Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Yusuf Yusuf

Seorang yang selalu bermimpi dan berusaha merealisasikannya...

Pilihan Ekonomi dalam Realitas

OPINI | 16 December 2010 | 03:53 Dibaca: 591   Komentar: 0   0

Pilihan-pilihan sulit akan selalu menerpa setiap langkah manusia selama dia hidup, tak ada yang dapat mengelak, siapapun dia, dimanapun dia tinggal, dalam strata ekonomi apapun dia, hingga memiliki jabatan apapun dia, semua harus memilih.

Dalam Ilmu ekonomi, pilihan yang terbaik adalah pilihan yang akan memberikan efisiensi terbaik dalam menghadapi kelangkaan yang dihadapi untuk mendapatkan kepuasan yang maksimum dari sumber daya yang tersedia, jika kita renungi lebih mendalam, maka kata-kata itu terasa banyak benarnya, artinya sesuai dengan kejadian dalam dunia nyata, bukan hanya dalam teori yang jauh mengawang dibalik bahasa yang sulit dipahami orang awam.

Bagi kebanyakan orang, pilihan dapat diartikan keputusan ketika menghadapi suatu masalah atau merencanakan masa depan, baik diri sendiri atau keluarga kerabat sekitar yang menggantungkan harap padanya, bagi seorang pemimpin maka keputusannya akan berkaitan dengan nasib puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan orang-orang yang dipimpinnya.

Keputusan atas suatu pilihan kadang terlalu mudah, seperti memilih yang terbaik diantara yang baik, memilih tawaran kerjaan yang paling cocok, makan apa dan dimana, memilih barang mana yang cocok, bahkan cara yang paling cepat untuk menghabiskan uang yang ada karena ia mengalir tanpa henti. tapi keadaan demikian jarang terjadi ditengah kehidupan kebanyakan rakyat negeri ini. keadaan hanya sering kita tonton dalam sinetron yang mengangkat ilusi kehidupan.

Yang seringkali terjadi adalah pilihan-pilihan sulit, bagaimana alokasi dana yang minim agar hidup hingga akhir bulan, itu yang sering terjadi dan mungkin kejadian yang sering menimpa kita sebagai “grass root”, “alas kaki” atau “anak bawang” yang katanya disebut “pemilik negeri” dalam konsep ketatanegaraan dengan sebutan “tertinggi”.
Namun, bersyukurlah dengan setulus hati bagi tetap memiliki pilihan, sekecil apapun pilihan itu, walaupun pilihan yang sangat getir, karena banyak orang yang kini hidup namun tak ada pilihan, hingga akhirnya hanya berkeliaran, menjadi benalu, lalu merasa tak berarti, gelap mata akhirnya memilih mati.

bagi yang mulai mengalaminya, depresi adalah tandanya. Sadarlah bahwa pilihan itu ada karena kita membuat pilihan, create your dreams and get the destination in your life. Lihat potensi dan sekitar kita, sadari siapa kita, kita adalah makhluk sempurna dengan karunia akal dan 5 panca indera..terlalu banyak yang dapat kita lakukan hingga terlalu banyak pilihan yang dapat kita bisa buat.

atau mulailah koreksi diri, mungkin anda mulai tersandera oleh pilihan yang telah anda buat sendiri, pilihan yang terlalu berat untuk dijalani hingga membuat mati pilihan yang lain, maka petuah orang tua tentang hidup wajar perlu direnungi, hingga pilihan-pilihan yang sulit tidak datang membelit.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Sebenarnya, Berapa Sih Jumlah Caleg Gagal di …

Politik 14 | | 23 April 2014 | 14:46

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotman Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 20 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 22 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 22 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 23 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 23 April 2014 07:15

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: