
Belajar menulis apa adanya. Belajar mengerti dengan banyak pikiran. Belajar mengungkapkan dengan pandangan sahabat. Belajar mendengar seperti orang tua. Belajar membimbing seperti pelatih. Belajar memimpin seperti pejuang. Belajar berjalan seperti petualang.
Dibaca: 78
Komentar: 0
Nihil
Layaknya hidup di hutan belantara. Hanya yang berkuasa saja yang bisa menikmati ’surga’ dengan segala kemudahannya. Seperti raja hutan, para pemimpin mengaum–menakuti rakyatnya sendiri. Pemimpin yang otoriter cenderung berbuat semaunya untuk memuaskan ego di dalam dadanya. Tidak peduli siapa, mereka yang tidak sejalan dengan pemikiran akan dilibas habis dengan satu ungkapan ’sikat amblas!’
Kita semua sedang kebingungan bagaimana caranya segera mendapatkan pimpinan yang adil, yang bekerja untuk kesejahteraan semua. Kita semua berdo’a agar dijauhkan dari pimpinan yang zalim. Tidak ada bencana yang lebih berat daripada mendapati pimpinan yang zalim dan mementingkan diri sendiri. Pemimpin yang tidak disenangi rakyat adalah pemimpin mau mengenali siapa saja yang dipimpin. Mereka hanya mau ditaati–maunya dituruti semua kemauannya. Hal ini juga berlaku meskipun semua orang tahu bahwa tidak semua yang dikatakan oleh pemimpin kita benar adanya.
Jaman sekarang sangat menyedihkan. Bahkan orang yang tidak memiliki kompeten sebagai pemimpin, asalkan bisa tampil mentereng dan memiliki dana cukup, bisa saja dipilih dan ditetapkan sebagai seorang pemimpin yang berkuasa. Di sekitar pemimpin seperti ini hanya akan kita temui para penjilat yang siap mati mendukungnya agar tetap berkuasa. Pejabat di atasnya tidak membutuhkan lain hal, kecuali kesejahteraan hidupnya karena kantongnya sudah penuh. Kapan keadaan seperti ini berubah?
Benarkah seorang pemimpin yang menggunakan politik uang akan ‘berani’ menggunakan sisi-sisi lain dalam kepemimpinannya? Benarkah mereka memiliki sisi-sisi kemanusiaan? Kalau benar, apakah mereka berani menanggung resiko ‘tidak bisa mengembalikan modal’ dalam upaya meraih jabatan yang sekarang mulai membuahkan hasil panen yang melimpah itu?
Bagaimana sikap pemimpin yang gila jabatan itu apabila menemukan bawahan yang tidak taat dan patuh kepada arahannya? Sisi-sisi kemanusiaan yang berperan? Kalau benar, apakah mereka mau kehilangan wibawa di hadapan bawahan mereka?