Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Djajendra

Djajendra adalah Praktisi, Penulis, dan Pembicara dalam Bidang Manajemen, Budaya Organisasi, Pengembangan Kepribadian, Kecerdasan Emosional, selengkapnya

Perbedaan antara Etos Kerja dengan Etika Kerja

OPINI | 10 November 2012 | 16:40 Dibaca: 666   Komentar: 0   1

“Perusahaan didirikan untuk menjadi mesin uang yang menghasilkan keuntungan buat pemiliknya.” – Djajendra

Apakah ada perbedaan antara etos kerja dengan etika kerja? Jawabannya, ada tapi sangat tipis. Etos kerja sangat terkait kepada kerja keras, ketekunan, loyalitas, komunikasi, cara pengambilan keputusan, sikap, perilaku, dedikasi, dan disiplin tinggi untuk menciptakan nilai tambah organisasi; sedangkan etika kerja sangat terkait dengan etos kerja yang memperhatikan aspek moral, etika, keadilan, dan integritas dalam menciptakan nilai tambah organisasi.

Dalam praktik bisnis, perusahaan pasti menginginkan keuntungan yang maksimal dengan biaya yang seminimal mungkin, sebab itulah cara bisnis yang paling benar. Praktik yang mengutamakan keuntungan dengan cara apa pun akan membuat perusahaan mempraktikkan etos kerja tanpa mempedulikan etika dan integritas. Dampaknya, demi mendapatkan bisnis dan keuntungan yang lebih besar karyawan dan pimpinan akan mengabaikan sistem, prosedur, dan  kode etika perusahaan.

Pada umumnya, perusahaan akan sangat berorientasi kepada keuntungan dan target-target dalam ukuran uang. Prestasi dan kinerja dari karyawan dan pimpinan akan dihitung dengan ukuran uang. Uang yang akan menentukan apakah seseorang berprestasi atau tidak, dan waktu adalah uang. Artinya, setiap karyawan dan pimpinan harus memiliki etos kerja untuk memaksimalkan waktu kerja mereka untuk bisa menciptakan produktifitas yang tinggi buat keuntungan perusahaan. Tapi, ada juga perusahaan yang memahami etos kerja tidak sekedar bekerja keras tanpa etika untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Persoalannya, dunia bisnis adalah dunia tempat mencari keuntungan maksimal dengan biaya sekecil mungkin. Oleh sebab itu, sering sekali perilaku bisnis selalu akan mengabaikan etika dan integritas, serta akan memaksa perusahaan untuk fokus kepada cara pencapaian keuntungan. Perusahaan dibuat untuk menciptakan lebih banyak kekayaan dan membuat para pemiliknya mampu mencapai puncak kesuksesan kehidupan ekonomi.

Dalam realitas yang saya temukan banyak sekali pimpinan bisnis dan pemilik bisnis mengharapkan para karyawannya memiliki etos kerja dengan spesifikasi seperti berikut: pekerja keras, memiliki keinginan untuk prestasi, termotivasi kepada pencapaian tujuan perusahaan, memenuhi kewajiban tugas dan pekerjaan tepat waktu, memiliki disiplin diri yang tinggi, loyal kepada perusahaan, memiliki integritas kepada perusahaan, tidak banyak menuntut kepada perusahaan, siap bekerja dalam situasi apa pun bila diminta pimpinan, bertanggung jawab kepada perusahaan, berperilaku yang tidak merusak reputasi perusahaan, memiliki ambisius untuk berkontribusi secara maksimal, mampu mengendalikan diri dari setiap tekanan kerja, selalu bekerja sama untuk meningkatkan produktivitas, bekerja efektif dan efisien, serta tidak pernah menyerah sampai pekerjaan diselesaikan dengan sempurna.

Perbedaan antara etos kerja dan etika kerja sangat tergantung kepada niat dari seorang pimpinan atau pemilik usaha dalam membentuk sikap, perilaku, karakter, keyakinan, sopan santun, komunikasi, interaksi, dan tanggung jawab dari para karyawan terhadap stakeholder. Bila pimpinan atau pemilik perusahaan peduli kepada nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, keadilan, dan kesetaraan antara stakeholder dengan bisnis perusahaan; maka biasanya perbedaan antara etos kerja dengan etika kerja tidak akan ada.

Djajendra

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 6 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 6 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 12 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Definisi Administrasi dan Supervisi …

Sukasmo Kasmo | 8 jam lalu

Kabinet: Ujian Pertama Jokowi …

Hans Jait | 8 jam lalu

Kinerja Buruk PLN Suluttenggo …

Hendi Tungkagi | 8 jam lalu

Jokowi-JK Berantas Koruptor Sekaligus …

Opa Jappy | 8 jam lalu

Luar Biasa, Indonesia Juara Matematika …

Dean Ridone | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: