Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Himam Miladi

Try not to become a man of success, but rather try to become a man selengkapnya

Satpam PT. Shandy Putra Makmur, Pahlawan Buruh Indonesia

REP | 19 September 2013 | 22:36    Dibaca: 499   Komentar: 1   0

Tanpa sebuah demo, tanpa gembar-gembor pemberitaan, dan tanpa bantuan pengacara, beberapa mantan satpam dari sebuah perusahaan penempatan tenaga kerja berhasil memperjuangkan hak para buruh Indonesia. Adalah satpam dari perusahaan PT. Shandy Putra Makmur yang berhasil menggugat dan mematahkan Undang-Undang Ketenagakerjaan yang dibuat oleh DPR bersama pemerintah dengan miliaran rupiah itu. Marten menggugat pasal Pasal 96 UU 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan meminta Mahkamah Konstitusi membatalkan penerapan undang-undang tersebut. Pasal itu mengatur masa kadaluwarsa tuntutan pembayaran upah pekerja atau buruh maksimal 2 tahun.

Dalam putusan sidang yang dilakukan Kamis (19/9), MK memutuskan untuk menghapus pasal 96 UU Ketenagakerjaan, yang berbunyi Tuntutan pembayaran upah pekerja/buruh dan segala pembayaran yang timbul dari hubungan kerja menjadi kedaluwarsa setelah melampaui jangka waktu 2 (dua) tahun sejak timbulnya hak.

Mengabulkan permohonan untuk seluruhnya. Menyatakan pasal yang dimohonkan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat,” putus MK yang dibacakan Ketua MK Akil Mochtar di gedung MK Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (19/9/2013).

Menurut MK, upah dan hak buruh tidak bisa hapus karena adanya lewat jangka waktu tertentu. Menurut MK, pasal 96 itu bertentangan dengan Pasal 28 D ayat 1 dan 2 UUD 1945.

“Upah dan segala pembayaran yang timbul dari hubungan kerja merupakan hak buruh yang harus dilindungi sepanjang buruh tidak melakukan perbuatan yang merugikan pemberi kerja. Oles sebab itu tidak dapat hapus karena adanya waktu tertentu,” demikian pertimbangan MK.

Salah seorang satpam yang ikut menggugat, Martin Boiliu mengatakan gembira dengan putusan MK tersebut.¬†“Bagi saya ini pertimbangan yang cukup luar biasa dan ini kemenangan buruh seluruhnya bukan secara pribadi,” ujarnya. Selama ini, Martin, dan beberapa rekannya yang sudah diputus kerja tidak bisa menuntut pesangon yang belum dibayarkan oleh perusahaan. Namun, dengan adanya putusan MK ini, Martin bisa bernafas lega karena para buruh seperti dirinya bisa mempunya dasar hukum yang kuat untuk mengajukan hak pesangon ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI), tanpa adanya batasan waktu.

Sudah selayaknya para buruh bisa meniru dan mengambil teladan dari Martin dan rekan-rekan satpam PT. SMP. Untuk menuntut hak, tidak harus diperjuangkan lewat demonstrasi yang ujung-ujungnya hanya menyusahkan masyarakat yang lain. Toh masih banyak jalan keadilan yang bisa ditempuh.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pulang ke Solo, Presiden Kejutkan Arena CFD …

Niken Satyawati | | 24 May 2015 | 22:16

Rencana Aji Santoso dan Fakhri Husaini …

Achmad Suwefi | | 25 May 2015 | 06:53

Fakta-Fakta Menarik Seputar Gowes …

Rifki Feriandi | | 25 May 2015 | 05:38

6 Dari 10 Teman Saya Melakukan Operasi …

Gitanyali Ratitia | | 25 May 2015 | 01:26

Saksikan Live Streaming Kompasiana Seminar …

Kompasiana | | 25 May 2015 | 10:47


TRENDING ARTICLES

Beras Plastik Buatan PDIP, KMP atau Mafia …

Imam Kodri | 5 jam lalu

Joko Widodo Presiden Kebetulan …

Muhammad Armand | 7 jam lalu

Etika Presiden Naik-Turun Pesawat dengan …

Daniel H.t. | 13 jam lalu

Kisruh Golkar Senjata Jusuf Kalla, Petral …

Ninoy N Karundeng | 22 jam lalu

Lecehkan Ras Sunda, Color Run Subang Dicekal …

Jadiah Upati | 22 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: