Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Afandri Adya

Afandri Adya, penulis lepas yang juga aktif di dua organisasi nirlaba : SCALA Institute dan selengkapnya

Langkah Dahlan Iskan Membenahi BUMN

OPINI | 14 March 2013 | 14:54 Dibaca: 1381   Komentar: 0   2

Kalau Anda berlangganan koran Jawa Pos, dan membaca tulisan-tulisan Dahlan Iskan pada halaman pertama, mungkin Anda akan merasa optimis mengenai keberlangsungan Republik ini. Bagaimana tidak, lewat tulisan itu, Pak Dis — sapaan akrab Dahlan Iskan — mampu memberikan harapan dan gairah baru bagi Indonesia. Semua urusan Perusahaan Negara (baca : BUMN) yang karut-marut selama beberapa tahun belakangan ini, selalu ada saja solusinya. Kita tahu, banyak perusahaan-perusahaan negara yang selama ini dikelola asal-asalan. Selain korupsi yang meruyak, banyak manajemen BUMN diisi orang-orang yang tak berkompeten. Sehingga hampir sebagian besar perusahaan milik negara mengalami kerugian.

Salah satu perusahaan plat merah yang mengalami kerugian cukup besar adalah Pertamina. Perusahaan petroleum kebanggaan bangsa ini tidak hanya kalah di pasaran luar negeri, namun juga keok dalam memenuhi permintaan dalam negeri. Untuk menyiasatinya, maka Dahlan bersama tim manajemen Pertamina telah bersepakat membentuk “Brigade 200 K”. Pasukan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi minyak Pertamina mencapai 200.000 barel per hari dalam waktu dua tahun. Selama ini Pertamina memang keteteran dalam memenuhi permintaan. Namun selama itu pula tak ada seorang-pun dari pihak Kementeriaan BUMN yang mau menuntasan permasalahan ini. Kini setelah Pak Dis menggebrak anak-anak muda Pertamina untuk meningkatkan angka produksi, maka diharapkan dua tahun mendatang Pertamina sudah bisa menjadi raja di kawasan ASEAN.

Untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM) yang banyak dikonsumsi oleh kendaraan bermotor, Pak Dis bersama “putra-putra petir” berembuk untuk menciptakan mobil listrik. Kendaraan ini diharapkan akan menggantikan mobil-mobil berbahan bakar premium, yang selama ini banyak menguras subsidi pemerintah. Ada dua tipe mobil listrik yang dikembangkan Dahlan. Pertama, yang menggunakan gearbox dan yang lain tanpa menggunakan gearbox. Kedua-duanya telah diujicobakan berulang kali. Terakhir Tucuxi – begitu mobil listrik itu dinamai – yang tidak memakai gearbox sempat berujicoba, dan mengalami kecelakaan di Magetan. Namun kecelakaan itu telah memberikan hikmah bagi tim pengembang, mengenai pentingnya fungsi gearbox. Meski banyak kendala dalam pengembangan proyek ini, namun Dahlan bertekad untuk menjadikannya sebagai kebanggaan bangsa Indonesia. Ia berharap ini akan menjadi milestone bagi kebangkitan industri otomotif dalam negeri.

Dalam menangani perusahaan pangan dan perkebunan, Pak Dis juga tak kalah gesitnya. Setelah selesai memperbaiki mismanajemen dan meningkatkan produksi perusahaan gula, akhir tahun lalu Dahlan berhasil menciptakan sawah baru di Kalimantan Barat. Penanggung jawab proyek itu adalah salah satu BUMN pangan, PT Sang Hyang Seri (SHS). Perusahaan ini menargetkan, pada tahun 2014 nanti akan mencetak 100.000 hektar sawah tambahan di propinsi tersebut. Proyek yang satu ini, disebut Dahlan sebagai proyek “non-capitalist farming”. Artinya, BUMN tidak membeli tanah itu dari rakyat. Tidak seperti kebun sawit, tanahnya tetap dimiliki rakyat. BUMN hanya menjadi pekerja dan pemegang manajemennya. Yang akan menikmati hasilnya adalah para petani pemilik lahan. Yang menarik dari pembukaan lahan sawah baru itu, Pak Dis bisa mensinergikan semua perusahaan-perusahaan BUMN. Dahlan menginstilahkannya sebagai “12 Samurai” yang tergabung dalam Sinergi BUMN Peduli. Perusahaan BUMN yang membantu proyek ini antara lain : Batantekno dan Pupuk Indonesia (teknologi), Hutama Karya dan Brantas Abipraya (penyiapan lahan), serta Bank BNI, Bank Mandiri, Bank BRI, Perusahaan Gas Negara, dan Pertamina dalam urusan pendanaan.

Satu lagi perusahaan BUMN yang melakukan pembenahan besar-besaran adalah PT PAL Surabaya. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan plat merah yang berdarah-darah karena tidak fokus pada core business-nya. Tiga anak perusahaannya bergerak di bidang pembuatan boiler dan turbin, serta melangkah lebih jauh menjadi kontraktor EPC pembangkit listrik. Melihat kondisi seperti ini, Pak Dis menginstruksikan kepada jajaran manajemen PT PAL untuk melepaskan ketiga anak usaha tersebut. Karena selain jauh dari bisnis utama PT PAL, usaha ini bisa mengganggu reputasi dan nama baik PT PAL. Selain kepemilikan PT PAL yang tidak signifikan, pelepasan ini akan membuat PT PAL lebih konsentrasi menyehatkan perusahaan. Sudah terlalu banyak energi yang dicurahkan untuk menyelamatkan PAL di masa lalu. Dan sudah banyak pula uang negara yang digelontorkan kesana. Semua seperti sia-sia. Tahun 2011 PAL masih rugi ratusan miliar rupiah. Namun pada tahun lalu, di bawah manajemen baru, PT PAL telah keluar dari kerugiannya.

Disamping membenahi unit-unit usaha yang salah urus, Dahlan juga mendorong kinerja perusahaan-perusahaan BUMN yang lambat. Angkasa Pura misalnya, sejak di bawah kendali Dahlan kini mulai ngebut menyelesaikan proyek-proyek yang mangkrak. Hasilnya, sebentar lagi rakyat Indonesia bisa menikmati bandar udara baru dengan pelayanan internasional. Di beberapa kota, banyak terminal-terminal bandara yang sempit dan tak layak, mulai direnovasi. Di Bali misalnya, PT Angkasa Pura I telah membangun terminal internasional baru Bandara Ngurah Rai. Terminal ini rencananya akan selesai pada bulan Oktober 2013 dan digunakan untuk menyambut para tamu peserta KTT APEC. Di Medan, PT Angkasa Pura II akan segera meresmikan Bandara Kuala Namu, yang menggantikan Bandara Polonia. Tak hanya itu, Angkasa Pura II juga akan melanjutkan pembangunan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, serta peremajaan Bandara Depati Amir di Pangkal Pinang.

Dahlan juga menggenjot BUMN-BUMN karya untuk terus mempercepat pembangunan infrastruktur. Saat ini, Waskita Karya bersama Hutama Karya dan Adhi Karya, sedang melakukan penyelesaian jalan tol pertama di atas laut, yang menghubungkan antara Bandara Ngurah Rai dengan Nusa Dua dan Benoa. Jika proyek ini selesai, maka akan memberikan inspirasi untuk pembangunan jalan tol di atas laut lainnya. Ke depan, proyek-proyek besar yang akan dikerjakan oleh BUMN karya antara lain Pelabuhan Baru Tanjung Priok yang tendernya telah dimenangkan oleh PT Pembangunan Perumahan, serta Jembatan Selat Sunda yang sedang dalam proses feasibility study. Untuk The New Tanjung Priok, Dahlan menargetkan di tahun 2023 nanti seluruh terminal (7 terminal peti kemas dan 2 terminal produk) telah bisa digunakan. Sehingga pada tahun tersebut, Tanjung Priok bisa menampung sekitar 26 juta teus.

PT Kereta Api Indonesia yang menjadi urat nadi transportasi di Indonesia, juga tak luput dari perhatian Pak Dis. Dahlan berkali-kali menyemprit manajemen KAI untuk segera membenahi pelayanan angkutan massal itu. Hasilnya, di musim mudik 2012 kemarin, tak ada lagi penumpang kereta api yang tak kebagian tempat duduk. Cara pembelian tiket kereta-pun sudah bisa melalui online. Dan yang terpenting jadwal kereta api tak banyak lagi yang molor. Tak cukup itu, Pak Dis juga mendorong manajemen KAI untuk memperbaiki sarana perlintasan, kabin kereta, serta stasiun. Kini, jika kita mengunjungi stasiun-stasiun kereta di seputaran Jabodetabek, maka akan terasa perubahan yang telah dilakukan Pak Dis.

Terobosan Dahlan lainnya yang patut dicatat adalah keberhasilannya menjadikan BUMN sebagai multinational corporation. Hal ini ditandai dengan ditandatanganinya pembelian pabrik semen di Vietnam : Than Long, yang berkapasitas 2,3 juta ton. Dengan pembelian ini, PT Semen Indonesia, Tbk yang baru saja menggeser posisi Siam Cement (Thailand) sebagai pabrik semen terbesar di Asia Tenggara, kian kukuh di depan. Tahun ini Telkom juga mulai berekspansi ke luar negeri, tepatnya ke Timor Leste. Selama ini telekomunikasi Timor Leste dikuasai perusahaan Portugal. Tahun depan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk mulai beroperasi disana. Tekad direksi Telkom tidak kecil : menguasai pasar telekomunikasi eks-propinsi Indonesia itu. Di samping Semen Indonesia dan Telkom, beberapa BUMN besar juga didorong untuk terus mengembangkan sayap. Kalau dulu Indonesia dikenal sebagai tukang jual BUMN, kini berubah total giliran BUMN yang beli, beli, beli.

Sejak ditunjuk sebagai Menteri Negara BUMN oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Dahlan langsung tancap gas. Targetnya ingin menjadikan BUMN sebagai tangan kiri pemerintah, yang bisa menopang APBN. Meski ia sempat divonis dokter hanya bertahan hidup enam bulan — sejak diketahui mengidap sirosis dan kanker hati, namun hal itu tak mempengaruhi kinerjanya. Dahlan seperti halnya ketika menakhodai Grup Jawa Pos dulu, masih terlihat ligat. Ia tak terlalu memikirkan kesehatannya ketika harus melakukan perjalanan yang cukup panjang. Sewaktu menjabat dirut PLN, ia berhari-hari nginap di rumah-rumah penduduk. Melakukan blusukan hingga ke pedalaman. Begitu pula halnya ketika menjadi menteri. Pak Dis tak segan-segan mengemudi mobil listrik yang sedang berujicoba atau turun ke sawah untuk menanam benih.

Kini setelah satu setengah tahun Dahlan duduk di Kementerian BUMN, telah banyak perusahaan-perusahaan negara yang terselamatkan. Belajar manajemen ala Dahlan Iskan, ternyata tak semua perusahaan yang hampir kolaps, persoalan utamanya terletak pada permodalan. Memberikan kepercayaan lebih kepada manajemen perusahaan untuk bertindak, sebenarnya bisa mengangkat perusahaan itu dari kebangkrutan. Hal inilah yang dilakukan oleh Dahlan terhadap PT IKI dan PT Batantekno. Pelajaran lainnya yang bisa dipetik dari Pak Dis adalah caranya melakukan efisiensi dan sinergi. Setelah berhasil melakukan holdingisasi pada perusahaan semen dan pupuk, tahun 2014 nanti Dahlan akan menyelesaikan merger perusahaan-perusahaan pangan. Dahlan berharap nantinya hanya ada sekitar 87 perusahaan BUMN yang semuanya sehat dan bugar. Sehingga cita-citanya menjadikan BUMN sebagai cash cow bagi pemerintah bisa terealisasi.

Dari sekian banyak menteri pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua, Dahlan bisa dikatakan salah satu yang berhasil. Pembawaannya yang santun dan ramah terhadap wartawan, menjadikannya sebagai media darling. Hampir sebagian besar liputan tentang dirinya, bernada positif. Meski banyak dipuja sana-sini, Dahlan kerap tampil sederhana dan rendah hati. Ketika ia salah menuduh anggota DPR Mohammad Ichlas el-Qudsi (Michel) sebagai salah seorang pemeras BUMN, ia langsung mendatangi rumah orang tua Michel di Padang. Disana ia meminta maaf sembari mencium tangan orang tua Michel, yang sempat sakit karena tuduhan tersebut. Dahlan yang merupakan lulusan “sekolah” Muhammadiyah menyadari, bahwa dosa terhadap sesama manusia tak akan termaafkan sebelum kita meminta maaf langsung kepada pihak yang bersangkutan.

Itulah sekilas sosok Dahlan Iskan, salah satu tokoh inspiratif dan harapan Indonesia. Semoga dengan masuknya Pak Dis ke dalam jajaran pemerintahan, bangsa Indonesia akan semakin baik lagi. Ayo terus berkarya Pak Dahlan. Kami mendukungmu !

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | | 31 July 2014 | 17:04

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Ke Candi; Ngapain Aja? …

Ikrom Zain | | 31 July 2014 | 16:00

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Jangan Tulis Dulu Soal Wikileaks dan …

Bang Pilot | 9 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 13 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 14 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 17 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: