Back to Kompasiana
Artikel

Marketing

Ekonomi Digital

OPINI | 27 February 2013 | 08:37 Dibaca: 328   Komentar: 0   0

Ekonomi berbasis digital sudah merambah semua sendi kehidupan. Hanya dalam waktu dua dasawarsa (sejak booming 90 an) merubah peta ekonomi dunia. Dulu media tradisional seperti newspaper, Radio dan Televisi Berjaya. Kini satu persatu Koran mengalami kebangkrutan dan tutup (http://en.wikipedia.org/wiki/Future_of_newspapers). Radio dan Televisi harus merambah dunia digital jika ingin tetap bertahan.

Alasan kebangkrutan media tradisional sangatlah jelas, pendapatan iklan & Oplah yang semakin menurun sementara biaya produksi cetak terus meningkat. Who moved my cheese? -meminjam istilah Spencer Johnson, kemana larinya pendapatan iklan media tradisional?

Disaat bersamaan raksasa Digital Google terus moncer, terakhir Google menghasilkan pendapatan USD 50,2 Milyard di tahun 2012, Revenue ini dicapai hanya dalam waktu 1.5 dasawarsa (http://dawn.com/2013/01/23/google-2012-revenue-hits-50-billion-profits-up/). Dengan komposisi pendapatan 80% dari iklan.

Tidak ingin kalah dengan Google, industry telco nasional pun mulai melirik pendapatan iklan digital sebagai pendapatan alternative, jumlahnya pun cukup menggiurkan, perkiraan belanja iklan digital nasional di 2012 diperkirakan mencapai Rp 600 Milyard (http://www.frontier.co.id/belanja-iklan-media-digital-di-indonesia.html ). Suatu angka yang sangat besar, mengingat ekosistem market untuk iklan digital yang belum terbentuk di tanah air.

Mengapa peng iklan mengalihkan belanja iklan dari media tradisional ke media digital? Ada beberapa kelebihan iklan digital dibanding beriklan di media tradisional, diantaranya:

1. Iklan secara targeted

Dalam tulisan terdahulu (http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2013/02/18/stop-sms-menyebalkan–529838.html) saya membahas tentang profiling sebagai keunggulan kompetitif beriklan secara digital dibanding tradisional. Profiling membuat iklan lebih personal dan diterima audiens. Dan baiknya lagi pengiklan mengeluarkan biaya secara lebih efektif

2. Menyampaikan pesan dimanapun dan kapanpun

Pesan melalui mobile dapat dikirim kapanpun dan dimanapun, tidak lagi terikat ruang dan waktu. Gadget adalah benda yang paling “melekat” terhadap audiens saat ini melebihi benda apapun. Rata rata waktu yang dihabiskan untuk akses mobile gadget di Indonesia adalah 106 menit/hari/subscriber (http://inet.detik.com/read/2012/12/06/090313/2110752/398/indonesia-pasar-iklan-mobile-terbesar-ketiga-di-dunia)

3. Audiens yg besar

Pelanggan Telco di Indonesia saat ini sudah menyentuh angka 220 juta subscriber.

4. Interactive

Pengiklan bisa berdialog secara langsung dengan audiens. Pengiklan bisa lebih memahami kebutuhan audiens. Response dari audiens bisa menjadi tolak ukur kuantitatif apakah campaign effective atau tidak. Jika hasilnya negatif, strategi campaign bisa di ubah secara mudah.

5. Flexibel

Bila respon iklan kurang menggembirakan, strategi dan konten iklan sangat mudah untuk dirubah. Untuk pengusaha retail dan F&B perubahan Program promo secara harian pun bisa dilakukan via iklan digital

6. Channel komunikasi lebih beragam

Saluran iklan digital sangat lah beragam mulai dari web, banner digital, SMS, MMS & USSD. Dan uniknya lagi iklan digital bisa diatur penyampaiannya berdasarkan lokasi (Locate Based Advertising, LBA). Saat audiens berdada di suatu lokasi misalkan mall, pesan LBA datang ke gadget menawarakan program promo yang sangat menarik. Sehingga LBA dapat meningkatkan traffic pengunjung ke outlet dan meningkatkan penjualan

7. Budget Effective

Iklan digital mengijinkan pengiklan kecil dengan bujet dibawah Rp 5 juta untuk beriklan. Sangat mendukung bagi pengusaha kecil untuk meningkatkan penjualan produk.

8. Terbukti mempengaruhi keputusan pembelian

Menurut data mobile member pengaruh besar terhadap keputusan pembelian (55%), diikuti TV (49%) dan desktop (39%) (http://inet.detik.com/read/2012/12/06/090313/2110752/398/indonesia-pasar-iklan-mobile-terbesar-ketiga-di-dunia)

Sudah saatnya anda mempertimbangkan Iklan Digital sebagai saluran iklan anda.

(Mohamad Darmawan, penulis adalah praktisi digital advertising, mohamaddarmawan@yahoo.com)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gandari: Menyibak Karakter dan Sikap …

Olive Bendon | | 18 December 2014 | 17:44

Meteorisme, Penyakit Hitler yang …

Gustaaf Kusno | | 18 December 2014 | 12:20

Hidayat Nur Wahid Tidak Paham Hukum …

Hendra Budiman | | 18 December 2014 | 12:50

Rangkuman Foto: Menyusuri Monumen Penting di …

Bisurjadi | | 18 December 2014 | 14:42

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



Subscribe and Follow Kompasiana: