Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Amirsyah

Abdi Negara/Pelayan yg berpindah2 tugas di Nusantara. Minat: Keuangan Negara, Akuntansi, Auditing, IT & banyak selengkapnya

Efek dari Peluncuran Mobil Murah

OPINI | 20 September 2013 | 16:10 Dibaca: 443   Komentar: 4   2

Pemerintah telah merestui peluncuran mobil murah yang diberi tema Low Cost Green Car (LCGC) yang intinya (katanya) mobil murah hemat energi. Iyakah??? Saya pribadi tidak yakin dengan tema ini. Bagaimana mau hemat energy, kalo yang biasanya pakai sepeda motor yang mengkomsumsi cukup 3 liter per minggu sekarang pakai mobil yang bisa puluhan liter per minggu.

Seorang menteri mengatakan pengguna mobil LCGC yang tidak menggunakan Pertamax alias BBM Non Subsidi akan mengakibatkan mobil mengalami kerusakan dan akan paling lama mesinnya bertahan sekitar dua tahun (sumber). Betulkah??? Apa ada jaminannya para pengguna mobil LCGC akan menggunakan Pertamax, bukannya BBM bersubsidi alias premium? Jelas hal ini sangat membahayakan keuangan negara yang berpotensi jebol kembali akibat alokasi subsidi BBM yang tidak mencukupi sesuai rencana karena saking banyaknya rakyat miskin di Indonesia yang menggunakan BBM bersubsidi untuk kendaraan pribadi mereka. Kementerian Keuangan pun mulai kuatir dengan mengatakan bila sampai subsidi BBM jebol berarti Kementerian Perindustrian yang bertanggung jawab (sumber)

Yang pasti terjadi dengan kebijakan mobil murah ini adalah:

  1. Kredit mobil akan booming karena banyak kalangan kelas menengah yang tertarik membeli mobil LCGC. Mobil masih merupakan lambang prestise di masyarakat kita. Yang memiliki mobil dianggap lebih berhasil dibanding yang tidak memiliki mobil. Masyarakat kelompok kelas menengah khususnya dari kalangan PNS akan berbondong-bondong menjaminkan dokumen asli kepegawaiannya agar mendapatkan kredit dari Bank untuk membeli mobil murah tersebut. Masyarakat kelas menengah juga bisa menempuh jalan lainnya dengan mengajukan kredit kepemilikan mobil melalui perusahaan leasing.
  2. Konsumsi BBM bersubsidi akan semakin meningkat. Produsen mobil murah tidak akan mau kehilangan pelanggan dengan mensetting mobilnya khusus untuk penggunaan Pertamax. Apalagi akan banyak kreativitas dari bengkel-bengkel yang berusaha mensiasati agar mobil murah dapat tetap menggunakan BBM bersubsidi alias Premium.
  3. Akan makin banyak mobil yang diparkir di pinggir jalan dekat pemukiman masyarakat. Cukup banyak para pemilik mobil tidak memiliki garasi di rumah nya masing-masing, bahkan mobil yang dimiliki seringkali terpaksa parkir di jalan yang agak jauh karena rumahnya berada di gang sempit yang tidak bisa dilewati oleh mobil.

Kebijakan mobil murah yang telah dilaksanakan oleh pemerintah merupakan kontradiksi atas kebijakan penghematan subsidi BBM. Entahlah, apakah ada hubungannya atau tidak, semakin dekat ke tahun 2014 sepertinya mulai bermunculan kebijakan-kebijakan yang kontroversi. Apakah kebijakan-kebijakan controversial tersebut ada hubungannya dengan potensi keuntungan yang akan diterima oleh pihak-pihak tertentu? Hanya Tuhan lah Maha Mengetahuinya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lebaran Sederhana ala TKI Qatar …

Sugeng Bralink | | 30 July 2014 | 22:22

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 9 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 11 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 13 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 15 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: