Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Eko Yuono

Mahasiswa Ekonomi Pembangunan Universitas Sebelas Maret angkatan 2007, memiliki cita-cita menduduki jabatan tertinggi di Bank selengkapnya

Kenapa Kebijakan Moneter ?

OPINI | 16 May 2011 | 05:25 Dibaca: 305   Komentar: 0   0

Time lag (jeda waktu) . Ketika membuat skripsi, agaknya saya mulai akrab dengan kata ini. Setelah membaca berbagai buku teori ekonomi, saya mempunyai anggapan bahwa kebijakan akan memberikan efek langsung. Hampir semua teori yang dibangun berdasarkan atas asumsi-asumsi yang membatasi ruang gerak teori tersebut.

Teori, teori dan teori. Banyak sekali teori yang saya pelajari dan yang paling familiar adalah teori suku bunga dari sekian banyak teori. Salah satu contohnya adalah ketika suku bunga naik, maka akan terjadi kenaikan jumlah tabungan.

Ketika saya mengerjakan skripsi saya, ternyata hasilnya tidak “seindah” yang saya bayangkan. Hasil yang saya dapatkan adalah bahwa hipotesis yang saya bangun tidak sesuai teori.

Yap, kebijakan ekonomi biasanya kita bayangkan akan memberikan efek langsung kepada masyarakat. Contohnya adalah ketika BI menaikkan BI rate, maka ini bertujuan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar. Kenyataannya tidak selalu begitu , alasannya macam-macam, misalnya, dengan kenaikan suku bunga BI rate tidak akan secara serta merta menyebabkan masyarakat mengalihkan kelebihan uangnya untuk merinvestasi di SBIĀ  karena bisa saja dana masyarakat sudah tertahan di deposito 3 bulan atau 6 bulan, sehingga membutuhkan waktu untuk memindahkan alokasi investasinya.

Itulah sebabnya, kebijakan moneter jarang dipergunakan untuk meredam krisis ekonomi. Alasan time lag (jeda waktu) dapat dikatakan sebagai salah satu titik lemah kebijakan moneter karena kebijakan ini tidak dapat secara langsung menyentuh masyarakat. Berbeda dengan kebijakan fiskal yang langsung menyentuh masyarakat, contohnya adalah stimulus fiskal dengan pengurangan pajak dimana daya beli masyarakat akan meningkat, walaupun terdapat lag, namun secara umum lag kebijakan fiskal lebih pendek ketimbang kebijakan moneter.

(inspirasi dari buku basic econometrics karya Gujarati)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sensasi Mudik Melintasi Jalan Daendels yang …

Hendra Wardhana | | 23 July 2014 | 16:32

Keputusan KPU Tetapkan Jokowi-JK sebagai …

Yusril Ihza Mahendr... | | 23 July 2014 | 14:21

10 Keunikan Ramadhan di Turki …

Wardatul Ula | | 23 July 2014 | 15:32

Mengapa IRT Perlu Memiliki Penghasilan …

Ella Zulaeha | | 23 July 2014 | 14:53

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Kata Ahok, Dapat Jabatan Itu Bukan …

Ilyani Sudardjat | 4 jam lalu

Siapkah Kita di “Revolusi …

Gulardi Nurbintoro | 5 jam lalu

Film: Dawn of The Planet of The Apes …

Umm Mariam | 9 jam lalu

Seberapa Penting Anu Ahmad Dhani buat Anda? …

Robert O. Aruan | 9 jam lalu

Sampai 90 Hari Kedepan Belum Ada Presiden RI …

Thamrin Dahlan | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: