Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Arif Rochman

Komite dan Guru Pendidikan Agama Islam (PAI)SMK Ma’arif 2 Gombong, Kebumen, Jateng. Mahasiswa S.2 Pasca selengkapnya

MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

OPINI | 20 March 2013 | 21:31 Dibaca: 1558   Komentar: 4   0

strong>SUMBER DAYA MANUSIA DALAM PENINGKATAN PROFESIONALITAS GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Semester 3 (Tiga) mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia Guru Pendidikan Agama Islam.

Dosen pengampu: Prof. Dr. Sukarno, M.Si

Oleh: Arif Rochman, S.Pd.I Mahasiswa Program Pasca Sarjana S.2 Kelas: A/ 225.8.1.11 Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I) UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ) JAWA TENGAH DI WONOSOBO TAHUN 2012/ 2013

/p>

strong>Pendahuluan Salah satu sumber daya yang penting dalam manajemen adalah sumber daya manusia atau human resources. Pentingnya sumber daya manusia ini, perlu disadari oleh semua tingkatan manajemen termasuk juga manajemen pendidikan Islam. Bagaimanapun majunya teknologi saat ini, namun faktor manusia tetap memegang peranan penting bagi keberhasilan suatu organisasi. Bahkan dapat dikatakan bahwa manajemen itu pada hakikatnya adalah manajemen sumber daya manusia atau manajemen sumber daya manusia adalah identik dengan manajemen itu sendiri. Berhasil dan tidaknya sebuah tujuan didalam bidang apapun termasuk dalam bidang pendidikan islam maka disitu terkait erat dengan faktor sumber daya manusia yang ada dalam pengelolaan kerja pendidikan islam. Sumber daya manusia merupakan salah satu parameter sentral didalam dunia kerja, disamping faktor pendukung yang lain seperti teknologi, organisasi dan lain sebagainya. Sudarmayanti dalam Ida Siti Zubaedah mengatakan Sumber Daya Manusia merupakan asset utama suatu organisasi yang menjadi perencana dan pelaku aktif dari setiap aktivitas organisasi. Mereka mempunyai pikiran, perasaan, keinginan, status dan latar belakang pendidikan, usia, jenis kelamin yang heterogen yang dibawa ke dalam suatu organisasi.[   Sudarmayanti, Sumber Daya manusia dan Produktivitas Kerja, Madar maju, Bandung 2001. (dalam Tesis-nya Ida siti Zubaedah di Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat 2007 UNDIP ). ] Peningkatan manajemen Sumber daya Manusia Pendidikan Islam menjadi sesuatu yang mutlak dalam era globalisasi sekarang ini karena tuntutan- tuntutan persaingan yang terus berputar tanpa henti dengan segala resiko perubahan- perubahan yang sangat cepat, yang menuntut penyesuaian- penyesuaian dan inovasi untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun global yang ada. Guru pendidikan islam harus bersedia dan siap untuk menghadapi segala perubahan- perubahan yang ada dengan peningkatan keilmuan, profesionalitas dan daya dukung yang berkaitan dengan pendidikan islam, agar lembaga pendidikan islam bisa survive dalam kancah dunia lokal, nasional maupun global dengan segala tuntutannya.

Langkah- langkah peningkatan Manajemen SDM Pendidikan Islam. Banyak proses yang harus dilalui oleh kerja pendidikan islam yang harus dilakukan didalam peningkatan sumber daya manusia yang ada, Baik itu yang bersifat organisasional maupun personal. Diantaranya adalah melakukan langkah- langkah yang fundamental konferhensif, antisipatif, dan solutif didalam peningkatan sumber daya manusia pendidikan islam. Secara langsung atau tidak, tersurat maupun tersirat bahwa yang namanya kata dan maksud peningkatan, utamanya yang dimaksud peningkatan manajemen sumber daya manusia merupakan keharusan didalam salah satu ajaran prinsip kita didalam beragama, sebagaimana tersebut dalam sebuah Hadist berikut; “Orang yang hari ini sama dengan hari kemarin, atau orang yang hari esok sama dengan hari ini, orang itu akan merugi. Orang yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin orang itu sungguh celaka, tetapi apa bila hari ini lebih baik dari kemarin, atau hari esok lebih baik dari hari ini, maka orang itu akan beruntung” ( al-Hadits ). Hadist terebut diatas merupakan salah satu ajaran Islam yang menganjurkan pemeluk islam untuk selalu berbuat dan menjalankan kebaikan setiap saat dalam segala bidangnya, dengan berprinsip bahwa setiap saat setiap hari untuk selalu berkualitas dan berprestasi dalam setiap hari untuk semakin maju dalam hari- hari yang di jalankannya. Dan dalam konteks menjadi Guru Pendidian Islam berarti untuk selalu meningkatkan Sumber daya manusianya utamanya sebagi personalitasnya sebagai guru pendidikan islam, dan secara umum adalah peningkatan manajemen dan organisasionalnya Lembaga Pendidikan Islam. Terdapat berbagai macam kerugian- kerugian didalam pengelolaan manajemen sumber daya manusia apabila foktor tersebut tidak diperhatikan kualitasnya, maka peningkatan SDM merupakan sebuah kebutuhan yang wajib bagi umat Islam sesuai dengan makna Hadist yang tersebut diatas. Dan sesuatu yang menjadikan sebuah perkara itu wajib maka hal- hal yang menjadikan perkara tersebut sempurna maka hukumnya adalah wajib dilaksanakan. Seperti sebah kaidah yang berbunyi “Ma la yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajib” yang artinya Jika suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib juga hukumnya.‌ Berdasarkan pengertian Hadist diatas maka Manajemen Sumber Daya Manusia Pendidikan Islam harus diterjemahkan dalam konteks sistem manajemen operasional kehidupan organisasional sistem kerja Guru Pendidikan Islam. Maka sudah seharusnya organisasional sebuah lembaga pendidikan islam melakukan- langkah- langkah peningkatan manajemen sumber daya manusia guru pendidikan islam, dengan berbagai macam cara semisal penyelenggaraan pelatihan profesionalitas dan lain- lain. Jika kita mengacu pada kaidah yang tersebut diatas bahwa jika pengembangan manajemen sumber daya manusia guru pendidikan agama islam bisa menjadikan kesempurnaan tercapainya sebuah tujuan kemajuan kualitas guru pendidikan islam, maka sesuatu yang berhubungan dengan proses- proses peningkatan kualitas guru pendidikan agama islam menjadi perkara wajib untuk dilaksanakan oleh sebuah sistem lembaga tersebut. Pendidikan dalam MSDM adalah kegiatan pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan secara total pegawai diluar kemampuannya pada bidang pekerjaan atau jabatan yang dipegang pada saat itu. Sedangkan pelatihan dimaksudkan kegiatan yang diselenggarakan dengan tujuan meningkatkan produktifitas atau hasil kerja pegawai atau anggota organisasi dalam hubungannya dengan peningkatan kemampuan pekerjaan (job) pegawai pada saat itu. Pendidikan dan pelatihan merupakan upaya untuk mengembangkan sumber daya manusia, terutama untuk mengembangkan kemampuan intelektual dan keperibadian anggota organisasi. Unit yang menangani pendidikan dan pelatihan (diklat) biasanya disebut pusat pendidikan dan pelatihan). Pendidikan dan pelatihan begitu penting dalam manajemen sumber daya manusia (MSDM) dikarenakan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian cepat sehingga diperlukan penyesuaian pengetahuan dan kemampuan dari sumber daya manusia yang ada dalam organisasi. Untuk mendapatkan sumber daya manusia yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan tuntutan tugas, salah satu diantaranya adalah melalui pendidikan dan pelatihan.[   Abdul Choliq, Diskursus Manajemen Sumber Daya Manusia, Trust Media: Jogjakarta, 2011, hal. 36.] Menurut Sondang P Siagian Manfaat besar lainnya yang dapat dipetik melalui penyelenggaraan pelatihan dan pengembangan MSDM Guru Pendidikan Islam adalah dalam rangka pertumbuhan dan pemeliharaan hubungan yang serasi antara para anggota organisasi. Hal demikian terjadi karena : Terjadinya komunikasi yang efektif; Adanya persepsi yang sama tentang tugas-tugas yang harus diselesaikan; Ketaatan semua pihak kepada berbagai ketentuan yang bersifat normatif, baik yang berlaku umum dan ditetapkan oleh instansi pemerintah yang berwenang maupun yang berlaku khusus dilingkungan suatu organisasi tertentu; Terdapatnya iklim yang baik bagi pertumbuhan seluruh pegawai, dan Menjadikan organisasi sebagai tempat yang lebih menyenangkan untuk berkarya.[ Sondang P. Siagian, Manajemen Sumber daya Manusia, PT Bumi Aksara: Jakarta, 2012, hal;185] Dari berbagai manfaat yang dikemukakan diatas jelas merupakan gambaran yang ideal dari sebuah sistem organisasional pada sebuah institusi atau lembaga pendidikan islam. Dan apabila ilustrasi yang terdapat diatas diterjemahkan dalam bentuk manifestasi sistem kerja oleh institusi atau lembaga khususnya dalam hal ini adalah lembaga pendidikan islam adalah sesuatu yang mutlak yang menjadi prinsip perjuangan lembaga pendidikan islam, sehingga karena memang itu adalah sebuah prinsip perjuangan dan cita- cita dari pendidikan islam maka hal tersebut merupakan sesuatu yang wajib, sesuai dengan makna yang terkandung pada hadist yang terdapat diatas.

Idealitas Manajemen Sumber Daya Manusia Pendidikan Islam Hasil pemikiran dan rancangan- rancangan pengembangan sumber daya manusia pada sebuah lembaga pendidikan harus mendasarkan pada idealitas yang aplikatif didalam pengembangan SDM pada sebuah lembaga pendidikan islam dan utamanya adalah personalitas dari Guru Pendidikan Agama Islam yang berperan penting dalam langkah- langkah dan terobosan peningkatan sumber daya manusia pendidikan islam. Maka untuk itu harus dilakukan dan melakukan sebuah langkah- langkah peningkatan seperti halnya mengadakan pelatihan- pelatihan dan lain sebagainya untuk peningkatan SDM Pendidikan Islam.

Langkah-Langkah Untuk ditempuh Dalam undang- undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, dikemukakan bahwa: profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealis. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan tugas. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan prestasi kerja. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.[   Mulyasa, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosda karya,2007), hlm. 21] Apa yang tersebutkan dalam undang- undang diatas menjadi sebuah pedoman didalam pelaksanaan teknis maupun personalitas dari seorang guru. Target- target yang telah digariskan oleh pemerintah diatas tentunya merupakan sebuah ilustrasi, standar kualitas yang menjadi parameter dari seorang insan yang bergerak dalam dunia pendidikan. Berbagai upaya didalam peningkatan kualitas guru maka beberapa hal perlu dilakukan seperti halnya pendidikan pendalaman dan pelatihan- pelatihan. Agar berbagai manfaat pelatihan dan pengembangan dapat dipetik semaksimal mungkin, berbagai langkah perlu ditempuh. Para pakar pelatihan dan pengembangan pada umumnya sudah sependapat bahwa langkah-langah dimaksud terdiri dari tujuh langkah, yaitu: Penentuan kebutuhan, Penentuan sasaran, Penetapan isi program, Identifikasi prinsip-prinsip belajar, Pelaksanaan program, Identifiksi manfaat, Penilaian pelaksanaan program.[ OpCit. Sondang P Siagian. Hal. 185. ]

Jika langkah dan proses peningkatan sudah dilakukan maka perlu adanya sebuah evaluasi atau penilaian dari sebuah program yang telah ditentukan sebagai upaya untuk mengidentifikasi dari sebuah langkah yang sudah diaplikasikan, sebagai parameter ukuran sejauh mana tingkat keberhasilan program tersebut yang telah dilakukan.

Penilaian Pelaksanaan Program Pelaksanaan suatu program pelatihan dan pengembangan dapat dikatakan berhasil apabila dalam diri peserta pelatihan dan pengmbangan tersebut terjadi suatu proses tranformasi. Proses transformasi tersebut dapat dinyatakan berlangsung dengan baik apabila terjadi paling sedikit dua hal, yaitu: Peningkatan kemampuan dalam melaksanakan tugas Perubahan prilaku yng tercermin pada sikap, disiplin dan etos kerja. Untuk mengetahui terjadi tidaknya perubahan tersebut dilakukan penilaian yang untuk mengukur berhasil tidaknya, yang dinilai tidak hanya segi- segi teknis saja, akan tetapi segi- segi keperilakuan. Dengan demikian jelas bahwa penilaian harus diselenggarakan secara sistematik yang berarti mengambil langkah-langkah berikut: Penentuan kriteria evaluasi ditetapkan sebelum suatu program pelatihan dan pengembangan diselenggarakan dengan tolok ukur yang jelas berkaitan dengan peningkatan kemampuan dan produktifitas kerja dalam posisi atau jabatan sekarang atau dalam rangka mempersiapkan para pekerja menerima pekerjaan baru di masa depan Penyelenggaraan suatu tes untuk mengetahui tingkat pengetahuan, keterampilan dan kemampuan para pekerja sekarang guna memproleh informasi tentang program pelatihan dan pengembangan apa yang tepat diselenggarakan Pelaksanaan ujian pasca pelatihan dan pengembangan untuk melihat apakah memang terjadi trasformasi yang diharapkan atau tidak dan apakah transformasi tersebut tercermin dalam pelaksanaan pekerjaan masing-masing pegawai. Tindak lanjut yang berkesinambungan. Salah satu tolok ukur penting dalam menilai berhasil tidaknya suatu program pelatihan dan pengembangan ialah apabila transformasi yang diharapkan memang terjadi untuk kurun waktu yang cukup panjang di masa depan, tidak hanya segera setelah program tersebut selesai diselenggarakan. Hal ini sangat penting mendapat perhatian karena memang benar bahwa hasil suatu program pelatihan dan terutama, pengembangan tidak selalu terlihat dengan segera.[ Ibid; hal: 202-203 ]

1. Orientasi Program orientasi yang efektif melibatkan karyawan baru secara aktif, karakteristik program ini adalah: Dalam orientasi karyawan didorong untuk bertanya tentang segala sesuatu yang belum jelas baginya. Program orientasi meliputi pula informasi tentang ospek teknikal dan sosial dari pekerjaan. Orientasi adalah tanggung jawab manajer langsung dari karyawan baru tadi. Harus dihindarkan membuat karyawan baru, merasa bingung dan rendah. Dalam orientasi akan terjadi interaksi formal dan informal dengan para manajer dan rekan sekerja. Adanya bantuan relokasi bagi karyawan dn keluarganya terutma jika karyawan berasal dari luar kota. Diperkenalkan dengan barang/jasa yang dihasilkan, perusahaan serta konsumen perusahaan.[ Jusmaliani, Pengeolaan Sumberdaya Insani, PT Bumi Aksara: Jakarta, 2011, hal: 95 ]

2. Sosialisasi Sosialisasi adalah suatu proses yang berlanjut dalam upaya menanamkan pada semua karyawan, sikap, standar, nilai- nilai dan pola prilaku yang diharapkan dari mereka. Ini adalah suatu proses yang digunakan untuk mentransformasikan kryawan baru menjadi anggota perusahaaan yang efektif. Menurut Noe et.al. Ada tiga tahapan dalam sosialisasi, yaitu: a) Sosialisasi yang telah diantisipasi sebelumnya (anticipatory socialzation) tahap ini terjadi sebelum karyawan masuk kedalam perusahaan. Pada periode rekrutmen dan seleksi, interaksi karyawan baru dengan pewawancara, manajer dan calon-calon rekan kerja telah terjadi dan pada kesempatan ini ekspektasi mereka tentang perusahaan, pekerjaan, kondisi kerja dan hubungan interpersonal mulai terbentuk. b) Tahap perkenalan atau pertemuan. Tahap sosialisasi yang terjadi ketika karyawan memulai pekerjaannya barunya. Karyawan baru menganggap manajer sebagai sumber informasi terpenting tentang pekerjaan dan perusahaan. Sifat dan kualitas hubungan antar karyawan baru dan manajer merupakan dampak yang signifikan dari sosialisasi c) Tahap settling- in. Tahap sosialisasi yang terjadi ketika karyawan telah merasa nyaman dengan tuntutan pekerjaan dan hubungan sosial. Mereka mulai belajar mengatasi konflik dalam pekerjaan yang terjadi (misal beban kerja terlalu berat atau tuntutan pekerjaan yang saling bertentangan) dan konflik antar kegitan kerja dan non kerja.

3. Pelatihan dan pengembangan Pelatihan adalah proses melatih karyawan baru atau karyawan yang akan memperoleh penempatan baru dengan keterampilan dasar yang diperlukannya untuk melakukan pekerjaan. Tujuan dari pelatihan adalah agar peserta latih dapat mecapai standar baik keterampilan, dalam pengetahuan maupun dalam tingkah laku.[ Ibid; hal, 99 ] Setidaknya ada dua pihak yang memperoleh manfaat dari pelatihan: a. Perusahaan. Pelatihan yang dilakukan terhadap karyawan bermanfaat untuk meningkatkan laba dan produktifitas perusahaan, untuk meningkatkan pengetahuan tentang pekerjaan dan kemampuan pada setiap tingkatan. Karyawan yang terlatih akan dapat membantu dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan disamping karyawan tadi juga akan paham tentng kondisi dan tujuan perusahaan. b. Individu karyawan. Manfaat yang diperoleh individu adalah meningkatkan percaya diri dan keinginan untuk maju, memudahkan mendapat promosi dan mutasi, meningkatkan tanggung jawab. Selain itu membantu pula dalam menghadapi stres, tekanan, frustasi dan konflik.[ ibid; hal, 104 ] Peningkatan sumber daya manusia guru pendidikan islam harus dilakukan dengan berbagai langkah- langkah yang konstruktif sesuai dengan kebutuhannya, namun untuk menyederhanakan konstruksi tersebut maka setidaknya bisa di garis bawahi sebagai berikut yaitu dengan langkah Pendidikan dan Pelatihan peningkatan manajemen dan kompetensi sumber daya manusia guru pendidikan agama islam. Adapun perbedaan antara Pendidikan dan Pelatihan adalah sebagai berikut; Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia Indonesia, jasmaniah dan rohaniah yang berlangsung seumur hidup, baik didalam maupun diluar sekolah, dalam rangka pengembangan perusahaan Indonesia dan masyarakat adil dan makmur berdasarkan manusia. Latihan adalah bagian pendidikan yang menyangkut proses belajar untuk memperoleh dan meningkatkan ketrampilan diluar sistem pendidikan yang berlaku, dalam waktu yang relatif singkat dengan metode yang lebih mengutamakan praktek dan teori.[ Op Cit. Abdul Choliq. Hal. 107]

4. Prinsip Profesionalitas Guru Pendidikan Agama Islam

Menurut J Drost (2002) sebagaimana dikutip oleh Armai Arief bahwa yang terpenting dalam menentukan kualitas pendidikan adalah cara guru mengajar didepan kelas. Bukan pada kurikulumnya. Karena kurikulum pada dasarnya hampir sama pada setiap negara. Oleh karena itu kombinasi antara kurikulum berbasis kompetensi dengan guru yang berkualitas akan sangat menentukan keberhasilan sebuah proses pembelajaran.[ Armai Arief, Reformulasi Pendidikan Islam, (Ciputat: CRSD PRESS, Ciputat, 2007), hal. 32 ] Sebagaimana pendapat yang ada diatas penulis meyakini bahwa hal tersebut merupakan sebuah sisi kebenaran dalam kerangka kajian masalah tentang pendidikan, bahwa seorang guru memiiki peranan yang sangat penting didalam prosesi kegiatan belajar mengajar dan kemajuan yang terjadi pada peserta didik. Karena seorang guru menempati posisi yang sentral maka perlunya guru yang memiliki kompetensi dan profesionalitas yang ideal karena keterkaitan kemajuan yang akan dicapai oleh peserta didik. Kita tidak bisa hanya mengandalkan sistem kurikulum yang ada pada sebuah lembaga pendidikan, karena sebagus apapun sebuah kurikulum tanpa diimbangi oleh tingkat kompetensi dan profesionalitas seorang guru maka hal tersebut akan menjadi sesuatu yang kurang produktif dalam kerja pendidikan. Lebih lanjut bahwa diperlukan komponen- komponen yang mendukung kompetensi profesional tersebut, diantaranya: a. Kemampuan spesialis, terdiri dari kemampuan: 1) Menguasai keterampilan dan pengetahuan 2) Menggunakan perkakas dan peralatan dengan sempurna 3) Mengorganisasikan dan menangani masalah b. Kemampuan metodik, terdiri dari kemampuan untuk: 1) Mengevaluasi informasi 2) Orientasi tujuan kerja 3) Bekerja secara sistematik c. Kemampuan individu, terdiri dari kemampuan untuk: 1) Selalu berinisiatif 2) Dapat dipercaya 3) Memiliki motivasi tinggi 4) Memiliki kreatifitas yang tinggi. d. Kemampuan sosial, terdiri dari kemampuan untuk: 1) Memiliki komunikasi yang baik dengan semua pihak 2) Dapat bekerja dalam kelompok 3) Dapat bekerja sama dengan baik.[ Ibid. Hal. 32-33 ] Beberapa komponen- komponen yang tersebut diatas memang menjadikan idealitas pada diri seorang guru pendidikan agama islam karena memang hal itu semua diatas merupakan sebuah keharusan dan tuntutan pada diri seorang guru pendidikan agama islam. Profesionalitas seorang guru menjadi hal utama dalam peningkatan kualitas pendidikan agama islam, sebagimana tersebut ini dibahas pada kesempatan diatas. Lebih lanjut dijelaskan oleh Armai Arief bahwa secara umum, kriteria profesi” Profesional” harus memiliki tiga basic kependidikan. Menguasai teori- teori belajar mengajar, karena guru adalah orang yang sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Guru harus pandai, sebab jika guru tidak pandai maka akan dibodohi oleh muridnya. Sebagai sosok yang mempunyai andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, guru harus betul- betul membawa peserta didiknya menjadi orang yang memiliki keunggulan kompetitif dalam konteks global dan menjawab tantangan zaman. Dalam pekerjaannya guru berhak mendapatkan honor atau gaji yang sesuai dengan pengorbanannya. Di indonesia sendiri, gaji dan kesejahteraan guru masih sangat minim.[ Ibid. Hal. 33. ] Ilustrasi diatas merupakan idealitas dari profesionalitas guru pendidikan agama islam yang layak ditekankan bahkan sebuah keharusan yang harus dicapai oleh diri seorang guru maupun lembaga pendidikan islam, dimana hal tersebut menjadi sebuah tuntutan didalam dunia persaingan lembaga pendidikan yang ingin survive. Dibutuhkan kerjasama antar berbagai pihak yang berkepentingan, mulai dari diri seorang guru yang harus selalu meningkatkan profesionalitasnya, kepala sekolah sebagai pimpinan beserta jajaran pejabatnya, lembaga pendidikan tersebut/ yayasan tersebut, dan juga pihak pemerintah yang menangani dunia pendidikan, selain itu juga dibutuhkan saling kerjasama antar dewan guru sebagai team work kerja pendidikan.

Kesimpulan Dari sekian pembahasa yang penulis jabarkan dengan berbagai referensi yang ada maka ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan sebagai poin- poin yang menjadi perhatian pada pembahasan ini, diantaranya adalah; Manajemen pengembangan guru pendidikan islam adalah sesuatu yang wajib untuk dilakukan dan dilaksanakan. Pengembangan potensi guru pendidikan agama islam harus melibatkan stake holder yang saling berkaitan dalam pendidikan islam. Peningkatan kualitas guru pendidikan agama islam menjadi sebuah tuntutan yang harus disediakan oleh penyelenggara pendidikan islam. Penyelenggara pendidikan islam harus responsif dalam setiap perubahan tuntutan peningkatan kualitas guru pendidikan agama islam.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 4 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 5 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 7 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 7 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 8 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Sayang Dijadikan Sebuah Alasan Untuk …

Fairusyifa Dara | 7 jam lalu

Semarak Pesta Rakyat Situ Bungur (Bingkai …

Agung Han | 8 jam lalu

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 8 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 9 jam lalu

ATM Susu …

Gaganawati | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: