Back to Kompasiana
Artikel

Marketing

Ismail Elfash

orang biasa yang sedang belajar menulis, mengungkapkan isi hati dan sekedar berbagi

Inilah Ilmu Marketing Paling Jitu

OPINI | 27 November 2011 | 16:20 Dibaca: 16439   Komentar: 4   0

Marketing adalah strategi menjual. Pelakunya adalah marketer atau lebih lazim disebut sales. Kata SPG (Sales Promotion Girl)  sudah sangat familiar di telinga kita, sehingga saking familiarnya, laki-laki yang jadi sales disebutnya juga SPG padahal yang bener adalah SPB (Sales Promotion Boy).  Nah.. menjual ini adalah ruh dari sebuah usaha. Tanpa marketing usaha apapun tidak akan laku.  “Bagaimana mau beli, tahu aja kagak”, begitu kata konsumen. Tung Desem Waringin bilang “bukan hanya usaha yang harus di jual, diri anda juga harus di jual” Ya.. kita harus menjual diri, biar kita tahu berapa harga diri kita. Tanpa marketing diri, orang tidak akan tahu kalau kita itu pintar, punya kemampuan dan hebat. Inilah penting nya marketing, bisa merubah presepsi umum.

Kita perhatikan menjelang pemilu dan pilkada, pasti banyak orang yang memarketingkan dirinya sendiri, walaupun terkadang over action dan narsis. Terlebih tidak terbukti alias bohong. Masih ingat di telinga kita bunyi iklan “serahkan Jakarta pada ahlinya”. Buktinya? Dah mau pilkada lagi, mau nyalon lagi! Ah… namanya juga iklan. Jangan-jangan logika  yang ada di kepala incumbent “kalau mau terbukti, kasih aku kesempatan sekali lagi” Beh…

Marketing  ini merupakan pos yang gendut, besar pengeluaranya. Dibayar di awal lagi! Sementara hasilnya, tidak ada yang pasti. Tidak ada satu ilmu pun yang bisa memprediksi hasil suatu marketing dengan tepat dan tidak ada satu teori pun yang bisa menjadi acuan untuk marketing. Semuanya hanya berangkat dari suatu keyakinan dan trial and error.

Marketing itu mahal. Oleh karena mahal, maka diusahakan strategi mendekati target. Kalau tidak demikian hanya buang-buang uang. Tapi kalau sebuah marketing berhasil, bisa dipastikan omzet meledak, penjualan meningkat dan pamor suatu produk menjadi hebat. Kalau marketing sukses, effeknya bisa berlaku untuk waktu yang lama, apalagi kalau produknya sendiri yang memarketingkan diri. Atau ada konsumen loyal yang mau iklan mulut tanpa di bayar.

Manusia sebagai makhluk follower, mudah terpengaruh. Emosi ini yang dimainkan oleh sebuah produk. Cari bintang iklan yang sesuai dengan emosi massa, suruh dia beriklan mengajak agar memakai produk tertentu, hasilnya kulit mulus nan halus nan wangi nan bersih dst. Padahal kulit dia mulus bukan karena pakai produk tersebut, emang karena dari sono nya dah mulus. Payahnya banyak yang terobsesi, orang kulitnya gelap  makai produk pemutih, hasilnya? tetap gelap!

Tapi ini dahsyat, effeknya luar biasa. Kualitas dan khasiat bisa jadi nomor 2, yang utama adalah bagaimana suatu produk bisa laku. Pemenang bukan yang terbaik tapi yang terjual paling banyak, begitu dalam dunia marketing. Iklan seakan menjejali alam bawah sadar kita secara massif dan continoue, hasilnya kita ngeh bahwa mau pinter harus minum jamu tolak angin, sakit kepala di bodrek aja. Affirmasi iklan sungguh menjadi trend setter anak-anak sehingga dengan reflek mudah mengucapkan kata-kata iklan.

Kata-kata tertentu seolah milik orang tertentu, itu juga iklan diri. Contoh kata ndeso, kembali ke laptop!  pasti ingat ingat si Tukul, prikitiwwww tanpa ada Sule pun orang sudah membayangkan si Sule. Kalau di sebut kata jarum, pasti orang teringat rokok, bukan jarum jahit. Gudang garam bukan gudangnya garam tapi pasti rokok. Beli Rinso padahal Daia, beli Sasa dikasih Aji No Moto dst. Ini adalah contoh bagaimana hebatnya sebuah iklan mampu mengiklankan dirinya. Image tertancap di alam bawah sadar konsumen.

Konsumen fanatik menjadi sasaran empuk sebuah produk. Pokok nya beli sabun mandi ya Lifebouy, odol ya Pepsodent dst, padahal dari segi fungsi dan khasiat mungkin tidak jauh beda dengan produk sejenisnya. Konsumen merasa tidak afdol kalau tidak makai produk tertentu, dan produk tersebut diwariskan secara turun-temurun.

Itu cerita marketing kelas wahid yang telah sukses. Bagi bisnis pemula marketing adalah masalah tersendiri. Disamping memerlukan dana yang besar diperlukan pula inovasi marketing. Banyak sarana marketing bagi pemula dan bisa dibilang murah seperti brosur, flier, spanduk, iklan mini/baris di majalah. Memang ini tradisional tapi nyarinya juga yang murah, hehe! Gak perlu lah usaha UKM Pemula milih marketing yang wah.. seperti iklan di TV,  baligo pinggir jalan. Saya pernah nanya tuh, ada baligo pinggir jalan ukuran 1.5 x 3 M biaya sewa pertahunnya Rp 450.000.000,- Busyet deh!

Tidak ada yang tahu iklan mana yang akan dilirik orang, makanya kalau beriklan jangan hanya satu cara saja. Tidak ada salahnya di coba semua media. Ya siapa tahu orang nyantol lewat brosur atau lihat spanduk atau tidak sengaja lagi baca majalah ketemulah iklan kita.

Jadi sebenarnya media untuk marketing  yang paling jitu itu apa? tidak ada! karena semuanya mungkin dan tidak mungkin. Orang tahu di TV bagus karena telah mencoba di radio gagal, atau karena sudah banyak duitnya dan tv itu jangkauannya lebih luas, brosur bagus karena spanduknya luntur dsb. Jadi ilmu marketing yang paling jitu itu adalah COBA, COBA dan COBA. Coba aja! Apa yang kita yakini, lakukan! Tapi jangan lupa pesan Tung Desem Waringin “selalu diukur”  agar tahu efektifitas iklan kita.

Bidang marketing atau sales ini yang paling banyak membutuhkan karyawan dan paling bepeluang untuk menjadi kaya. Ironi kalau job seeker tidak mau menjadi marketing, anggapan bahwa marketing itu rendahan adalah ujian pertama untuk sukses sebagai marketing.

Selamat beriklan, jangan takut untuk mencoba!

Salam

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Petualangan Anak Indonesia” …

Tjiptadinata Effend... | | 31 August 2014 | 11:15

Penghasilan Ideal Penulis Indonesia, Berapa? …

Bambang Trim | | 31 August 2014 | 12:37

Asyiknya Belajar dengan Mind Map …

Majawati Oen | | 31 August 2014 | 11:24

Senja Kala Laut Mati …

Andre Jayaprana | | 31 August 2014 | 13:15

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Sisi Lain Kasus Florence Sihombing …

Yeano Andhika | 3 jam lalu

Jokowi Melakukan Kebodohan Politik Besar? …

Daniel Yonathan Mis... | 6 jam lalu

Jokowi Tidak Tahan Lama …

Kokoro ? | 8 jam lalu

Usulan Hebat Buat Jokowi-Prabowo Untuk …

Rahmad Agus Koto | 10 jam lalu

Oknum PNS Memiliki Rekening Gendut 1,3 T …

Hendrik Riyanto | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Mudahnya Membelah Cologne Dalam Hitungan …

Gaganawati | 8 jam lalu

Ahmad Hanafi Rais, Embrio Regenerasi …

Adrianus Malaloi | 8 jam lalu

Pemanasan Global dan Perubahan Keseimbangan …

Dino Fitriza | 9 jam lalu

Berjodoh, Ditangan atau Kehendak Tuhan? …

Lindung Pardede | 9 jam lalu

Hukumlah Florence di Media Sosial, Jangan …

Jonminofri Nazir | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: