Back to Kompasiana
Artikel

Bisnis

Ruli Mustafa

THE TWINSPRIME GROUP- Founder "Jangan lihat siapa yang menyampaikan, tapi lihat apa yang disampaikannya" (Ali bin selengkapnya

Prospek Wisata Berbasis Syariah

OPINI | 16 January 2014 | 06:38 Dibaca: 226   Komentar: 0   0

Hubungan antara pariwisata dan agama telah banyak dibahas dalam literatur penelitian pariwisata, (lihat misalnya Adi & Ron, 2008, Chattopadhyay, 2006 dan Richard & Priya, 2005). Namun masih terdapat kekurangan publikasi teoritis di bidang pariwisata dalam konteks Islam. Setiap agama tentu memiliki dampak terhadap keyakinan para penganutnya. Dalam Islam hal itu termaktub dalam hukum Islam (Syariah) yang membahas semua isu-isu yang terkait pada sektor perdagangan dan industri, termasuk kedalamnya dunia pariwisata domestik dan global. Sumber ajaran Islam yang benar harus berdasar pada dua rujukan utama, yakni Al-Quran serta Hadits Nabi SAW. Pariwisata dalam pemahaman bahasa Arab, yang merupakan bahasa asli Al-Quran, memiliki konotasi banyak tetapi dalam penggunaan modern terbatas pada sedikit makna . Hal ini menunjukkan bahwa wisata bermakna bepergian (safar) untuk maksud ibadah atau untuk tujuan penelitian, dan bukan demi mendapatkan uang, bekerja atau menetap lagi (Majma, 2004, hal. 467). Ajaran Islam mengatur jenis pariwisata agar sesuai dengan tujuan yang lebih tinggi dari konsep syariah yaitu menjunjung lima kebutuhan ; perlindungan agama, jiwa, pikiran, keturunan dan harta. Oleh karena itu, memahami dan mengamati ajaran Islam di pasar pariwisata dan perhotelan dapat dianggap sebagai keunggulan kompetitif untuk kebutuhan pelanggan muslim bepergian ke luar negeri yang sebelumnya mungkin menjadi sumber kecemasan bagi diri mereka sendiri dan orang lain (Syed, 2001). Sehingga perlu ada fatwa-fatwa mutakhir di sector pariwisata Islam dewasa ini. Indonesia sebagai Negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, tentu saja sudah seharusnya menjadi the role model pengembangan pariwisata berbasis syariah ini. Meski terkesan terlambat, namun pengembangkan sektor “sharia tourism” ini akan memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus khazanah budaya bagi Indonesia sendiri, sehingga dikenal di manca Negara, utamanya di kalangan dunia Islam. Dewasa ini konsep priwisata Islam (Islamic tourism) – berkaitan pula dengan konsep wisata halal – sebuah paket wisata yang sekaligus mengandung nilai-nilai dakwah, manfaat serta pengenalan tentang kebudayaan Islam (Islamic Culture). Negara-negara di Timur Tengah, sudah lebih dulu mengawalinya secara professional, contoh seperti Mesir, dan Uni Emirat Arab (UEA) , yang mengemas paket wisata mereka dengan basis syariah dari hulu ke hilir, semua unsure yang terkait dengan pariwisata dibungkus dengan nili-nilai Islami, dari bentuk pelayanan, hotel, area destinasi hingga makanan yang disajikan. Sehingga para wisatawan memandang pejalanan yang dialkukannya adalah penuh manfaat, bernilai tadabur alam serta rekreasi yang tidak sia-sia. Saat ini “Sharia Tourism” atau Wisata berbasis syariah sangat menarik untuk dikembangkan, setelah berbagai bisnis berbasis syariah mengemuka, yakni perbankan syariah, asuransi syariah dan lain-lain, kini bergulir ide Wisata Syariah.

Sangat Prospektif

Sebagaimana diketahui, pariwisata menjadi sektor penting bagi ekonomi nasional ditengah ketidakpastian ekonomi dunia. Kendati perekonomian dunia diprediksi akan melambat di tahun 2013, namun prospek bisnis pariwisata diperkirakan masih akan tetap cerah. Bahkan Asosiasi Pengusaha Perjalanan Wisata Indonesia atau Asita memrediksikan pengusaha yang bergerak pada sektor pariwisata akan terus bertambah, itu berarti sektor pariwisata masih terus menggeliat maju. Indonesia mematok target kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 9 juta orang. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sendiri menargetkan pencapaian 9 juta wisman sebagai target optimistis, sementara target pesimisnya 8,5 juta orang. Pencapaian ini dinilai wajar, mengingat di tahun 2012 sektor pariwisata tumbuh dengan cukup baik dan signifikan. Tengok saja sepanjang tahun 2012 (data hingga Oktober), sumbangan devisa pariwisata mencapai 9,07 miliar dollar AS atau naik 6,03 persen dibandingkan tahun 2011. Kontribusi pariwisata bagi produk domestik bruto juga terus naik. Hingga Oktober, wisman (wisatawan mancanegara) sudah mencapai 6,58 juta orang atau naik 5 persen dibanding kunjungan wisman pada periode yang sama tahun sebelumnya. Tahun ini tingkat pengeluaran wisman mencapai 1.133,8 miliar dollar AS per orang per kunjungan. Jumlah tersebut naik 1,39 persen dibandingkan tahun 2011. Hal yang menarik kini tengah dikembangkan serta gencar dipromosikan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yaitu menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata syariah dunia. Wisata Syariah adalah wisata yang mengedepankan pelayanan berdasarkan nilai-nilai syariah Islam. Dengan model wisata syariah ini, diperkirakan akan menjadi daya tarik tersendiri, utamanya bagi para wisatawan muslim di seluruh dunia yang jumlahnya terus bertambah. Potensi wisata syariah di Indonesia sangat besar dan bisa menjadi alternatif, di samping wisata konvensional. Banyak sekali situs budaya Islam, obyek wisata Islam yang tersebar di seluruh penjuru tanah air yang keberadaannya masih belum maksimal tersentuh oleh sektor pariwisata. Dengan Konsep wisata syariah, maka banyak hal yang bisa dikembangkan sehingga mampu membuka lapangan pekerjaan baru serta menghasilkan tambahan devisa bagi Negara. Menurut data kementrian terkait, saat ini, populasi Muslim dunia sebanyak 1,8 miliar atau 28 persen total populasi dunia. Kontribusi wisatawan dunia sudah mencapai sekitar 126 miliar dollar AS. Sementara kunjungan wisatawan Muslim ke Indonesia saat ini mencapai 1.270.437 orang per tahun yang antara lain berasal dari Arab Saudi, Bahrain, Malaysia, dan Singapura, jelas ini merupakan potensi bagi pengembangan wisata syariah di Indonesia . Tentunya penerapan wisata syariah bisa lebih luas dan bukan hanya sekedar wisata ziarah atau religi, melainkan juga wisata alam dan kuliner. Hal terpenting yang harus disiapkan adalah layanan pendukung, seperti jasa biro perjalanan, hotel, dan kemampuan pemandu wisata, dan last but not least adalah memanfaatkan sosial media serta jasa internet lainnya sebagai sebuah tuntutan jaman.

Model Tadabbur Alam

Kita tidak boleh hanya melarang saja atas kegiatan wisata yang bersifat negatif. Kita harus memberikan alternatif pilihan agar sesuai dengan ajaran agama Islam. Di Indonesia sendiri sebenarnya sudah lama ada wisata yang bernilai ibadah, yaitu wisata ziarah. Masyarakat muslim di daerah sudah akrab sekali dengan ziarah Wali Songo. Akan tetapi selama lokasi wisata belum dikembangkan dengan baik maka nilai tambahnya akan kurang signifikan. Kita saksikan di dunia internasional ada destinasi wisata Taj Mahal di India, Piramid di Mesir, ataupun makam-makam lainnya juga merupakan wisata ziarah, namun mereka sudah lebih dulu mengelolanya dengan cukup baik. Di Indonesia sendiri, kini tercatat ada 9 daerah tujuan wisata (DTW) syariah, yaitu Sumatera Barat, Riau, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Makassar, dan Lombok. Wisata syariah dapat pula secara khusus mengarahkan wisatawan pada model perjalanan wisata “tadabur alam” atau merenungkan berbagai ciptaan Allah di alam raya ini. Tadabur alam mengharuskan kita bersikap rendah hati terhadap keagungan Ilahi serta dalam kerangka menjaga harmonisasi alam raya (eco tourism). Sehingga memotivasi wisatawan muslim khususnya untuk selalu membaca, meneliti, memahami, dan mengaktualisasikan diri untuk menjadi hamba yang pandai bersyukur, dan disinilah letak manfaat besar yang didapatkan oleh para wisatawan muslim khususnya .
Banyak daerah tujuan wisata (DTW) yang dapat dikenalkan, jadi tak melulu dalam konteks wisata religi, melainkan juga wisata bahari, wisata budaya, wisata gunung, wisata sungai bahkan menjadikan DTW pada daerah-daerah kritis yang menarik, semisal kawah gunung yang masih aktif dan lain sebagainya, selama pengelolaannya professional dan aman, maka prospek wisata syariah akan sangat menari serta memiliki keunggulan kompetitif. Tentu saja wisata syariah tak eksklusif. Oleh karenanya wisatawan non-Muslim juga dapat menikmati pelayanan wisata syariah yang lebih beretika. Misalnya menghadirkan Restoran yang menjamin standar halal dan lain sebagainya. Para pemangku kepentingan juga diharapkan bekerjasama mengembangkan sekor ini. Jasa biro perjalanan, misalnya, harus dapat menyiapkan jadwal sholat dan makanan yang halal selama perjalanan. Hotel perlu menyiapkan segala keperluan wisatawan Muslim, mulai dari petunjuk kiblat, sajian makanan halal- minuman non alkohol, hingga toilet yang memadai. Pariwisata syariah dapat didefinisikan sebagai berbagai macam kegiatan wisata, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah yang memenuhi ketentuan syariah. Pariwisata syariah ini sejalan dengan Undang Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, yang disebutkan mengenai pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan juga tentang kode etik pariwisata dunia yang menjunjung tinggi budaya dan nilai–nilai kearifan local (local wisdom). Nantinya, produk dan jasa wisata, objek wisata dalam pariwisata syariah adalah sama dengan produk, jasa, objek dan tujuan pariwisata pada umumnya. Pariwisata syariah memiliki karakteristik produk dan jasa yang universal. Dengan konsep wisata syariah, kita sekaligus berekreasi,berelaksasi dengan memperoleh multi manfaat, tidak hanya sekedar memperoleh kesenangan duiniawi, namun juga manfaat ukhrowi, sehingga berwisata secara syar’i memiliki motto “ Fun and gain”- berwisata sembari memetik manfaat serta pahala, semoga !.

13898290711909557300

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selamat Tinggal Banjir, Proyek Revitalisasi …

Agung Han | | 30 October 2014 | 21:02

Elia Massa Manik Si Manager 1 Triliun …

Analgin Ginting | | 30 October 2014 | 13:56

“Nangkring” bareng Tanoto …

Kompasiana | | 27 October 2014 | 10:31

Bau Busuk Dibelakang Borneo FC …

Hery | | 30 October 2014 | 19:59

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 5 jam lalu

Saat Tukang Sate Satukan Para Pendusta …

Ardi Winata Tobing | 6 jam lalu

Jokowi-JK Tolak Wacana Pimpinan DPR …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Mantan Pembantu Mendadak PD, Berkat Sudah …

Seneng | 9 jam lalu

Soal Pengumuman Kenaikan Harga BBM, …

Gatot Swandito | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika PBR Merangsek ke Semifinal ISL 2014 …

Bahrur Ra | 9 jam lalu

Wasit Pertandingan Semen Padang vs Arema …

Binball Senior | 10 jam lalu

Ihwal Pornografi dan Debat Kusir Sesudahnya …

Sugiyanto Hadi | 12 jam lalu

Kabinet Kerja Jokowi-JK, Menepis Isu …

Tasch Taufan | 12 jam lalu

Saat Tak Lagi Harus ke Kebun …

Mohamad Nurfahmi Bu... | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: