Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Heru Legowo

Seorang yang suka sesuatu hal yang baru, yang menantang fisik, kecerdasan dan yang penting segala selengkapnya

Bekerja dengan (Sepenuh) Hati

HL | 22 October 2011 | 22:49 Dibaca: 796   Komentar: 18   3

Jumat 21 Oktober 2011, jam 10.15 pagi saya duduk di seat 2A pesawat MD-90 Lion Air, mau pulang ke Jakarta. Kemarin saya diundang menghadiri peresmian Bandara Internasional Lombok oleh Presiden SBY. Pesawat sedang menunggu, karena Menteri BUMN Dahlan Iskan sedang on the way setelah mengikuti Presiden SBY meresmikan Mandalika Resort di Pantai Kuta Nyale Lombok.

13193008501066172655

Sebentar kemudian, dari jendela pesawat tampak beliau berlari dan dengan cepat menaiki tangga. Dan sebelum duduk di seat 2F, beliau berdiri dan minta maaf kepada para penumpang. Saya merasa pasti, tidak semua penumpang tahu siapa orang yang bersepatu kets dengan kemeja putih digulung setengah lengan dan meminta maaf itu. Beliau tampak sangat biasa dan tidak istimewa, sekilas dari tampilan luar sama sekali tidak tampak “potongan” sebagai seorang Menteri Negara!

Memperhatikan beliau yang tampak sangat sederhana itu, saya jadi mengingat kembali tulisan beliau yang ditulis ulang di koran Lombok Post tgl 20 Okt 2011 dibawah judul “Kisah Kasih Tak Sampai” tulisan yang kuat mengisyaratkan gambaran nyata dari judul tulisan ini. Dalam tulisan itu beliau berceritera lugas tentang rencana beliau untuk mundur dari Dirut PLN setelah 3 tahun. Pada waktu itu beliau sedang menunggu pesawat Garuda untuk boarding akan ke Eropa, tiba-tiba ada perintah dari Presiden untuk membatalkan perjalanannya. Ketika bersiap akan meletakkan jabatan yang satu, jabatan yang lebih tinggi justru mendatangi beliau. Itulah hidup.

13193011241355800029Ilustrasi dalam tulisan Pak Dahlan menjadi gambaran bagaimana beliau bekerja dengan sepenuh hati. Termasuk menyiapkan pengganti, jika harus meninggalkan PLN. Bekerja dengan sepenuh hati. Rasanya itulah hal yang muncul di permukaan setelah membaca tulisan-tulisan beliau dan bagaimana beliau mengatasi titik kritis ketika harus menjalani operasi hati di China. Hanya saja tidak semua dari kita dapat memaknainya dengan sebenarnya.

Bekerja dengan hati, sering berhenti menjadi sekedar menjadi jargon. Cukup sulit untuk diterapkan dalam kondisi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Bekerja menjadi bagian dari eksistensi dan kebutuhan sebagai ummat manusia. Bekerja bukan hanya bertujuan untuk menghasilkan uang, tetapi bekerja demi kepuasan dan aktualisasi diri. Yang terakhir ini yang sulit. Tidak semua orang sempat masuk pada tingkatan yang terakhir ini. Memang pada kenyataannya banyak terjadi pada tahap awal saja belum terpenuhi, yaitu kebutuhan fisik. Jika ini yang ini saja belum terpenuhi, agak sulit juga masuk pada tahap berikutnya.

Bekerja dengan pikiran, fisik dan hati berujud sebuah akumulasi berupa totalitas dalam bekerja. Jarang orang melakukan itu. Kebanyakan orang berhitung untung-rugi yang diberikan berapa dan akan mendapat berapa? Seperti orang berdagang, kalau tidak menguntungkan ya mundur saja. Kalau itu bukan concern saya, biarkan saja, apa peduli saya?

13193009861121883670

Menteri Negara BUMN - Bpk. Dahlan Iskan

Dari pengalaman, bekerja dengan totalitas ketika semua pikiran, fisik, mental dan hati menjadi satu akan menghasilkan daya yang luar biasa. Totalitas ini selain menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan tuntas juga memberikan kepuasan yang sulit diuraikan dengan kata-kata. Hanya si pelaku sendiri yang dapat merasakannya. Jadi jika kita melakukannya dengan sepenuh hati, maka sebuah totalitas akan kita peroleh bagi diri kita sendiri maupun bagi perusahaan dimana kita bekerja. Kisah kasih tak Sampai dari Pak Dahlan Iskan menjadi salah satu inspirasi agar kita bekerja dengan sepenuh hati.

Dan ketika semua penumpang bersiap untuk turun menunggu pintu pesawat dibuka, saya mengulurkan tangan dan menjabat tangan Pak Dahlan Iskan : “Selamat ya Pak Dahlan!” beliau menyambut tangan, saya sambil berkata : “Selamat apaaa?” terus beliau sibuk menjawab sms dan mengetikkan message di Blackberry Bold Dakota-nya.

Siang itu sambil menarik koper  di sepanjang koridor terminal penumpang Bandara Soekarno-Hatta, saya memperhatikan Pak Dahlan Iskan yang dijemput Direktur Personalia Umum PT. Angkasa Pura II berjalan cepat menuju ke terminal penumpang. Sesekali beliau berhenti, jongkok dan sambil menunjuk di dinding penyekat lorong terminal dengan apron.

Diam-diam sebuah pemahaman baru menyelinap direlung hati saya, dari sosok Pak Dahlan Iskan. Mudah-mudahan beliau tetap sehat dan semangat mengurus 141 BUMN yang harus disehatkan dan memberi kontribusi positif kepada negara. Jika masing-masing BUMN membutuhkan waktu 2 hari saja untuk membenahinya, maka akan dibutuhkan waktu setahun baru selesai. Terlalu banyak BUMN kita barangkali?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wukuf di Arafah Puncak Ibadah Haji …

Aljohan | | 02 October 2014 | 15:27

2 Oktober, Mari Populerkan Hari …

Khairunisa Maslichu... | | 02 October 2014 | 15:38

Kopi Tambora Warisan Belanda …

Ahyar Rosyidi Ros | | 02 October 2014 | 14:18

Membuat Photo Story …

Rizqa Lahuddin | | 02 October 2014 | 13:28

[DAFTAR ONLINE] Nangkring bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:52


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 2 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 6 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenalkan Ini Batik Khas Bekasi …

Ahmad Syaikhu | 8 jam lalu

Pengembangan Migas Indonesia: Perlukah Peran …

Fahmi Idris | 8 jam lalu

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Rini Nainggolan | 8 jam lalu

Celana Dalam Anti Grepe-grepe …

Mawalu | 8 jam lalu

Bioskop Buaran Tinggal Kenangan …

Rolas Tri Ganda | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: