Back to Kompasiana
Artikel

Marketing

Abimosaurus

Berbagi Tak Pernah Rugi

Marketing Strategi Loper Koran

REP | 06 December 2012 | 10:30 Dibaca: 337   Komentar: 0   1

Lain pedagang komik lain lagi loper koran. Saya pernah berjumpa dengan loper koran yang sukses menjual koran dengan strategi yang unik. Kejadiannya memang juga sudah agak lama, sekitar 15 tahun yang lalu.

Kejadiannya di terminal lama Purwokerto. Meskipun Purwokerto hanya kota administratif, tetapi terminal Purwokerto merupakan salah satu teminal yang sibuk. Sejak dulu, terminal ini sudah ramah dan ‘hidup’ 24 jam. Terminal Purwokerto menjadi salah satu pintu masuk ke Jawa Tengah dari Jawa Barat begitu juga sebaliknya.

Kalau mau pulang ke Magelang, saya sering naik bis dari terminal Purwokerto ini. Saya senang mengamati orang-orang yang ada di terminal ini mulai dari penumpang, kernet, sopir, pengemis, pedagang asongan, sampai para loper koran. Bagiku mereka adalah orang-orang yang sangat menarik. Daripada bengong yang engak-enggak, mendingan mengamati orang-orang di sekitar terminal. Lha wong nunggu bis berangkat bisa lebih dari satu jam luamanya.

Dari sekian banyak manusia yang tumplek blek di terminal ini, ada satu yang paling menarik bagiku, yaitu: loper koran. Sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di bumi Purwokerto ini, loper koran yang satu ini sudah mencuri perhatiannku.

Pawakan orangnya pendekar alias pendek dan kekar cenderung gemuk. Rambutnya dipotong pendek, kaku dan berdiri semua. Bisa dibanyangkan bagaimana kalau rambutnya dibiarkan 2 – 3 bulan kayaknya mirip dengan kartun ‘fido dido’. Gaya bicaranya sangat khas banyumas, alias ngapak-ngapak. Wajahnya bulat dan tampak ceria, dari jauh pun sudah ketahuan kalau orang ini dari jawa.

Kalau penumpang bis sudah agak penuh dia akan segera naik ke atas bis. Koran yang dia bawa cukup banyak. Koran itu ditaruhnya di dasbor depan. Lalu dia ambil beberapa koran, satu-satu setiap penerbit: Kompas, Republika, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Jawa Post, dan lain-lain. Dengan gaya mBanyumasannya yang khas di buka-buka koran itu.

“Gemblung…tenan…gara-gara putus cinta bae seorang pemudah milih gantung diri. Apa ra nana wong wadon maneh apa ya…?” katanya dengan logat ngapak-ngapak kentele pooooor.
“Beritane ana nang halaman 5 koran Suara Medeka”, katanya menjelaskan.
Lalu dia ambil koran yang lain:
“Lha..kiye sing di tunggu-tunggu, jare pemerintah arep menaikkan gaji PNS. Lumayan..ya…bisa ngo kawin maing….”, katanya lagi.
“Sing rumangsa pegawai negeri kudu maca kiye koran Kompas, beritane ana nang halaman ngarep dewe lho..”, katanya merayu.
Trus dia melakukan itu sampai semua koran dia baca. Kadang-kadang dia mengambil kesimpulan sendiri, kadang-kadang ngak percaya, kadang-kadang juga ngasih komentar yang lucu-lucu. Rasanya aku ngak perlu beli koran sudah tahu isi berita head line koran-koran hari ini, mulai koran nasional sampai koran-koran daerah.

Setelah merasa capek, kemudian dia berjalan ke belakang sambil menawarkan koran-korannya. Aku lihat cukup banyak penumpang yang membeli koran darinya. Kalau aku naik bis, aku selalu menanti loper koran ini naik ke bis yang aku tumpangi. Meskipun aku tidak selalu beli koran darinya.

Waktu terus berlalu, waktu itu aku belum pernah lihat dia bawa motor. Beberapa waktu kemudian aku lihat dia sudah membawa motor.

Suatu ketika pernah dia tidak tampak di terminal. Iseng-iseng aku tanya pada loper koran yang lain tentang loper nyentrik itu. Trus, dia bercerita kalau dia itu bos loper koran di terminal Purwokerto ini. Sekarang dia sudah punya anak buah, makanya jarang jualan sendiri. Motornya saja sudah lima. Huebat, aku saja ngak punya motor. Dia juga punya banyak anak buah yang nganter koran ke rumah-rumah, selain itu ada juga yang jualan koran di lampu-lampu merah Purwokerto.

Tajir bener orang itu, pikirku. Suer, aku tidak pernah menyangka kalau dia adalah bos koran di daerah ini.

Orang ini sukses di bidangnya: jualan koran. Memang caranya sangat unik dalam menawarkan koran ke penumpang-penumpang. Tapi itu mungkin saja hanya salah satu strategi dia berjualan. Kehidupan di terminal sangat keras, maklum dulu aku pernah ‘hidup di terminal’ jadi sedikit banyak tahu suasananya. Kalau dia bisa sukses, sungguh luar biasa sekali.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Inilah Buah Cinta yang Sebenarnya …

Anugerah Oetsman | | 01 September 2014 | 17:08

Catatan Pendahuluan atas Film The Look of …

Severus Trianto | | 01 September 2014 | 16:38

Mengulik Jembatan Cinta Pulau Tidung …

Dhanang Dhave | | 01 September 2014 | 16:15

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Dilarang Parkir Kecuali Petugas …

Teberatu | 7 jam lalu

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 7 jam lalu

Ahok Dukung, Pasti Menang …

Pakfigo Saja | 10 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 11 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Pemenang Putri Indonesia di Belanda Bangga …

Bari Muchtar | 8 jam lalu

Penanggulangan Permasalahan Papua Lewat …

Evha Uaga | 8 jam lalu

Antara Aku, Kamu, dan High Heels …

Joshua Krisnawan | 8 jam lalu

Rakyat Dukung Pemerintah Baru Ambil Jalan …

Abdul Muis Syam | 8 jam lalu

Masa Orientasi, Masa Di-bully; Inikah Wajah …

Utari Eka Bhandiani | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: