Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Harjoko Sangganagara

pendidik dan pengamat budaya

Anggaran Pendidikan

OPINI | 18 July 2010 | 11:38 Dibaca: 461   Komentar: 0   0

Pendidikan memiliki spektrum filosofis, teoretis dan konsep dan gagasan yang sangat luas dan kaya. Beberapa dari konsep mengenai pendidikan penulis kutip untuk mempertajam pemahaman mengenai pendidikan.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (Undang-undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Selanjutnya dikatakan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia, dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.

Pendidikan berkaitan dengan pembentukan integritas kepribadian. Manusia dengan kepribadian yang integral, yang menempatkan dirinya sebagai individu, tapi juga sebagai makhluk sosial, makhluk budaya, dan bagian dari alam. Manusia adalah makhluk Tuhan yang memiliki tanggungjawab terhadap Tuhan, diri sendiri, masyarakat, tatanan budaya dan terhadap alam.

Pendidikan menurut Draper (Gwynn, 1960:413) merupakan “education that everyone have for satisfactory and efficient living, regardless af what one plans make life work” diarahkan pada pendidikan kepribadian, adalah pendidikan memanusiakan manusia, karenanya pendidikan menguatkan pembentukan jati diri manusia sebagai individu, makhluk sosial, bagian dari alam, dan makhluk ciptaan Al-Khalik yang senantiasa harus beriman dan bertakwa kepada-Nya (Sumaatmadja, 2002:108).

Konsep dasar pendidikan dalam pengertian general education banyak berkaitan dengan pendidikan kepribadian karena seperti dikatakan Hand & Bidna (Sumaatmadja, 2002:115), bahwa tujuan Pendidikan ingin membina manusia menjadi manusia yang utuh (the making of complete man). Sehat mental dan jiwanya (mental and physical health), memahami orang lain (social adjustment), dan memahami diri sendiri (personal adjustment). Selanjutnya Sumaatmadja mengutip Klafki yang berpendapat bahwa pendidikan bertujuan untuk mengembangkan daya kemampuan manusia (the development of human power), dan memadukan kemampuan intelektual-rasional (kognitif), emosional/ efektif dan keterampilan psikomotorik (the comprehensive education of man, the education of head, heart and hand).

Pendidikan di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia ditekankan pada pendidikan nilai-nilai dalam rangka pembentukan karakter (Character Values) yang terdiri dari: respect, responsibility, compassion, sharing dan perseverance, frienship, cooperation, self discipline dan honesty.

Pandangan tersebut sejalan dengan Phenix (1964:5-8), yang mengatakan bahwa pendidikan sebagai suatu proses yang membina makna esensial yang ada pada diri manusia “General education is the process of enggineering essential meaning…To lead to fulfillment of human life throught the enlargement and deeping of meaning”. Manusia yang utuh menurutnya adalah yang memenuhi syarat trampil berbicara, mampu mengkomunikasikan lambang dengan baik, kreatif dan estetis, memiliki kekayaan hubungan antar manusia, cerdas dalam membuat keputusan serta memiliki wawasan yang integral. Selanjutnya Phenix (1964: 8) mengungkapkan :

A complete person should be skill in use of speech, symbol and gesture,factually well informed, capable of creating and apretiating objects of aesthetic significance, endowed with rich and diciplined life in relation to self and others, able to make wise decisions and to judge between right and wrong, and possesed of an integral outlook.

Wawasan integral diperlukan mengingat pendidikan seharusnya memahami manusia secara menyeluruh dan utuh. Sayangnya orang memandang manusia secara parsial dengan latar belakang cara berfikirnya. Untuk keperluan tersebut diperlukan kemampuan memahami manusia sebagai a rational animal yang utuh, dengan cara memahami makna.

Makna (meaning) bagi Phenix, maksudnya adalah ungkapan pengertian akal atau pikiran secara luas. Sehingga terdapat bermacam-macam makna atau arti, pada persepsi, pada pemikiran logis, pada kreasi seni, pada kesadaran diri, pada keputusan yang berguna, pada pertimbangan moral, pada kesadaran terhadap waktu dan pada aktifitas ibadah. Semua fungsi yang penting ini merupakan dunia makna, yang menjadi hakikat kehidupan manusia. Jawaban filosofis terhadap hakikat manusia dengan demikian adalah bahwa manusia adalah makhluk yang menemukan, menciptakan dan memperhatikan makna.

Jika esensi manusia ada dalam dunia makna, maka tujuan yang tepat dari pendidikan adalah mempromosikan pertumbuhan nilai. Untuk mencapai tujuan ini, pendidik perlu memahami bermacam-macam nilai yang efektif dalam perkembangan peradaban dan menyusun kurikulum penjelasan yang berbasis nilai.

Nilai yang dimaksud Phenix (1964:28) dikategorikan dalam enam bidang makna, yaitu: Simbolik, terkandung dalam bahasa, matematika dan tentu simbolik non diskursif; Empirik, terkandung dalam ilmu alam, ilmu hayat, psikologi dan ilmu sosial; Estetik, terkandung dalam musik, seni lukis, seni gerak dan sastra; Synoetik, terkandung dalam filsafat, psikologi, sastra, agama dalam eksistensial; Etik, dalam pelbagai wilayah khusus moral dan etika; dan Synoptik, dalam sejarah, religi dan filsafat .Makna-makna tersebut menunjukkan hubungan yang erat antara (1) pendidikan (2) sifat manusia dan (3) disiplin ilmu. Pendidikan hanya efektif jika berdasar pada ketiga hal itu. Itu berarti adanya modifikasi pandangan tentang manusia a rational animal menjadi animal that can have meaning (mempunyai makna). Makna-makna itulah yang harus termuat dalam pendidikan yang hendak membina kepribadian melalui penanaman nilai-nilai yang bersumber dari kearifan local (local wisdom).

Kearifan lokal dalam konteks filosofi pendidikan berada dalam kerangka pewarisan budaya sesuai dengan filsafat pendidikan esensialisme. Menurut Engkoswara (2009: 1228) dalam khasanah filsafat pendidikan, sekurang-kurangnya terdapat lima pandangan dominan : (1) Perenialisme, yaitu filsafat pendidikan yang memiliki keyakinan bahwa pengetahuan merupakan dasar pokok bagi pendidikan; (2) Esensialisme, yaitu filsafat pendidikan yang memandang fungsi sekolah sebagai lembaga penerus warisan budaya dan sejarah kepada generasi penerus; (3) Progresivisme, yaitu filsafat pendidikan yang menekankan pentingnya pemberian ketrampilan dan alat kepada individu yang diperlukannya untuk berintegrasi dengan lingkungan yang selalu berubah. Pendidikan adalah kehidupan itu sendiri dan bukan suatu masa persiapan untuk hidup; (4) Rekonstruksionisme, yaitu filsafat pendidikan yang berpandangan bahwa dalam suasana perkembangan teknologi yang amat cepat,pendidikan harus mampu melakukan rekonstruksi masyarakat dan membangun tatanan dunia baru selaras denggan perubahan teknologi itu. Pendidikan harus memandang ke depan; (5) Eksistensialisme, yaitu filsafat pendidikan yang sangat menghormati martabat manusia sebagai individu yang unik dan memperlakukan individu sebagai pribadi.

Teori-teori tentang pendidikan yang datang dari luar dan banyak digunakan, baik secara langsung atau tidak langsung antara lain adalah sebagai berikut: (1) Teori pendidikan naturalistik yang dikembangkan J.J. Rousseau.. (2) Teori-teori pendidikan yang dikembangkan oleh Pestalozzi, Montessori, Decroly dan Froberl. (3) Gagasan-gagasan Rabindranath Tagore. (4) Teori pendidikan fenomenologis yang dikembangkan M.J. Langeveld. (5) Teori pendidikan yang bersifat pragmatis-instrumentalistik yang dipelopori oleh John Dewey. (6) Teori pendidikan behavioristik. (7) Teori pendidikan holistik humanistik.

Selama ini menurut Engkoswara (2009: 1238) penggunaan dan penerapan teori-teori dan gagasan pendidikan dilaksanakan sendiri-sendiri, yaitu dalam memecahkan persoalan-persoalan khusus. Hal ini mengakibatkan praktek pendidikan yang terpilah-pilah. Misalnya dalam mengembangkan program kurikulum sekolah dilaksanakan dengan menggunakan prisinsip perilaku, di pihak lain strategi belajar-mengajar dikembangkan dengan dasar teori holistik-humanistik. Hal ini mengandung bibit kesimpangsiuran dalam pelaksanaannya di lembaga pendidikan .

Apabila hendak menggunakan teori-teori dan gagasan-gagasan itu secara sistemik, tidak ada jalan lain, selain terlebih dulu menata teori-teori dan gagasan itu secara sistemik.,selain terlebih dahulu menata teori-teori dan gagasan-gagasan itu dalam bentuk teori pendidikan atau ilmu pendidikan Indonesia sendiri.

Engkoswara berpandangan bahwa struktur kurikulum harus berbasis kompetensi hidup, yang minimum meliputi : (1) Pendidikan umum bagi semua. (2) Pendidikan keilmuan dan kecakapan hidup. (3) Pendidikan penyerta.

Pada pendidikan umum, kurikulum berisi budaya utama yang wajib diikuti oleh semua orang tanpa kecuali. Moral dan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari,minimal hidup bersih, sehat, jujur, toleran, disiplin, menghargai pemimpin yang baik, berikhtiar dengan ikhlas dan berpandangan ke depan (civic responsibilities). Misal : pendidikan agama, budaya dasar, olah raga dan kesehatan serta pendidikan bahasa.

Pada pendidikan keilmuan dan kecakapan hidup kurikulum berisi budaya profesi bagi kelompok-kelompok sebagai makhluk sosial. Budaya berusaha, belajar dan bekerja yang dilandasi ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bekal untuk mengembangkan diri (social responsibilities). Mata pelajaran yang bisa disampaikan misalnya: MIPA, IPS, Bahasa atau ilmu komunikasi.

Pada pendidikan penyerta kurikulum berisi pendididikan budaya kreatif terpuji secara individual untuk membekali karakteristik atau kekhasan masing-masing. Kekhasan itu diharapkan mampu menampilkan pribadi-pribadi terpuji yanhg terbaik dan bernilai estetik dalam kebersamaan yang menjadi tanggungjawab pribadi masing-masing (personal responsibilities). Misalnya : berenang, musik klasik, memelihara kelinci, bertanam bunga, komputer atau bahasa asing.

Salah satu strategi agar pendidikan berbasis kearifan lokal dapat dijalankan dengan baik adalah dengan mengefektifkan penganggaran sebagai supporting system dalam konteks administrasi pendidikan. Mengefektifkan anggaran pada dasarnya merupakan suatu bentuk strategi penguatan (reinforcement strategies). Penganggaran dalam pendidikan merupakan sebuah sub-sistem dari sistem pendidikan.

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin-top:0in;
mso-para-margin-right:0in;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0in;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Bitstream Vera Sans”,”sans-serif”;}

Anggaran atau Budget (dari bahasa Perancis bouggette, atau purse dalam bahasa Inggris yang mempunyai berbagai makna : (1) dompet; (2) sokongan, dana, derma) secara umum merupakan daftar dari belanja dan pendapatan yang direncanakan. Ia merupakan rencana tabungan dan pengeluaran. Dilihat dari sudut pandang mikro-ekonomi, anggaran adalah rencana organisasional yang dinyatakan dalam istilah moneter.

Anggaran pemerintah adalah :

A government budget is a legal document that is often passed by the legislature, and approved by the chief executive-or president. For example, only certain types of revenue may be imposed and collected. Property tax is frequently the basis for municipal and county revenues, while sales tax and/or income tax are the basis for state revenues, and income tax and corporate tax are the basis for national revenues (Wikipedia the free encyclopedia, diunduh 24 November 2010).

Definisi tersebut mengindikasikan bahwa anggaran adalah dokumen legal yang telah melalui pembahasan DPR dan disetujui oleh Presiden. Sumber pendapatannya berasal dari pajak baik pajak kekayaan, pajak penjualan , pajak perusahaan dan pajak pendapatan. Pajak tersebut ada yang dikumpulkan oleh pemerintah kota/kabupaten, provinsi maupun pusat.

The two basic elements of any budget are the revenues and expenses. In the case of the government, revenues are derived primarily from taxes. Government expenses include spending on current goods and services, which economists call government consumption; government investment expenditures such as infrastructure investment or research expenditure; and transfer payments like unemployment or retirement benefits.

Budgets have an economic, political and technical basis. Unlike a pure economic budget, they are not entirely designed to allocate scarce resources for the best economic use. They also have a political basis wherein different interests push and pull in an attempt to obtain benefits and avoid burdens. The technical element is the forecast of the likely levels of revenues and expenses. (en.wikipedia.org/wiki/Budget) (Wikipedia, the free encyclopedia).

Dua unsur dasar setiap anggaran adalah pendapatan dan belanja. Pendapatan diperoleh dari pajak. Belanja pemerintah termasuk di dalamnya pengeluaran untuk barang dan jasa, yang oleh para ekonom disebut konsumsi pemerintah; belanja investasi seperti pengeluaran untuk infrastruktur atau riset dan pembayaran transfer seperti untuk pengangguran dan pensiunan.

Anggaran memiliki landasan teknis, politis dan ekonomis. Tidak seperti anggaran ekonomi murni, anggaran pemerintah tidak sepenuhnya dirancang untuk mengalokasikan sumberdaya yang terbatas untuk manfaat sebesar-besarnya. Pada aspek politis, anggaran pemerintah dilatarbelakangi dorongan dan tarikan kepentingan untuk mencapai manfaat dan menghindari beban. Sementara dari aspek teknis, ada porkas mengenai pendapatan dan belanja pada tingkat tertentu.

Para admininstrator pendidikan memiliki tanggungjawab untuk memastikan bahwa lembaga mereka dapat memenuhi kebutuhan yang diletakkan masyarakat pada mereka. Sayangnya jumlah sumber sangat terbatas sehingga mereka harus mengalokasikan sumber untuk memaksimalkan produktifitas organisasional. Thomas (1971:108) mengatakan bahwa alat utama di mana keputusan alokasi dibuat adalah budget (anggaran).

Ada dua fakta sentral yang memandu analisis. Pertama, pendidikan adalah “komoditas” bernilai di masyarakat. Nilai tersebut terletak pada beberapa kepuasan intrinsic yang merupakan akibat dari “possession” (rasa memiliki). Penting juga dipahami bahwa pendidikann merupakan alat untuk tujuan bernilai lainnya. Pendidikan dilihat sebagai jalan menuju pertumbuhan ekonomi, pertahanan nasional, pengurangan pengangguran, dan preservasi demokrasi politik. Sedangkan dari sudut pandang individual, pendidikan memungkinkan untuk mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi, memilih pekerjaan dan posisi social yang lebih prestisius (1971:109).

Kedua, meskipun permintaan untuk pendidikan tinggi dan berkembang, setiap masyarakat menjumpai kenyataan bahwa tidak semua kebutuhan mereka terpenuhi secara penuh. Masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih untuk pendidikan. Sumber daya tidak terbatas secara absolute tetapi di dalam kisaran pengeluaran tetap harus dipertimbangkan. Sumberdaya selalu punya alternative penggunaannya, sehingga sumberdaya dianggap langka secara definitive, karena pemanfaatan untuk suatu tujuan menghalangi penggunaan untuk aktivitas public maupun pribadi lainnya.

Karena itu, setiap usaha harus dilakukan untuk memperbaiki efisiensi dalam menghasilkan pendidikan. Artinya berbagai cara produksi harus dipertimbangkan, dan semua prosedur yang dipilih haruslah yang mensukseskan pencapaian tujuan yang diinginkan, dalam situasi keterbatasan sumberdaya.

Konsep sentralnya adalah “alokasi”. Efisiensi menghendaki berbagai cara menggunakan sumberdaya yang terbatas seperti uang, waktu guru, ruang, dan waktu siswa harus dipertimbangkan dengan matang, agar pilihan akhir dapat berakibat optimal pada sumberdaya yang digunakan.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sumber Air Bersih di Desa Kami Semakin …

Tarjum | | 19 December 2014 | 21:08

JKN “Mimpi” bagi Masyarakat …

Yosua Panjaitan | | 20 December 2014 | 07:22

Sepinggan, The Best Airport 2014 …

Heru Legowo | | 19 December 2014 | 18:10

Salah Penggunaan, Bubuk Protein Potensi …

Novia Cristi | | 20 December 2014 | 07:13

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Hebat, Pemerintah Sanggup Beli Lumpur …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Mau Lihat Orang Jepang Antri Di Pom Bensin? …

Weedy Koshino | 10 jam lalu

Talangi Lapindo, Trik Jokowi Jinakan …

Relly Jehato | 11 jam lalu

Mengapa Fuad Harus di Dor Sampai Tewas? …

Ibnu Purna | 12 jam lalu

Kenapa Steve Jobs Larang Anaknya Bermain …

Wahyu Triasmara | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: