“Carilah pekerjaan dari hobimu, maka kamu akan menyukai pekerjaanmu seumur hidup.” Pepatah ini terngiang kembali hari ini selepas diwawancarai oleh Metro TV untuk program I Witness. Stasiun televisi berita ini memiliki program yang mengadopsi tren pewarta warga (citizen journalism). Mereka menayangkan video klip sumbangan dari masyarakat.
Menantang Maut
Ada empat video klip saya yang pernah ditayangkan oleh Metro TV, masing-masing
Belalang Goreng (Gunungkidul),
Ulat Jati Goreng (Gunungkidul),
Menantang Maut (Kemalang) dan Bebek Limbah Bambu (Klaten). Mereka mewawancarai saya untuk mengetahui proses pembuatan video klip tersebut.
Kalau ditanya, bagaimana bisa sampai diwawancarai Metro TV, saya jawab bermula dari hobi. Delapan tahun yang lalu saya mulai menekuni hobi videografi dengan membeli kamera handycam Sony yang masih menggunakan kaset video 8. Waktu itu hanya untuk merekam hobi saya yang lain, yaitu jalan-jalan. Waktu itu saya tidak tahu mau diapakan hasil rekaman ini. Yang penting punya dokumentasi. Itu saja.
Dua tahun kemudian, adik saya mempunyai ide untuk membisniskan kamera video ini dengan usaha video shooting mantenan. Saya setuju. Maka kami lalu membeli satu lagi kamera Sonny digital, tapi masih menggunakan kamera analog. Bedanya, kamera yang baru ini sudah dapat dihubungkan dengan komputer dengan kabel USB atau fire-wire. Maka kami pun keluar masuk kampung untuk merekam berbagai hajatan seperti mantenan, sunatan, pertunjukan wayang, pertunjukan campursari, jatilan, misa, dll.
Kaset-kaset video hasil rekaman ini menumpuk hampir satu lemari plastik. Waktu itu tidak tahu mau diapakan arsip-arsip video itu. Hingga akhirnya, dua tahun yang lalu Ari Wibowo, teman saya, memberitahu bahwa akan ada situs baru yang khusus menampilkan video streaming, yaitu www.beoscope.com. Dia mengajak saya untuk menjadi kontributornya. Maka saya pun membongkar gudang arsip video saya. Ternyata ada banyak bahan video yang dapat diolah lagi seperti pertunjukan campursari, jatilan, wayang kulit dan acara-acara kebudayaan lain. Akhirnya arsip-arsip itu dapat didayagunakan.
Begitulah, akhirnya saya bisa menekuni hobi tanpa mengeluarkan biaya. Bahkan sekarang dapat menghasilkan uang. Ketika melihat program I Witness di Metro TV, saya berkata dalam hati. “Ini peluang nih. Kayaknya aku bisa bikin video seperti ini,” batin saya. Video pertama saya adalah Belalang Goreng, yang diambil di kampung halaman saya di Gunungkidul.
Video yang kedua direkam tanpa perencanaan. Waktu itu saya dalam perjalanan pulang dari lereng Merapi. Di tengah jalan, saya melihat ada mini bis angkutan pedesaan yang berjalan terseok-seok karena digelayuti anak sekolah. Bahkan sampai di atap-atapnya. Sementara itu, video ketiga dan keempat saya buat dengan perencanaan.
***
Hobi videografi ini ditunjang oleh hobi yang lain, yaitu jalan-jalan dan kegemaran pada multimedia. Meski pernah kursus komputer di UPT Komputer UGM, tetapi sebagian besar pengetahuan dan keterampilan komputer saya dapatkan dengan belajar secara otodidak. Pelajaran yang diberikan masih menggunakan perintah-perintah DOS, seperti “dir”, “copy”, “del”, “rename”, dll.
Ketika sistem operasi windows diluncurkan, maka secara praktis perintah-perintah tersebut tidak dibutuhkan lagi. Dengan menggunakan tetikus (mouse), kita tinggal memilih di antara menu-menu yang ditawarkan. Ini hal yang baru bagi saya. Waktu itu, saya malas untuk belajar menggunakan windows, tapi karena dipaksa oleh bu Nunuk, maka saya akhirnya bisa menguasai windows. Untuk itu saya berterimakasih pada bu Nunuk yang berkali-kali memaksa saya untuk keluar dari wilayah kenyamanan. Dia seperti induk burung rajawali yang sengaja melemparkan anaknya keluar dari sarang supaya mau belajar terbang.
Setelah memiliki kamera video, maka saya harus belajar untuk menggunakan program penyuntingan video. Pertama kali saya menggunakan program Pinnacle, tetapi kurang puas dengan feature yang ditawarkan. Setelah itu pindah ke Adobe Premiere yang menjadi standard broadcast. Ternyata program ini “terlalu berat” bagi komputer saya. Untuk rendering klip lima menit saja, dibutuhkan waktu lebih dari satu jam. Lalu saya mencoba menggunakan Ulead 7 dan mulai menyukai program ini. Saat ini saya menggunakan Ulead 11 untuk mengedit video.
***
Sebelum menggeluti dunia videografi, saya lebih dulu menekuni hobi menulis. Hobi ini ternyata mendatangkan keuntungan finansial. Sejak mahasiswa saya sudah mendapatkan honor dari artikel-artikel yang dimuat di koran. Setelah itu, saya menulis buku yang setiap enam bulan juga menghasilkan royalti.
Apa pekerjaan Anda sekarang ini? Coba pikirkan sejenak: Apakah pekerjaan Anda sekarang ini membuat kening berkerut atau senyum mengembang? Jika jawabannya yang pertama, maka Anda perlu memikirkan ulang jenis pekerjaan Anda sekarang ini. Selain saya, masih ada teman-teman saya yang bekerja dengan hati yang ringan. Mereka mengembangkan hobi mereka menjadi pekerjaan yang menghasilkan uang. Ada teman yang senang memancing, yang kemudian membuka usaha penjualan ikan dan akuarium. Ada teman yang punya hobi memelihara tanaman, yang kemudian membuka kebun tanaman hias. Ada teman yang suka badminton, yang kemudian membuka toko alat-alat olahraga. Ada teman yang suka menulis, yang kemudian menjadi penulis, penerjemah dan penyunting lepas. Ada teman yang suka balapan, yang kemudian membuka bengkel. Ada teman yang suka memasak, yang kemudian membuka usaha catering.
Temukanlah aktivitas yang membuat “hidup Anda menjadi lebih hidup.” Tekunilah itu dengan sungguh-sungguh, maka Anda akan bekerja dengan bersiul-siul. Mau coba?
Tags: pekerjaan, wirausaha, hobi