Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Rizal Saputra

dengan kata yang sederhana ku coba menulis untuk mengungkapkan kebenaran

Bank NTT Telah Melakukan “Pembohongan Publik”

REP | 01 November 2012 | 19:14 Dibaca: 1527   Komentar: 0   2

13517718751459895022

Bank adalah suatu lembaga keuangan yang eksistensinya tergantung mutlak pada kepercayaan dari para nasabahnya yang mempercayakan dana simpanan mereka. Oleh karena itu bank sangat berkepentingan agar kadar kepercayaan masyarakat, yang telah maupun yang akan menyimpan dananya, terpelihara dengan baik dan sehat dari sistem-sistem tersebut. Sedangkan kepercayaan masyarakat kepada bank merupakan unsur paling pokok dari eksistensi suatu bank. Ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap suatu bank. Faktor-faktor tersebut adalah: Integritas bank dan pengurusnya, manejerial teknis perbankan, kesehatan bank yang bersangkutan, kepatuhan bank terhadap kewajiban kerahasiaan bank sesuai dengan peraturan perbankan yang berlaku.

Banyak Bank Daerah yang terlalu mementingkan keuntungan individu, sehingga kepentingan negara dan masyarakat terabaikan. Salah satunya adalah Bank NTT yang masih suka mengumbar suku bunga deposito bagi nasabahnya di atas suku bunga penjaminan. Namun sangat kontradiktif dengan keadaan yang terjadi dalam pelaksanaanya. Sebuah penipuan yang terselubung demi meningkatkan pendapatan bank. Sebab dalam pelaksanaannya di barengi cost of fund dengan pajak dan biaya administrasi yang besar, sehingga para nasabah hanya mendapatkan keuntungan dari 1,5 % pertahun atau 00,1% perbulannya dalam menginvestasikan uang mereka. Contoh nilai Depositonya Rp. 5.000.000,- hanya mendapat Rp.126.000,- lebih dalam setahun. Selain itu dana nasabah tersebut tidak terlindungi oleh program penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sudah banyak kasus yang dilakukan Bank NTT dalam memanipulasi dan menipu nasabahnya.

Selain itu, pengelolaan rekening nasabah belum sepenuhnya didukung oleh penerapan prinsip mengenal nasabah atau lazim disebut Know Your Customer. Bank NTT tidak memberi keamanan bagi nasabahnya. Hal ini dialami oleh banyak Nasabah di daerah khususnya Rote Ndao. Pembohongan pembohongan public ini terus dilakukan oleh Bank NTT kepada nasabahnya salah satunya adalah prosentase bunga yang sangat tinggi mencapai 20 %, meski Bank Indonesia telah menurunkan Bunga Acuan sebesar 100 basis poin (bps) menjadi 4,75%. Mengapa suku bunga ini tidak di turunkan oleh Bank NTT, karena Coverage sector financial formal khususnya bank sangat rendah sementara sector financial informal (shadow banking) sangat tinggi. Sehingga kredit konsumsinya hanya diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil sebagai penunjang kontraktualnya karena jaminannya lebih besar.

Bank NTT juga masih mendapat suntikan dana wajib Investasi Permanan dari Daerah selain Rekening Titipan DAU, DAK, Rekening Pendapatan Daerah lainnya. sehingga mengakibatkan banyak rekening liar, hal ini di pertegas oleh temuan BPK RI pada Bank NTT sebanyak ratusan rekening yang tidak bisa dipertanggungjawabkan peruntukannya. rekayasa dan konspirasi ini terus dilakukan oleh Bank NTT dan Pemerintah Daerah semakin kental dengan mengharuskan para pegawainya mengambil gaji (haknya) bulanannya pada Bank tersebut. bayangkan berapa uang yang telah di serap oleh Bank tersebut lewat pemotongan administrasi, jasa simpanan, dan jasa pengambilan setiap kali penarikan, beber Henny Dillak.

Hal ini menandakan bahwa tingkat perselingkuhan Bank tersebut dan Pemerintah Daerah sangat mesra sehingga mengabaikan kepentingan Bangsa, Negara dan Rakyatnya. Disini menandakan bahwa “Manejerial Bank NTT ini sedang sakit” sehingga tidak berani Invasi Kredit Modal Kerja (Investasi). Kredit Konsumtifnya lebih besar dan sangat mencekik leher rakyat (Nasabahnya). Berbeda dengan Bank Lainnya, Misalnya BRI dan Bank Mandiri dengan pemberian Kredit dengan bunga yang ringan yakni 0,3%. Sehingga masyarakat masih di beri ruang untuk berusaha. Selebihnya masyarakat akan rela melakukan pinjaman pada Koperasi Kredit yang bersifat bulanan dengan bunga 1-3% ataupun dengan memilih Kredit Koperasi harian dengan bunga 10% karena penyalurannya lebih cepat tanpa banyak persyaratan ataupun jaminan yang membebani. Jujur saja saya lebih suka menginvestasikan uangku pada Koperasi Kredit daripada di Bank NTT, ulasnya sambil tersenyum, saat ditanya kenapa tidak menyimpannya di Bank tempatnya bekerja.

Sesungguhnya Bank NTT telah membungakan uang rakyat yang dititipkan oleh daerah lewat berbagai rekening siluman, (DAU, DAK, Pendapatan Daerah, Penyetoran Pajak,) serta mendapatkan subsidi dari Pemerintah Daerah dalam bentuk penyertaan modal secara permanen maka sudah selayaknya Bank NTT bukan hanya mengejar keuntungan, tetapi juga membantu masyarakat dengan menerapkan bunga pinjaman yang rendah. “Pantaskah Bank NTT mendapatkan keuntungan yang luar biasa di satu sisi dengan menetapkan tingkat  suku bunga yang tinggi, dan di sisi lain mencekik leher masyarakat dengan menekan daya beli masyarakat?” papar Henny lagi, saat bincang bincang dengannya di kost kostanya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ahmad Dhani: Saya Dijanjikan Kursi Menteri …

Anjo Hadi | | 24 April 2014 | 23:45

Lost in Translation …

Eddy Roesdiono | | 24 April 2014 | 22:52

PLN Gagap Online …

Andiko Setyo | | 24 April 2014 | 23:40

Drawing AFC Cup U-19: Timnas U-19 Berpotensi …

Primata Euroasia | | 24 April 2014 | 21:28

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Partai Manakah Dengan Harga Suara Termahal? …

Chairul Fajar | 12 jam lalu

Siapa yang Akan Bayar Utang Kampanye PDIP, …

Fitri Siregar | 12 jam lalu

Riska Korban UGB jadi “Korban” di Hitam …

Arnold Adoe | 13 jam lalu

Tangis Dahlan yang Tak Terlupakan …

Dedy Armayadi | 16 jam lalu

Di Mana Sebenarnya MH370? Waspada Link …

Michael Sendow | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: