Back to Kompasiana
Artikel

Marketing

Ijab Kabul Bukanlah Basa Basi

OPINI | 05 July 2012 | 04:51 Dibaca: 494   Komentar: 4   0

Akhir-akhir ini semakin sering saja terdengar penipuan oleh para sales. Sebelum transaksi mereka menjanjikan abcdefgh, kenyataannya setelah transaksi ngacir begitu saja. Termasuk banyak kisah barang yang baru dibeli ternyata cepat rusak dan akhirnya direparasi berbelit-belit sampai akhirnya konsumen bosan mengurus lagi. Secara hukum mungkin yang begini ini sulit untuk dituntut, tetapi apakah mereka tidak tahu bahwa itu mencoreng nama baik dari produk yang ditawarkan. Jangka pendek mungkin saja didapat keuntungan, tapi jangka panjangnya bagaimana? Apakah mereka berharap bahwa konsumen yang dikecewakan akan lupa begitu saja. Makin lama kok makin terasa kalau para sales itu hanya berbasa-basi saja. Yang penting jualannya laku, yang penting target penjualan terpenuhi.

Kalau inget-inget jaman dahulu, para kakek nenek kita dulu kalau berjual beli selalu berkata, “Ini saya terima uangnya”, dan si pembeli bilang “Iya ini saya terima barangnya”. Di sini sangat terasa itikad baik  dalam transaksi jual beli tersebut. Kedua pihak bermaksud sungguh-sungguh untuk saling menjaga perasaan, agar kedua belah pihak saling diuntungkan, dan tidak ada yang dirugikan. Hal yang seperti ini kok rasanya semakin menghilang saja dalam kehidupan sehari-hari, padahal ini penting sekali. Pentingnya ijab kabul masih jelas terpateri di dalam prosesi pernikahan. Tidak sah suatu pernikahan jika tidak ada ijab kabulnya. Atau barangkali ada hubungannya antara banyaknya pernikahan yang goyah saat ini dengan kurangnya pemahaman tentang pentingnya arti sebuah ijab kabul.

Dikatakan bahwa harga diri manusia salah satunya yang utama adalah apakah omongannya bisa dipegang atau tidak.  Nah kalau para sales tersebut tidak menepati apa yang disampaikan sebelum transaksi, itu berarti mereka bukan hanya semata-mata menjual produk, tetapi mereka juga telah menjual harga diri mereka untuk sedikit rupiah materi. Kalau memang benar begitu, maka ini sangat disayangkan sekali karena harga diri tak ternilai harganya, masak kok dijual serendah itu. Konsumen bukanlah objek, konsumen adalah partner. Perjanjian pra transaksi itu adalah ijab kabul, dan ijab kabul bukanlah basa-basi. Janji adalah janji, janji harus ditepati, dan ini bisa saja ditagih besok, nanti, atau kelak. Dan kalaupun tidak takut dosa, maka seharusnya mereka takut pada hukum karma.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Sebenarnya, Berapa Sih Jumlah Caleg Gagal di …

Politik 14 | | 23 April 2014 | 14:46

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotman Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 20 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 22 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 22 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 23 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 23 April 2014 07:15

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: