Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Yusuf Yusuf

Seorang yang selalu bermimpi dan berusaha merealisasikannya...

Pilihan Ekonomi dalam Realitas

OPINI | 16 December 2010 | 03:53 Dibaca: 628   Komentar: 0   0

Pilihan-pilihan sulit akan selalu menerpa setiap langkah manusia selama dia hidup, tak ada yang dapat mengelak, siapapun dia, dimanapun dia tinggal, dalam strata ekonomi apapun dia, hingga memiliki jabatan apapun dia, semua harus memilih.

Dalam Ilmu ekonomi, pilihan yang terbaik adalah pilihan yang akan memberikan efisiensi terbaik dalam menghadapi kelangkaan yang dihadapi untuk mendapatkan kepuasan yang maksimum dari sumber daya yang tersedia, jika kita renungi lebih mendalam, maka kata-kata itu terasa banyak benarnya, artinya sesuai dengan kejadian dalam dunia nyata, bukan hanya dalam teori yang jauh mengawang dibalik bahasa yang sulit dipahami orang awam.

Bagi kebanyakan orang, pilihan dapat diartikan keputusan ketika menghadapi suatu masalah atau merencanakan masa depan, baik diri sendiri atau keluarga kerabat sekitar yang menggantungkan harap padanya, bagi seorang pemimpin maka keputusannya akan berkaitan dengan nasib puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan orang-orang yang dipimpinnya.

Keputusan atas suatu pilihan kadang terlalu mudah, seperti memilih yang terbaik diantara yang baik, memilih tawaran kerjaan yang paling cocok, makan apa dan dimana, memilih barang mana yang cocok, bahkan cara yang paling cepat untuk menghabiskan uang yang ada karena ia mengalir tanpa henti. tapi keadaan demikian jarang terjadi ditengah kehidupan kebanyakan rakyat negeri ini. keadaan hanya sering kita tonton dalam sinetron yang mengangkat ilusi kehidupan.

Yang seringkali terjadi adalah pilihan-pilihan sulit, bagaimana alokasi dana yang minim agar hidup hingga akhir bulan, itu yang sering terjadi dan mungkin kejadian yang sering menimpa kita sebagai “grass root”, “alas kaki” atau “anak bawang” yang katanya disebut “pemilik negeri” dalam konsep ketatanegaraan dengan sebutan “tertinggi”.
Namun, bersyukurlah dengan setulus hati bagi tetap memiliki pilihan, sekecil apapun pilihan itu, walaupun pilihan yang sangat getir, karena banyak orang yang kini hidup namun tak ada pilihan, hingga akhirnya hanya berkeliaran, menjadi benalu, lalu merasa tak berarti, gelap mata akhirnya memilih mati.

bagi yang mulai mengalaminya, depresi adalah tandanya. Sadarlah bahwa pilihan itu ada karena kita membuat pilihan, create your dreams and get the destination in your life. Lihat potensi dan sekitar kita, sadari siapa kita, kita adalah makhluk sempurna dengan karunia akal dan 5 panca indera..terlalu banyak yang dapat kita lakukan hingga terlalu banyak pilihan yang dapat kita bisa buat.

atau mulailah koreksi diri, mungkin anda mulai tersandera oleh pilihan yang telah anda buat sendiri, pilihan yang terlalu berat untuk dijalani hingga membuat mati pilihan yang lain, maka petuah orang tua tentang hidup wajar perlu direnungi, hingga pilihan-pilihan yang sulit tidak datang membelit.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Dahlan Iskan, Sosok Tepat Menteri Pertanian …

Felix | | 21 August 2014 | 09:47

Trik Licik Money Changer Abal-abal di Bali! …

Weedy Koshino | | 20 August 2014 | 23:31

ISIS Bunuh Wartawan Amerika dan Ancam Obama …

Ansara | | 21 August 2014 | 10:03

I See All Evil, I Hear All Evil, I Report …

Agustulastyo | | 21 August 2014 | 12:32

Haruskah Semua Pihak Menerima Putusan MK? …

Kompasiana | | 21 August 2014 | 10:31


TRENDING ARTICLES

Pelajaran dari Sengketa di MK …

Jusman Dalle | 5 jam lalu

WC Umum Tak Kalah Penting dengan Dapur Umum …

Prabu Bolodowo | 6 jam lalu

Hebat, Indonesia Paling Menjanjikan Sedunia! …

Firdaus Hidayat | 7 jam lalu

Jangan Sembarangan Pelihara Ayam di Amerika …

Usi Saba Kota | 7 jam lalu

Menanti Komitmen Prabowo …

Adrian Susanto | 8 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: