Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Hendi Nukasep

Hidup hanya sekali, manfaatkanlah sebaik mungkin

Indonesia Negeri yang Kaya. Benarkah? Kenapa Masih Miskin Saja??

OPINI | 20 September 2010 | 03:51 Dibaca: 1208   Komentar: 13   3

Indonesia

  • Memiliki Area daratan seluas: 1,919,440 kilometer persegi, sedangkan Singapura hanya memiliki area daratan seluas: 710 kilometar persegi saja ( atau luasnya kurang dari 1/4 nya kota Garut)
  • Punya 17,508 pulau; dengan tanah yang sangat subur karena terletak di garis khatulistiwa (tropical) dgn hanya mengenal dua musim saja (hujan dan kemarau) sehingga jauh lebih mudah untuk bercocok tanam bagi sektor pertanian dan holtikultura.
  • Memiliki garis pantai terpanjang di dunia; sekaligus memiliki kekayaan laut yang luar biasa besarnya
  • Negara yang termasuk memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia
  • Memiliki hutan hujan tropis terbesar ke-3 dunia, setelah Brazil dan Zaire
  • Memiliki kekayaan alam (national recources) yang sangat lengkap, seperti: minyak mentah, emas, intan, perak, tembaga, bijih besi, aspal, bauksit, perunggu, gas alam, timah, batubara dll. Bahkan pasirnya mengandung berbagai kandungan bermutu tinggi seperti: iron sand (pasir besi yang sangat mahal)
  • Jumlah penduduk (menurut sensus penduduk thn 2009) sebanyak 230 juta jiwa; yg sangat bagus untuk pilar perputaran ekonomi berbasis konsumsi rakyat dan ritel.
  • Dengan kekayaan alam dan populasi ini hingga tahun 2010 pemerintah Indonesia hanya mampu memenej/memproduksi total perputaran ekonomi negeri ini sekira $1,027 milyar (atau hanya sekitar 0.4% nya dibandingkan dengan perputaran ekonomi di Singapura!!) dan pendapatan perkapita hanya sebesar $4,379 (dengan pola pendapatan yang sangat tidak merata, dimana kesempatan bekerja yg lbh luas dan membuka usaha rata-rata hanya berada di kota-kota besar saja).
  • Perpektif Bank Dunia mengisyaratkan bahwa masih ada jutaan angkatan kerja di banyak perdesaan di Indonesia yg masih memiliki pendapatan dibawah $2 dollar per hari dan jauh dari kelayakan untuk hidup sehat dan berpendidikan yg layak bellow the poverty zone
  • Bandingkan juga antara data pendapatan perkapita $4,379 itu (yg equivalent hanya Rp 3.3 juta perak saja per bulan!) dengan gaji yg anda terima setiap bulannya dikonversikan ke US$ (US$1 = Rp 9,000). Puluhan juta angkatan kerja di Indonesia mendapati fakta rendah dan tidak meratanya pendapatan hasil kerja, terutama buat kebanyakan pekerja di tanah air tercinta ini.
  • Bandingkan dengan pendapatan perkapita penduduk Singapura yang sebesar $50,000 per tahun (atau sekitar 10x lebih besar dari perkapita penduduk Indonesia per tahun, dan secara umum pendapatan per kapita mereka merata dengan kesempatan kerja yang juga tidak terlalu sulit didapat di negeri berjuluk asli “Temasek” tersebut). Aku tegaskan ya, bukan dikarenakan Singapura adalah negara kecil dan Indonesia adalah negara yg lebih luas, inti masalah adalah “good governance”.
  • Nilai Cadangan Devisa Bank Sentral (BI): $81.3 milyar (bandingkan dengan nilai cadangan devisa Singapura sebesar $207 milyar -belum termasuk modal negara mereka yang dikelola oleh Sovereign Wealth Funds bernama Temasek Holding $300 milyar dan GIC holding $250 milyar)
    Singapura
  • Luas tanah daratan Singapura hanya seluas 710 kilometer persegi (atau kurang dari 1/4 luas kota Garut yang seluas 3,065.19 kilometer persegi itu)
  • Singapura juga tidak memiliki kekayaan alam yang signifikan, jika dibandingkan Indonesia, Singapura hanya bak sebutir pasir berbanding bukit. Namun pemerintah Singapura dan juga penduduknya sadar akan hal ini, mereka menjadi negara terbersih sedunia dalam hal korupsi dan mendayagunakan ekonomi seefisien mungkin utk memakmurkan rakyatnya yang berpenduduk sekitar5 juta jiwa itu.
  • Sekitar 70% air bersih di Singapura diimpor langsung dari Malaysia dan sisanya diproduksi sendiri melalui mesin konversi dan destilasi air laut menjadi air tawar yang siap diminum dimana saja dan kapan saja. Semua air yang mengalir di saluran kran air Singapura aman untun diminum. (bandingkan dengan air PAM yang terkadang masih butek kalo sehabis hujan/dini hari, atu penyakit akutnya: mampet).
  • Di luar data diatas, ada juga fakta perbedaan kultur budaya berkehidupan dan kultur bekerja yang cukup kontras antara penduduk Singapura dan Indonesia (insyallahnanti akan ditulis pada notes di lain waktu)
  • Nilai Cadangan Devisa: $207 Milyar; tidak termasuk kapital yang dikelola oleh SWF bernama Temasek Holding lebih dari $300 milyar dan GIC Investment Holding sekitar $250 milyar). Bandingkan dengan cadangan devisa Bank Indonesia hanya $81.3 milyar

Dari data-data di atas nampak sekali ada salah urus pemerintah kita dan budaya korupsi yang luar biasa dahsyatnya telah terjadi di Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Mengapa negara seluas dan sekaya negeri kita tidak dapat memakmurkan rakyatnya sendiri dan hanya memperkaya segelintir orang saja???

Kami para pekerja Indonesia di LN sempat menghitung sebuah fakta sederhana namun miris saat kita gali:

Di sektor tambang dan industri turunannya (mining & its subsidary), paling tidak ada sekira 1 juta org pekerja di dalam dan LN di sektor tambang (hanya kelas menengah saja -atau level senior staff dan posisi manajer dengan gaji equivalent sekitar Rp20 juta atau lebih, mereka membayar pajak per bulan ke negara sekitar Rp 5 juta per bulannya. Jika dikalikan, maka pemasukan negara dari pajak mereka ini sekitar Rp 5,000,000,000,000 PER BULAN (lima juta juta), dan silahkan kalikan per tahun berapa tuh (angkat NOL nya banyak sekali dech…!

Kenapa negara kita masih juga berhutang ke dalam dan LN?? Pendapatan pajak dari sektor ekspor tambang, migas dan no migas dikemanakan?? Devisa dari para pekerja TKW sektor non formal sekira $600 juta, ditambah pendapatan pajak dari para pekerja di industri-industri lain kemana semua uangnya itu?? Ditambah lagi sektor finansial, ritel, TPT, manufaktur dll. Ini masih belum lagi dari sektor perdagangan dan jasa di dalam negeri yang luar biasa dahsyatnya mereka masing-masing terkena pajak pendapatan pribadi dan perusahaan. Kemana semua duit-duit itu? Data sederhana saja mengenai betapa Indonesia tergolong lumbung komoditi dunia, itu sebabnya dari dulu negeri ini dijajah ratusan abad lamanya (mungkinkah ‘kekuatan asing’ masih mencengkram negeri ini lewat berbagai cara dengan metode upeti ke para pejabat negara dan anggota Dewan nya?? Entahlah….hanya Tuhan yang Tahu….).

Coba perhatikan data-data ekspor Indonesia ke seluruh dunia untuk beberapa kategori saja:

  • Sawit terbesar di dunia
  • Batu bara terbesar ke-2 dunia
  • Timah terbesar dunia
  • Kakao terbesar ke-3 dunia (setelah Ghana dan Pantai Gading)
  • Kopi terbesar ke-3 dunia
  • Emas ke5-7 dunia (banyak rumors yang mengatakan bahwa tambang Freeport memiliki kandungan emas terbesar di dunia). Silahkan tanya ke ‘um gugel’ berapa persen bagian pemerintah RI dari dahsyatnya kekayaan tambang grasberg dan sekitarnya yg dikuasai oleh Freeport Group?? (hal ini diluar berbagai berita temuan lain di sekitar tambang Grassberg yg dikelola oleh Freeport yang mengandung banyak jenis tambang lainnya seperti tmbaga, paladium dan uranium)
  • Minyak bumi hampir 1 juta barrel per hari (kalikan setahun 360 hari kalikan harga minyak, kalikan keuntungannya PERTAMINA tiap barrel)
  • Eskpor sektor pertanian dan holtikultura dahsyat, meski belum dikelola lebih optimal soerti Thailan, India, Philipine, dll
  • Ekspor sektor non migas
  • Ekspor gas alam dll dst dst…. (suangat kuaya raya dech…). Kota Tokyo dan Seoul jika malam hari sangat indah karena terang benderang cahaya lampunya sebab listriknya disuplay dari ekspor gas Indonesia -sedangkan PLN kita malah kekurangan pasokan listrik. “Prett-bray”. Huh betapa anehnya ya?!

Lalu kenapa puluhan juta rakyat Indonesia masih miskin?? Kesempatan akses kredit untuk UMKM begitu tdk signifikan, kebijakan pemerintah terhadap usaha sektor mikro juga cuman setengah hati dan berisi janji-janji semasa kampanye saja? Realisasi ada, apa sdh cukup? Ya masih jauh lah bo’!! Pengusaha UMKM kita ibarat “tikus mati di lumbung padi”

Jika ketimpangan ekonomi di stratum masyarakat ‘bawah’ sudah ideal tentunya para TKW sektor non formal tidak akan pergi jauh-jauh meninggalkan kampung halaman mereka dengan risiko yang sangat besar -dan minim perlindungan negaranya-. Apa yg dikerjakan dan diperjuangkan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan sich?

Patokan Bank Dunia (World Bank) yg disebut rakyat miskin adalah mereka yang pendapatannya dibawah $2 per hari). Boleh dibilang Indonesia pun bisa dikategorikan lumbung kemiskinan -versi bank dunia- oleh karena puluhan juta angkatan kerja Indonesia (terutama yg di perdesaan masih banyak yg berpendapatan dibawah benchmark household poverty World Bank tersebut)

Salahnya dimana sich? Mau sampai kapan keadaan salah urus seperti ini berlangsung?

O Tuhan…kapankah Engkau tolong kami rakyat Indonesia yg mencintai Mu dan negeri yang kaya raya anugerahMu ini??

Aku teringat di zaman Pak Harto (sori ya sedikit lebay.com nich…) acara-acara seperti “dari desa ke desa”, “kelompencapir”, penghargaan keluarga berencana, acara panen raya, lagu-lagu kebangsaan dan daerah ditayangkan oleh TVRI -wajib-, acara jambore nasional dan kepramukaan, defile-defile militer TNI yang membangggakan, dan serenceng lain…..kenapa sih kita ndak meniru apa-apa yang memang nyata-nyata baik yg sdh dilakukan generasi sebelumnya? Maunya hantam kromo aja, tapi ndak punya jurus bagus, cpd!

Acara-acara televisi saat ini dijejali oleh hal-hal yang menawarkan hiburan mimpi, jauh dari kenyataan dan melupakan etos kerja bangsa yang terkenal pemberani, pantang menyerah, dan pekerja keras!

Tulisan sederhana ini disarikan dari sumber-sumber berikut ini:

Kamus internet Wijipedia www.wikiipedia.com; Indonesian Global Network di www.Linkedin.com; Sovereign Wealth Funds www.swfinstitute.org; Biro pusat statistik www.bps.go.id; Bapenas www.bappenas.go.id; Bank Dunia www.worldbank.org; Asian Development Bank www.adb.org; Bank Indonesia www.bi.go.id dan berbagai asosiasi komoditi Indonesia (situsnya terkait komonditinya silahkan cari sendiri di ‘um gugel’)

Tags: add new tag

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 17 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 19 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 19 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 20 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: