Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Danie Rahman

its only me, my precious family and great peaceful community

Slogan Menyesatkan di Bulan Ramadhan

OPINI | 27 July 2011 | 21:06 Dibaca: 817   Komentar: 9   4

Seringkali para Dai dalam setiap kegiatan dakwah di bulan ramadhan, menganjurkan untuk berbuka dengan yang manis.  Mungkin topik ini telah beberapa kali jadi perdebatan blogger yang lumayan ramai. Mohon maaf dari penulis yang sebesar-besarnya kepada produsen - distributor - agen - retailer - sales point kolak, es rumput laut, cendol, es kelapa muda, teh manis dalam kemasan, manisan kurma, dan sebagainya.

Hadist yang menjadi rujukan dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Rutab adalah kurma segar yang dipetik dari pohon langsung, Tamr merupakan kurma yang dijemur dibawah terik matahari. Lalu darimana asalnya kata manis? mungkin karena kurma yang dijual di Pasar berasa sangat manis, maka di qiyaskan pada produk lokal yang mengandung banyak gula. Ternyata kurma import yang biasa kita santap adalah Preserve with sugar palm date coba bandingkan:

Manisan Kurma yang disebelah kanan lebih menarik secar penyajian, dan kelihatannya kurma itulah yang dijual di pasar secara umum di Indonesia.

Kembali ke topik disini penulis secara sepihak mengatakan slogan “Berbukalah dengan yang manis” merupakan cara yang ampuh untuk menjadikan kita cepat letih sesaat setelah berbuka dan terkantuk-kantuk ketika shalat tarawih berjamaah di mesjid.

Mari kita bicara ‘indeks glikemik’ (glycemic index/GI) saja. Glycemic Index (GI) adalah laju perubahan makanan diubah menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi glikemik indeks dalam makanan, makin cepat makanan itu dirubah menjadi gula, dengan demikian tubuh makin cepat pula menghasilkan respons insulin.

Para praktisi fitness atau pengambil gaya hidup sehat, akan sangat menghindari makanan yang memiliki indeks glikemik yang tinggi. Sebisa mungkin mereka akan makan makanan yang indeks glikemiknya rendah. Kenapa? Karena makin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh makin menimbun lemak. Penimbunan lemak tubuh adalah yang paling dihindari mereka.
sumber

Sebenarnya tidak ada yang baru dalam tulisan hari ini, akan tetapi syahwat untuk membatalkan diri setelah seharian berpuasa dengan berbagai minuman dingin dan menyegarkan serta makanan bergula berlebih apalagi kalau bisa 30 hari berpuasa menu pembuka yang harus berbeda-beda, terkadang masih ada.

Sedikit balas dendam dari kekanganan cuaca panas yang menganga, santap semua tepat adzan mahrib. Yang lebih parah kita paksa “orang rumah” untuk menyediakan yang special ketika berbuka. Pulang kantor, macet, panas dan ternyata hanya ada segelas air putih di meja, mata melotot, nada meninggi, tangan dipinggang ” Kok cuma air Putih?”

Belakangan seorang teman mengatakan bahwa pisang indonesia mempunyai kandungan gizi yang sama dengan buah kurma segar.   Lho? apa gara-gara buah lokal tidak lagi dihargai di negerinya sendiri lantas  kita kampanyekan slogan baru untuk puasa tahun ini “berbukalah dengan pisang indonesia!”.

artikel serupa:
disini
disini

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Fort Marlborough dan Tugu Thomas Parr, Saksi …

Sam Leinad | | 21 April 2014 | 12:34

Dekati ARB, Mahfud MD Ambisius Atau …

Anjo Hadi | | 21 April 2014 | 09:03

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Demonstrasi KM ITB: Otokritik untuk …

Hendra Wardhana | 7 jam lalu

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 12 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 13 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 14 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: