Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Gusti Ayu Made Mas Marhaeni

21 years old ; Hindu ; Denpasar - Bandung ; Aquarian ; Fresh Graduated from Telkom Institute of Management

Wartegg Test, antara Keinginan dan Kejujuran

OPINI | 01 May 2013 | 23:04 Dibaca: 3939   Komentar: 2   2

Dalam proses seleksi karyawan baru, masing-masing perusahaan memiliki tahapan-tahapan yang berbeda. Namun dari semua tahapan yang harus dilalui calon karyawan tersebut, keberadaan test psikologi – atau kerap disebut psikotest – adalah hampir pasti, walaupun urutan pelaksanaannya mungkin berbeda. Menurut Prasetyono (2011:11), pimpinan perusahaan percaya bahwa seleksi dengan menggunakan tes psikologi akan memperlakukan para calon yang disarankan dengan baik dan dapat berkembang dengan baik dalam bekerja. Psikotest merupakan suatu pemeriksaan psikologis dengan alat-alat ukur tertentu (dalam bentuk soal-soal tes) yang diciptakan oleh para pakar psikologi, untuk membedakan perilaku seseorang dengan orang lain. Tes tersebut dapat berbentuk tertulis, visual, atau evaluasi secara verbal yang teradministrasi untuk mengukur fungsi kognitif dan emosional.

Salah satu tools psikotest yang terkenal adalah tes melengkapi gambar atau Wartegg test. Dalam test ini, akan diberikan selembar kertas dengan delapan kolom berisi titik, garis, maupun bentuk lain sehingga masing-masing kolom memiliki satu bentuk untuk kemudian kita melengkapinya agar menjadi satu gambar yang utuh. Setelah selesai melengkapi gambar, peserta test pun diminta untuk memberi tanda urutan gambar yang diselesaikan pertama kali hingga terakhir, serta gambar mana yang dianggap paling mudah, sulit, disukai, dan tidak disukai.

13674241701561341051

Sebelum mengikuti psikotest, seperti sudah menjadi keharusan bagi calon karyawan untuk mempersiapkan diri menghadapi soal-soal psikotest, tak terkecuali untuk Wartegg Test. Banyak buku latihan soal psikotest yang memuat tips dan trik untuk dapat lolos seleksi psikotest. Namun, persoalannya akan jadi berbeda ketika banyak buku yang menyarankan apa yang semestinya dilakukan peserta psikotest untuk dapat melalui Wartegg test dengan baik. Padahal, tes ini bertujuan untuk mengetahui kepribadian calon karyawan dengan sebenar-benarnya. Ketika calon karyawan telah memperoleh input berupa informasi yang diperoleh melalui buku-buku psikotest, kecenderungan untuk mengikuti tips dan trik tersebut akan semakin tinggi, sebanding dengan besarnya keinginan mereka untuk dapat melalui tes ini dengan harapan dapat diterima sebagai karyawan di perusahaan yang diinginkan.

Memang dilematis, antara keinginan calon karyawan untuk dapat lulus tes ini dan keharusan mengikuti tes dengan jujur untuk mengetahui kepribadian calon karyawan yang sebenarnya. Tentu ada risiko yang dihadapi calon karyawan dengan mengikuti apa yang disarankan dalam buku psikotes. Ketika hasil yang ditunjukkan dalam Wartegg test justru berbeda jauh dengan rangkaian psikotes lainnya, tentu para tester mengetahui adanya ketidakjujuran ketika melengkapi gambar yang diminta. Atau ketika nantinya calon karyawan dapat lolos tes dengan mengikuti apa yang disarankan buku psikotes namun bertentangan dengan kepribadiannya sendiri, mungkin calon karyawan tersebut memperoleh pekerjaan yang baik di perusahaan. Namun, seringkali seiring berjalannya waktu akan muncul hal-hal yang dirasa tidak nyaman, sebagai output dari kepribadian yang sebenarnya berbeda dengan hasil yang ditunjukkan saat psikotest.

Mungkin risiko-risiko tersebut yang mendasari para tester psikotest ini untuk memberi pengarahan sebelum test dimulai. Umumnya para tester akan mengatakan bahwa dalam pelaksanaan psikotest, pengetahuan-pengetahuan yang calon karyawan peroleh melalui buku-buku psikotes harap tidak diterapkan dalam test yang akan diikuti karena tujuan sesungguhnya dari psikotes adalah untuk melihat potensi dalam diri calon karyawan, bukan untuk tampil sebagai sosok dengan personalitas ideal yang diharapkan. Untuk itu, kejujuran dalam melakukan tes ini sangat diperlukan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Mejikuhibiniu: Perlukah Menghapal Itu? …

Ken Terate | | 25 October 2014 | 06:48

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 8 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 9 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 12 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Sejarah Munculnya Lagu Bunuh Diri Dari …

Raditya Rizky | 8 jam lalu

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 9 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: