Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Syam

Hidup adalah kenyataan, terima kenyataan, dan hadapi

Ilmu Manajemen dan Kapitalisme

OPINI | 13 June 2012 | 02:34 Dibaca: 293   Komentar: 0   0

BAB I

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadlirat Tuhan YME karena taufiq dan hadayah-Nya, kami mampu menyelesaikan penulisan buku tentang Structure of the Humanity atau Struktur Kemanusiaan. Buku Structure of the Humanity atau disingkat Structhuman adalah sebuah buku yang menjelaskan berbagai hal yang terkait dengan perilaku manusia dalam mewujudkan impiannya dalam rangka meraih apa yang dicita - citakan. Penulisan buku berjudul Structure of the Humanity dimaksudkan guna menjawab permasalahan terkait tragedi kemanusiaan yang terjadi selama ini, yakni dalam hal tata cara mewujudkan impian - impiannya. Yaitu tragedi kemanusiaan berupa penindasan antar sesama manusia dalam berbagai cara dan bentuk yang marak terjadi di belahan dunia ini, penindasan dalam bentuk pemanfaatan tenaga orang tanpa peduli dengan kelayakan hidupnya, pemanfaatan jasa orang seenaknya, pemanfaatan kelemahan orang, pemanfaatan ketidak berdayaan orang, pemutusan hubungan kerja sepihak, pengendalian tenaga kerja oleh pihak perusahaan yang tidak manusiawi, birokrasi yang diktator, tidak adanya keadilan birokrasi, dan semena - menanya orang pandai (yang duduk di pemerintahan) terhadap rakyatnya.

Apa yang penulis bukukan ini merupakan hasil pengamatan dan pembelajaran atas berbagai persoalan yang terjadi baik yang penulis alami sendiri ataupun dari masukan pihak lain terutama masukan dari orang yang benar – benar menguasai menyangkut hal – hal tentang kemanusiaan. Serta berbagai literatur yang sempat penulis baca, ternyata banyak sekali persoalan bila ditarik sampai pada dasar pemikirannya hanya terbatas pada pembahasan pada hal – hal yang bersifat sementara dan tidak mendasar, terutama mengenai berbagai seluk – beluk manajemen. Dari berbagai persoalan yang terjadi yaitu terjadinya saling menindas antar sesama dikarenakan dihampir seluruh tingkatan dan kalangan sudah tidak sadar serta tidak menyadari bahwa dirinya sudah masuk ke dalam ring sistem kapitalis. Bahkan hal ini sudah merasuk ke alam pemikiran tanpa disadari sama sekali oleh orang yang menyatakan diri sebagai penentang kapitalis. Sampai – sampai pendidikan sistem kapitalisme ini, menjadi kurikulum wajib di sekolah – sekolah di Bangsa penentang Kapitalis nomor wahid, Indonesia, dan lahirnya ilmu manajemen sebagai satu pemikiran yang menguatkan sistem kapitalisme itu sendiri.

Itulah mungkin kelemahan sebagian orang dan khususnya Bangsa yang baru berkembang terlalu mudah percaya dan terlalu mudah mengagumi sesuatu yang berbau Barat, sehingga tidak ada filter sama sekali untuk membentengi diri dari segala virus yang akan merusak dan menghancurkan karakter kamanusiaan yang adi luhung. Dan tidak ada keberanian untuk menentang segala pemikiran dan konsep berfikir yang datang dan muncul dari negara – negara kapitalis atau negara maju.

Semua Ilmu pada dasarnya adalah baik dan memiliki kemanfaatan bagi siapa yang menggunakannya dalam takaran – takaran tertentu sesuai kebutuhan. Namun tidak boleh dilupakan berangkatnya sebuah keilmuan (pemikiran) hampir pasti memiliki dasar pijakan dan maksud - maksud tertentu, sebagai manusia apalagi sebagai sebuah Bangsa harus membiasakan berfikir terbalik supaya tidak mudah terjebak ke dalam ring suatu faham. Tujuanya supaya memiliki filter yang kuat untuk menepis dan membentengi diri dari berbagai serangan pemikiran dalam bentuk dan cara apapun, orang atau Bangsa yang mudah percaya begitu saja dalam hal menerima informasi dalam jangka panjang sama artinya dengan menghancurkan sendi – sendi kehidupannya sendiri.

Sebuah keilmuan sebaik apapun kalau sudah mengabaikan unsur kemanusiaan, dan lebih mengutamakan keuntungan pihak satu dengan mengesampingkan atau mengorbankan pihak lainya sengaja atau tanpa sengaja, dalam mengejar keuntungan maka yang demikian sudah seharusnya tidak dipakai atau ditinggalkan. Sebab persolan tersebutlah kami menyusun buku ini, sebagai solusi atas tragedi kemanusiaan yang disebabkan tersebarnya paham kapitalis yang sudah terlanjur mengakar ke dalam alam pemikiran kebanyakan orang dan alam pemikiran sebuah Bangsa sehingga tidak sadar telah berada dalam ring dan bingkai pemikiran yang menghancurkan sendi – sendi kemanusiaan.

Inti dari konsep berfikir kapitalis semua dinilai dengan uang, kesuksesan identik dengan uang, keberuntungan identik dengan uang, dan kemajuanpun identik dengan uang. Prinsip - prinsip kemanusiaan diabaikan dan dikesampingkan, kalaupun ada sekedar sebagai bember agar tidak dibilang telah melanggar HAM.

Do’a, kritikan, dan dukungan dari semua pihak atas penulisan buku ini selalu kami harapkan dan dari para budiman yang telah membaca dan belum membaca buku ini, sehingga dapat menambah khasanah berfikir kami.

BAB II

PENDAHULUAN

I. Penjelasan Umum

Structure of the Humanity atau Structhuman adalah pedoman untuk mengatur kebijakan dalam menata dan mengelola sebuah tugas dan tanggungjawab dalam menjalankan roda organisasi, perusahaan, dan usaha tetap serasi dan selaras dengan prinsip – prinsip kemanusiaan. Prinsip – prinsip dasar kemanusiaan merupakan elemen – elemen kemanusiaan yang telah ada sebelum kita ada. Jadi tugas kita tinggal menggunakan dan menyempurnakan dalam mengaplikasikan sesuai keadaan dan kondisi jaman.

Berikut berbagai elemen kemanusiaan yang telah ada sebelum kita ada atau atau sebelum kita dilahirkan ke dunia seperti : Olah Cipto, Olah Roso, Olah Karso, dan Olah Rogo dipraktikkan dengan unsur kemanusiaan Cipto, Roso, Rumongso, Ngrasakne, dan Ngrumangsani ditindaklanjuti dengan sikap dan perilaku perikemanusiaan Tanggap, Tangguh, Tanggon ; Pinter, Tatag, Waras ; Pinter, Pener, Kober ; Unggah-ungguh, Sopan-santun, Tata-krama ; ojo Dumeh, Ojo Kaduk ati, Ojo Kegedhen rumongso. Tidak boleh dilupakan dalam pelaksanaan tetap menjaga kedisiplinan yaitu disiplin tata-tertib, disiplin kerja, dan disiplin keuangan.

Disamping itu guna menjaga agar terjadi sinkronisasi antara keilmuan atau informasi dengan kenyataan dalam konsep berfikir dan kerangka berfikir (mintset) kita tidak boleh terlepas dari azas berikut ini setiap tindakan yang dilakukan harus didasari keilmuan atau informasi kemudian dibuktikan sampai ada keyakinan bahwa antara ilmu dengan tindakan dan dengan kenyataan sinkron atau nyambung.

Ada ilmu atau informasi kita harus tanggap maka tindakan atau sikap yang tepat orang yang tanggap adalah mengamati dan memperhatikan dengan seksama hingga diperoleh satu bukti, fakta, dan data yang meyakinkan adanya keterkaitan antara ilmu dengan kenyataan. Kemudian diinformasikan kita harus tangguh, maka pelaksanaannya kita melakukan pengelolaan dan mengolah data yang didapat dari proses menanggapi untuk dikelola sedemikian rupa sehingga kita yakin bahwa proses mengolah data ini (tangguh) sudah memenuhi persyaratan. Dilanjutkan dengan adanya informasi kita harus tanggon, maka sikap dan tindakan yang kita lakukan adalah mengambil keputusan yang paling tepat yang diperoleh dari hasil pengolahan data sebelumnya dengan didasari keyakinan karena adanya bukti dan fakta. Itulah yang dinamakan proses berperilaku dengan sikap dasar perikemanusiaan tanggap, tangguh, dan tanggon yang merupakan satu rangkaian.

Untuk memudahkan di dalam mencerna maksud dari pedoman tersebut adalah proses manusia saat makan, ketika muncul informasi atau ilmu dari perut yang menginformasikan bahwa saat ini sedang lapar maka tindakan yang dilakukan (amal) bergerak mencari makanan untuk mengisi perut kemudian bukti yang meyakinkan bahwa itu benar – benar merupakan akibat dari rasa lapar adalah setelah perut terisi rasa lapar hilang. Itulah keterangan mengenai azas dan pedoman dalam konsep berfikir dan kerangka berfikir dari Structhuman.

Dan yang menjadi landasan agar manusia tetap berada di ring kemanusiaan seharusnya menjiwai sikap – sikap berikut :

ü Jangan meremehkan (sifat gampang menyepelekan hendaknya dibuang)

ü Jangan menentang dalam hati (bersikap terbuka jangan menyimpan ganjalan dalam hati)

ü Jangan kebesaran anggapan (jauhkan dari anggapan merasa lebih dari orang lain)

Disamping itu kerangka berfikir (Mintset) dari Structhuman penekanannya pada terbangunya kerja sama dalam berbagai bentuk dilandasi dengan prinsip - prinsip kemanusiaan. Pemikiran – pemikiran yang bersifat mengeksploitasi dalam segala bentuknya yang bertujuan menguntungkan salah satu fihak tidak diperbolehkan. Seperti eksploitasi sumber daya alam yang di dalamnya termasuk hasil hutan, penambangan, dan pemanfaatan lahan yang berlebihan sehingga mengabaikan pelestarian lingkungan, tidak berfikir untuk peremajaan tanah garapan hal ini akan merugikan pada generasi berikutnya. Serta mengeksploitasi diri sendiri yang melebihi batas kewajaran sehingga melupakan tugas utama manusia sebaiknya dihindari, agar tercipta keseimbangan hidup.

Kemudian yang paling utama adalah menghilangkan perilaku saling mengeksploitasi sesama manusia, yakni memanfaatkan sesamanya untuk mendapatkan keuntungan tanpa memperhatikan hak – hak individu atau kelompok. Memperalat birokrasi untuk memeras dan mempersulit sesamanya, membuat kelompok tersendiri secara terselubung untuk menghalangi orang lain mendapatkan hak – haknya, dan merekayasa hukum dan aturan dengan tujuan melegalkan tujuan dalam rangka merampas hak orang lain.

Guna mengatasi persoalan tragedi kemanusiaan seperti disebutkan di atas tidak mungkin dipangkas dengan diberi sanksi – sanksi atau panisme, cara demikian ibarat membunuh benalu hanya mengenai daun dan rantingnya, padahal sumber tumbuhnya benalu berada diakarnya. Karena itulah untuk memberantas perilaku – perilaku tersebut haruslah dari akar masalahnya. Akar dari seluruh permasalahan tersebut terletak pada bangunan pemikiran yang sudah tertanam dan terbangun. Karena sengaja atau tidak sudah di bangun dan dibentuk lewat pendidikan, diskusi, seminar, kursus, dan berbagai model pendidikan yang sudah tersistematis sedemikian rupa. Dan menjadikan kesadaran kemanusiaan yang ada pada kita seakan – akan sudah hilang, sehingga tidak menyadari bahwa dirinya telah digiring ke alam pemikiran kapitalis borjuis (berfikir cara majikan dan penjajah).

Pemikiran dan perilaku kapitalis sebenarnya telah menyatu kepada seluruh masyarakat tidak terkecuali penulis sendiri mengalaminya, beruntunglah ada yang menyadarkannya. Karena perang pemikiran adalah peperangan paling halus, namun paling mematikan, sebab lawan dibuat mati sendiri oleh pemikirannya yang telah diracuni secara perlahan - lahan namun pasti, sampai akhirnya memuja – muja lawanya karena dianggapnya telah menemukan dan memberikan sebuah pemikiran yang hebat dan brilian, padahal sebenarnya itu adalah racun mematikan.

Buku Humanity Structure tidak bermaksud mengajak berkonfrontasi dengan pemikiran yang ada dan telah diakui masyarakat dibelahan dunia, karena bagaimanapun juga tetap ada nilai positif yang bisa diambil. Karena tanpa itu semua, kemungkinan tidak muncul pemikiran untuk memperbaiki keadaan melalui penulisan Structure of the Humanity, sehingga ada pembanding sebagai barometer untuk mengukur kevalitan dan keunggulan sebuah keilmuan.

Dalam sejarah perjalanan hidup manusia selalu terulang adanya perang pemikiran dan perang kebudayaan, siapa pemenangnya tidak pernah ada karena yang ada terbukanya pemikiran baru yang menyempurnakan pemikiran sebelumnya. Sehingga manusia benar – benar menemukan keteraturan hidup yang seharusnya dijalani yaitu hilangnya perilaku dan sikap saling menindas sesamanya dalam segala bentuknya.

Buku Structure of the Humanity sangat terbuka dengan segala pemikiran yang berkembang ditengah kehidupan masyarakat, dengan tujuan ditemukannya pemikiran yang pas dan tepat untuk digunakan bersama guna sebesar – besar kemakmuran, keadilan, dan kesejahteraan bersama.

Tujuan dari Structhuman adalah mengajak pada kita semua untuk mengeksploitasi dirinya sendiri dengan menggali sumber daya yang ada pada dirinya semaksimal mungkin sehingga bermanfaat sebesar – besarnya khususnya bagi dirinya dan orang lain serta alam sekitarnya. Dan Pada prinsipnya Structhuman lebih mengutamakan menjaga hubungan kemanusiaan dalam mengejar keuntungan, dengan tujuan jangka panjang diperoleh keuntungan yang tak ternilai harganya.

II. Memahami Kerangka Berfikir Structhuman

Sistematika organisasi Structure of the Humanity atau Structhuman bertumpu pada kinerja system organ manusia, yang memiliki system organisasi yang terkordinir secara sempurna itulah yang menjadi kerangka berfikir dan konsep kinerja dari Structhuman.

Berangkatnya pemikiran tentang Structhuman bersumber pada konsep kemanusiaan secara utuh, sehingga pelaksanaan dari aplikasi Structhuman tidak bisa dilepaskan dari semua konsep dan pemikiran mengenai kemanusiaan yang ada yang bersifat universal. Jadi dalam kerangka berfikir Structhuman tidak ada istilah rekayasa keilmuan yang bersifat tidak pasti yang akhirnya hanya menjerumuskan manusia pada dekadensi kemanusiaan.

Kekacauan pemikiran mengenai kemanusiaan terjadi dikarenakan dasar pijakan yang dipakai dan digunakan sudah terlepas dari akar kemanusiaan itu sendiri, sehingga dalam perkembanganya bukan mendekatkan manusia pada jati dirinya tapi malah semakin menjauh dan akhirnya lupa pada hakekat kemanusiaannya.

Disamping hal – hal tersebut hakekat kemanusiaan juga menekankan mengenai persamaan hak dan kewajiban, yang dimaksudkan di sini adalah hak paling mendasar dari manusia menyangkut hak untuk dihargai apapun keadaanya, hak memperoleh kesempatan, hak mendapatkan kemerdekaan, hak perlindungan, hak bertanya dan berpendapat, hak sama dihadapan hukum, dan hak yang sama untuk mendapatkan keadilan.

Begitu juga manusia mempunyai kesamaan dalam berkewajiban, seperti kuwajiban menghargai sesamanya, mematuhi undang – undang yang berlaku, menjaga kemerdekaan orang lain, mematuhi kesepakatan bersama, bela Negara, dan banyak kewajiban sebagai warga Negara yang lain yang harus dipatuhi oleh semua rakyat tanpa kecuali.

Dalam perjalanan sejarah Bangsa – bangsa yang telah berjaya dan menguasai secara hegemoni ekonomi pada sebagian wilayah dunia dan yang telah berhasil menguasai kebudayaan dunia melalui berbagai pemikiranya dapat ditarik satu kesimpulan, bahwa sehebat apapun keilmuan yang mereka pakai dan terapkan tapi karena pelaksanaannya tidak dilandasi dengan dasar – dasar perikemanusiaan, sehingga terjadilah penindasan bangsa satu atas bangsa lainya, dan terjadinya perang pemikiran dan budaya yang dilakukan negara maju terhadap negara – negara berkembang.

Dan penghancuran sendi – sendi kemanusiaan yang dilakukan oleh Bangsa - bangsa yang besar merupakan langkah efisien dan efektif, karena kecenderungan manusia pada dasarnya sama dan itu bersifat universal, itulah sisi kelemahan manusia yang dengan mudah dimanfaatkan oleh manusia lainnya, seperti sifat mudah kagum dan takjub dengan sesuatu yang bersifat baru, kagum pada sesuatu yang indah, megah, terlena dengan sesuatu yang menakjubkan, dan mudah tergiur dengan kemewahan. Dan kecenderungan lain dari manusia yang universal adalah mudah mempercayai apapun yang datang dari fihak yang dikaguminya, diseganinya, dan ditakutinya tanpa reserve atau tanpa filter sama sekali, apapun itu akan ditelanya mentah – mentah.

Kelemahan – kelemahan inilah yang dipelajari oleh Bangsa yang telah dianggap maju peradabanya untuk menyerang bangsa lain melalui perang pemikiran dan kebudayaan. Apa yang kita saksikan sekarang ini adalah sebuah keberhasilan Negara – Negara maju dalam perang pemikiran terhadap Negara berkembang, yang telah kehilangan Integritas dan Identitas kebangsaanya. Tercerabutnya akar budaya suatu Bangsa disebabkan lemahnya rakyat suatu Bangsa itu sendiri dalam upaya menemukan akar budayanya sendiri, sehingga tidak memiliki kekebalan saat dapat hantaman pemikiran yang bersifat baru dan merusak integritasnya.

Dan kelemahan manusia yang universal dan itu sebuah kelemahan yang sangat mematikan adalah selalu apriori terhadap pemahaman dan pemikiran yang berasal dari fihak atau orang yang dipandangya rendah dikarenakan miskin, tidak berpendidikan formal, tidak memiliki kedudukan tinggi atau tidak memiliki sebutan tertentu, tidak memiliki pengalaman formal, dan tidak terkenal.

Setelah memperhatikan dan mengamati apa yang telah terjadi pada kehidupan yang berkembang saat ini melalui perjalanan panjang sejarah kemanusiaan, maka perlu ada pemikiran atau konsep berfikir yang mengembalikan manusia pada proporsi kemanusiaannya. Buku Structure of the Humanity berusaha mengungkap dan membeberkan sisi – sisi kemanusiaan yang tidak kalah berkualitasnya dengan pemikiran yang berasal dari orang – orang yang berada dan hidup di Negara maju. Karena pemikiran dalam buku Structure of the Humanity bersumber dari ujud manusia itu sendiri, dan dari sanalah sebenarnya sumbernya segala ilmu. Hanya karena kecongkakan manusia saja yang menjadi sebab manusia lupa akan jati dirinya sehingga melupakan betapa dalam diri manusia tersimpan mutiara ilmu yang tidak akan habis kalau digali.

BAB III

STRUCTHUMAN

A. Element – Element Dasar Structhuman

Berikut ini unsur kemanusiaan yang benar – benar merupakan unsur sikap dasar yang ada pada manusia, untuk menyadarkan siapa saja yang masih menganggap dirinya manusia untuk membuka mata bathinya dan membuka pemikiranya agar cepat tersadar dari kesalahan pemahaman selama ini. Yang telah tanpa disengaja atau dengan sengaja membela dan begitu menjiwai prinsip – prinsip kapitalisme, yang nyata – nyata berseberangan dengan nilai – nilai perikemanusiaan dan kemanusiaan terutama dengan dasar Negara Indonesia Pancasila.

Inilah bukti – bukti adanya unsur sikap yang melekat pada manusia tersebut : Tanggap (sensitivity feeling) adalah Unsur kemanusiaan yang bertugas melakukan reaksi baik positif maupun negatif yang ada pada manusia yang ditimbulkan akibat adanya stimulus/rangsangan dari dalam dirinya dan stimulus dari luar dirinya. Tanggap memiliki tugas sebagai pendorong seseorang untuk bereaksi atau merespon informasi dari anggota tubuh yang lain, contoh yang terlihat adalah merespon tugas panca indra, yaitu Penglihatan, Pendengaran, Membaui, Merasakan, Menyentuh, dsb.

Tangguh atau tanggung_nglungguhake memiliki arti tahapan atau proses mendudukkan sesuatu menurut kedudukan yang seharusnya. Karena ternyata tangguh itu satu kebiasaan yang sudah menyatu pada setiap orang, namun ada perbedaan kadar ukuran pada setiap orang dikarenakan adanya pengaruh dari berbagai sebab pada masing – masing orang yang ikut membentuk ke-pribadi-annya.

Dalam perilaku yang dilakukan dalam kehidupan sehari – hari secara tidak sadar seseorang sering melakukan sikap pertahanan diri saat menerima informasi yang bersifat baru atau informasi tak terduga sebelumnya. Sehingga secara otomatis pusat pemikiran seseorang akan bereaksi melakukan sikap berhenti sesaat (merenung) kemudian bertanya – tanya untuk cari jawabnya.

Jadi Tangguh memiliki pengertian satu bentuk perilaku seseorang dalam melakukan satu proses yang terprogram dan terencana yang dilengkapi (didasari) berbagai keilmuan (informasi) dalam rangka melakukan satu proses guna mendudukkan suatu hal pada kedudukan yang seharusnya. Untuk itulah kenapa seseorang dalam berbuat sesuatu tidak dibenarkan berlaku grusa – grusu atau tergesa – gesa sebelum tahu dan faham benar apa yang sedang dan akan dilakukannya.

Kemudian tanggon atau tanggung_enggone memiliki arti sanggup menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Perilaku inipun sebenarnya sudah ada pada seseorang karena tidak menyadari keberadaannya sehingga keadaannya begitu – begitu saja seumur hidupnya, dalam kehidupan tidak bisa terlepas dari adanya pilihan – pilihan yang harus ditentukan dan dipilih menjadi akhir dari episode sebuah proses. Saat makan juga dihadapkan pada pilihan, saat minum demikian juga, apalagi saat menentukan satu keputusan yang ada kaitannya dengan tanggungjawab, dan yang paling menyita perhatian dari seseorang adalah saat harus menentukan pilihan hidup. Naluri kemanusiaan seseorang sudah tentu akan mengarahkannya pada satu pilihan dan putusan yang paling tepat menurut ukurannya.

Jadi perilaku Tanggon adalah hasil dari suatu proses dalam mendudukkan suatu hal pada tempat dan kedudukan yang tepat atau semestinya, dan merupakan sebuah episode (tergantung persoalannya lama dan tidaknya) yang telah dilakukan dengan berbagai persiapan dan perencanaan yang matang sehingga memenuhi persyaratan yang distandartkan sesuai permintaan.

Jadi kesimpulanya dalam rangkaian proses sebuah kejadian selalu melalui satu proses yang bertahap yaitu ditanggapi kemudian ditangguhkan untuk selanjutnya diakhiri dengan tanggon.

Adapun pengertian dari Unggah – ungguh adalah sikap perilaku yang dilakukan atas pertimbangan akal (difikirkan) dan batin (dirasakan) demi kemaslahatan bersama.

Unggah – ungguh mengajarkan pada kita dalam bertindak selalu difikirkan kemudian dirasakan untuk dikembalikan dan ditanyakan ke dalam diri kita akankah tindakan yang hendak kita lakukan membawa kemaslahatan atau tidak. Jadi tindakan yang didasarkan atas pertimbangan perasaan (perasaan tidak enak, segan/sungkan, dan malu) tidaklah dibenarkan. Pertimbangan – pertimbangan yang dilakukan dalam setiap tindakan mengandung konsekuensi logis secara moral perikemanusiaan. Atau memiliki konsekuensi adanya resiko mempertanggungjawabkan perbuatannya, terutama dampak sosial dengan orang lain.

Ciri – ciri Unggah - ungguh

· Telah melalui proses difikirkan dan dirasakan

· Tenggang rasa

· Tidak benarnya sendiri

· Beradab dan beretika

· Tidak terbawa perasaan

· Proporsional dan Prosedural

· Perilaku yang dilakukan melegakan orang lain

· Adil dan bijaksana

· Tindakannya maslahah bagi dirinya dan orang lain

Berikutnya sopan – santun yaitu adanya saling menghargai, saling menghormati terutama terhadap yang lebih tua atau yang dituakan. Juga mengandung maksud menjaga keseimbangan antara menerima (sopan) dan memberi (santun), ingin dilayani juga mau melayani, sehingga ada keseimbangan. Ketidak seimbangan dalam menjalani hidup (lebih banyak menerima) pasti ada resikonya, misal kehilangan sesuatu diluar perkiraan.

Sopan – santun merupakan tindak lanjut dari unggah – ungguh, jadi sopan - santun merupakan aplikasi dari unggah – ungguh dalam bentuk tindakan. Hal ini bisa digambarkan pada saat akan menyampaikan satu pemberian, karena pertimbangan kemampuan maka pelaksanaannya tidak mungkin dilaksanakan atau dipaksakan, untuk itulah menunggu saat yang tepat.

Setelah difikir – fikir dan dirasakan (unggah – ungguh) bahwa kita telah begitu banyak menerima pemberian dari orang tua untuk itulah maka kita diharuskan santun (sopan – santun) terhadap orang tua kita.

Ciri – ciri Sopan - santun

· Perilaku perbuatan telah proses unggah-ungguh

· Menghormati dan memuliakan orang tua

· Menghormati dan memuliakan mertua

· Menghormati dan memuliakan Guru pembibingnya

· Menghormati saudara tuanya

· Mengakui dan menghargai jasa orang lain

· Menghormati orang lain

· Adil terhadap diri sendiri dan orang lain

· Menghormati orang yang mengajarkan ilmu

· Beradab dan beretika

· Menyayangi yang lebih muda

· Tenggang rasa terhadap sesama

Tata krama menurut arti bahasa adalah tata berarti aturan “tatanan” dan krama berarti kawin atau nikah, jadi tata krama adalah aturan yang dikawinkan. Arti harfiahnya adalah tatanan pribadi atau keinginan pribadi yang dikawinkan, disinkronkan, dan disesuaikan dengan kemauan orang lain, kelompok lain, budaya lain, institusi lain, dan dengan segala sesuatu disekitarnya. Dalam artian bahwa tata-krama adalah perilaku atau tindakan seseorang yang selalu menselaraskan tindakan yang dilakukannya dengan tatanan dan aturan main orang lain dan atau aturan yang diberlakukan dimana dia bertempat atau berada.

Perilaku tata - krama menjawab ungkapan sebuah peribahasa “Lain ladang lain belalang, lain orang lain pendapatnya” maksudnya sebagai makhluk sosial kita harus bisa menjaga dan menghargai adat kebiasaan dan keinginan orang lain, supaya dalam pergaulan tercipta suasana yang aman, nyaman, dan tentram.

Sudah amat nyata bagi kita semua bahwa pada tiap – tiap sesuatu mempunyai aturan main sendiri – sendiri, sapu punya aturan main bagaimana seharusnya memberlakukan dirinya, ruang kelas punya aturannya sendiri, jalan raya punya aturanya sendiri, dan pekerjaan juga punya aturannya masing - masing. Dan pada tiap – tiap aturan yang melekat pada seseorang atau pada kebendaan meminta untuk dipenuhi dan ditaati, guna tercipta ketertiban, keselarasan, keserasian, dan keseimbangan hidup bagi yang melakukannya khususnya.

Setelah difikir – fikir dan dirasakan (unggah – ungguh) bahwa kita telah begitu banyak menerima pemberian dari orang tua untuk itulah maka kita diharuskan santun (sopan – santun) terhadap orang tua kita. Serta memahami kemauan dari orang tua bagaimana seharusnya sikap sopan-santun yang harus kita lakukan sehingga berkenan dihati orang tua kita (tata-krama).

Contoh konkrit lain mengenai perilaku tata krama adalah perilaku seorang guru dalam menyampaikan materi ajar kepada siswanya, dimana sebelum memulai menyampaikan materi guru mencari tahu kemauan siswa mengenai bagai cara penyampaian yang bisa diterima oleh para siswa, setelah meet atau nyambung antara kemauan guru dan siswa barulah si guru mulai menyampaikan mata ajar. Ini ibarat memasang listrik supaya arus bisa jalan antara arus negatif dan positif harus tersambung, sehingga arus bisa mengalir dengan baik dan pasti.

Ciri – ciri Tata - krama

· Tindakan dan perilakunya proporsional

· Adil terhadap diri sendiri dan orang lain

· Tenggang rasa

· Beradab dan beretika

· Memahami kemauan orang lain

· Proporsional, beretika, dan beradab

Kesimpulan dari rangkaian perilaku Unggah – ungguh, Sopan – santun, dan Tata – krama menempatkan manusia pada posisi sejajar dan seimbang dalam hal menuntut yang hak dan dalam hal mematuhi kewajiban. Tidak mengenal istilah diskriminasi ras, golongan, suku, etnis, dan agama semua memiliki kedudukan sama dan sederajat, yang berbeda hanyalah nasibnya.

Unsur landasan sikap dasar kemanusiaan Ojo Dumeh (tidak merasa diri punya kelebihan) : ojo (jangan), Dumeh (merendahkan, menyepelekan, meremehkan), adalah kesadaran pribadi yang tertanam dalam hati dan fikiran untuk tidak menyepelekan dan merendahkan sesuatu apapun di dunia ini apalagi terhadap sesamanya. Karena penyakit dumeh yang melekat pada seseorang menjadikan banyak persoalan tak terselesaikan, masalah makin menumpuk, pekerjaan makin berat dan makin membebani, dan seakan tidak pernah menemukan solusi.

Sikap dasar kemanusiaan Ojo Kaduk Ati : Ojo (jangan), kaduk (kelewat batas/berlebihan), ati (hati), adalah tumbuhnya kesadaran dalam diri seseorang untuk selalu bersikap rendah hati, tidak bersikap tinggi hati, tidak suka membantah dan mengumpat dalam hati, dan tidak berucap yang menyakitkan. Jadi jangan memiliki sifat mudah lupa diri (melupakan jasa orang, tak tahu diri), jangan suka membicarakan sesuatu yang bukan urusanya, apalagi sesuatu yang belum tahu pasti kebenarannya. Perilaku Kaduk Ati menjadi penyebab seseorang kehilangan sifat bijak, suka mencampur aduk masalah, dan tidak bisa menjadi pendengar yang baik.

Sikap dasar kemanusiaan Ojo Kegedhen Rumongso : ojo (jangan), kegedhen (kebesaran), rumongso (perasaan), adalah kesadaran yang tumbuh dalam hati seseorang yang tidak merasa tersanjung dengan kelebihan yang ada pada dirinya. Karena adanya kesadaran bahwa pada dasarnya manusia tidak bisa apa-apa, buktinya pengetahuannya tidak akan menjangkau seluruh isi alam, bisanya cuma mengaku dan merusak apa yang ada. Perilaku Kegedhen Rumongso menjadi penghambat dari kemajuan seseorang, menjadikan banyak musuh, dijauhi orang, dan menjadikan orang tidak senang berdekatan dengannya.

Dari mempelajari dan meresapi dari apa yang telah dijelaskan melalui 3 Landasan Sikap Dasar perikemanusiaan, seseorang dapat memetik hikmah yang terkandung di dalamnya, di mana keberadaan seseorang tidak mungkin dapat terlepas dari hukum timbal – balik. Oleh sebab itu kesadaran dengan penalaran yang logis dan dapat diterima secara akal menjadi dasar untuk mendudukkan manusia pada posisi kemanusiaannya (insan kamil). Timbulnya sebuah kesadaran untuk bersikap dan berperilaku menurut 3 Landasan Sikap Dasar Perikemanusiaan, akan menjadikan seseorang memiliki perilaku sebagaimana falsafah bumi, air, api, angin, dan rembulan. Membuat keberadaan seseorang bisa diterima disemua kalangan pergaulan.

Oleh sebab itulah 3 Landasan Sikap Dasar Perikemanusiaan menjadi modal utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya seseorang bisa mencapai suatu tingkatan yang tidak diperhitungkan oleh seseorang. Hal ini sudah terbukti pada orang – orang yang selalu menjaga sikap dan perilakunya untuk selalu berperilaku dan bersikap Ojo Dumeh, Ojo Kaduk Ati, dan Ojo Kegedhen Rumongso, inilah senjata utama seseorang setelah mampu menguasai keahlian mempraktikkan Sumber Daya yang dimiliki.

Disiplin Tata tertib yaitu suatu sikap atau perilaku yang ditunjukkan dengan selalu mematuhi persyaratan – persyaratan yang diminta suatu objek yang ditangani dan menjadi kewenangannya dengan memenuhi syarat kerapihan/keteraturan secara herarkis/tersusun (urut) sesuai permintaan objek.

Contoh yang dapat diberikan kaitanya dengan disiplin tata tertib yaitu tentang pembuatan alat penghapus. Dalam pembuatan alat penghapus ada urutan yang harus dipatuhi, dimulai dari pemilihan kayu kemudian pemotongan kayu mengikuti keinginan pasar. Selanjutnya diikuti dengan pembentukan dan penghalusan kayu sesuai ukuran yang ditetapkan, barulah dilakukan pemasangan kain atau bahan penghapus untuk ditempelkan ke kayu yang sudah disiapkan. Sekarang coba perlakuan terhadap pembuatan penghapus tidak dilakukan mengikuti aturan main yang disyaratkan pasti akan terjadi resiko yang tidak diinginkan.

Oleh sebab itulah kenapa ketaatan pada tatanan hidup ini sangat ditekankan, persoalannya pada setiap pelanggaran pada tata tertib / tatanan sekecil apapun pasti akan terjadi resiko akibat pelanggaran tersebut, resiko yang ditanggung tergantung besar kecilnya pelanggaran yang dilakukan. Dalam kehidupan ini tatanan secara sistematis sudah terbangun dan tertata sedemikian rupa, sehingga bila mana ada pelanggaran yang dilakukan manusia secara otomatis hukum keadilan akan berjalan dengan sendirinya, dan bentuk dari pengadilan yang diterima bisa berbagai bentuk dan rupa, yang tidak semua orang sama bentuk hukumanya yang dalam satu istilah disebut Hukum Karma.

Jadi disiplin tata tertib selalu menyertai pada setiap pekerjaan dan tugas yang menjadi tanggungjawab seseorang dimanapun dan kapanpun dia berada. Harusnya makan nasi kenapa makan aspal akhirnya timbul berbagai penyakit, itulah bentuk dari pengadilan sistematis otomatis.

Kesimpulanya segala perbuatan, ucapan, dan sikap yang dilakukan oleh seseorang ada aturan mainnya sendiri, aturan main yang diterapkan menyesuaikan dengan kesepakatan yang dibuat. Jadi tergantung kesepakatanya dan tergantung dengan siapa bermain.

Disiplin Kerja yaitu suatu sikap selalu mematuhi persyaratan yang telah disepakati menurut kesepakatan yang telah dibuat, baik dengan diri sendiri atau dengan orang lain, dalam hal menjalankan satu pekerjaan/kewajiban yang bertujuan untuk mendapatkan penghasilan (phisik dan non phisik) dengan konsisten dan konsekuen mengetahui batas wilayah kewenanganya.

Contoh konkrit untuk menggambarkan disiplin kerja adalah anda bersepakat antara diri sendiri dengan objek pekerjaan dalam hal ini belajar, yakni berniat melakukan pekerjaan belajar ke sekolah maka konsekuensinya semua aturan tata tertib yang diminta objek belajar harus dipatuhi secara konsisten, sehingga tujuan dari belajar kesekolah benar – benar terpenuhi. Dan dalam kesepakatan sudah ditentukan bahwa tugas anda sebagai pelajar (pekerja), maka selama proses belajar mengajar berlangsung kewenangan yang anda miliki dan harus dijaga sebatas pelajar (pekerja) sesuai kesepakatan kedua belah pihak.

Disiplin Keuangan yaitu suatu sikap atau perilaku konsisten dan konsekuen mematuhi dalam hal penggunaan keuangan sesuai haknya / peruntukannya (sesuai ijab qobulnya), dan konsisten menggunakan keuangan menurut urutan tingkat kepentingannya.

Disiplin keuangan harus dimulai dari diri sendiri, membiasakan dengan cara melatih menggunakan uang, misalnya dibagi ke dalam kelompok keuangan dengan prosentase tertentu disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kebutuhan. Dan apa yang telah ditetapkan harus dilaksanakan secara konsisten dan penuh rasa tanggung jawab. bContoh kasusnya adalah penggunaan uang belanja atau uang saku sehari – hari bisa dikelompokkan menjadi tiga bagian, dan bagian terbesar tentunya untuk belanja atau jajan, kedua tabungan (persiapan keperluan mendadak), dan ketiga amal (ingat kita hidup bermasyarakat). Pembagiannya misalnya kita buat 85 % buat belanja atau jajan, 10 % ditabung, dan 5 % untuk amal.

Berpegang teguh dan selalu konsekuen dengan penggunaan keuangan atas kesepakatan yang sudah ditetapkan berdasar pengelompokan petunjuk pelaksanaan penggunaan keuangan, termasuk wujud dari disiplin keuangan.

Pada intinya dalam pelaksanaan disiplin tata tertib, disiplin kerja, dan disiplin keuangan adalah agar tidak terjadi penyimpangan dan penyalahgunaan yang melanggar dari hal – hal prinsip yang sudah disepakati. Dan tentang teknis pelaksanaan dari ketiga kedisiplinan seharusnya tetap berpegang pada prinsip efisiensi dan elastisitas (fleksible).

Jadi tidak ada keberhasilan dalam sebuah perilaku yang tidak menganut prinsip kedisiplinan, perilaku asal – asalan dapatnya juga asal – asalan.

Dengan begitu setiap akan berbuat sesuatu sudah melalui proses tanggap, tangguh, dan tanggon serta selalu menjaga sikap Unggah-ungguh, Sopan-santun, dan Tata-krama namun tetap sadar untuk bersikap ojo dumeh, ojo kaduk ati, dan ojo kegeden rumongso. Dan agar bisa membiasakan berperilaku serta menjiwai unsur tersebut hanya dapat dilakukan dengan penuh kedisiplinan.

B. Prinsip – Prinsip Kemanusiaan

Penyelesaian sebuah pekerjaan tidak bisa hanya berbekal keahlian semata, apalagi sebuah pekerjaan yang meliputi cakupan yang begitu luas dan kompleks pasti membutuhkan strategi dan langkah – langkah khusus untuk menyelesaikannya.

Dalam melakukan suatu pekerjaan seseorang atau sebuah institusi pasti membutuhkan satu pedoman untuk menyelesaikan pekerjaanya dengan baik dan benar. Sebagaimana Humanstruct adalah sebuah pedoman untuk melangkah menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan baik dan tepat.

Karena kerangka berfikir pedoman Structhuman menuntun seseorang untuk terus mengasah sensitive feelingnya atau rasa tanggapnya terhadap segala persoalan terkait dengan tugasnya dengan penuh kedisiplinan (disiplin kerja dan disiplin tata tertib), kemudian melakukan pengkondisian atas apa yang telah ditanggapinya dengan melakukan perencanaan, peng-organisasian, dan penyatuan dan langkah terakhir yaitu melakukan proses penempatan hasil akhir yang tepat atau pas sesuai permintaan.

Dan dalam melakukan proses itu semua selalu dilandasi perilaku Unggah – ungguh yaitu pada saat menanggapi sesuatu tidak lepas dari berfikir sambil dirasakan apa sebaiknya yang dilakukan, dengan bersikap sikap seperti ini saat menghadapi sebuah tugas bertujuan supaya cermat, teliti, hati – hati, waspada dalam setiap langkahnya sehingga tidak terjebak pada kesalahan yang tidak perlu.

Kemudian dari informasi yang komplit dari hasil menanggapi tersebut diolah atau dikondisikan dan saat melakukan proses ini harus dilandasi dengan perilaku Unggah – ungguh, Sopan – santun (menjaga hubungan dengan sekitar secara seimbang artinya mau merepotkan orang juga harus siap direpotkan orang), dan memegang teguh Tata-krama (dalam melakukan proses tetap memegang prinsip saling menjaga aturan dalam bekerja sama), atau berpegang teguh pada aturan main.

Dan saat proses akhir dari pekerjaan harus dilandasi perilaku Unggah – ungguh, Sopan – santun, dan Tata – krama supaya penempatan atau finishing dari pekerjaan yang dilakukan disamping tepat sasaran juga bersih lingkungan artinya tidak merusak kekeluargaan dan kebersamaan yang sudah terjalin.

Dalam melakukan proses tersebut dari awal hingga akhir, kedisplinan harus dikedepankan, sehingga sifat tanggap keadaan dan situasi bisa benar – benar menyatu, dan sikap selalu melakukan pengkondisian menjadi terbentuk, serta selalu berusaha menempatkan sesuatu dengan tepat menjadi terbiasa. Dan untuk melanggengkan prinsip - prinsip kemanusiaan tetap bersikap sebagaimana falsafah bumi, air, angin, api, dan rembulan maka selalu bersikap jangan sok meremehkan, jangan tinggi hati, dan jangan mudah berbangga diri atau kebesaran perasaan.

Itulah prinsip dasar kemanusiaan untuk menangkal dan memerangi pemikiran kapitalis yang sudah terlanjur menjamur dan mewabah merasuki relung – relung pemikiran pada sebagian besar masyarakat dunia khususnya Bangsa Indonesia.

C. Prinsip – Prinsip Kapitalis

Berikut contoh kasus sikap dan perilaku kapitalis, ternyata kepribadian (keakuan/sesuatu hal yang telah menyatu) kapitalis sudah begitu mendarah daging pada hampir semua orang dikehidupan masyarakat kita, hal ini terbukti pada satu kasus sebuah kerjasama bisnis atau usaha yang bila dilihat secara sepintas adalah bentuk kerjasama bersifat kekeluargaan dan saling menguntungkan, tapi pada kenyataannya merupakan bentuk kerjasama model kapitalis, yaitu usaha pengadaan kendaraan bermotor dengan sistem arisan. Kenapa kerjasama tersebut dikatakan kapitalis, di mana letak kapitalisnya, itulah pertanyaan yang mungkin muncul dibenak kita. Ini baru salah satu kasus kecil dari sekian banyak kejadian yang menunjukkan bahwa jiwa kapitalis ternyata sudah merasuki hampir seluruh jiwa rakyat Indonesia secara keseluruhan. Perilaku kapitalisnya terlihat dari cara pembagian hasil dimana sifat dan jiwa pemeras dalam bentuk memanfaatkan dan mengeploitasi orang lain sangat terlihat dan dirasa tidak manusiawi atau tidak adil.

Belum lagi kalau disoroti dari sistem kerja dalam mengoperasionalkan arisan tersebut, di mana dari alur organisasi sudah menunjukkan satu sikap kesewenang – wenangan, alur informasi dan alur komando bersifat top down. Artinya tidak memberi ruang bagi pengurus cabang untuk memberikan masukan demi kebaikan kelompok usaha arisan. Padahal dalam satu kasus menunjukkan amat jelas sekali beberapa titik kelemahan yang sangat mendasar untuk dikatakan sebagai sebuah organisasi. Misalnya mengenai tata tertib cara bertransaksi tidak ada ketetapan yang jelas sebagai bentuk perlindungan terhadap pengurus cabang, terus pembagian sisa hasil usaha yang tidak memenuhi unsur keadilan, tidak ada ketetapan yang jelas mengenai pembagian honor bagi pengurus, dan banyak lagi kelemahan yang menunjukkan kerjasama dalam bentuk arisan ini benar – benar hanya mengejar keuntungan semata. Tidak mengindahkan sama sekali prinsip dasar kemanusiaan, inilah bukti bahwa prinsi – prinsip kapitalis telah menjiwai insan – insan wirausahawan. Yang mengherankan sudah jelas – jelas mentalnya adalah mental kapitalis, tapi saat ditunjuk hidung masih mengelak dan mengatakan sebagai orang yang berjiwa suka menolong kepada sesama, itulah dalih – dalih klise para kapitalis sejati.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Lewis Hamilton Akhirnya Juara Dunia GP …

Hery | | 24 November 2014 | 21:17

Parade Foto Kompasianival Berbicara …

Pebriano Bagindo | | 24 November 2014 | 18:37

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11

Berbisnis Buku Digital: Keuntungan dan …

Suka Ngeblog | | 24 November 2014 | 18:21

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41


TRENDING ARTICLES

Lisa Rudiani, Cantik, Penipu dan Pencuri …

Djarwopapua | 5 jam lalu

Jokowi Menjawab Interpelasi DPR Lewat …

Sang Pujangga | 6 jam lalu

Tipe Kepemimpinan Jokowi-JK …

Gabriella Isabelle ... | 10 jam lalu

Tjiptadinata, Menang Karena Senang …

Felix | 12 jam lalu

Butuh Rahma Azhari untuk Bekuk Filipina? …

Arief Firhanusa | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Membangun Brand Image Melalui Service …

Ika Nesiha | 8 jam lalu

Kopdar Akbar dan Hadiah Berlimpah di Acara …

Fey Down | 8 jam lalu

Mencari Rezeki Tidak Sebercanda Itu …

Dhea Chairunnisa | 8 jam lalu

Menggugat Tuhan …

Dhea Chairunnisa | 8 jam lalu

Gugat Jokowi: Class Action atau Citizen …

Wilopo Husodo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: