Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Advancer Ready

Saya memposting apa yang hati saya katakan sebelum kepala saya mengarahkan tangan menulis apa yang selengkapnya

Pendapat Mengenai LCGC - CMIIW

OPINI | 19 September 2013 | 22:47 Dibaca: 289   Komentar: 3   1

Saat ini pemerintah sudah mengeluarkan aturan mengenai mobil murah, banyak pro kontra dari masyarakat dan pejabat. Kita simak pro mobil murah yang sudah mengeluarkan pernyataannya : Sofian Wanandi (Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia), Wapres Budiono, MS Hidayat, Hatta Rajasa, Rony Haslim (Dirut BCA) dan semacamnya, perusahaan pembiayaan mobil dan semacamnya dan tentu para produsen mobil dst dst.

Sedangkan kontra mobil murah (penolakan) yang sudah mengeluarkan pernyataannya : Jokowi, Djoko Setijowarno (Pengamat Transportasi dari Universitas UGM), Arif Budimanta (Direktur Eksekutif Megawati Institute), Ridwan Kamil (Walikota Bandung), Ivan Yulianto (Kepala Dinas Perhubungan Kota Tangerang), Ganjar Pranowo  dst dst

IMHO, Tiap orang berhak untuk bisa membeli mobil, apalagi yang biasa naik motor terkena panas dan hujan serta polusi udara langsung, tentunya kita tidak bisa menahan keinginan tersebut, bisa membawa keluarga liburan masuk tol tanpa berdesak-desakan di transportasi umum / massal yang masih sangat tidak layak. Di balik itu, ada ancaman ekonomi yang high cost saat kemacetan parah terjadi baik itu dari sisi waktu, energi dari pemakai secara pribadi maupun dari sisi bisnis.

Saya tidak membahas semua itu, namun efek dibalik adanya mobil murah tsb :

Skenario 1        :

Mobil murah akan menambah kemacetan karena peningkatan volume kendaraan tidak   sebanding dengan perkembangan infrastruktur jalan, untuk   kota besar seperti Jakarta dan Bandung maka ini akan momok menakutkan. Maka untuk mencegah hal tersebut Pemkot Jakarta berencana akan memberlakukan plat nomor ganjil genap, pajak parkir dan pembelian yang tinggi, Electronic Road Pricing.

Skenario 2        :

Harga mobil murah tidak sesuai yang dikatakan benar-benar murah, masih diatas Rp. 80,000,000 alias masih 6-8 x lipat dari harga motor, betulkah masyarakat bawah yang akan membeli atau masyarakat menengah atas yang membeli untuk menambah koleksi moda transportasinya.

Skenario 3        :

Mobil murah karena hemat bbm alias > 20km/liter serta penggunaan komponen DN besar maka dibebaskan dari pajak barang mewah, pemberian insentif untuk LGCC dianggap program pro asing yang akan mematikan mobil merek nasional (MobNas) spt Esemka, Gea, Tawon, Komodo dll. Dengan selisih harga tipis, maka merek asing  yg jaringan ATPM service dll sudah luas dan bisa dikredit serta merta akan menghantam MobNas sebelum bangkit alias proyek MobNas dikebiri.

Skenario 4        :

Pemerintah mencanangkan pemakaian mobil murah harus menggunakan BBM non subsidi, sehingga biaya subsidi bbm dari pemerintah akan makin besar. Mobil murah juga wajib menggunakan bahan bakar RON 92, apakah masyarakat  bawah mau memakai pertamax plus atau ekivalennya untuk mobile harian? Kecuali pemilik mobil memiliki dana cukup untuk operasional mobilnya.

IMHO,

Dari berbagai skenario diatas, pengadaan mobil murah akan menyebabkan biaya operasional (bayar cicilan kalau tidak cash, pajak mobil, tol, bbm, pak ogah dll) pada tingkat konsumen maupun pemerintah (subsidi bbm, keamanan dan kemacetan lalu lintas, jakarta berhenti total) akan semakin tinggi sedangkan keuntungan produsen dan lembaga terkait akan semakin besar. Ini khusus untuk kota besar. Subsidi bbm yang tinggi akan memaksa pemerintah untuk impor dan menaikkan harga bbm (again!) skenario paling besar dari asing adalah kerusuhan akibat ekonomi (bayangkan : macet+polusi udara tambah+harga bbm tinggi = panas kepala :) Sedangkan jika penjualan/pemakaian mobil murah dilakukan di daerah/desa akan membantu aktivitas ekonomi masyarakat, cukup tepat, ini bisa dilakukan dengan sistem kuota.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pengalaman Menjadi Tim Sukses Caleg Gagal …

Harja Saputra | | 24 April 2014 | 08:24

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Virus ‘Vote for The Worst’ Akankah …

Benny Rhamdani | | 24 April 2014 | 09:18

Nonton Pengumpulan Susu Sapi di Kampung …

Merza Gamal | | 24 April 2014 | 08:30

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 5 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 6 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 7 jam lalu

Prabowo Beberkan Peristiwa 1998 …

Alex Palit | 11 jam lalu

Hapus Bahasa Indonesia, JIS Benar-benar …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: