Artikel

Manajemen

M Farid W Makkulau

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

a bibliofil, my email : mfarid_upeks@yahoo.com

Jangan Turuti Keinginan dengan Kredit


OPINI | 30 January 2012 | 22:09 Dibaca: 198   Komentar: 13   1 dari 2 Kompasianer menilai bermanfaat

1327935655890697058

penawaran kredit barang. ilustrasi. google/makassar.olx.co.id

Banyak orang seringkali tidak bisa membedakan kebutuhan dengan keinginan. Jika tak punya kontrol keuangan yang ketat, banyak orang kemudian terjebak untuk lebih menuruti keinginannya dibanding memenuhi kebutuhannya. Keinginan kadang kita pandang sebagai kebutuhan, padahal kita “tak butuh – butuh amat” dengan barang yang kita inginkan tersebut, lebih kepada nafsu untuk memiliki, mau dibilang atau mengikuti trend.

Saat ini begitu banyak barang yang ditawarkan dengan system kredit. Mulai dari pakaian dan kain, barang elektronik rumah tangga (Blender, Kulkas, Mesin Cuci, Meja dan kursi tamu, meja makan, TV LCD, Radio, Home Theater, dan lain sebagainya), perlengkapan kerja (komputer atau laptop, kamera digital, meja kerja sampai rak buku), sampai smartphone dan iPAD. Belum lagi cicilan rumah, kendaraan (motor atau mobil) sampai cicilan tanah kapling, dan lain sebagainya. Tawaran kredit itu merajalela melingkupi dan menerjang kehidupan kita dan tak sedikit orang yang kemudian tergiur dan larut dalam cicilan yang menyiksa dirinya dan keluarganya setiap bulannya.

1327935993620646125

Penawaran kredit motor. ilustrasi.google/kopastieykpn.blogspot.com

Kredit sebenarnya ada dua macam, yaitu kredit konsumtif dan kredit produktif. Cicilan barang elektronik rumah tangga masuk dalam kategori kredit konsumtif, sedang cicilan rumah atau tanah kapling dapat dikategorikan sebagai kredit produktif karena suatu saat dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masa depan atau dijual kembali pada saat harga jualnya sudah naik tiga kali lipat.  Baik belanja langsung maupun kredit sebenarnya sangat dipengaruhi oleh nafsu ingin memiliki sesuatu, keduanya berpotensi merugikan atau merusak perencanaan keuangan jika menyangkut “keinginan” saja, dan akan lebih celaka lagi jika itu menyangkut kredit konsumtif.

Kekayaan itu sendiri bukan terletak pada “kepemilikan”, pada seberapa banyak barang yang bisa anda miliki, tetapi terletak pada “kemanfaatan”, pada sebarapa bermanfaat suatu barang ada di tangan kita. Kepemilikan berkorelasi dengan “keinginan” sedang “kemanfaatan” berkorelasi dengan “kebutuhan”. Pada taraf tertentu, banyak orang yang ingin cepat kaya atau ingin disebut kaya sehingga menyiksa dirinya untuk kiri kanan ambil kredit, sampai – sampai ponsel pun (smartphone) harus dikredit demi mengejar suatu “prestise” atau pembenaran atas tuntutan gaya hidup.

Banyak orang yang menderita malu atau kehilangan harga dirinya hanya karena persoalan kredit barang. Mau dibilang sebagai orang berduit atau mempertontongkan barang – barang lux di rumahnya, kesemuanya dapat ditempuh dengan mengambil kredit. Banyak orang saat ini tergiur dapat memiliki motor hanya dengan uang muka Rp 500.000,- tanpa menyadari siksaan yang harus dialaminya di bulan – bulan berikutnya dengan penghasilan pas – pasan untuk keluarganya. Begitu pula banyak orang tergoda untuk memiliki Blackberry dengan cara menyicil, alasannya demi  tuntutan gaya hidup online.

Saran saya, jika memang penghasilan anda pas - pasan untuk memiliki barang – barang seperti itu lebih baik dikekang dulu keinginan itu, toh anda juga tidak akan apa – apa jika tidak memilikinya. Malah dengan tidak memilikinya, hidup anda jauh lebih tenang dan nyaman.  Jika hidup anda tak ingin tersiksa, jangan turuti keinginan anda dengan kredit. Tak ada salahnya menunda keinginan untuk membelinya secara kontan, itu akan jauh lebih baik dibanding dengan pikiran dan perasaan yang tidak tenang setiap bulannya karena kredit suatu barang.

Sebaiknya anda banyak menimbang, apakah suatu barang sudah pantas anda miliki sebagai “keinginan” yang bisa menunjang produktifitas kerja. Jika anda yakin, silahkan saja anda kredit selama itu tidak “lebih besar pasak daripada tiang”.  Sukses diri (juga) sangat bergantung pada bagaimana kita memanage dan memanfaatkan dengan baik suatu barang / alat pendukung kerja untuk prestasi, bukan semata sebagai sebuah “prestise”. (*)

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: