putih, ayam goreng dan sayur tempe goreng.

Tanggal 20 Juni lalu, saya berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta ke Surabaya, dengan pesawat Garuda. Biasanya, gate untuk penumpang Garuda ke Surabaya itu ada di Gate F1. Demikian juga hari itu (tercantum di Boarding Pass-nya). Ketika saya hendak masuk ke Gate F1, ternyata gate-nya sudah diubah ke F3. Itu dilakukan tanpa ada pengumuman pemberitahuannya. Banyak penumpang yang “kecele” seperti saya. Hal ini menunjukkan kualitas layanan dari Angkasa Pura II, pengelolanya bandara tersebut, yang kurang baik.

Paman saya adalah member Garuda Frequent Flyer (GFF) Platinum. Dia bilang fasilitas yang didapatkan dari Garuda sebagai member GFF Platinum itu memuaskan. Tetapi, mengecewakan dia adalah setelah terbang, untuk mengambil bagasi, mereka sebagai member GFF Platinum itu juga disamakan dengan penumpang biasa lainnya, yakni harus antri lama di  bagian pengambilan bagasai.

Rawan rusak dan hilangnya bagasi/barang milik penumpang, beberapakali terjadinya mati listrik, dan radar bandara yang sudah tua, merupakan beberapa faktor utama yang merusak citra Soekarno Hatta sebagai bandara internasional.

Beberapa contoh kasus yang diberitakan di detik.com:  28 Mei 2013, seorang penumpang bernama Julianti yang baru datang dari Amerika Serikat, membawa 9 bagasi. Ketika mau mengambil bagasinya itu, dua di antaranya telah dibuka paksa, sejumlah barang berharga di dalamnya hilang dicuri, termasuk sebuah tas selempang abu-abu bermerek Louis Vuitton seharga Rp 15 juta.

Tanggal 9 Juni 2013, kasus perusakan tas di bagasi Bandara Soekarno-Hatta itu juga dialami Alida Simanjuntak, penumpang pesawat dari Medan. Pakaian dan kosmetika di dalam tas acak-acakan setelah dia mendarat di Bandara itu. Risliting kopornya dirusak, barang di dalamnya diacak-acak. Rupanya, pelakunya mencari barang berharga di dalam kopor itu, tetapi tidak ketemu.

Seorang WNI yang saat ini tinggal di Milan, Italia, menceritakan, saat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada 21 Mei 2013, bagasinya sudah rusak. “Satu bagasi gemboknya jebol, satunya lagi gembok dan roda-rodanya rusak.

Dhita yang menetap di Swiss punya pengalaman yang sama buruknya di Bandara yang sama. Dalam penerbangan Medan-Denpasar, transit Soekarno-Hatta, pada Agustus 2012. Dia kehilangan laptop yang dimasukkan di dalam kopornya. Hal itu baru diketahui setelah tiba di Denpasar. Dia mengaku tidak tahu, di mana sebenarnya laptop-nya itu dicuri, apakah di medan, ataukah di Jakarta.

Bandara Soekarno Hatta memang sejak 15 April 2009 sudah memiliki terminal internasional baru, yakni di Terminal 3, yang telah diresmikan oleh Presiden SBY pada 28 April 2013. Desain bangunannya memang sudah moderen, demikian juga dengan interiornya, di dalam terminalnya yang didesain dengan konsep ecomodern, minimalis, dengan lantai yang berasal karpet, sehingga terlihat mewah. Jauh sekali dengan terminal-terminal domestiknya yang semakin lama semakin seperti terminal bis saja. Tetapi, apakah artinya bentuk fisiknya, kalau manajemen dan keamanannya masih menggunakan cara lama? Sehingga terjadi peristiwa-perisitiwa seperti di atas?

Bandara Internasional Juanda, Surabaya

1372609804434638967

Desain Interior check in Terminal 2 Bandara Internasional Juanda (aaa-studio.blogspot.com)

Di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, masih kerap terlihat banyak orang yang merokok, dan duduk lesehan di lantai. Sehingga memberi kesan seperti di terminal bis saja.

Di zona penjemputan penumpang, semua mobil dilarang parkir. Sempat ada peraturan, jika masih ada mobil yang parkir di sana, bannya akan digembok. Untuk membuka kembali, pemilik/pengemudi mobil yang bersangkutan harus membayar denda Rp 250.000. Aturan ini sempat jalan beberapa bulan saja.

Sekarang, di lokasi penjemputanitu ada saja mobil-mobil mewah dan pejabat yang parkir di sana, tanpa dikenakan tindakan apa-apa.

Ruang imigrasi untuk kedatangan di Bandara Juanda juga jauh dari kesan sebuah bandara internasional. Karena ruangannya yang terlalu sederhana dan terlalu sempit. Saya perkirakan maksimal hanya  cukup memuat jumlah orang dari dua pesawat sejenis Boeing 737-800. Lebih dari itu tak bakalan muat ruangannya.

Bandara Juanda saat ini tergolong masih baru. Mulai dioperasikan pada 7 November 2006, sebagai pengganti bandara lama yang fasilitas-fasilitasnya sudah tidak lama tidak memenuhi syarat. Bandara ini tentu saja sebelumnya sudah dirancang dengan perhitungan yang matang agar kapasitasnya bisa menampung penumpang pesawat terbang sampai jauh beberapa tahun ke depan. Ironisnya, baru dioperasikan tidak sampai satu tahun, kapasitas penumpangnya sudah melampui target yang dibuat ketika bangunan itu masih dalam rancangan. Bandara ini pun sudah kewalahan menampung seluruh penumpang pesawat terbang. Entah, cara perhitungan bagaimana yang dilakukan, sehingga bisa begini?

Sebagai solusinya, sekarang ini sedang dibangun terminal 2. Lokasinya di terminal lama, yang seluruh bangunan lamanya sudah dibongkar rata dengan tanah. Di atas lokasi ini sedang dibangun bangunan terminal yang baru, yang nantinya akan menjadi Terminal 2 Bandara Juanda yang dikhususkan penerbangan internasional, termasuk lokasi khusus untuk Garuda Indonesia dan Citilink.

Terminal yang juga dirancang akan mampu menampung 6,5 juta penumpang internasional per tahun, dengan desaibnya mengikuti tren bandara moderen saat ini, ecomoderen, green, dan minimalis. Dijadwalkan akan selesai pada November 2013 ini, mulai bisa dipakai tepat pada Hari Pahlawan, pada 10 November 2013.

Kita tentu saja sangat mengharapkan ada perubahan yang signifikan dari Angkasa Pura I dan II untuk membenahi bandara-bandara yang dikelolanya, agar bisa menjadi jauh lebih baik daripada sekarang. Sehingga suatu waktu kelak, bukan hanya Garuda Indonesia, tetapi juga bandara internasional di Indonesia, terutama Soekarno-Hatta atau Juanda akan menjadi salah satu bandara terbaik di dunia. ***

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Jalan, Super Admin Kompasiana! …

Nurul | | 27 August 2014 | 11:44

Bledug Kuwu, Fenomena Langka Alam Indonesia …

Agoeng Widodo | | 27 August 2014 | 15:18

Tukang Ojek yang Membawa Perdamaian di Kota …

Uwais Azufri | | 27 August 2014 | 14:30

Artis Cantik Penginjak Bendera ISIS …

Den Hard | | 27 August 2014 | 12:26

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Boni Hargens cs, Relawan atau Buruh Politik …

Munir A.s | 10 jam lalu

Pak Jokowi, Buka Hubungan Diplomatik dengan …

Ninoy N Karundeng | 11 jam lalu

Persaingan Para Istri Bersuamikan WNA …

Usi Saba Kota | 11 jam lalu

“Tuhan, Mengapa Saya Kaya?” …

Enny Soepardjono | 12 jam lalu

DPRD Jakarta Belum Keluar Keringat, tapi …

Febrialdi | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: