Back to Kompasiana
Artikel

Manajemen

Hendra Wardhana

menyukai Anggrek Alam Indonesia | tidak suka rokok dan masakan pedas | @_hendrawardhana | wardhanahendra.blogspot.com

Tahu & Tempe, Cerita Pilu Kedaulatan Pangan Indonesia

OPINI | 28 August 2013 | 19:12 Dibaca: 271   Komentar: 0   1

Baru saja saya melihat berita tentang rupiah yang makin goyah hingga menembus 10.900 per dollar. Lalu berita itu disambung dengan dampak yang memukul para pembuat tempe dan tahu karena harga kedelai semakin melambung. Di saat yang sama saya menonton semua berita itu sambil menikmati beberapa potong tempe goreng yang beberapa saat lalu saya beli di pinggir jalan ketika pulang.

Saat itulah saya teringat lagi kalau di sebuah daerah  di  Pegunungan Menoreh, Yogyakarta, tempe adalah makanan istimewa bagi penduduknya. Di sana  tempe hanya dimakan oleh penduduk yang lebih berada atau disajikan di acara tertentu seperti ketika ada kunjungan Camat atau Bupati.  Lalu bagaimana saat ini?. Ketika saya dan mungkin banyak orang lain masih bisa dengan mudah membeli dan menikmati tempe sebagai cemilan, maka orang-orang yang sehari-harinya mengharapkan tempe sebagai lauk makannya boleh jadi akhirnya mengalah.

1377691654713088301

Sebagai penggemar tahu dan tempe yang menjadikan keduanya menu wajib setiap hari, kelangkaan atau naiknya kedua makanan tersebut tentu tidak saya inginkan. Tahu dan tempe terlanjur jadi makanan favorit saya, melebihi daging ayam sekalipun. Namun kini penikmat tahu dan tempe perlu bersiap  jika harus puasa menikmati makanan kaya protein nabati tersebut. Jika bukan karena harganya naik maka mungkin karena kedua makanan tersebut menjadi langka di pasar.

Beberapa dari kita mungkin masih ingat apa yang terjadi pada Juli 2012 yang lalu. Ketika itu melambungnya harga kedelai melatarbelakangi sekelompok pembuat tahu dan tempe melakukan aksi mogok produksi selama 3 hari. Lantas mengapa harus mogok ?. Apakah harga bahan dasar kedelai tak sanggup lagi mereka jangkau ?. Itu memang salah satu alasannya. Namun sesungguhnya ada pesan yang lebih besar lagi dari mereka yang menggantungkan hidupnya pada  tahu tempe.

Kini keadaan itu kembali berulang. Nasib pembuat tahu dan tempe seakan menjadi pesan kesekian kalinya sekaligus pelajaran keras bagi pemerintah agar memperhatikan rakyat kecil salah satunya dengan mengendalikan harga kedelai. Selama ini pemerintah kerap dinilai gagal mengendalikan harga beberapa kebutuhan pokok rakyat. Dan khusus kedelai kita pantas prihatin karena produksi kedelai di negeri ini ternyata hanya memenuhi seperlima toal kebutuhan kedelai dalam negeri. Dengan kata lain sebagian besar kedelai yang beredar di pasar kita adalah kedelai asing alias impor, termasuk kedelai yang digunakan untuk membuat tahu dan tempe.

Tempe dan Tahu menjadi ironi untuk negara yang mengklaim tempe sebagai makanan asli bangsanya. Kita tentu ingat saat bangsa ini meradang ketika tempe dan turunannya hendak dipatenkan oleh beberapa negara seperti Amerika dan Jepang. Kita marah karena merasa kekayaan dan karya cipta bangsa ini kembali dicuri. Namun di sisi lain itu justru menunjukkan betapa kita masih hanya menjadi orang yang banyak menuntut hak tapi tak banyak melaksanakan apa yang semestinya dikerjakan. Kita menghendaki karya cipta Indonesia menjadi milik bangsa seutuhnya tanpa boleh bangsa lain memilikinya sedikitpun. Namun kita juga menunjukkan ketidakpedulian untuk menjaga dan menghargai karya cipta bangsa sendiri.

Selama ini pemerintah membuka kran impor kedelai dalam jumlah besar dan di sisi lain mengabaikan kedelai lokal. Petani kedelai mengeluh karena tidak dipedulikan. Kini di saat pil pahit harus kembali ditelan, pemerintah memunculkan ide untuk membagikan bibit kedelai agar petani mau menanamnya. Sungguh strategi yang menyakitkan bagi petani dan pembuat tahu & tempe. Kemarin mereka tak dianggap dan pemerintah mengagungkan pertumbuhan ekonominya. Kini mereka diminta untuk menanam kedelai di saat semuanya sudah begitu menyulitkan bagi mereka.

Menteri Koperasi memberikan angin surga agar pembuat tahu dan tempe tak perlu khawatir. Tapi di saat yang hampir bersamaan Menteri Keuangan memperkirakan pelemahan nilai rupiah dan kesulitan ekonomi akan berlangsung hingga awal 2014.

Lalu ketika harga kedelai naik seperti saat ini, pihak yang paling diuntungkan adalah importir kedelai. Bukan petani kedelai Indonesia, bukan pula pembuat tahu dan tempe yang mati langkah.

Pembuat tahu dan tempe sebenarnya bisa saja menaikkan harga tahu tempe produksi mereka. Tapi bagaimana dengan konsumen kita?. Maukah mereka menerimanya. Tahu tempe terlanjur dikenal sebagai makanan bergizi yang murah. Masyarakat kita rasanya terlanjur lebih bisa menerima lonjakan harga telur atau daging dibanding kenaikan sedikit harga tahu tempe.

13776917251440033990

Sementara kita penggemar tahu tempe mungkin bisa beralih ke makanan lain, tapi mengalihkan sumber penghidupan bukan hal yang mudah untuk para pembuat tahu dan tempe. Mau dikatakan apalagi, makanan asli Indonesia ini bisa saja akan menjadi barang mahal di masa nanti, bahkan untuk rakyatnya sendiri. Semoga ini menjadi elegi terakhir untuk negara yang pemerintahnya gagap mengelola dan menjaga kedaulatan pangan rakyatnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Kompasiana Akan Luncurkan “Kompasiana …

Kompasiana | | 20 November 2014 | 16:21


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 12 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 14 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 15 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 16 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Gerdema, Mentari Indonesia Dari Ufuk Desa …

Emanuel Dapa Loka | 8 jam lalu

Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan …

Herman Wahyudhi | 8 jam lalu

Wawasan Pemuda Berbudaya Bahari …

Alan Singkali | 8 jam lalu

Menjadi Guru Luar Biasa Lewat Menulis …

Arif Rahman | 8 jam lalu

Aktif Menulis: Ikhtiar Guru Meninggalkan …

Rohani Elita Simanj... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: