Back to Kompasiana
Artikel

Marketing

Parlin Pakpahan

I have married and had four children. They are free to live anywhere in the selengkapnya

LAHAN TIDUR DI TAPANULI UTARA & LINGKAR TOBA SIAPA MINAT

REP | 23 September 2010 | 08:49 Dibaca: 1050   Komentar: 21   2

Kl 20.000 Ha lahan tidur di Grand Prairie Silantom Tonga, Pangaribuan, Tapanuli Utara, Northern Sumatra, Indonesia

Kl 20.000 Ha lahan tidur di Grand Prairie Silantom Tonga, Pangaribuan, Tapanuli Utara, Northern Sumatra, Indonesia

Kalau seseorang sudah demikian letihnya karena sebuah aktivitas, maka tidur adalah obat utama. Dia akan kembali segar keesokan harinya. Manusia tidur tentu dalam rangka mengistirahatkan mental dan fisiknya yang lelah. Tapi kalau manusia tidur dalam arti mental. Ini yang sangat repot. Mental tidur ini sebuah Kondisi. Sebuah Stigma. Bahkan sebuah Fatalisme.

Lahan Tidur? Lain lagi. Ini tidak sama dengan Manusia Tidur. Apalagi Mental Tidur. Lahan di planet bumi ini tidak pernah tidur. Dia berevolusi terus sampai akhir zaman. Suatu lahan di suatu tempat disebut tidur apabila terhubung dengan manusia yang settled di situ. Dilihat dari perspektif ini, maka Lahan Tidur adalah sebuah Kondisi di mana komunitas yang settled di suatu tempat tidak berkemampuan memanfaatkan lahan sekitar untuk memperbaiki kehidupannya.

Tapanuli Utara adalah sebuah wilayah yang sangat luas dan sangat menantang untuk pengembangan Agro dan Kehutanan. Daerah ini terletak di bagian tengah Sumatera Utara di jajaran Bukit Barisan pada 1 derajat 20′ - 2 derajat 41′ Lintang Utara dan 98 derajat 05′ - 99 derajat 16′ Bujur Timur. Total luas wilayah 3800,31 Km2, terdiri dari luas daratan 3793,71 Km2 dan sepenggal perairan Danau Toba di Kecamatan Muara seluas 6,60 Km2. Tapanuli Utara adalah salah satu kabupaten dari 7 kabupaten yang ada di sekeliling Danau Toba, yaitu Tobasa, Humbanghas (Humbang Hasundutan), Samosir, Dairi, Simalungun dan Karo.

Tapanuli Utara dengan ibukota Tarutung merupakan Pintu Gerbang Kawasan Pantai Barat Sumatera Utara. Letaknya diapit 5 kabupaten, yaitu sebelah utara Tobasa, sebelah timur Labuan Batu, sebelah selatan Tapanuli Selatan dan sebelah barat Humbanghas dan Tapanuli Tengah.

Grand Prairie at Silantom Tonga, Pangaribuan, Tapanuli Utara, Northern Sumatra, Indonesia about 2000-5000 Ha

Grand Prairie at Silantom Tonga, Pangaribuan, Tapanuli Utara, Northern Sumatra, Indonesia about 20.000 Ha

Daerah yang lebih sering disebut Bonapasogit ini meliputi 15 Kecamatan, antara lain Pangaribuan, Parmonangan, Pagaran, Pahae Julu, Pahae Jae, Pahae Tua, Adian Koting, Sipoholon, Tarutung, Siatasbarita, Simangumban, Garoga, Sipahutar, Siborongborong dan Muara serta meliputi 214 desa dan 11 kelurahan.

Data dari BPS setempat mengungkapkan jumlah penduduk Tapanuli Utara sampai dengan Maret tahun 2010 tercatat 264.848 jiwa dengan Densitas hanya 69,81 jiwa per Km2. Masih sangat longgar. PDRB tercatat 60,36% dari sektor pertanian. Tak adanya geliat yang signifikan dari sektor lainnya baik industri maupun niaga, mengindikasikan perekonomian Tapanuli Utara sampai saat ini memang masih bergantung pada sektor pertanian.

Berdasarkan hasil survey BPTP (Badan Pengkajian Teknologi Pertanian) Propinsi Sumatera Utara, kondisi lahan di Tapanuli Utara sebagai berikut :

- Lahan Datar (0-2%) : 11.979 Ha (3,16%)
- Lahan Landai (2-15%) : 101.903 Ha (26,86%)
- Lahan Miring (15-40%) : 97.230 Ha (25,63%)
- Lahan Terjal (> 40%) : 168.262 Ha (44,35%)
Total : 379.371 Ha (100%)

Pemanfaatan lahan tersebut di atas sampai sejauh ini masih terpusat pada Lahan Basah (Irigasi dan Tadah Hujan) dengan luas 19.021 Ha. Dan dari total Lahan Kering seluas 360.350 Ha tercatat Lahan Tidur seluas 52.884 Ha (14,67%). Yang dilupakan dalam survey BPTP Propinsi Sumatera Utara itu adalah Pola Perladangan Berpindah (Shifting Cultivation) pada kenyataannya masih cukup dominan di kalangan petani setempat. Karenanya luas lahan tidur di Tapanuli Utara sesungguhnya jauh lebih besar dari angka hasil survey tersebut.

BPTP Propinsi Sumatera Utara merekomendasikan Pola Pengembangan Lahan di Tapanuli Utara sebagai berikut :
- Lahan dengan kemiringan 0-15% untuk Pengembangan Pertanian Lahan Basah dan Pertanian Musiman Berjangka Pendek seperti Jagung, Tebu dan tanaman Hortikultura.
- Lahan dengan kemiringan 15-40% untuk Pengembangan Tanaman Perkebunan dan Kehutanan yang berakar dalam.
- Lahan dengan kemiringan > 40% untuk Pengembangan Tanaman Konservasi dengan mengutamakan Tanaman Asli setempat.
Lahan Kering dengan kemiringan > 40% berupa lereng-lereng terjal yang peka terhadap erosi direkomendasikan sebagai Lahan Konservasi. Tanaman Asli Tanah Batak seperti Haminjon atau Kemenyan (Styrax Sumatrana), Pinus, Sampinur, Hotang, Suren (Ingul) dan Hapur merupakan Tanaman Utama di samping tanaman lainnya yang cocok dijadikan Tanaman Konservasi Pilihan seperti Sengon, Ulin, Rotan dll.

Tak banyak yang tahu bahwa Kayu Ulin yang kini dilindungi secara nasional itu adalah Tanaman Asli di hutan-hutan Tapanuli Utara bahkan di Kawasan Bukit Barisan. Tapi karena sudah lama dieksploitasi untuk bahan bangunan, maka tanaman ini sudah hampir punah. Yang tersisa tinggal di kawasan hutan sekitar Pangaribuan dan Garoga. Itu pun baru bisa ditemukan di kedalaman 5-7 Km dari jalan utama Kecamatan.

Jenis tanaman yang disarankan oleh BPTP untuk dikembangkan di Tapanuli Utara antara lain Padi Sawah, Padi Gogo, Jagung, Kacangtanah, Ubi Jalar, Kentang, Kol, Nenas, Markisa, Jeruk, Kopi, Kulit Manis, Kemenyan, Gambir, Kedelai, Cabai, Pisang, Durian, Duku, Manggis, Terong Belanda (Cypomandra Betaceae), Karet, Kayu Ulin, Kakao, Kelapa Sawit, Jahe, Tebu, Alpukat, Aren, Tembakau, Nilam, Bawang Merah, Kemiri dll. Tambahan dari hasil survey penulis pada akhir 2009, juga sangat cocok dikembangkan di daerah ini tanaman Bengkirai, Mahoni, Sengon, Sirih Merah, Apel, Strawberry, aneka Tanaman Hias seperti aneka Anggrek, Aglonema dan Anthurium khas Hutan Tanah Batak dan/atau Bukit Barisan.

Rekomendasi umum dari BPTP tersebut dalam pelaksanaannya tentu harus disesuaikan dengan hasil pemetaan untuk masing-masing Kecamatan. 4 Kecamatan berikut dipetik sebagai contoh, yaitu :

- Pangaribuan : Padi Sawah, Padi Gogo, Jagung, Cabai, Tomat, berbagai jenis sayuran dataran tinggi, Kentang, Nenas, Duku, Jeruk, Nilam, Markisa, Terong Belanda, Sirih Merah, Kopi, Kulit Manis, Jahe, Tembakau, Aren, Kakao, Apel, Haminjon atau Kemenyan, Kayu Sampinur, Hotang, Suren (Ingul), Hapur,  Ulin, Pinus, Sengon, Rotan dll.
- Garoga : Padi Sawah, Padi Gogo, Jagung, Cabai, Kentang, Jeruk, Nenas, Terong Belanda, Sirih Merah, Markisa, Kopi, Kulit Manis, Jahe, Nilam, Tembakau, Aren, Apel, Kakao, Haminjon atau Kemenyan, Karet, Kayu Sampinur, Hotang, Suren (Ingul), Hapur, Ulin, Sengon, Rotan, Pinus dll.
- Purbatua : Padi Sawah, Padi Gogo, Jagung, Kacangtanah, Kakao, Kulit Manis, Kelapa Sawit, Karet, Tebu dan Aren.
- Pahae Julu : Padi Sawah, Padi Gogo, Jagung, Cabai, Kentang, Durian, Duku, Manggis, Kopi, Jahe, Haminjon atau Kemenyan, Kakao, Kulit Manis, Karet, Tebu, Aren, Kelapa Sawit dll.

Dari 4 Kecamatan Sampel tersebut, ada temuan menarik. Selama ini orang hanya tahu Kelapa Sawit yang Wah itu hanya bisa ditanam di Sumatera Utara bagian Timur hingga daerah Simalungun, Riau, Bengkulu dan Kalimantan Timur saja. Ternyata di sebagian Tapanuli Utara pun Kelapa Sawit sangat cocok seperti sekarang banyak dibudidayakan di Garoga. Juga daerah Silantom Pangaribuan dan Pahae yg iklimnya agak hangat, tanaman Sawit yg menjadi primadona kawasan pantai timur Sumatera Utara ini sangat cocok dibudidayakan secara besar2an. Diperkirakan perkebunan sawit rakyat yg baru 4 tahun terakhir ini dirintis pembudidayaannya di Garoga akan menguntungkan di kemudian hari, karena dekat ke Pelabuhan Niaga Sibolga. Demikian juga Tembakau, Nilam, Terong Belanda, Kakao, Apel dll. Bahkan tanaman Karet yang kini kembali menjadi Tanaman Elite di pentas Industri Agro. Semua tanaman bernilai ekonomi tinggi itu dapat dengan mudah dibudidayakan di Tapanuli Utara dan lingkar Toba pada umumnya, karena alam setempat memang mendukungnya.

Pemanfaatan dan pengembangan lahan tidur di Tapanuli Utara dan lingkar Toba secara keseluruhan akan mendorong Pemerintah Pusat bergairah untuk mengembangkan Pelabuhan Sibolga menjadi Pelabuhan Samudera di kemudian hari. Ini tentu terkait erat dengan pengembangan perekonomian di Kawasan Pantai Barat Sumatera Utara.

Small River at Sukarame Village, Silantom Tonga, Pangaribuan, Northern Tapanuli, Indonesia

Small River at Sukarame Village, Silantom Tonga, Pangaribuan, Northern Tapanuli, Indonesia

Bagi yg berminat, tunggu apa lagi. Datang, Lihat, Jamah, Uji dan kemudian mari kita hitung bersama IRR-nya apabila anda serius Invest di Tapanuli Utara dan lingkar Toba.

Dalam rangka pengentasan Kemiskinan Massal di negeri ini, khususnya Pengentasan Kemiskinan di Tapanuli Utara dan lingkar Toba (pernah dipotret oleh Tim Jurnalis  Sinar Harapan pada tahun 1982),  maka Investasi Anda di Tapanuli Utara dan lingkar Toba adalah salah satu panggilan yg tepat untuk itu.

Ayo atuh kemon .. :-)

Tarutung City, Sept’ 23, 2010.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

Waspada Komplotan Penipu Mengaku Dari …

Fey Down | | 21 December 2014 | 23:23


TRENDING ARTICLES

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 8 jam lalu

Sensasi Singkong Rebus Menteri Yuddy …

Andi Harianto | 9 jam lalu

Ketika Tulisanmu Dihargai Jutaan Rupiah …

Wijaya Kusumah | 9 jam lalu

Sekilas Wajah Pak Menteri Anies Mirip …

Agus Oloan | 9 jam lalu

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: