Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Bob S. Effendi

Pelaku industri migas dan energi terbarukan, konsultan ICT, pemerhati pertahanan, trainer & motivator hidup seimbang, selengkapnya

Program Biodiesel Dari CPO Terancam Gagal : Sebuah Analisa Sederhana.

REP | 24 November 2013 | 20:57 Dibaca: 1338   Komentar: 4   6

13852987642108327906

Subsidi BBM yang terus meningkat dari tahun ketahun membuat pusing pemerintah, pada APBN 2012 mencapai Rp 346,4 triliun atau 34,33 persen dari belanja pemerintah pusat, yang mana 61,17% (Rp 211,9 triliun) untuk BBM dan 27,30% (Rp 94,6 triliun) untuk listrik.

Salah satu upaya adalah mengurangi subsidi BBM dengan cara meningkatkan persentase Biodiesel dalam BBM solar bersubsidi dari 7% menjadi 10% pada tahun 2013, sehingga di perkirakan akan terjadi penghematan sekitar Rp 18 Triliun menurut Dewan Energi Nasional.

Biodiesel yang di maksud adalah dengan bahan baku (feedstock) minyak kelapa sawit (CPO) yang di sebut Biodiesel FAME (Fatty Acid Metyl Alcohol). Logika kebijakan pemilihan CPO sebagai feedstock berporos pada 3 asumsi dasar :

1. Harga jual biodiesel yang di produksi lokal dari Minyak Kelapa Sawit (CPO) jauh lebih murah di banding harga beli diesel import. Yang menurut pemerintah dan Dewan Energi Nasional di prediksi jual biodiesel berada pada kisaran 7800/liter.

Menurutnya harga ketersediaan biofuel di tanah air berlimpah dan harga minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) tidak tergantung kurs dollar. “Pengusaha siap dengan harga biofuel Rp 7.800 liter setara premium (Tumiran, Dewan Energi Nasional – 23 agustus 2013)

2. Indonesia adalah produsen kelapa sawit terbesar, dengan produksi 25 juta ton per tahun dan masih ada surplus selisih sekitar 23% antara produksi dan ekspor. Berarti masih sekitar 5,7 juta ton yang dapat di manfaatkan sebagai feedstock Biodiesel. – Logikanya untuk memproduksi 3,3 Juta KL Biodiesel masih lebih dari cukup.

3. Bahwa Kelapa sawit adalah tanaman penghasil minyak nabati yang paling efisien bila di lihat dari panen minyak per hektar, sekitar 4 ton per hektar, dibanding Kedelai (< 1 ton/ha), Bunga Matahari (1,5 ton/ha).

Kebijakan di atas di peruntukan untuk tender 6,6 Juta KL Biodiesel FAME dengan nilai Rp 56 Triliun yang di lakukan oleh Pertamina pada bulan September 2013. Sebenarnya kebijakannya menurut hemat Kami sudah benar tapi pemilihan feedstock nya yang menurut Kami tidak tepat.

Bila melihat asumsi di atas tanpa melihat data dan informasi lainnya, jelas CPO adapat terlihat sebagai pilihan yang sangat tepat dan feasible sebagai feedstock Biodiesel

Tetapi dalam tulisan ini Kami akan memperlihatkan bahwa asumsi tersebut bukanlah asumsi yang tepat untuk menganalisa feasibility dan sustainablity (keberlanjutan) dari program Biodiesel dalam rangka penghematan dan Kami juga yakin bahwa target pemerintah untuk memenuhi kebutuhan 3,3 juta kilo liter pertahun biodiesel tidak akan terealisasi, bahkan sesudah 2014, kami tidak yakin program Biodiesel dari CPO akan bertahan.

Analisa yang Kami pergunakan adalah analisa yang sangat sederhana, yang hanya di butuhkan nalar saja.

Berdasarkan data sepanjang 10 tahun terakhir rata-rata harga CPO dunia selalu berada di atas harga crude oil dan menunjukan trend kenaikan yang tajam, walaupun menjelang tahun 2012 harga CPO turun mendekati harga crude oil, bahkan pada 2013 CPO berada sedikit dibawah crude oil. Tapi jelas trend menunjukan kenaikan, artinya dalam waktu dekat harga akan naik kembali (gambar 1)

“Yang jelas penurunan harga minyak kelapa sawit pada tahun-tahun ini disebabkan oleh pengaruh meningkatnya sisi suplai dan yang paling penting dipengaruhi oleh perekonomian dunia yang memburuk. Oulook Palm Oil Price Malaysia untuk tahun 2013, menunjukkan pengaruh ekonomi dunia pada prediksi harga minyak kelapa sawit Malaysia. Dengan asumsi bahwa ekonomi dunia baru akan membaik pada semester kedua tahun 2013, trend harga minyak kelapa sawit Malaysia baru akan stabil pada semester kedua (IPOC/Indonesian Palm Oil Conference and 2013 Price Outlook)

Salah satu penyebab turunnya harga CPO adalah karena produksi yang berlebih (over production) industri CPO Indonesia yang menguasai 53% pasar dunia, ditambah adanya moratorium sehingga banyak CPO asal Indonesia tidak lagi leluasa masuk pasar Eropa dan Amerika tanpa adanya sertifikasi RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) yang sampai saat ini masih dibawah 5 Juta ton (20%), akhirnya kedua hal tersebut menyebabkan merosotnya harga CPO khususnya di Indonesia.

1385298848824940034

trend harga CPO vs Crude Oil sejak 2004 - 2012

Walau saat ini harga CPO merosot namun permintaan CPO dunia kedepannya masih akan terus meningkat bahkan sampai 20 tahun kedepan dominasi minyak kelapa sawit dibanding minyak lainnya belum bisa tergantikan, sehingga menginjak bulan september 2013, Harga CPO sudah merangkak naik menembus Rp 7500/liter bahkan pada bulan November ini sudah mencapai Rp 8000/liter.

Pada tender Pertamina dibulan September 22013 laksanakan tender untuk pengadaan 6,6 Juta Kilo Liter Biodiesel (konsumsi 2 tahun), Harga beli Biodiesel di perkirakan pada kisaran Rp 8400/liter dengan subsidi Rp 3000/liter – sudah jauh dari perkiraan DEN pada bulan Agustus yang di prediksi pada kisaran Rp 7800, sudah naik Rp 1000 dalam hanya sebulan.

13852989711728827446

Harga Biodiesel vs harga Diesel (non subsidi)

Pada bulan Oktober saat realisasi tender harga CPO sudah mendekati Rp 8000/liter, tentunya dapat di asumsikan dengan harga demikian lebih menguntungkan menjual CPO dari memprosesnya menjadi biodiesel sehingga minat dari peserta tender berkurang.

Tidak jelas apakah tender tersebut berhasil atau berapa volume biodiesel yang akhirnya tepenuhi tapi pemberitaan pada 10 Oktober 2013, Menteri BUMN memberikan statement meminta pabrik CPO untuk serius menangani biofuel yang di minta Pertamina.

Jelas dari statemen tersebut terbaca adanya kegagalan tender 6,6 juta KL biodiesel. Tentunya hal tersebut dapat di mengerti bila di lihat dari sisi pabrik CPO yang mana saat itu harga CPO saja sudah mendekati Rp 8000/liter. Ini terbukti dengan pemberitaan pada September yang mana pengusaha meminta pemerintah menaikan harga beli Biodiesel.

Saat ini, rata-rata biaya produksi biodiesel per ton sekitar US$ 130 plus harga palm olein. Nah, harga palm olein berkisar US$ 25 sampai US$ 30 di atas harga crude palm oil (CPO). Jika saat ini harga CPO sekitar US$ 722 per ton, berarti biaya produksi biodiesel US$ 870-US$ 880 per ton atau di atas harga patokan. (Kontan, 12 September 2013)

Bayangkan apa yang akan terjadi dengan program Biodiesel bila harga CPO terus naik, tentunya tidak akan ada pengusaha CPO yang mau memproduksi Biodiesel.

Dari data ESDM realisasi Biodiesel sampai bulan September 2013, terlihat bahwa hanya 50.25% dan pada bulan oktober meningkat 14% sehingga total relisasi hanya 64% – bahkan lebih rendah dari realisasi 2012 jelas pengusaha CPO tidak berminat !!

13852996501689818054

realisasi biodiesel pada BBM PSO

Dari analisa sederhana tersebut jelas bahwa statemen yang di sampaikan oleh Dewan Energi Nasional tidak benar. “Pengusaha siap dengan harga biofuel Rp 7.800 liter setara premium” (Tumiran, DEN). Kenyataannya TIDAK ADA PENGUSAHA YANG MAU MENJUAL PADA HARGA TERSEBUT, bahkan realisasi harga tender naik di kisaran Rp 8400 dan hanya terealisasi 64%.

Jadi apa yang salah ?

Ada 2 hal penting yang tidak di perhatikan oleh pemerintah dan DEN pada saat merencanakan program tersebut. Untuk itu mari kita lihat laporan APEC 2010 Energy Working Group : Biofuel Costs, Technologies and Economics in APEC Economies” yang dapat di unduh di internet.

13853058991457247572

Grafik pada halaman 7 dalam laporan tersebut jelas memperlihatkan :

1. Bahwa Biaya Produksi Biodiesel pada tahun 2010 di hitung pada USD 0.73/liter dimana kurs dollar berada pada kisaran Rp 9300 dan jelas dari grafik ini biaya produksi biodiesel dari CPO lebih mahal dari minyak jarak (jatropha) dan Biomassa (cellulosic).

2. Bahwa komponen Bahan baku (feedstock) untuk biodiesel dari CPO adalah yang tertinngi mendekati 80%, minyak jarak sekitar 75% dan biomasaa dibawah 30% – Dengan komponen feedstock 80% artinya biaya produksi biodiesel dari CPO sangat rawan terhadap fluktuasi harga CPO dan ini terbukti benar.

Melihat trend harga CPO yang volatile dan berfluktuasi (lihat gambar 1) tentunya sangatlah sulit untuk mencari formula harga Biodiesel yang dapat di sepakati antara pemerintah dan produsen.

Menurut Paulus (sekretaris asosiasi Biofuel Indonesia), produsen juga masih terus menghitung indeks harga biodiesel yang masuk keekonomian, dengan melihat fluktuasi harga bahan baku dan volume permintaan. “Formulanya masih kami godok,” (Kontan, 12 September 2013)

Dari analisa yang dilakukan oleh APEC Energy Working Group tersebut diatas dan melihat trend harga CPO yang terus meningkat dan berfluktuasi, maka hanya ada satu konklusi yaitu biodiesel dari CPO tidak feasible dan sustainable.

Saya yakin pemerintah maupun DEN tidak mempertimbangkan hal tersebut di atas. Karena dalam berbagai seminar dan press release bila ada pertanyaan mengapa bahan baku yang di pakai adalah CPO, Jawaban pemerintah bahwa kelapa sawit mempunyai efisiensi tertinggi.

Yang di maksud dengan efisiesni tertinggi tentunya bukanlah biaya produksi terendah, tetapi adalah hasil minyak per hektar lahan, untuk kelapa sawit yang tertinggi yaitu 4 ton CPO per hektar jelas informasi ini tidak relevan bahkan rasanya bodoh dan tidak nyambung bila memasukan asumsi tersebut sebagai pertimbangan memilih CPO sebagai bahan baku Biodiesel.

Bila demikian, darimana realisasi Biodiesel yang ada sekarang ?

Memang produse masih dapat mempergunakan CPO off-grade yaitu kaulitas rendah yang memiliki FFA (Free Fatty Acid) di antara 5% - 20% sehingga tidak dapat di export dam harganya jauh dibawah harga pasar CPO, tapi problemnya hampir semua pabrik CPO akan mencoba menekan produksi CPO off-grade dibawah 1% dari total produksi, rata2 pabrik skala besar tidak akan lebih dari 2% dari total volume produksi.

Bila Produksi CPO adalah 25 Juta Ton/ tahun, bila Volume CPO off-grade nya secara nasional kita ambil angka maksimal 5% maka bahan baku CPO off-grade hanya 1,250,000 ton/ tahun, bila dengan konversi 90% (maksimal) maka hanya menghasilkan maksimum 1,1 Juta Kiloliter Biodiesel FAME (Fatty Acid Metyl Ester) jauh dari target 3,3 Kiloliter per tahun.

Prediksi harga CPO pada 2014

Karena permintaan CPO masih tinggi analis memprediksi pada 2014 harga CPO akan meningkat dan tembus Rp 11 Juta per ton atau sekitar Rp 11,000/kg maka walau dengan subsidi Rp 3000/liter, maka angka subsidi akan tetap membangkak jelas lebih besar dibanding 2013 ketika harga CPO masih pada kisaran Rp 7500 – 8000/kg. – Jelas hal ini bukanlah hal sulit untuk di prediksi, Biodiesel CPO akan terancam gagal !!

Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) memprediksi harga ekspor minyak sawit mentah (CPO) akan terus meningkat menyusul melonjaknya permintaan untuk persediaan menjelang akhir tahun 2013 dan memasuki awal 2014.

“Harga ekspor CPO diperkiraan bisa menembus 950 dolar AS per metrik ton, naik dari harga CPO pekan ini yang bergerak pada kisaran 917,5 dolar AS per metrik ton,” kata Ketua Umum DMSI, Derom Bangun di Medan, seperti dilansir Antara, Rabu (20/11).

Mungkinlah Pemerintah salah ?

Mungkin anda yang membaca akan bertanya, masa sih pemerintah dan DEN yang isinya orang-orang pintar dengan gelar S3 salah melakukan perhitungan dan analisa. Bahkan pertanyaan ini pernah juga Kami tanyakan dalam berbagai seminar kepada pejabat ESDM dan PLN yang semuanya tanpa dasar mengatakan “Pemerintah tidak mungkin salah !!”

Marilah kita lihat apakah benar pemerintah tidak pernah salah dalam analisa khususnya masalah energi. Kita tidak perlu mendur terlalu jauh, masih ingat dalam ingatan kita semua kietika pada tahun 2008 ketika pemerintah meluncurkan program biodiesel & bioethanol pertama, saat itu bahan baku biodiesel bukan dari minyak kelapa sawit tetapi minyak pohon jarak pagar (jatropa curcas) yang asumsinya pohon jarak pagar dapat tumbuh dimana saja tanpa perawatan, untuk bioetanol dari tetes tebu.

Dengan serta merta pemerintah mendorong masyarakat di desa untuk berbondong-bondong menanam pohon jarak, untuk itu pemerintah memberikan kalkulasi-kalkulasi yang menyakinkan bahwa masyarakat desa akan mendapatkan tambahan penghasilan yang mencukupi, bahkan pemerintah meluncurkan program “Desa Mandiri Energi”, semua propinsi di dorong untuk mengerakan APBD nya menciptakan program serupa.

Alhasil ratusan ribu masyarakat dan perusahaan terlibat dan terjun menanam pohon jarak, Tapi setahun kemudian pada tahun 2009 yang terjadi adalah semua orang yang terjun kedalam bisnis jarak rugi besar bahkan milyaran. – berikut cuplikan berita yang di lansir oleh BBC Indonesia :

Sementara Indra Lubis dan kawan-kawan di Jawa Barat, memilih bertanam jarak pagar (Jatropha curcas) dengan luas mencapai 1.200 hektar di Garut.

“Waktu itu semangat sekali,” kata purnawirawan TNI Angkatan Udara ini.

Tetapi baik Indra maupun Setyo Budi, akhirnya menyerah. Ternyata hasil jadi produk mereka tak ada yang membeli. Mekanisme yang dijanjikan pemerintah tidak berjalan.

“Kapok, trauma, sudah lah. Kami ditipu, dibohongi,” seru Setyo Budi lesu.

“Sudah susah payah meyakinkan petani supaya mau tanam, ternyata sekarang biji jaraknya tak ada yang beli, kami dikejar-kejar petani,” tambah Indra pahit.

Jelas ini adalah kesalahan analisa yang kurang matang, terburu-buru dan tidak kompresensif sehingga yang di rugikan adalah masayarakat.

Pemerintah memang tak cermat menyiapkan industri bioenergi, setidaknya untuk kasus jarak dan bioethanol, kata mantan Dirjen Energi Baru dan Terbarukan Kementrian ESDM, Kardaya Warnika.

Bagaimana bila dalam kasus Biodiesel dari CPO, pemerintah masih kurang cermat seperti dalam kasus Jarak dan bioetanol seperti di katakan oleh Kardaya, bukan hal yang tidak mungkin. Seperti biasanya kegagalan pemerintah yang pada akhir di sapu kebawah karpet dan seolah hilang dari ingatan.

Lalu, apa solusinya ?

Bila Biodiesel dari CPO tidak feasible dan sustainable maka dalam memilih alternatif feedstock, untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, maka asumsi terhadapa feedstock adalah :

1. Biaya produksi yang lebih murah daripada Biodiesel dng feedstock CPO

2. Komponen feedstock yang dibawah 40% dalam biaya produksi sehingga tidak terganggu dengan fluktuasi harga.

Untuk itu kita cukup melihat kembali kepada Laporan APEC Energy Working Group, tentunya dalam menentukan feedstock apa yang cocok untuk biodiesel. Jelas jawabanya adalah BIOMASSA, dengan biaya produksi USD 0.60/liter dan hanya kurang dari 30% dari Biaya produksi artinya tidak terpengaruh dengan fluktuasi harga feedstock seperti CPO.

Biomassa dalam kebijakan pemerintah selalu dimasukan sebagai sumber bahan baku listrik, tentunya hal ini dapat di mengerti artinya biomassa tersebut secara sederhana di bakar untuk memanaskan boiler dan menggerakan turbin. Pembakaran dapat di lakukan secara sederhana dengan pirolisis atau lebih canggih lagi dengan gasifikasi.

Tetapi Pemerintah tidak pernah mempertimbangkan Biomassa sebagai bahan baku biodiesel padahal pada APEC 2010 hal tersebut sudah di bahas dan di tulis dalam laporan APEC EWG 2010. Kemudian panas yang di hasilkan dalam proses produksi biodiesel dapat di jadikan listrik.

Biomassa proses produksi CPO

Biomassa dalam Industri CPO ada 3 jenis : 1) Cangkang 2) Serabut (fiber) dan 3) Tandan Kosong (Tankos)

1. Cangkang, sekitar 5% dari TBS (tandan buah segar) karena masih terdapat minyak maka masih punya nilai ekonomis walau sangat kecil, tidak lebih dari Rp 200/kg dan untuk pabrik kelapa sawit dapat di abaikan.

2. Serabut (fiber), sekitar 13,5% dari TBS, biasanya di bakar untuk kebutuhan boiler dan listrik pabrik.

3. Tandan Kosong (Tankos), sekitar 22%, Hampir di semua pabrik biasanya menjadi sampah dan tidak di manfaatkan, bahkan hanya di bakar menjadi abu karena memakan tempat dan volumenya cukup besar (22%) hampir sama dengan volume CPO yang sekitar 20% dari TBS.

1385300594202425506

Walaupun ketiga jenis biomassa tersebut semuanya dapat dimanfaatkan untuk feedstock, tetapi dalam analisa sederhana ini, Kami memilih tandan kosong kelapa sawit (tankos) yang sama sekali tidak memiliki nilai ekonomis.

Bila produksi CPO Indonesia sekitar 25 Juta ton per tahun, artinya produksi tankos sekitar 25 Juta ton per tahun juga.

Konversi Biomassa menjadi Diesel adalah sekitar antara 30%, untuk 1 ton feedstock akan menghasilkan sekitar 300 liter diesel berarti potensi diesel dari tankos saja sekitar 7,5 Juta Kilo Liter Diesel Jauh di atas Konsumsi 3,3 Juta Kilo liter dan panas yang di hasilkan dapat di jadikan listrik dengan potensi 1000 MW.

Jelas melihat laporan APEC tersebut biaya produksi Biomassa tercantum USD 0.63/Liter, tetapi saat ini sudah banyak teknologi terkini yang biaya produksi diesel dari biomassa antara USD 0.35 – USD 0.40/liter (Rp 4678/liter) Dibawah Harga Biosolar subsidi Rp 5500/liter

Potensi Biodiesel dari Biomassa sebagai berikut : 7,5 Juta Kiloliter per tahun dengan harga feedstock yang MURAH DAN PASTI STABIL, biaya produksi USD 0.40/ liter dibawah Harga subsidi; Harga Beli (Pertamina) USD 0.73; Potensi Listrik 1000 MW tanpa ada lagi biaya bahan baku (karena di hasilkan dari excess heat) ; – Artinya bagi pengusaha sangat menguntungkan dan bagi pemerintah ada kepastian biaya produksi yang stabil dan kepastian pasokan.

Secara teknis, teknologi sudah terbukti dan tidak ada masalah, karena sudah di terapkan di jerman sejak tahun 1930’an kemudian di kembangkan terus hingga kini. Bahkan pada perang dunia ke II, 25% kebutuhan diesel Angkatan Perang Jerman di hasilkan melalui konversi teknologi ini, karena Jerman tidak memilki sumber minyak bumi. Artinya dalam skala besarpun teknologi ini pun sudah terbukti. Kami tidak akan membahas teknologinya saat ini tapi pada tulisan berikutnya kami akan paparkan teknologi yang di maksud.

Tetapi kendala nya berada pada kebijakan pemerintah membeli Biodiesel FAME yaitu biodiesel yang di hasilkan melalui proses Esterifikasi/Transesterifikasi (ester/trans) biasanya dengan bahan baku minyak. Biodiesel FAME biasanya di sebut generasi pertama.

Proses produksi diesel dengan biomassa bukanlah melalui ester/trans sehingga produks dieselnya tidak bisa di katakan biodiesel FAME. Sering dikatakan sebagai diesel generasi kedua atau disebut Synthetic Diesel (Syndiesel) walaupun bahan baku nya sama-sama organik atau biological.

Perbedaan mendasar antara Biodiesel (FAME) dan Syndiesel adalah Biodiesel biasanya memiliki kadar asam (acid) yang sangat tinggi sehingga bila tidak di campur (blending) dengan diesel minyak bumi maka akan merusak mesin dalam pemakaian yang cukup lama (non-drop-in fuel). Sementara SynDiesel sama sekali tidak ada kadar asam sehingga dapat langsung di masukan kedalam tangki (drop-in fuel) dan memiliki tingkat cetane index lebih tinggi dibanding biodiesel.

Wikipedia memberikan definisi Synthetic Fuel sebagai berikut :

The Energy Information Administration defines synthetic fuels in its Annual Energy Outlook 2006, as fuels produced from coal, natural gas, or biomass feedstocks through chemical conversion into synthetic crude and/or synthetic liquid products. (wikipedia : Synthetic Fuel)

Secara spesifikasi SynDiesel jauh lebih unggul dibanding Biodiesel apalagi dibanding diesel minyak bumi (petrol) seperti tertera dalam tabel di bawah untuk produk Synthetic Fuel dengan merek Xdiesel yang di jual di Eropa.

1385301285741088473

Perhatikan beberapa parameter penting :

· Price per gallon : dimana Harga Biodiesel $ 4.15/gallon dibanding SynthDiesel yang sama dengan harga Diesel Petrol yaitu $ 2.95/gallon ($ 0.79/liter) – artinya sesuai dengan analisa Kami di atas.

· Cetane : yang pada angka 75 – 90 jauh lebih tinggi dari pada biodiesel yang hanya 45 – 65. Bandingkan dengan Index catane Biosolar pertamina : 48 dan Pertamina DEX (tanpa subsidi) : 53; Index Cetane yang tinggi akan memberikan pembakaran yang lebih sempurna dan mengurangi emisi gas buang.

· Vehicle Blend Compatibility : Biodiesel tidak dapat dipakai langsung (drop-in) harus di blend dengan maksimum 20%, sementara SynthDiesel tertera Indentical (upto 100%) artinya dapat di pakai langsung tanpa blend, seperti diesel petrol.

· Green House Reduction : Penurunan 85% emisi gas rumah kaca, bandingkan dengan biodiesel yang hanya 20 – 75% (tergantung feedtock). – penelitian lain menempatkan carbon footprint Biodiesel CPO hampir sama dengan minyak bumi (gambar bawah: kanan) bahkan di masukan land clearing oleh perkebunan Kelapa Sawit, maka Carbon footprint Biodiesel lebih tinggi daripada Minyak bumi (gambar bawah kakan). Artinya Biodiesel dari CPO tidak ramah lingkungan.

1385301390413100272

carbon footprint beberapa jenis biofuel

Konklusinya adalah..

Bahwa Synthetic Diesel dari Biomassa jauh sangat menguntungkan bagi Produsen, Pemerintah, Konsumen dan Lingkunagan :

1. PEMERINTAH : mendapatkan pasokan Diesel yang terjamin dengan harga yang stabil (tidak fluktuatif) dan tidak memberatkan APBN bahkan dengan potensi Total Biomassa (bukan hanya biomassa sawit) yang 147 Juta ton per tahun DAPAT MENGURANGI IMPORT BBM SELURUHNYA !!!

2. PRODUSEN : Jelas dengan biaya produksi jauh lebih murah dibanding Biodiesel CPO, dengan margin mendekati Rp 4000/liter – SANGAT MENGUNTUNGKAN

3. KONSUMEN : dengan cetane yang tinggi, maka power dan akselerasi kendaraan konsumen terasa lebih kencang dan dengan mesin lebih awet.

4. LINGKUNGAN : Cetane yang tinggi memastikan emisi gas rumah kaca yang sangat rendah dan Biomassa memiliki carbon footprint yang terendah.

Demikianlah analisa sederhana ini semoga dapat bermanfaat bagi pemerintah dan pelaku industri energi.

Salam

@bobsoef

Link :

http://industri.kontan.co.id/news/pengusaha-minta-kenaikan-harga-biodiesel

http://www.biofuels.apec.org/pdfs/ewg_2010_biofuel-production-cost.pdf

http://margind.com/index.php/home/detil_berita/1/Awal-2014-Harga-CPO-di-Prediksi-Meningkat

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2012/10/121028_indobiofuel.shtml

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pelantikan Presiden Jokowi Menggema di …

Ely Yuliana | | 20 October 2014 | 20:18

Jokowi Jadi Cover Story Tabloid ChinaDaily …

Rahmat Hadi | | 20 October 2014 | 20:13

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05

Hampir Tertipu dengan ‘Ancaman’ Petugas …

Niko Simamora | | 20 October 2014 | 19:49

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00



HIGHLIGHT

Trip to Banda Aceh #1 …

Rinta Wulandari | 8 jam lalu

Menjadi Manusia yang Sebenarnya …

Dayoe Yogeswary | 8 jam lalu

Inilah Akibat Buku Jendela Dunia …

Andre Jayaprana | 8 jam lalu

Asa Negeri …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Jika Tak Dikelola, Kerbau bisa Terancam …

Panca Nugraha | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: