Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Mita

Minat yang terlalu sering berubah-ubah

Teori Manajemen dan Jokowi

OPINI | 03 June 2013 | 17:24 Dibaca: 2544   Komentar: 19   7

Pemberitaan terus menerus mengenai kiprah Jokowi di Jakarta terus membombardir kita.  Banyak tanggapan, kritikan dan masukan dari berbagai pihak baik itu sehabis blusukan, habis nonton konser, habis press conference, habis berkomentar tentang sesuatu di berbagai media interaktif.

Pemberitaan media bagaimanapun tidak menyeluruh, hanya melaporkan kegiatan yang terlihat, tetapi yang terjadi dibalik kantor tidak akan kelihatan.   Padahal, justru kegiatan yang tidak kelihatan inilah kemampuan Jokowi sedang dikerahkan, kemampuan manajerial yang tidak dipunyai oleh kebanyakan pemimpin pemerintahan.

Manajemen dalam definisi sederhananya adalah ilmu atau seni untuk menyelesaikan tugas / tujuan melalui orang lain.  Jadi, seorang manajer yang baik bukan yang sibuk dan lelah pontang panting melakukan pekerjaan sendirian sementara timnya bersantai-santai.  Bukan juga seorang pemimpin yang tidak melakukan apa-apa sementara timnya sibuk berusaha terlihat bekerja tanpa tahu apa hasil yang ingin dicapai.  Disinilah terlihat keahlian manajemen Jokowi yang tidak terlihat dari pemimpin daerah lain.

Pertama-tama yang kita ketahui ketika Jokowi dilantik dia membuat  pembagian tugas dengan wakilnya, bahwa Jokowi bertugas ‘keluar’, sedangkan Basuki bertanggungjawab ‘kedalam’ rumahtangga pemprov.  Hal ini yang harus dilakukan seorang manajer, memberi dan membagi tugas, mengkomunikasikan tujuan, mengkomunikasikan hasil yang ingin dicapai  dan melakukan pengawasan selama perjalanannya.

Kedua, Jokowi langsung blusukan.  Untuk yang pesimis hal ini dipandang terlalu menjilat, pencitraan, tidak efektif dansebagainya.  Tapi menurut saya ini merupakan tindakan terbaik Jokowi diawal tugasnya untuk mengumpulkan sampel sampel fakta dan menginventarisir sebelum melakukan pengambilan keputusan.  Sangat penting dalam proses ‘hand over’ atau serah terima untuk mencatat dan menginventarisir semua hal yang ditinggalkan pemimpin lama supaya tidak kebingungan dalam mengelola tugas yang baru.  Tentu saja bukan hanya blusukan cara mencari fakta, pastinya didukung dengan data-data tertulis.   Setelah permasalahan diinventarisir, mulailah diambil pengambilan keputusan.

Seorang manajer yang baik adalah seorang yang bisa mendelegasikan pekerjaannya.  Jokowi barangkali berada dalam perbatasan ‘manajer yang melakukan segala sesuatunya seorang diri’ dan manajer yang ahli mendelegasi.  Atau kemungkinan kedua, dia sedang melatih timnya untuk menerima kewenangan perlahan-lahan.  Karena kemarin-kemarin sudah ada di berita mengenai konpers dari kepala-kepala dinasnya mengenai berbagai hal sehingga bisa disimpulkan bahwa pendelegasian wewenang sudah dilakukan.

20120920JusufKalla-Jokowi-200912-wsGambar dari flickr

Dari fakta-fakta ini bisa disimpulkan bahwa Jokowi adalah seorang manajer handal.  Seorang manajer harus bisa mengkomunikasikan tujuan yang ingin dicapai kepada seluruh timnya, membagi tugas dan kewenangan, terus mengawasi, dan juga yang paling penting memberi contoh.  Tipe-tipe pemimpin yang serupa dengan pak Jokowi adalah Dahlan Iskan dan pak H Jusuf Kalla.  Bukan merupakan kebetulan kalau mereka semua berlatarbelakang pengusaha sukses.    Seorang pemimpin belum tentu manajer, seorang manajer belum tentu pemimpin.

Untuk memilih presiden Indonesia di tahun 2014 carilah seorang manajer sekaligus pemimpin handal yang bisa memimpin dan memotivasi timnya untuk bebenah, merubah, membersihkan, merapikan, membangun, menjaga, merawat, meningkatkan kemakmuran: Indonesia, tugas yang sangat berat.

Prabowo, Mahfud MD, Megawati, Anis Baswedan, SBY barangkali pemimpin, tapi mereka bukan manajer.  Setidaknya sampai sekarang belum terlihat kemampuan manajerial mereka.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Membatik di Atas Kue Bolu bersama Chef Helen …

Eariyanti | | 02 October 2014 | 21:38

Ka’bah dan Haji Itu Arafah …

Lidia Putri | | 02 October 2014 | 18:06

Nasib PNPM Mandiri di Pemerintahan Jokowi …

Ali Yasin | | 02 October 2014 | 10:05

Teror Annabelle, Tak Sehoror The Conjuring …

Sahroha Lumbanraja | | 02 October 2014 | 16:18

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Ternyata, Anang Tidak Tahu Tugas dan Haknya …

Daniel H.t. | 6 jam lalu

Emak-emak Indonesia yang Salah Kaprah! …

Seneng Utami | 8 jam lalu

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 10 jam lalu

KMP: Lahirnya “Diktator …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu

Dahsyatnya Ceu Popong! …

Aqila Muhammad | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Gara-gara Incest di Jerman, Nginap di Hotel …

Gaganawati | 7 jam lalu

Usul Gw kepada Anggota Dewan …

Bhre | 7 jam lalu

PKC # 3: Kekasih Baru …

Ervipi | 7 jam lalu

Ini Baru #Shame On You# Jika PSC Off Ticket …

Aprindah Jh | 8 jam lalu

Negeriku Tercabik …

Rahab Ganendra | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: