Back to Kompasiana
Artikel

Marketing

Ijab Kabul Bukanlah Basa Basi

OPINI | 05 July 2012 | 04:51 Dibaca: 498   Komentar: 4   0

Akhir-akhir ini semakin sering saja terdengar penipuan oleh para sales. Sebelum transaksi mereka menjanjikan abcdefgh, kenyataannya setelah transaksi ngacir begitu saja. Termasuk banyak kisah barang yang baru dibeli ternyata cepat rusak dan akhirnya direparasi berbelit-belit sampai akhirnya konsumen bosan mengurus lagi. Secara hukum mungkin yang begini ini sulit untuk dituntut, tetapi apakah mereka tidak tahu bahwa itu mencoreng nama baik dari produk yang ditawarkan. Jangka pendek mungkin saja didapat keuntungan, tapi jangka panjangnya bagaimana? Apakah mereka berharap bahwa konsumen yang dikecewakan akan lupa begitu saja. Makin lama kok makin terasa kalau para sales itu hanya berbasa-basi saja. Yang penting jualannya laku, yang penting target penjualan terpenuhi.

Kalau inget-inget jaman dahulu, para kakek nenek kita dulu kalau berjual beli selalu berkata, “Ini saya terima uangnya”, dan si pembeli bilang “Iya ini saya terima barangnya”. Di sini sangat terasa itikad baik ┬ádalam transaksi jual beli tersebut. Kedua pihak bermaksud sungguh-sungguh untuk saling menjaga perasaan, agar kedua belah pihak saling diuntungkan, dan tidak ada yang dirugikan. Hal yang seperti ini kok rasanya semakin menghilang saja dalam kehidupan sehari-hari, padahal ini penting sekali. Pentingnya ijab kabul masih jelas terpateri di dalam prosesi pernikahan. Tidak sah suatu pernikahan jika tidak ada ijab kabulnya. Atau barangkali ada hubungannya antara banyaknya pernikahan yang goyah saat ini dengan kurangnya pemahaman tentang pentingnya arti sebuah ijab kabul.

Dikatakan bahwa harga diri manusia salah satunya yang utama adalah apakah omongannya bisa dipegang atau tidak.  Nah kalau para sales tersebut tidak menepati apa yang disampaikan sebelum transaksi, itu berarti mereka bukan hanya semata-mata menjual produk, tetapi mereka juga telah menjual harga diri mereka untuk sedikit rupiah materi. Kalau memang benar begitu, maka ini sangat disayangkan sekali karena harga diri tak ternilai harganya, masak kok dijual serendah itu. Konsumen bukanlah objek, konsumen adalah partner. Perjanjian pra transaksi itu adalah ijab kabul, dan ijab kabul bukanlah basa-basi. Janji adalah janji, janji harus ditepati, dan ini bisa saja ditagih besok, nanti, atau kelak. Dan kalaupun tidak takut dosa, maka seharusnya mereka takut pada hukum karma.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Ternyata Kompasiana Juga Ada Dalam Bidikan …

Febrialdi | | 30 July 2014 | 04:30

Indonesia Termasuk Negara yang Tertinggal …

Syaiful W. Harahap | | 30 July 2014 | 14:23

Sultan Brunei Sambut Idul Fitri Adakan Open …

Tjiptadinata Effend... | | 30 July 2014 | 07:16

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 11 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 13 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 15 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 17 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 20 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: