Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Siko Wiyanto

Seorang hamba Allah, seorang suami, dan seorang PNS.

Dilema Indikator Kinerja Utama

OPINI | 11 May 2013 | 06:38 Dibaca: 237   Komentar: 0   0

Ketika kita mengendarai sepeda motor atau mobil, kita akan sering menengok ke dashboard. Di sana ada jarum yang menunjukkan angka kecepatan. Semakin besar angka yang ditunjukkan laju mobil maka semakin kencang jalannya. Jika kita memilih motor untuk balapan, maka sudah sewajarnya kita memilih yang paling cepat. Begitulah dengan Indikator Kinerja Utama (Key performance Indicator). Dalam manajemen moderen Key Performance Indikator (KPI) adalah tolok ukur untuk menentukan arah kebijakan suatu entitas. Jika sampai salah menentukan KPI, maka keberhasilan entitas lah yang dipertaruhkan.

Bisa saja orang salah melihat jarum. Angka putaran mesin dapat dikira angka kecepatan, padahal keduanya berbeda. Memang kita membutuhkan kejelian dalam menentukan indikator kinerja. Mudah bagi perusahaan penjualan menentukan KPInya, tinggal dilihat saja omset penjualan dan laba bersih yang dicapai. Sementara susah ketika kita harus mengukur kinerja organisasi nirlaba. Masalahnya adalah tidak semua kinerja dapat dijadikan angka. Padahal tanpa indikator kinerja, kita seperti musafir dalam kegelapan, tidak tahu telah sampai di mana. Kita juga tidak tahu apakah telah berada di jalan yang benar.

Banyak entitas salah menentukan KPI. Agar benar dalam menentukan tolok ukur kinerja, maka yang perlu kita perhatikan adalah visi. Misalnya, sekolah menengah teknologi (SMK) memiliki visi “Menjadi sekolah terdepan dalam menyediakan tenaga kerja yang terampil dan mampu memenuhi tuntutan global”. Artinya sekolah ini ingin para lulusannya memiliki kompetensi dan terserap oleh pasar tenaga kerja. Jadi KPInya adalah, persentase jumlah alumni yang bekerja setiap tahun. Mau tidak mau SMK ini harus mereformasi sistem informasinya. Memang bukan cara mudah mengetahui apakah seorang alumni sudah bekerja atau belum.

Selain itu, KPI harus dapat dirinci sampai kepada unit organisasi terkecil bahkan sampai individu pegawai. Jika di pabrik perakitan komputer, kita mudah mengukur kinerja setiap pegawai. Kita tinggal menghitung berapa jumlah komputer yang bisa dirakit dalam sehari. Namun, kita akan susah mengukur kinerja seorang sekretaris. Apakah dari surat yang ia administrasikan, atau dari jadwal kegiatan sang bos yang ia agendakan, atau dari setiap senyuman yang ia berikan. Butuh dengar pendapat pegawai dalam menentukan KPI agar tidak ada yang merasa dirugikan.

Jika pada suatu kendaraan, ketika kita melihat kecepatan sebagai indikator kinerja inti. Maka kita juga harus dapat mengukur kinerja efisiensi bahan bakar, daya aerodinamikanya, daya tahan suspensi, ketegangan rantai, tingkat emisi gas buang dan sebagainya. Indikator kinerja utama dalam pemerintahan adalah hal yang harus dilihat untuk menilai apakah program reformasi birokrasi berhasil (on the track) atau gagal (off the track).

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Sebenarnya, Berapa Sih Jumlah Caleg Gagal di …

Politik 14 | | 23 April 2014 | 14:46

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 19 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 21 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 22 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 23 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: