Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Rio Rahmawati

Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia

Teknologi Informasi Kesehatan pada Tatanan Pelayanan Kesehatan dan Jejaringan

OPINI | 16 December 2012 | 11:14 Dibaca: 805   Komentar: 0   0

Oleh Rio Rahmawati

Mahasiswa Program Magister Keperawatan

Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan

Abstrak

Penyajian data pada sistem informasi kesehatan tidak dapat dipisahkan dengan kemajuan teknologi yang ada. Oleh kerana itu dibutuhkan suatu teknologi informasi kesehatan yang memiliki jejaringan yang komprehensif untuk dapat digunakan oleh seluruh elemen yang terkait dengan pemberi jasa pelayanan kesehatan. Beberapa peneliti menyarankan bahwa adopsi teknologi sistem informasi kesehatan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan jasa yang diberikan kepada penerima kesehatan (Bates, Leape, & Cullen, 1998; Chaudhry et al, 2006;. Kucher et al, 2005 dalam Brown 2012). Teknologi Informasi Kesehatan/ Health Information Technology (HIT) didefinisikan sebagai penerapan pengolahan informasi yang melibatkan baik hardware dan software komputer yang berhubungan dengan penyimpanan, pencarian, berbagi, dan penggunaan informasi kesehatan, data, dan pengetahuan untuk komunikasi dan pengambilan keputusan (Brailer, 2004 dalam Liu 2009). Berbagai jenis lingkup pelayanan yang terkait dengan kesehatan dapat mengadopsi sistem HIT, diantaranya catatan kesehatan elektronik (EHR), penyedia order entry terkomputerisasi (CPOE), sistem pendukung keputusan klinik (CDSS), hasil pelaporan elektronik, resep elektronik, informatika kesehatan konsumen / mendukung keputusan pasien, komputasi mobile, telemedicine, komunikasi administrasi kesehatan elektronik, pertukaran data jaringan, pengetahuan pengambilan. Dalam penerapannya dibutuhkan persiapan secara financial, sumber daya manusia, infra struktur yang matang. Teknologi tidak hanya memberikan manfaat untuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan, namun dapak negatif dari teknologi sistem informasi kesehatan juga perlu diantisipasi. Berbagai rancangan mengenai teknologi sistem informasi kesehatan di Indonesia telah dikemukakan oleh para ahli.

Latar Belakang

Salah satu aspek penting dalam pembangunan masyarakat sehat adalah sistem informasi kesehatan (SIK) yang baik. SIK diperlukan untuk menjalankan upaya kesehatan dan memonitoring agar upaya tersebut efektif dan efisien. Oleh karena itu, data informasi yang akurat, pendataan cermat dan keputusan tepat kini menjadi suatu kebutuhan (Soepardi, 2011).

Penyajian data pada sistem informasi kesehatan tidak dapat dipisahkan dengan kemajuan teknologi yang ada. Oleh keran itu dibutuhkan suatu teknologi informasi kesehatan yang memiliki jejaringan yang komprehensif untuk dapat digunakan oleh seluruh elemen yang terkait dengan pemberi jasa pelayanan kesehatan. Beberapa peneliti menyarankan bahwa adopsi teknologi sistem informasi kesehatan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan jasa yang diberikan kepada penerima kesehatan (Bates, Leape, & Cullen, 1998; Chaudhry et al, 2006;. Kucher et al, 2005 dalam Brown 2012).

Dalam industri kesehatan, keselamatan pasien atau kualitas pelayanan tetap menjadi prioritas pelayanan yang masih menjadi kekhawatiran terbesar (American College of Healthcare Eksekutif, 2007; Chassin & Galvin, 1998 dalam Brown 2012). Dalam area kesehatan teknologi informasi, relatif menjadi topik baru di dunia, terlebih di Indonesia yang masih mengalami keterbatasan pada sisi perangkat sistem informasi kesehatan secara nasional. Dalam industri lainnya, teknologi informasi telah memungkinkan untuk menurunkan biaya, menghemat waktu, dan meningkatkan kualitas melalui investasi berat teknologi komputer dan struktur informasi (Davenport & Pendek, 2003 dalam Liu 2009).

Terlepas dari segala manfaat yang dapat diambil dengan penerapan teknologi informasi kesehatan, tekhnologi informasi tetap memiliki dampak negatif yang harus disadari dan diantisipasi. Dampak negatif yang mungkin timbul antara lain peralatan yang membahayakan, pelanggaran privacy, pencurian data dan kurangnya sentuhan pada pasien. Artikel ini akan membahas lebih lanjut bagaimana teknologi informasi dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, apa dampak negatifnya, dan bagaimana solusi mengatasi dampak negatif tersebut.

Kajian Literatur dan Pembahasan

Definisi

Teknologi Informasi Kesehatan/ Health Information Technology (HIT) didefinisikan sebagai penerapan pengolahan informasi yang melibatkan baik hardware dan software komputer yang berhubungan dengan penyimpanan, pencarian, berbagi, dan penggunaan informasi kesehatan, data, dan pengetahuan untuk komunikasi dan pengambilan keputusan (Brailer, 2004).

Manfaat Penggunaan HIT

Menurut Department of Health and Human Services, 2007 dalam Liu (2009), maanfaat penggunaan HIT adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan

2. Mencegah kesalahan medis

3. Mengurangi biaya perawatan kesehatan

4. Meningkatkan efisiensi administrasi

5. Menurunkan dokumen

6. Memperluas akses jangkauan perawatan

Lingkup HIT

Menurut Chaudhry, 2006 dalam Liu (2009), sistem HIT mencakup catatan kesehatan elektronik (EHR), penyedia order entry terkomputerisasi (CPOE), sistem pendukung keputusan klinik (CDSS), hasil pelaporan elektronik, resep elektronik, informatika kesehatan konsumen / mendukung keputusan pasien, komputasi mobile, telemedicine, komunikasi administrasi kesehatan elektronik, pertukaran data jaringan, pengetahuan pengambilan. Sedangkan menurut Hamilton, 2006 dalam Liu (2009) mengidentifikasi delapan jenis aplikasi HIT untuk digunakan dalam post perawatan akut: (a) dokumentasi yang mendukung, (b) manajemen sensus, (c) titik perawatan, (d) komputerisasi entry order dokter, (e) catatan kesehatan elektronik, (f) telehealth atau telemedicine, (g) penilaian dan perencanaan perawatan, dan (h) resep elektronik.

1. Rekam Kesehatan Elektronik/ Electronic Health Record (EHR)

Rekam kesehatan elektronik sangat penting dalam adopsi HIT. Dokumen ini terdiri dari profil kesehatan pribadi pasien yang mendokumentasikan riwayat medis pasien, catatan perkembangan kesehatan seumur hidup pasien. Apabila pendokumentasian dengan berbasis kertas, maka akan memiliki kekurangan dalam menyusun riwayat seumur hidup pasien yang panjang, ambigu dalam proses pencatatan, data tidak lengkap, fragmentasi dan tulisan tangan tidak terbaca (Dick & Steen, 1997 dalam Liu 2009).

EHR dengan adopsi HIT akan memiliki kelebihan diantaranya komputer akan menyimpan data informasi kesehatan tentang satu orang dan dapat dihubungkan oleh sebuah identifier orang (Waegemann, 2002). Sedangkan dokumentasi EHR berbasis kertas tidak hanya gagal untuk memenuhi kebutuhan untuk data instan tetapi juga mengambil kelemahan disajikan dalam informasi kesehatan rekaman pasien, misalnya: tidak ada struktur standar dan sulit untuk membaca tulisan tangan (Walsh, 2004 dalam Liu 2009). Wang dkk, 2003 dalam Liu (2009), memberikan kerangka untuk memperkirakan dampak keuangan dalam perbandingan antara EHR dan catatan pasien berbasis kertas. Dilaporkan bahwa penyedia diperkirakan bertambah 86.400 USD untuk menggunakan EHR dalam 5 - periode tahun dengan berbasis kertas (Wang, et al., 2003). Millier et al. (2007) Informasi Kesehatan dan Manajemen Sistem Masyarakat (HIMSS) mendefinisikan EHR pada situs web mereka sebagai: “suatu catatan elektronik longitudinal informasi kesehatan pasien yang dihasilkan oleh satu atau lebih pertemuan dalam pengaturan pemberian perawatan. Termasuk dalam informasi ini adalah demografi pasien, catatan perkembangan, masalah, obat-obatan, tanda-tanda vital, riwayat medis masa lalu, imunisasi, data laboratorium dan laporan radiologi (HIMSS, 2006).

Definisi dan penjelasan di atas menunjukkan bahwa EHR adalah alat yang memungkinkan informasi kesehatan untuk disimpan dalam format elektronik dan memungkinkan hanya pengguna yang berwenang yang dapat mengakses di beberapa lokasi, dan real-time. Hal ini juga penting untuk dicatat bahwa beberapa istilah EHR lainnya adalah seperti: Rekam Pasien Elektronik (EPR), Electronic Medical Record (EMR), atau Komputer Berbasis Rekam Pasien (CPR). Meskipun terdapat berbagai sinonim untuk EHR, secara harfiah EHR adalah istilah yang secara luas dipakai oleh sebagian besar literature pada saat ini.

Singkatnya, EHR mendukung tidak hanya catatan klinis, tetapi juga pengumpulan data untuk penggunaan seperti: penagihan, manajemen mutu, pelaporan hasil, perencanaan sumber daya, dan survailen kesehatan publik penyakit dan pelaporan. Namun, survei menunjukkan bahwa sebagian besar EHR belum meluas untuk rawat inap dan rawat jalan (Ash & Bates, 2005 dalam Liu 2009).

2. Komputerisasi Masukan Order Dokter/ Computerized Physician Order Entry (CPOE)

Komputerisasi masukan order dokter/ CPOE adalah aplikasi yang umum ditemukan untuk HIT. Ini adalah sistem resep obat elektronik yang digunakan pada waktu pengobatan, diperintahkan dan diisi. Pemanfaatan CPOE dianggap dapat meningkatkan kualitas dengan standardisasi proses dan dengan menyediakan bimbingan dokter yang merawat pasien (Kuperman & Gibson, 2003 dalam Liu 2009). Misalnya, CPOE dapat memberikan peringatan pada dosis obat ketika indikator tertentu keluar dari rentang yang ditetapkan (Kuperman, et al., 2007). Meskipun ada berbagai fitur yang berhubungan dengan sistem CPOE (misalnya, memesan, keselamatan pasien, penagihan), yang paling menonjol adalah untuk keselamatan pasien, yang berkaitan dengan pencegahan kejadian efek samping obat (Bates, 2000, 2007 dalam Liu 2009).

Sistem Jejaringan dan Konsep Teknologi Informasi Kesehatan

Beberapa konsep teknologi sistem informasi kesehatan telah ditawarkan olah para ahli untuk menjadi pilihan dalam mewujudkan teknologi sistem informasi kesehatan di Indonesia. Sistem informasi kesehatan dapat diaplikasikan pada puskesmas, rumah sakit, klinik, farmasi, asuransi, laboratorium, PMI, apotik tenaga kesehatan dan lain-lain (Jalil, 2005)

Menurut Sabarguna (2012), beberapa hal yang menjadi lingkup penerapan teknologi sistem informasi kesehatan meliputi beberapa hal, diantaranya master plan (data, proses, sistem pelaporan informasi, sistem manajemen informasi, sistem pendukung keputusan,sistem yang mahir dan sistem pengetahuan); network system (pusat, provinsi, daerah); sistem informasi pusat pelayanan kesehatan; sistem informasi billing di sebuah rumah sakit; sistem monitoring dan sistem pendukung keputusan.

Standar Health Information Technology (HIT)

Prosedur mengirimkan informasi membutuhkan standar untuk memfasilitasi pengoperasian di antara pengguna HIT. Standar bahasa/ kata dalam adopsi HIT diperlukan di berbagai sistem untuk dapat berkomunikasi satu sama lain (Mead, 2006).

Tabel Contoh Standar Teknologi Informasi Kesehatan (HIT)

Name

Functionality

Category

Terminology

LOINC

“Logical Observation: Identifiers, Names, and Codes” is a code set that assigns universal identifiers to laboratory and other clinical observations, so that results can be pooled and exchanged.

Lab

SNOMEDCT

“Systematized Nomenclature of Human and terinary

Medicine” is a nomenclature that provides a common language to codify the clinical information captured in an electronic health record (EHR) during patient care. It enables a consistent way of indexing, storing, retrieving, and aggregating clinical data across medical specialties and sites of care.

Clinical

ICD-9-CM

ICD-10

“International Classification of Diseases” is classification systems that group diseases and procedures for easy retrieval by computers. They are useful for reporting or other instances where data aggregation is needed, such as measuring quality or

processing claims for reimbursement.

Billing

NCPDP

“National Council for Prescription Drug Programs” is astandard that allows electronic transfer of prescriptions between pharmacies, and for physicians to submit prescriptions electronically

Drugs

Messaging

HL7

“Health Level 7” is a computer language that allows the transmission of a patient’s basic demographic information, medical history, diagnoses, and financial information between different clinical applications. HL7’s Version 2.0 is the most widely implemented healthcare standard worldwide.

Clinical

RxNorm

RxNorm is a developing project of the NLM. It is a

nomenclature that provides standard names for clinical drugs (active ingredient + strength + dose form) and for dose forms as administered.

Drugs

CPT-4

“Current Procedural Terminology” is a coding system for the billing of medical procedures.

Billing

ASC/X12N

Accredited Standards Committee governs the transmission of electronic claims data, such as external financial transactions, financial coverage verification and insurance transactions and claims.

Financial

ELINCS

ELINCS EHR-Lab Interoperability and Connectivity Standards is a standard that is currently under development; it will be used to transfer lab results from laboratory information systems to EHRs in the outpatient setting

Lab

Sumber: The National Library of Medicine (NLM) has been recommended as the ppropriate body to coordinate and disseminate the mappings with the Unified Medical Language System (UMLS) Metathesaurus. Detail information are available online at http://www.nlm.nih.gov/research/umls/ (Retrieved January 30, 2008 dalam Liu 2009)

Hambatan penggunaan HIT

Beberapa hal yang menjadi penghambat adopsi HIT adalah: (a) biaya sistem start-up dan pemeliharaan, (b) kurangnya standar lokal, regional, dan nasional, dan (c) kurangnya waktu untuk mempertimbangkan memperoleh, menerapkan, dan menggunakan sistem baru (The Commonwealth Fund, 2003, dalam Liu 2009). Sistem HIT sering menimbulkan gangguan besar dalam alur kerja serta mengurangi perawatan terfragmentasi dalam sistem kesehatan (DePhillips, 2007 dalam Brown 2010).

Teknologi Informasi Kesehatan di Indonesia

Pembangunan teknologi sistem informasi kesehatan di Indonesia masih dalam bahasan-bahasan di berbagai lembaga kementerian nasional. Kementerian Kesehatan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan juga PT Telkom yang juga membahas masalah yang sama. Menurut Chief Information Officer PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, Indra Utoyo (2011), tantangan utama dalam pengembangan inisiatif e-Health di Indonesia adalah bagaimana meningkatkan interaksi antar stakeholder pelayanan kesehatan sehingga memberikan benefit untuk ekosistem kesehatan Indonesia. Melalui e-Health nasional, Telkom mengembangkan media transaksi berbasis teknologi informasi dan komunikasi bagi para pelaku kesehatan di mana pun berada: Pemerintah, masyarakat, rumah sakit, farmasi dan lain-lain. Aplikasi yang telah dikembangkan Telkom antara lain e-Apotik dan e-Puskesmas. Implementasi Pilot Project Onlinenisasi Diagnosis Medik 6 rumah sakit vertikal di Jakarta, yaitu RSUP Persahabatan, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RSUP Fatmawati, RS Dharmais, RSJP Harapan Kita dan RSAB Harapan Kita, telah diresmikan tahun 2011.

Kesimpulan dan Saran

Teknologi Informasi Kesehatan merupakam penerapan pengolahan informasi yang melibatkan baik hardware dan software komputer yang berhubungan dengan penyimpanan, pencarian, berbagi, dan penggunaan informasi kesehatan, data, dan pengetahuan untuk komunikasi dan pengambilan yang memiliki berbagai jenis lingkup pelayanan yang terkait dengan informasi kesehatan. Dalam penerapannya dibutuhkan persiapan secara finansial, sumber daya manusia, infra struktur yang matang, selain itu standar operasi sistem informasi kesehatan juga perlu menjadi rumusan bersama bagi pengguna layanan ini. Manfaat untuk peningkatan kualitas pelayanan kesehatan menjadi acuan penerapan teknologi ini, namun dapak negatif dari teknologi sistem informasi kesehatan juga perlu diantisipasi. Berbagai rancangan mengenai teknologi sistem informasi kesehatan di Indonesia telah dikemukakan oleh para ahli, namun sampai saat ini Indonesia belum mengaplikasikannya dalam tatanan secara menyeluruh. Satu langkah yang positif telah dimulai dengan adanya e-Apotik, e-Puskesmas, dan Onlinenisasi Diagnosis Medik 6 rumah sakit vertikal di Jakarta.

Keberadaan teknologi sistem informasi kesehatan di Indonesia sudah menjadi harapan semua elemen yang terkait dengan pelayanan kesehatan, oleh karena itu diperlukan keseriusan pemerintah untuk segera membangun sistem informasi kesehatan berbasis teknologi, agar harapan untuk mewujudkan peningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia tidak lagi menjadi mimpi.

DAFTAR PUSTAKA

Brailer, D. J. (2004). The Decade of Health Information Technology: Delivering Consumercentric and Information-rich Health Care. Washington DC: Office of the National Coordinator for Health Information Technology.

Brown, S. F. (2012). Effects of healthcare information technology adoption on nursing home quality rating scores. Walden University). ProQuest Dissertations and Theses, , 150. Retrieved from

http://search.proquest.com/docview/923809880?accountid=17242. (923809880).

Jalil, S.A. (2005). Teknologi informasi untuk kesehtan sebagai komunikasi informasi efektif bagi daerah. Disampaikan pada symposium nasional membangun era informasi melalui sistem rekam elektronik dalam manajemen sistem informasi kesehatan di Indonesia. Jakarta. http://repository.ui.ac.id/dokumen/lihat/3309.pdf

Liu, D. (2009). Health information technology and nursing homes. University of Pittsburgh). ProQuest Dissertations and Theses, , 131. Retrieved from http://search.proquest.com/docview/304979944?accountid=17242. (304979944).

Kuperman, G. J., Bobb, A., Payne, T. H., Avery, A. J., Gandhi, T. K., Burns, G., et al. (2007). Medication-related clinical decision support in computerized provider order entry systems: a review. Journal of the American Medical Informatics Association, 14(1), 29-40.

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2995705/

Mead, C. N. (2006). Data interchange standards in healthcare IT–computable semantic interoperability: now possible but still difficult, do we really need a better mousetrap? Journal of Healthcare Information Management, 20(1), 71-78. jhi.sagepub.com/content/18/2/147.refs

Sabarguna. (2012). Hospital Development Health System. Materi kuliah SIM. Jakarta: FIK UI

Soepardi, E.J. (200-11). SIKDA eletronik akan diimplementasikan di seluruh Indonesia. http://sik.dinkes-kabpemalang.net/?p=304

Utoyo (2011). Telkom Tawarkan Solusi Teknologi Informasi Bagi Peningkatan Layanan Kesehatan di Indonesia. http://telkom.co.id

Wang, S. J., Middleton, B., Prosser, L. A., Bardon, C. G., Spurr, C. D., Carchidi, P. J., et al. (2003). A cost-benefit analysis of electronic medical records in primary care. American Journal of Medicine, 114(5), 397-403.

dl.acm.org/citation.cfm?id=1146475.1146493

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Johannes Karundeng Mengajari Kami Mencintai …

Nanang Diyanto | | 21 September 2014 | 15:45

Kompasianers Jadi Cantik, Siapa Takut? …

Maria Margaretha | | 21 September 2014 | 16:51

Kaizen dan Abad Indonesia …

Indra Sastrawat | | 21 September 2014 | 15:38

Kucing Oh Kucing …

Malatris | | 21 September 2014 | 16:00

[Daftar Online] Nobar Film “Tabula …

Kompasiana | | 21 September 2014 | 10:33


TRENDING ARTICLES

Logika aneh PKS soal FPI dan Ahok …

Maijen Nurisitara | 7 jam lalu

Usai Sikat Malaysia, Kali ini Giliran Timor …

Achmad Suwefi | 11 jam lalu

Warga Menolak Mantan Napi Korupsi Menjadi …

Opa Jappy | 11 jam lalu

Warisan Dapat Jadi Berkah untuk …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Jokowi Tak Pernah Janji Rampingkan Kabinet …

Felix | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebuah Persembahan untukmu Gus…. …

Puji Anto | 8 jam lalu

Omne Trium Perfectum dan Tri-PAR …

Sam Arnold | 8 jam lalu

Saat R-25 Menjawab Hasrat Pria …

Zulfikar Akbar | 8 jam lalu

2 Tahun di Kompasiana Membukukan Sejumlah …

Thamrin Sonata | 8 jam lalu

Sombong Kali Kau …

Ian Ninda | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: