Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Djohan Suryana

Hobby : membaca, menulis, nonton bioskop dan DVD, mengisi TTS dan Sudoku. Anggota Paguyuban FEUI Angkatan 1959

Pembobolan Bank

OPINI | 31 March 2011 | 22:18 Dibaca: 250   Komentar: 2   1

Headlines Kompas 31/3/2011 mengungkapkan tentang pembobol bank yang telah digulung oleh Polri. Selama tahun 2009 telah dibobol uang sejumlah Rp 227.4 milyar dari BII, Bank Mandiri, BRI dan Bank Mega. Tahun 2010 tidak ada laporan pembobolan. Tetapi pada tahun 2011 selama 3 bulan terakhir  secara berturut-turut telah terjadi pembobolan  bank dengan jumlah total Rp 43,7 milyar dari BCA, Bank Mandiri, Bank Danamon dan Citibank.

Meskipun jumlah uang yang dibobol tahun 2011 jauh lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2009, tapi intensitasnya sangat mengejutkan. Jumlah kerugian paling besar adalah Bank Mandiri yaitu Rp 200 milyar pada tahun 2009. Sedangkan kerugian paling kecil adalah BRI  yaitu “hanya” Rp 2,4 milyar.

Dan yang masih hangat adalah Citibank, sebuah bank internasional yang kena bobol juga sebesar Rp 17 milyar. Reputasi Citibank yang terkenal excellent ternyata tidak berdaya menghadapi pembobolan yang dilakukan oleh karyawannya sendiri. Tak dapat disangkal bahwa sebagian besar pembobolan bank dilakukan  oleh “orang dalam” sendiri atau “orang dalam” bekerja sama dengan “orang luar”.

Sesungguhnya jumlah serta intensitas pembobolan yang tidak dilaporkan oleh bank kepada Polri jauh lebih banyak daripada yang diberitakan. Banyak bank yang enggan melaporkan tindak kriminal yang terjadi di dalam banknya. Hal ini dilakukan untuk menjaga citra bank tersebut. Jika terlampau sering jadi pemberitaan mengenai pembobolan yang terjadi pada banknya, maka kepercayaan masyarakat akan menurun.

Apabila kepercayaan masyarakat menurun, maka orang tidak akan mau menyimpan uangnya pada bank tersebut. Jika dana masyarakat menurun, maka kemampuan bank untuk memberikan pinjaman pun menurun. Jika pemberian pinjaman menurun, maka pendapatan bunganya juga menurun. Jika pendapatan bunganya menurun maka bank tersebut akan mengalami kerugian atau labanya makin kecil.

Salah satu faktor utama terjadinya pembobolan adalah karena perbuatan “orang dalam” , bagaikan pagar makan tanaman. Karyawan bank yang seharusnya menjaga citra banknya justru melakukan pembobolan. Seketat apapun pengawsan internal, secermat apapun sistem operasional yang diterapkan, kalau menyangkut hati manusia siapapun tidak akan dapat menyelaminya. Kata orang bijak ” dalam lautan dapat diduga, tapi hati manusia lebih sulit diraba”.

Semakin besar sebuah bank, semakin besar risiko terjadinya pembobolan karena semakin banyak orang yang terlibat didalamnya. Semakin banyak “orang dalam” semakin sulit manajemen bank “meraba hati manusia”.  Namun demikian, risiko itu memang layak ditanggung  karena bank adalah bisnis berisiko. Kalau tidak mau menanggung risiko janganlah menjadi pemilik bank.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Selayang Pandang Tentang Demonstrasi …

Fera Nuraini | | 01 October 2014 | 20:57

Siswa Korea Tertarik “Sambal” Indonesia …

Ony Jamhari | | 02 October 2014 | 09:39

Belajar Mandiri dari Pola Didik Orangtua di …

Weedy Koshino | | 02 October 2014 | 09:53

Obat Galau Jurusan Kuliah …

Bening Tirta Muhamm... | | 02 October 2014 | 09:54

Nangkring “Special” bersama Bank …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:44


TRENDING ARTICLES

Liverpool Dipecundangi Basel …

Mike Reyssent | 6 jam lalu

Merananya Fasilitas Bersama …

Agung Han | 6 jam lalu

Ceu Popong Jadi Trending Topic Dunia …

Samandayu | 8 jam lalu

MK Harus Bertanggung Jawab Atas Kericuhan …

Galaxi2014 | 10 jam lalu

Sepedaku Dicolong Maling Bule …

Ardi Dan Bunda Susy | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

“Saya Iptu Chandra Kurniawan, Anak Ibu …

Mba Adhe Retno Hudo... | 7 jam lalu

Korte Verklaring; Konsesus Uleebalang dengan …

Arjuna Zubir | 7 jam lalu

Djohar Arifin: Jika Lolos ke PD U-20, Timnas …

Achmad Suwefi | 7 jam lalu

Wangi Kopi NTB …

Ahyar Rosyidi Ros | 7 jam lalu

Belajar dari Pak Tani dengan Sawahnya di …

Karresa Karyanto | 7 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: