Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Ani Berta

Blogger, Accounting, Jazz and coffee lover, And also a mother who crazy in love to selengkapnya

Saat Bekerja pada Perusahaan Minim Profit

OPINI | 13 May 2011 | 19:57 Dibaca: 404   Komentar: 13   2

Ketika bekerja pada perusahaan yang ternyata minim pendapatan atau ketika bekerja pada perusahaan yang mendekati pailit, sudah pasti ketidak nyamanan serta ketenangan otomatis akan terganggu, kita jadi memikirkan , bagaimana seandainya kita menerima gajinya telat atau setengah setengah dulu karena menunggu perputaran uang dalam perusahaan berjalan dengan hanya modal yang pas pasan dan tak ada biaya cadangan untuk menutup biaya administrasi dan operasional perusahaan tersebut.

Jika kita berada dalam posisi tersebut dan perusahaan yang tak begitu mempunyai ikatan emosional kuat terhadap perjalanan hidup kita, dalam arti kata belum lama kerja disitu dan tidak begitu dekat dengan semua orang yang berada dalam perusahaan itu serta keberadaan kita kurang begitu berpengaruh untuk membantu perkembangan perusahaan tersebut, tak ada salahnya untuk cari alternatif lain untuk menemukan pengganti lahan cari penghasilan kita, agar tak menggantung dan berharap dalam ketidak pastian.

Namun, jika sebaliknya dalam arti kata , kita sudah sedikitnya bekerja di perusahaan itu 3 tahun, dan punya kedekatan emosional dan kekeluargaan baik dengan pimpinan maupun rekan kerja juga orang orang yang terlibat dalam perusahaan itu, perlu dipertimbangkan lagi bagaimana agar kita tak kehilangan tempat bekerja yang dirasa sudah cocok dan merasakan kenyamanan terhadap lingkungan dan pergaulannya, tentu saja walau kita sebagai karyawan dan orang gaji, harus ikut memikirkan bagaimana langkah yang harus diambil oleh perusahaan tempat kita bekerja agar tetap survive dan bisa melakukan perubahan yang dapat membangkitkan lagi produktivitas dan memulihkan financial yang sempat macet disebabkan kurangnya income yang disebabkan oleh suatu hal.

Apalagi jika kita merasa punya ide dan sumbangsih untuk memberikan dedikasi yang bisa dilakukan, walau kita misalnya tak duduk dalam kursi management, atau diatas tingkat management, seorang staff pun berhak untuk memberikan masukan berharga jika dia punya pemikiran yang bisa menyelamatkan perusahaan tempat ia bekerja dari kepailitan.

Caranya bisa meminta waktu kepada pimpinan atau pihak yang dianggap bisa mewakili pimpinan untuk mengadakan meeting secara empat mata atau enam mata saja dulu, untuk menyampaikan garis besar yang ingin disampaikan, apabila ternyata masukan kita dapat diterima, mungkin pimpinan akan mengadakan meeting besar yang mengangkat tema masukan yang kita sampaikan tersebut, dari situ dapat terbuka jalan solusi bersama.

Jika kita mempunyai relasi pribadi yang bisa membantu untuk membangun kembali perusahaan tempat kita bekerja yang sedang diambang pailit, jangan berpikir dua kali jika hal itu bisa membantu, tak perlu pikirkan hal itu bukan tugas kita, dan tak perlu perhitungan dulu karena ini adalah urgent, maka bantulah perusahaan semaksimal mungkin, karena jika perusahaan bangkit kembali dan pulih, kita juga yang akhirnya merasakan hasilnya, berpikirlah untuk jangka panjang, lupakan dulu ego kita.

Saat bekerja pada perusahaan minim profit bahkan diambang pailit, tak perlu merasa kecil hati, karena dengan begitu kita dapat mengambil hikmahnya bahwa kita bisa belajar mengejar target, bekerja keras dan melatih mental, serta bisa mengetahui gambaran jika membuka usaha itu ada sisi sisi tantangan yang pernah dihadapi saat membantu perusahaan tempat bekerja yang diambang pailit atau minim profit dengan segenap kemampuannya.

Bahkan ketika kita berusaha membantu memulihkan dan membangkitkan lagi perusahaan dari ambang kepailitan dan hal itu berhasil serta dirasakan oleh banyak teman satu pekerjaan terutama pimpinan, walau sekecil apapun, hal itu sudah menunjukan kemampuan diri yang tak diragukan, bukan hal tak mungkin pula pimpinan akan mempertimbangkan posisi kita ke level lebih tinggi.

Namun semua itu cukup didasarkan pada niat hati nurani saja, keikhlasan dan sikap dedikasi itu yang lebih utama jika kita masih ingin tetap bekerja di perusahaan yang sudah kita anggap cocok dan nyaman, maka kita pun harus membantu, berdedikasi dan punya loyalitas tinggi, dengan sendirinya apa yang diharapkan akan menghampiri kita, jika kita ikhlas dan total mengerjakannya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 11 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 12 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 12 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Phsycologhy Dangdut Pengaruhi Cara Pandang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

“Triple Steps Solution” Upaya …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Every Children is Special …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Pemilik Bagasi Lost 500 Juta Rupiah Itu …

Irawan | 8 jam lalu

Habibi & Kakak vs Sentimentil Sang Guru …

Daniel Oslanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: