Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Hery Supriyanto

Ide yang asli berada dalam benak dan pikiran. Mengeluarkannya perlu seni menyusun kata demi kata. selengkapnya

Penyebab Kenaikan Harga Barang dan Jasa

OPINI | 29 July 2012 | 13:57 Dibaca: 2795   Komentar: 1   1

Hari-hari ini kita sepertinya disibukkan dengan kelangkaan dan kenaikan harga tempe dan tahu. Penyebab utama adalah kelangkaan bahan bakunya, kedelai yang harus dan tergantung impor dan diperparah dengan minimnya komitmen pemerintah memproduksi pangan di dalam negeri. Rupanya tidak hanya tempe dan tahu saja yang mengalami kenaikan harga, bahan pokok lainya juga mengalami hal yang serupa. Demikian pula dengan beberapa barang sekunder lainnya seperti elektronik dan jasa.

Menurut ilmu ekonomi kenaikan harga barang dan jasa di sebabkan oleh banyaknya permintaan sedangkan persediaannya terbatas, artinya tidak ada keseimbangan antara permintaan dan penawaran yang ada. Hal itu bisa disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya:

Terjadinya Inflasi, yaitu peningkatan atau kenaikan harga barang atau jasa pada periode tertentu. Biasanya masa ini terjadi para kurun waktu yang berkenaan dengan momen atau peristiwa. Momen hari raya, lebaran atau natal sebagai contohnya. Pada masa itu seperti biasa pola komsumtif masyarakat tambah meningkat. Berdasarkan riset AC Nielsen pada tahun 2010 yang menyatakan bahwa penjualan makanan dan minuman di supermarket selama bulan Ramadhan 2010 terjadi peningkatan sebesar 24 persen, sedangkan di minimarket sebesar 19 persen. Kenaikan yang terjadi pada bahan pokok (sembako) yang berakibat pula diikuti kenaikan barang barang yang lainnya.

Banyaknya uang yang beredar. Pada bulan-bulan ini uang beredar cukup banyak, hal ini dapat disebabkan oleh diantaranya adalah adanya gaji ke-13 buat PNS dan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi karyawan swasta. Bagi yang bekerja di sektor informal, mulai mengeluarkan simpanan yang ditabungnya selama ini. Dengan adanya dana lebih yang dipegang terkadang membuat orang “bingung” untuk menggunakannya. Pilihan yang termudah adalah dengan melakukan pola konsumtif tadi. Karena sifatnya bersamaan membuat barang-barang tertentu banyak serbu pembeli. Akibatnya , sesuai dengan hukum ekonomi semakin banyaknya pemintaan maka harga akan naik. Jika persediaan tersedia maka kenaikan akan terkendali dan pada kisaran yang wajar, jika tidak maka harga akan melonjak tajam bahkan kadang rawan pada efek sosial seperti pada kejadian tempe dan tahu tersebut.

Menghadapi fenomena semacam harus bisa disikapi secara wajar karena sifarnya hanya sementara saja, tetapi juga memperhatikan prinsip kehati-hatian. Untuk itu diharapkan semua pihak harus bisa menjaga kondisi agar tidak terjadi efek yang berlebihan, mulai dari masyarakatnya sendiri, pelaku usaha, dan pemerintah. Dalam hal ini pemerintah sebagai regulator harus mampu mengatur menjaga agar kenaikan harga tersebut tidak memberatkan dan membebani masyarakat.

Beberapa tindakan dan regulasi perlu dibuat dan diatur sedemikian rupa agar antara permintaan (demand) dan penawaran (supply) berada pada kondisi yang seimbang setidaknya tidak terlalu jomplang. Terutama yang berkenaan dengan bahan pokok perlu dipastikan bahwa ketersedian bahan harus dipastikan ada. Bisa dengan menggalakkan produksi dalam negeri atau membuka keran impor.

Di samping itu pemerintah harus mengatur bahwa barang dan bahan tersebut tidak terpusat pada satu kelompok saja (oligarki), yang menyebabkan terjadinya monopoli yang selanjutnya dapat mempermainkan harga. Disamping itu pelaku usaha diberi kesempatan yang seluas-luasnya sehingga tercipta persaingan yang sehat. Dengan adanya persaingan yang sehat itu maka akan membuat konsumen “dimanjakan” yang menyebabkan harga dapat kompetitif dan terkendali. Dalam penegakan hukum pemerintah harus dapat menindak secara tegas kepada pihak-pihak yang sengaja melakukan penimbunan bahan-bahan pokok, sehingga nantinya dapat menimbulkan efek jera.

Di masyarakat pun harus pandai-pandai dalam mengatur anggaran belanja. Pembelian barang cukup sekedarnya dan menggunakan skala prioritas, sehingga tidak ada kesan memaksakan diri atau mengikuti arus dan menjadi “korban” iklan. Mudah-mudahan momen Ramadan ini mampu membuat semua pihak baik secara pribadi dan kolektif untuk dapat menahan diri. Tidak saja mampu berpuasa dalam menahan lapar dan dahaga, tetapi juga pada hal-hal yang lainnya. Perlu adanya keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan sehingga barang dan jasa itu berada pada harga yang wajar.


 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 12 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 12 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 13 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 16 jam lalu

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: