Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Siko Wiyanto

Seorang hamba Allah, seorang suami, dan seorang PNS.

Dilema Indikator Kinerja Utama

OPINI | 11 May 2013 | 06:38 Dibaca: 244   Komentar: 0   0

Ketika kita mengendarai sepeda motor atau mobil, kita akan sering menengok ke dashboard. Di sana ada jarum yang menunjukkan angka kecepatan. Semakin besar angka yang ditunjukkan laju mobil maka semakin kencang jalannya. Jika kita memilih motor untuk balapan, maka sudah sewajarnya kita memilih yang paling cepat. Begitulah dengan Indikator Kinerja Utama (Key performance Indicator). Dalam manajemen moderen Key Performance Indikator (KPI) adalah tolok ukur untuk menentukan arah kebijakan suatu entitas. Jika sampai salah menentukan KPI, maka keberhasilan entitas lah yang dipertaruhkan.

Bisa saja orang salah melihat jarum. Angka putaran mesin dapat dikira angka kecepatan, padahal keduanya berbeda. Memang kita membutuhkan kejelian dalam menentukan indikator kinerja. Mudah bagi perusahaan penjualan menentukan KPInya, tinggal dilihat saja omset penjualan dan laba bersih yang dicapai. Sementara susah ketika kita harus mengukur kinerja organisasi nirlaba. Masalahnya adalah tidak semua kinerja dapat dijadikan angka. Padahal tanpa indikator kinerja, kita seperti musafir dalam kegelapan, tidak tahu telah sampai di mana. Kita juga tidak tahu apakah telah berada di jalan yang benar.

Banyak entitas salah menentukan KPI. Agar benar dalam menentukan tolok ukur kinerja, maka yang perlu kita perhatikan adalah visi. Misalnya, sekolah menengah teknologi (SMK) memiliki visi “Menjadi sekolah terdepan dalam menyediakan tenaga kerja yang terampil dan mampu memenuhi tuntutan global”. Artinya sekolah ini ingin para lulusannya memiliki kompetensi dan terserap oleh pasar tenaga kerja. Jadi KPInya adalah, persentase jumlah alumni yang bekerja setiap tahun. Mau tidak mau SMK ini harus mereformasi sistem informasinya. Memang bukan cara mudah mengetahui apakah seorang alumni sudah bekerja atau belum.

Selain itu, KPI harus dapat dirinci sampai kepada unit organisasi terkecil bahkan sampai individu pegawai. Jika di pabrik perakitan komputer, kita mudah mengukur kinerja setiap pegawai. Kita tinggal menghitung berapa jumlah komputer yang bisa dirakit dalam sehari. Namun, kita akan susah mengukur kinerja seorang sekretaris. Apakah dari surat yang ia administrasikan, atau dari jadwal kegiatan sang bos yang ia agendakan, atau dari setiap senyuman yang ia berikan. Butuh dengar pendapat pegawai dalam menentukan KPI agar tidak ada yang merasa dirugikan.

Jika pada suatu kendaraan, ketika kita melihat kecepatan sebagai indikator kinerja inti. Maka kita juga harus dapat mengukur kinerja efisiensi bahan bakar, daya aerodinamikanya, daya tahan suspensi, ketegangan rantai, tingkat emisi gas buang dan sebagainya. Indikator kinerja utama dalam pemerintahan adalah hal yang harus dilihat untuk menilai apakah program reformasi birokrasi berhasil (on the track) atau gagal (off the track).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Registrasi Online Kompasianival 2014 …

Kompasiana | | 15 September 2014 | 01:36

Pelaut dan Makanan …

Gunawan Setyono | | 15 September 2014 | 05:20

Sebaiknya Minum Obat Penunda Haid atau Tidak …

Rumahkayu | | 14 September 2014 | 23:57

Cara Mudah Pantau Smartphone Android dari …

Fahmi Kompas | | 13 September 2014 | 09:09

Beri Nama untuk Maskot Kompasiana, yuk! …

Kompasiana | | 03 September 2014 | 15:52


TRENDING ARTICLES

Koalisi Pembodohan …

Zulfikar Akbar | 5 jam lalu

Budaya Bali Tak Pernah Minder …

Pradhany Widityan | 6 jam lalu

Bangga Menjadi WNI …

Alfarizi | 9 jam lalu

Ahok Sebut Nachrowi Jadi Wagub, Nara Girang …

Sahroha Lumbanraja | 10 jam lalu

Kerennya Taman Film Bandung …

Fajr Muchtar | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Menelisik Peredaran Dana dalam Pilkada …

Andi Chairil Furqan | 7 jam lalu

DPR RI Masuk Guiness Book of Record …

Susy Haryawan | 7 jam lalu

Jokowi dan UU Pilkada Potret Kenegarawanan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Ahok Emang Cerdas Kwadrat …

Ifani | 8 jam lalu

Fenomena One-Hit Wonders dalam Sepak Bola …

Handy Fernandy | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: