Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Prabowo: Benahi Ekonomi Indonesia, Belajar dari Pemikiran Hatta dan Soedjatmoko

OPINI | 10 October 2012 | 01:36 Dibaca: 1155   Komentar: 4   3

Oleh : Muhammad Samin, SS

CALON Presiden dari Partai Gerindra untuk 2014 mendatang Prabowo Subiyanto, memiliki konsep tersendiri dalam membangun ekonomi bangsa Indonesia yang kian carut marut dengan kondisi ekonomi Indonesia yang kian terpuruk.

Meski dari Rapemnas Kamar Dagang Industri Indonesia (Kadin) beberapa waktu lalu, yang dibuka langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudyono (Sby) mengklaim bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berkembang pesat dan masuk dalam masa keemasan lebih baik dari negera Richs (Rusia, India, China dan Afrika Selatan ).

Namun hal ini sangat berbeda dengan pandangan dari mantan calon Wakil Presiden RI yang mendampingi Megawati Soekarno Putri pada pemilihan Presiden 4 tahun yang silam, dimana Prabowo Subiyanto masih berpandangan bahwa Ekonomi Indonesia masih diambang kehancuran. Untuk itu, perlu ada pembenahan yang signifikan untuk memulihkan ekonomi Indonesia yang kaya tapi miskin di negeri sendiri.

Solusi yang ditawarkan oleh Prabowo Subiyanto dalam membenahi ekonomi Indonesia yakni dengan menemukan kembali pemikiran dari Bung Hatta dan Soedjatmoko dalam membangun Ekonomi Indonesia, meski saat ini pemikiran kedua tokoh ini sudah hilang bahkan dilupakan oleh bangsa Indonesia saat ini.

Seperti apa gerangan pemikiran dari kedua tokoh yang sangat diidolakan oleh Prabowo untuk membangun Ekonomi bangsa Indonesia dimasa mendatang, Prabowo berpendapatan bahwa pemikiran Mohammad Hatta pada tahun 1930-an tentang pentingnya “pembangunan ekonomi berbasis pertanian dan koperasi” serta pemikiran Soedjatmoko pada tahun 1980-an tentang pentingnya “Dimensi manusia dalam pembangunan” sangat membantu untuk membangun Indonesia dimasa mendatang seiring beberapa krisis yang dialami Indonesia dari berbagai dekade.

Jika pemikiran dua tokoh ini, kita satukan dan kemudian kita terapkan untuk membangun Indonesia maka kesejahteraan untuk Indonesia akan mampu kita dapatkan sehingga tidak adalagi permasalahan kemiskinan, tidak ada lagi permasalahan pengangguran dan tidak adalagi ketimpangan ekonomi yang dialami Indonesia saat ini.

Belajar dari Pemikiran Bung Hatta

Prabowo Subiyanto sangat mengidolakan pemikiran Bung Hatta tentang membangun ekonomi bangsa, dimana Bung Hatta merupakan teman dari ayahnya Prof. Dr Soemitro Djojohadikusumo. Mohammad Hatta yang merupakan Wakil Presiden RI pertama yang dinobatkan sebagai bapak koperasi lewat integritas pribadi dan kecendekiawanannya tidak terbantahkan lagi untuk menjadi model ideal seorang pejuang, politisi, negarawan dan pemikir. Namun sayangnya, sejarah cenderung menempatkan posisi Bung Hatta termajinalkan.

Buah pikiran Bung Hatta, terutama tentang pemikiran ekonomi merupakan mutiara ditengah lautan luas yang mesti harus ditemukan kembali, dan itu tidak sulit untuk ditemukan.

Sebab Bung Hatta sudah menelorkan pikirannya dalam sebuah tulisan, tidak ada pendiri di negeri ini yang menulis sebanyak Hatta. Buku dan tulisan dari bung Hatta menjadi warisan tak ternilah harganya bagi bangsa Indonesia.

Bung Hatta yang dalam pelajaran sejarah hanya dinobatkan sebagai bapak Koperasi atau sekedar Proklamator Kemerdekaan Indonesia, merupakan hal yang salah jika hanya itu prestasi yang dilakukan Bung Hatta. Sebab apa yang dilakukan Bung Hatta, lebih daripada itu, dimana tulisan dari Bung Hatta semasa dia menjadi mahasiswa di Negeri Belanda dan pledoinya di Pengadilan Den Haag pada tahun 1927, sarat dengan analisis ekonomi. Betapa tidak, di jantung kolonialisme itu, Hatta menusukkan serangannya yang tajam lewat pisah bedah ekonomi dan dengan gagah berani menguliti system ekonomi kaum colonial yang kapitalistik serta eksploitatif.

Hatta juga dikenal sebagai “Gandhi of Java” dimana dari pemikirannya dia mementingkan pembebesan dan perlawanan ekonomi ketimbang perlawanan bersenjata terhadap colonial belanda. Hatta menyarankan “Berpikir radikal, namun bertindaklah damai” disana terbesut makna yang paling dalam yakni “ kemerdekaan fisik dan politik saja sebenarnya tidak cukup” pikiran ini terbukti dengan kondisi Indonesia yang ada pada saat ini.

Ada dua pikiran Hatta dalam membangun Ekonomi bangsa Indonesia yakni Pertanian dan Koperasi, seperti apa pikiran Hatta dari dua sisi yang sangat diagung-agungkan oleh Bung Hatta dalam membangun Ekonomi Bangsa Indonesia kedepan.

1. Pertanian

Dimana Hatta sangat menekankan bahwa pembangunan, atau tujuan memakmurkan rakyat, harus bertumpu pada realitas dan merupakan kesinambungan sejarah. “Untuk mencapai kemakmuran rakyat di masa mendatang, politik perekonomian harus disusun diatas dasar yang nyata pada kondisi saat ini yakni Indonesia sebagai Negeri Agreria dan kondisi ini tidak terbantahkan.

Namun apa yang terjadi dalam pembangunan ekonomi Indonesia saat ini, Agreria tidak lagi menjadi prioritas utama yang lebih mementingkan pembangunan Industrialisasi yang Hatta sendiri sangat anti dengan industrialisasi yang mana industrialisasi hanya kokok jika dicapai secara alamiah oleh pijakan sector pertanian, sebab hanya jika petani makmur maka industry bisa hidup.

Hatta mengingatkan, jika Negara ini ingin tidak rapuh dalam segi ekonominya, maka prioritas utama yang harus dibangun yakni sector pertanian. Berikut kata-kata Bung Hatta “Negeri yang meninggalkan pertanian dan memindahkan pusat perekonomiannya ke daerah industry dengan menarik senantiasa rakyat dari dusun ke kota, memang cepat menjadi negeri kapitalis besar yang maha kuasa, seperti yang terjadi di Negeri Inggris, tetapi tidak terpelihara kemundurannya,”. Bagi siapa saja yang berpikiran pertanian merupakan sector tradisional yang hina, Hatta mengatakan kelirulah pandangan baha “Orang yang tahu memegang tangkai pena lebih berbahagia dan tinggi derajatnya daripada orang yang tahu memegang pacul.”.

2. Koperasi

Koperasi bagi Bung Hatta merupakan “jantung” dalam membangun ekonomi, jadi wajar jika Hatta dikemudian hari mendapat gelar sebagai bapak Koperasi Indonesia. Namun sayangnya, penerapan konsep Koperasi oleh Hatta ini hanya menjadi slogan ekonomi yang kosong di Tanah Air Indonesia. Sebab kekeliruan konsep Koperasi dan tidak diterapkannya Koperasi dalam membangun Indonesia ini menjadikan koperasi hanya sebatas slogan.

Bagi Hatta, koperasi adalah satu-satunya organisasi ekonomi yang bisa berhasil meletakkan sendi yang kuyat untuk membangun kembali ekonomi rakyat yang telah roboh. Bagi Hatta, koperasi tak hanya merupakan lembaga ekonomi saja, tapi juga lembaga politik yang didasarkan asas musyawarah dan demokrasi.

Koperasi tidak bisa tumbuh dalam iklim kediktatoran. Sebaliknya, koperasi juga merupakan prasyarat bagi munculnya nilai-nilai demokrasi. Koperasi berjasa besar dalam memperkuat dasar demokrasi politik. Mengutip kutipan dari Hatta, demokrasi politik yang sehat adalah suatu syarat yang mutlak untuk mencapai demokrasi ekonomi,” Hatta percaya koperasi merupakan jembatan menuju demokrasi ekonomi.

Hatta juga menganolagkan masalah koperasi ini terkait dengan pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh Denmark dengan cara koperasi, dimana dengan menjalan konsep organisasi kooperasi rakyat Denmark sanggup mengangkat dirinya dari bangsa yang miskin menjadi salah satu bangsa yang paling makmur di dunia, dan stabuil secara politik maupun sosial.

Lantas kenapa kita Indonesia justru tidak mau belajar dengan apa yang telah ditelorkan pemikirannya oleh Bung Hatta dalam mengkonsep pembangunan Ekonomi melalui Koperasi, jika Prabowo itu yang akan dilakukannya dalam membangun Indonesia dimasa yang akan datang. Sebab dalam membangun ekonomi Indonesia, Prabowo akan belajar dari pemikiran Bung Hatta dan Seodjatmoko.

Belajar dari Pemikiran Soedjatmoko

Satu tokoh lainnya yang menjadi dasar pemikiran Prabowo dalam membangun ekonomi Indonesia kedepan selain Bung Hatta yakni belajar dari “Raksasa” lain dalam pemikiran pembangunan di Indonesia Soedjatmoko dengan konsep Ekonomi dan Kemanusian.

Soedjatmoko yang tumbuh dalam alam pikiran Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dipimpin Sutan Sjahrir yang menekankan pada aliran demokrasi sosial dan kemanusian universal. Pandangan Soedjatmoko lebih berorentasi terhadap sosialisme ketimbang kapitalisme.

Dasar ini ditelorkan oleh Soedjatmoko mengingat runyamnya ekonomi dan politik pada tahun 1965, sehingga secara inmplisit menyetujui model pembangunan ekonomi berorentasi ke Barat yang dibawa oleh teknator yang lebih dikenal dengan sebutan Mafia Berkeley.

Soedjatmoko saat itu menjadi penaseht Bappenas dari 1971 hingga 1980, keberhasilannya berjasa mengusahakan mengalirnya bantuan Barat untuk pembangunan di Indonesia.

Kritik-kritiknya yang tajam namun santun terhadap arah pembangunan tak hanya di Indonesia melainkan juga diseluruh Indonesia sudah mulai muncul pada awal 1970-an dan kian menonjol pada tahun 1980an. Ini dilakukannya ketika dirinya sadar bahwa kerusakan yang terjadi akibat industrilisasi cepat dan bayang-bayang liberalisasi ekonomi yang membuat manusia tercabut dari akarnya.

Strategi yang dilakukanSoedjatmoko dalam membangun ekonomi dasar yakni dengan melakukan analisis kebijakan makro diantaranya

1. Land Reform yakni pengelolaan tanah bagi masyarakat sebagai kebun rumah tangga bagi tiap keluarga yang ada diseluruh Indonesia.

2. Memuliakan Petani

3. Perimbangan kota dan desa

4. Mengurangi Konsumsi Perkotaan

5. Industri padat-karya, bukan padat model

6. Pembangunan Infrastruktur

7. Pemerataan bukan pertumbuhan

Tujuh strategi ini yang diterapkan Soedjatmoko dan itu nampak dari beberapa bukunya bahkan dasar pembangunan ekonomi dalam bukunya tersebut mengantarkan Soedjatmoko memperoleh hadiah Magsaysay (Nobel-Nya Asia) pada tahun 1970 dan konsep yang dilakukannya ini dikembangkan organisasi buruh se Duni (ILO)sejak 1970 sebagai alternative dari strategi industry substitusi-impor dan strategi industry berbasis ekspor.

Kedua tokoh ini, menjadi dasar konsep pembangunan ekonomi yang akan dilakukan Prabowo Subiyanto jika kelak pada tahun 2014 direstui oleh bangsa Indonesia untuk memimpin Indonesia. Salam (***)

Sumber Bacaan dan buku yang layak dibaca

Kembalikan Indonesia Prabowo Subiyanto, Pustaka Sinar Harapan 2004

Buku-buku ekonomi Mohammad Hatta

Kebangsaan dan Kerakyatan, Jakarta LP3ES 2000

Kemerdekaan dan Demokrasi, Jakarta LP3ES 2000

Perdamaian Dunia dan Keadilan Sosial, Jakarta LP3ES 2000

Beberapa Pasal Ekonomi-Djalan ke EKonomi dan Koperasi , Jakarta Balai Pustaka 1950

Beberapa Pasal Ekonomi-Djalan ke EKonomi dan Bank, Jakarta Balai Pustaka 1951

Karangan Soedjatmoko

Dimensi Manusia dalam Pembangunan, Jakarta LP3ES 1983

Etika Pembebasan Jakarta LP3ES 1984.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 8 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 9 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 10 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 11 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 9 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 9 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 9 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 10 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: