Back to Kompasiana
Artikel

Moneter

Janu Pidato Semprul 17an

memunguti remah-remah pengembaraan...

Memahami Adam Smith dalam Lima Menit

OPINI | 17 October 2011 | 17:14 Dibaca: 601   Komentar: 4   0

1318870483971177448

.

1318870665541751365Adam Smith (1723-1790) merenung dalam-dalam. Ada rasa penasaran yang menggelayuti fikiran dan hatinya. Ia memandang langit luas, yang bintang-bintang serta bulan menghiasi kelam malam. Dan planet-planet jauh di balik sana. Ahh..sebuah keteraturan benda-benda langit, yang ditata oleh mekanisme alami sedemikain rupa. Keteraturan planet-planet sebagaimana telah ditemukan dan dirumuskan oleh para astronom besar Isaac Newton (1642-1727), Galileo Galilei (1564-1642) dan Johann Kepler (1571-1630).

Ia kemudian memandang ke jalan, mengamati orang-orang yang lalu-lalang. Berbagai ragam, banyak kepala,..dengan urusannya masing-masing, dengan tujuannya masing-masing. Tapi…meski terdapat perbedaan kepentingan dan tujuan,..yang bergerak ke segala arah…. mengapa masyarakat ini tidak berakhir kacau balau? Kekuatan apa yang menyatukan mereka semua itu? Seperti tata surya yang memiliki gaya gravitasi yang mengikat planet-planet menjadi rapi,….kekuatan/gaya apa yang telah mengikat kerumunan individu ini menjadi sebuah tatanan masyarakat yg juga rapi?

Sebagai seorang filsuf moral sekaligus menjabat sebagai profesor Filsafat Moral di Universitas Glasgow Skotlandia, Adam Smith memang ngurusi bidang pemikiran yang sangat luas. Saat itu ilmu ekonomi belum lahir. Ilmu filsafat moral lah yang memikirkan tentang berbagai fenomena sosial, mulai dari soal perkawinan, etika, agama, seni, sejarah hingga urusan diplomatik antar negara. Belum ada yang namanya ekonomi. Dan sekarang ia penasaran sekali untuk mencari mekanisme dasar dari dinamika masyarakat sosial itu.

..

Gaya gravitasi sosial yang pertama,…. ia ungkapkan dalam karya monumentalnya yang pertama, The Theory of Moral Sentiments (1759), yaitu kemampuan untuk bersimpati (sympathy/fellow feeling) adalah gaya gravitasi yang merapihkan tatanan masyarakat seluruhnya! Ya, gaya gravitasi mengikat planet-planet…dan simpati mengikat individu manusia-manusia! Bagaimana cara kerjanya? 1318870869349496821

  • Dengan simpati kita mampu untuk merasakan perasaan orang lain, kebahagiaan, kedukaan, kebutuhan akan penghormatan, kepedulian dan kebutuhan akan kemuliaan mereka.
  • Dengan simpati, kita menjadikan orang lain sebagai cermin dari segala perilaku, sikap dan tindak-tanduk kita. Kitapun sama seperti mereka.
  • Dengan simpati, kita kemudian menimbang-nimbang dan menilai kepantasan dari tindakan kita…seakan-akan dinilai dari pandangan orang lain. Kita menjadi pengamat obyektif yang mengambil jarak dari diri kita sendiri (spectators).
  • Dengan simpati kita mendisplinkan diri kita, dan pada saat yang sama juga mendisplinkan orang lain…untuk bertindak yang baik demi memperoleh yang baik-baik (dihormati, dibilang sebagai orang yang baik, dibilang beradab, baik hati, dll).

Maka sebagaimana gaya gravitasi, simpati mengikat gerakan individu-individu supaya tidak bercerai-berai. Maka mereka saling berinteraksi dalam semangat saling ingin mendapatkan kemuliaan. Mereka saling bertransaksi dalam semangat saling peduli, saling memenuhi kebutuhan dan saling menjaga reputasi.

..

Gaya “gravitasi sosial” yang kedua,…. adalah kepentingan diri (self interest). Sebagaimana ia ungkapkan dalam buku monumentalnya yang kedua, An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations (1776).  Inilah gaya inti yang merapihkan tatanan masyarakat sosial. Inilah tujuan dari setiap individu dalam berinteraksi dengan individu lainnya, yaitu untuk memenuhi kepentingan dirinya.

1318871484382513448Dan Pasar, adalah sebuah ruang pertemuan yang udaranya dipenuhi oleh rasa simpati dan pengejaran kepentingan diri tersebut. Si tukang jagal menjual daging karena ia mengerti, bahwa orang lain membutuhkan makan malam yang enak. Dan dengan memenuhi kebutuhan makan enak mereka, si tukang jagal bisa mendapatkan uang untuk dibelikannya roti.  Si tukang roti membutuhkan uang untuk membeli pakaian. Untuk itu, ia menjual roti kepada si tukang jagal…mendapatkan uang….untuk dibelikan pakaian. Mereka tidak mau menipu, karena reputasi mereka akan rusak di mata orang lain. Maka semuanya akan bertransaksi secara jujur, secara terhormat, secara beradab.

Bukan berarti mereka berbaik hati lho. Mereka hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan agar kepentingan diri mereka masing-masing terpenuhi. Tukang Jagal butuh roti. Tukang Roti butuh pakaian. Dan seterusnya dengan orang lain, ribuan orang lain…ribuan jumlah kebutuhannya. Semuanya saling memahami…semuanya saling berinteraksi…saling meminta (demand) sekaligus juga saling memberi (supply).

..

Demikianlah inti pemikiran Adam Smith tentang kekuatan pengikat yang menyatukan keberagaman kepentingan individu, agar tetap membentuk tatanan yang rapi. Tentang kekuatan “gravitasi sosial”, yang menyamai kekuatan gravitasi benda-benda langit. Kekuatan yang mengikat masyarakat  sehingga tidak tercerai-berai: kekuatan simpati dan kepentingan diri.

..

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Wahana Baru Ice Age Arctic Adventure, Dufan …

Rokhmah Nurhayati S... | | 19 April 2014 | 01:35

Sesat Pikir Koalisi …

Faisal Basri | | 18 April 2014 | 19:08

Jangan Prasangka Pada Panti Jompo Jika Belum …

Mohamad Sholeh | | 19 April 2014 | 00:35

Araira …

Fandi Sido | | 16 March 2014 | 19:39

Memahami Skema Bantuan Beasiswa dan Riset …

Ben Baharuddin Nur | | 18 April 2014 | 23:26


TRENDING ARTICLES

Paskah di Gereja Bersejarah di Aceh …

Zulfikar Akbar | 3 jam lalu

Mengintip Kompasianer Tjiptadinata Effendi …

Venusgazer™ | 9 jam lalu

Kasus Artikel Plagiat Tentang Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu

Kue Olahan Amin Rais …

Hamid H. Supratman | 21 jam lalu

Puan Sulit Masuk Bursa Cawapres …

Yunas Windra | 21 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: