Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Guno Tri Tjahjoko

director digitaleadership consultant www.digitaleadership.biz

Digitaleadership: Kebutuhan Masa Depan?

OPINI | 14 July 2011 | 20:31 Dibaca: 308   Komentar: 2   0

“Kami tidak tahu apa alasan pihak yayasan memberhentikan kami,” ujar SI (33), guru biologi SMA di Yayasan Pondok Pesantren Proklamasi 1945, di kantor LBH, Jumat (1/4/2011) siang. Menurut guru yang enggan disebutkan nama lengkapnya itu, pihak yayasan memberhentikan sekitar 45 orang guru dan karyawan yang bekerja di SMP dan SMA di yayasan tersebut. Semuanya diberitahu melalui pesan singkat (SMS). “Ada yang dikirimi pesan pada tanggal 23 Februari malam, ada yang pagi tanggal 24 Februari,” katanya (Tribun Jogja, 1 April 2011)

“Enam pasangan pelajar terjaring razia yang dilakukan Kepolisian Resor Kota (Polresta) Madiun, Jawa Timur, pada warung internet (warnet) mesum, Sabtu (16/4). Bahkan empat pelajar di antaranya merupakan siswa kelas XII dari beberapa sekolah di Madiun yang akan menempuh ujian nasional (UN) tingkat sekolah menengah atas (SMA) pada Senin (18/4) hingga Kamis (21/4) pekan depan. Sedangkan sisanya merupakan siswa dan siswi kelas X dan XI” (Media Indonesia, 16 April 2011)

“Bahwa lanskap bisnis Indonesia sudah berubah. Saya mulai dengan menunjukkan tiga pilar perusahaan, yaitu membaiknya pendapatan/kapita menjadi US $ 3.000, hadirnya paham bisnis freemium, dan berkembangnya keterlibatan masyarakat secara masif pada media-media jejaring sosial” (Rhenald Kasali, 2011:317)

PERUBAHAN PERILAKU

Jaman telah berubah, maka paradigma memahami jaman mestinya harus berubah. Revolusi teknologi informasi melalui internet telah meruntuhkan sekat-sekat antar Negara. Bahkan melalui internet rejim Orde Baru (1998) mampu ditumbangkan oleh para mahasiswa. Revolusi di Sudan,Mesir,Libya dan Suriah juga memanfaatkan internet sebagai jejaring dan penyebar informasi kepada masyarakat. Selain itu melalui jejaring sosial Obama berhasil menjadi presiden Amerika,sekalipun dia dari kelompok minoritas. Penggunaan teknologi dengan tepat akan mensejahterakan kita. Sebaliknya penggunaan teknologi yang tidak tepat atau ketidaksiapan manusia memanfaatkannya untuk kebaikan, maka dia akan terjerumus dalam tindakan yang kurang produktif. Pertanyaan yang patut kita ajukan ialah apa ciri kepemimpinan dalam era digital yang membedakan dengan kepemimpinan tradisonal (manajemen) ?

Tiga kutipan tersebut diatas menunjukkan kepada kita bahwa revolusi teknologi informasi (RTI) telah merasuk dalam keseharian dan memengaruhi perilaku masyarakat Indonesia. Namun banyak masyarakat yang belum siap menghadapi dampak atau perubahan yang ditimbulkannya. Sebagai bentuk ketidaksiapan menggunakan teknologi ialah disalahgunakannya SMS untuk memecat 45 guru SMA di Yogyakarta oleh pihak Yayasan. Penggunaan telepon genggam disalahgunakan untuk memberhentikan guru yang sudah lama mengajar. Hal ini tentu menimbulkan protes dari para guru yang dipecat, karena tidak bisa menerima kebijakan yang dinilai diputuskan hanya sepihak saja. Rasanya kurang manusiawi memberhentikan guru yang telah lama mengabdi dengan SMS. Seolah harkat dan martabat manusianya dilecehkan. Sisi negatif lain dari dampak penggunaan teknologi yang menyimpang ialah terjadinya perbuatan mesum seperti yang dilakukan oleh pelajar di Madiun tersebut. Sebenarnya bukan teknologinya yang salah, tapi manusianya yang tidak bisa menempatkan diri atau tidak siap di era digital.

Namun dampak RTI secara positif ditunjukkan dengan membaiknya pendapatan masyarakat, hadirnya bisnis freemium dan maraknya penggunaan telpon seluler dan jejaring sosial. Pendapatan masyarakat membaik, karena dengan hadirnya teknologi informasi, maka tercipta peluang kerja yang semakin luas. Bisnis penjualan telpon dan pulsa meningkat tajam dan hal ini membuka lowongan kerja baru bagi masyarakat. Persaingan perusahaan telekomunikasi dengan perang tarif murah sampai pada titik nadir, dimana mereka memberikan layanan gratis telpon sekian jam kepada masyarakat. Dengan adanya layanan freemium tersebut pelaku bisnis dan masyarakat diuntungkan untuk memotivasi mereka berbisnis dengan lebih efektif. Oleh karena penggunaan layanan telekomunikasi bersaing ketat, maka layanan internet pun memasuki fase freemium. Hal ini berdampak pada maraknya para pemuda atau masyarakat menggunakan facebook dan twitter sebagai arena untuk narsis atau curah pendapat.

Pada masa kini telah lahir generasi baru yang disebut dengan Net Generation. Mereka berusia antara 18-29 tahun (lahir 1979-1990) berjumlah sekitar 62 juta jiwa. Net Generation (netizen) tersebut bercirikan dengan triple C, yakni : computing, content dan communication. Mereka tidak bisa lepas dari penggunaan komputer baik dalam bentuk netbook, tablet komputer atau smartphone dalam keseharian. Mereka bisa menghabiskan waktu lebih dari 8 jam per hari di depan komputer. Mereka mencurahkan ide, curhat dan opini (content) dalam bentuk tulisan melalui, SMS, BBM, blog, website,facebook atau twitter.Telah lahir suatu generasi yang ekpresif atau dalam istilah netizen ialah Web 2.0 artinya telah lahir generasi yang pro aktif bukan pasif menerima berita apa adanya. Mereka mampu membuat dan merespon berita yang ditawarkan oleh media (communication). Bahkan mereka mampu membuat website atau blog sebagai sarana untuk curah pendapat sebagai media alternatif atau independen.

Menurut hasil riset SWA (September 2010) pelanggan telpon seluler di Indonesia berjumlah 180 juta. Pelanggan telepon yang memiliki konten GPRS berjumlah 85 juta, Smartphone 3 juta lebih dan Blacberry sekitar 2, 5 juta. Hal ini menujukkan adanya perilaku penggunaan telepon rumah yang berpindah ke telpon seluler yang lebih murah, canggih dan mobile. Masyarakat merasakan dampak yang positif dari adanya perang tarif antar perusahaan telekomunikasi. Demikian juga dengan pengguna facebook berjumlah 32 juta lebih,sedangkan Twitter berjumlah sekitar 20 juta . Data tersebut menunjukkan adanya perkembangan yang masif sebagai dampak RTI, namun apabila masyarakat tidak dipersiapkan maka akan terjadi tindakan yang ceroboh atau penyalahgunaan teknologi untuk melakukan tindakan yang merusak moral. Dengan adanya realita bahwa dampak RTI telah memengaruhi perilaku masyarakat , bahkan dalam bidang politik, ekonomi, budaya dan keamanan Negara, maka pada saat ini urgen diperlukan suatu pendekatan paradigma kepemimpinan yang baru.

URGENSI DIGITALEADERSHIP

Ketika saya memperkenalkan ide ini kepada rekan-rekan saya, mereka terheran-heran dan bertanya : Mengapa pake digital ? Bukankah kepemimpinan saja sudah cukup ? Dalam era digital tidak cukup menterjemahkan kepemimpinan dalam konsep menajemen untuk menjawab perubahan paradigma tersebut. Kepemimpinan adalah kapasitas untuk memengaruhi orang lain melakukan sesuatu yang kita kehendaki (Webster, 2003). Dalam konteks era digital, dimana peranan komputer dan data sangat kuat pengaruhnya terhadap masyarakat, maka diperlukan suatu pendekatan cara pikir baru yang menjawab kebutuhan jaman. Yang dimaksud dengan digitaleadership ialah kemampuan memengaruhi orang lain melalui teknologi informasi. Definisi ini berbeda dengan definisi menajeman yang memosisikan leadership sebagai bagian dari actuating.Dalam konteks era digital, kepemimpinan tidak harus dalam bagian actuating. Dia dapat berdiri sendiri, karena untuk memengaruhi orang lain melalui TI tidak diperlukan aturan manajeman yang rigid atau kaku. Gaya digitaleadership dapat ditengarai dari realitas sehari- hari (Betti S.Alisjahbana,2011), yakni: pertama, gaya kepemimpinan dalam era digital ini mobile (mobile and collaborative workplace). Artinya seorang pemimpin tidak terikat lagi dengan lokasi kerja di kantor,namun dengan piranti canggih seperti tablet komputer atau smartphone dia bisa melakukan aktifitas tanpa harus diawasi atau tergantung dengan manajemen kantor.”Diprediksi pada 2013, sebanyak 35% aktivitas pekerjaan akan dilakukan secara mobile” (Betti S.Alisjahbana,2011). Kedua, digitaleadership anywhere dan anytime connectivity. Dia bisa ada dimana saja, baik di dalam kota,luar kota atau luar negeri sekalipun, namun dia mampu bekerja tanpa bergantung pada lokasi. Kata kuncinya ialah kepemimpinan masa depan ialah mereka yang always connected, sehingga mampu memengaruhi dan mengarahkan anak buah di kantor atau efektif dalam bekerja. Ketiga, gaya kepemimpinan dalam era digital ialah portability of device. Hal ini yang membedakan dengan definisi kepemimpinan versi manajemen yang mempersepsi pemimpin sebagai bagian actuating yang terkesan kaku atau rigid. Sedangkan dalam era digital kepemimpinan bersifat portability, maksudnya kepemimpinan itu fleksibel dan mampu menerobos kebuntuan. Dia mampu membuat inovasi dan terobosan baru. Dia harus berpikir out of the box, sehingga dia mampu berkompetisi dengan efektif. Dia mampu berdaptasi dalam perubahan yang sedemikian cepat, sehingga dia mampu unggul dalam persaingan. Keempat, gaya kepemimpinan dalam era digital ditandai dengan collaboration across distances and organization. Dia mampu bekerja tanpa dibatasi oleh jarak dan perusahaan. Artinya dia bisa bekerja dimana saja dengan beberapa perusahaan atau organisasi sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Ibarat generasi prosesor yang sudah mencapai intel 7, dimana kecepatan dan daya kerja semakin padat, maka semakin cepat dan efektif. Artinya kepemimpinan masa depan akan semakin kompleks, namun semakin efektif. Kelima,stay touch and get more done. Kepemimpinan di era digital semakin praktis tidak rumit, sekali sentuh, banyak hal yang didapat dan dikerjakan. Artinya kepemimpinan semakin canggih dengan piranti yang cangggih untuk memengaruhi orang melalui informasi, sekali sentuh maka banyak hal yang didapat atau dikerjakan. Gaya kepemimpinan masa depan ialah merakyat dan bukan bergantung pada politik pencitraan yang cenderung kamuflase. Kemajuan teknologi mampu mensejahterakan manusia, kalau dikelola dengan baik. Teknologi membawa dampak perubahan dalam hidup kita. Namun apakah kita mampu mengelola perubahan tersebut dengan arif ? Hanya orang yang mampu mengelola perubahan yang akan menaklukan perubahan tersebut. Digitaleadership adalah kebutuhan masa depan,agar kita mampu mensejahterakan masyarakat Indonesia. Semoga masyarakat Indonesia sejahtera lahir dan batin

kaki Merapi, 4 Juni 2011

Guno Tri Tjahjoko

www.digitaleadership.biz

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sensasi Mudik Melintasi Jalan Daendels yang …

Hendra Wardhana | | 23 July 2014 | 16:32

Keputusan KPU Tetapkan Jokowi-JK sebagai …

Yusril Ihza Mahendr... | | 23 July 2014 | 14:21

10 Keunikan Ramadhan di Turki …

Wardatul Ula | | 23 July 2014 | 15:32

Mengapa IRT Perlu Memiliki Penghasilan …

Ella Zulaeha | | 23 July 2014 | 14:53

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 4 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 5 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 10 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 10 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: